NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Udara Ibukota seketika menerpa wajahnya. Darius menyusuri trotoar jalan raya yang dikelilingi pepohonan yang rimbun. Ia lalu menghentikan sebuah taksi yang sedang melaju.

"Ke mana tujuan Anda, Mas?" tanya sopir taksi setengah baya saat Darius masuk dan duduk di kursi belakang dengan tenang.

"Antarkan saya ke Perumahan Dama Sanctuary," jawab Darius, suaranya meluncur datar, dingin, dan tanpa emosi.

Mendengar hal itu, sopir taksi itu seketika terkejut. Pria setengah baya itu memutar kepalanya sedikit, menatap Darius dari atas ke bawah untuk memastikan ia tidak salah mendengar.

"P-Perumahan Dama Sanctuary, Mas?" tanya sopir itu dengan nada ragu. "Maaf, Mas... itu kan kawasan perumahan paling elit di seluruh Ibukota. Penjaga gerbang di sana juga sangat ketat."

"Jalan saja," jawab Darius singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. "Biarkan aku yang mengurus penjaga gerbangnya nanti."

Sopir taksi itu menelan ludah dengan susah payah. Merasakan aura intimidasi yang begitu pekat dari penumpangnya, ia tidak berani bertanya lebih banyak lagi.

Dengan cepat ia memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas, membawa taksinya membelah jalanan Ibukota yang mulai dipadati arus kendaraan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi tersebut melambat saat mendekati sebuah gerbang besi hitam raksasa setinggi lima meter yang tampak megah dan kokoh.

Di samping gerbang, berdiri pos penjagaan yang dijaga oleh empat orang petugas keamanan berseragam taktis lengkap dengan peralatan komunikasi canggih.

Mobil taksi itu terhenti tepat di depan palang pintu otomatis. Seorang komandan keamanan berbadan tegap melangkah mendekati jendela pengemudi dengan raut wajah kaku.

"Selamat pagi. Ada keperluan apa masuk ke kawasan Perumahan Dama Sanctuary?" tanya petugas itu dengan nada dingin seraya mengawasi bagian dalam taksi.

Sopir taksi yang panik langsung melirik ke arah kursi belakang melalui kaca spion tengah.

Darius menurunkan kaca jendela di sampingnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyodorkan kartu berwarna emas dan berlambang naga perak dari sakunya melalui jendela mobil.

Begitu mata petugas keamanan menatap logo naga perak di atas kartu emas tersebut, raut wajahnya seketika memucat, matanya membelalak penuh keterkejutan dan ketakutan.

Kartu itu adalah Golden Silver Dragon, sebuah kartu otoritas tertinggi yang hanya dimiliki oleh pemilik tunggal dan penguasa tertinggi dari seluruh kawasan Perumahan Dama Sanctuary.

Dengan jemari yang gemetar hebat, petugas itu segera membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

"M-Maafkan kelancangan saya! Selamat datang, Tuan!" ucap komandan penjaga itu dengan suara bergetar dan penuh rasa hormat.

Ia langsung berbalik dan berteriak heboh kepada anak buahnya di pos penjagaan. "Buka gerbang! Buka gerbang utama sekarang juga!"

Seketika itu juga, palang pintu terangkat dan gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka. Para petugas keamanan berdiri berbaris di tepi jalan, lalu membungkuk hormat saat taksi itu melintas masuk.

Sang sopir taksi sampai mengucek matanya berkali-kali. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.

Pria berkemeja abu-abu yang menumpang taksinya ini ternyata adalah sosok misterius yang sanggup membuat para pengawal bersenjata tunduk dan gemetar dalam hitungan detik.

"M-Mas... kita berhenti di mana?" tanya sopir taksi itu, kini suaranya terdengar sangat gemetar dan penuh kehati-hatian.

"Mansion nomor satu. Di ujung jalan ini," sahut Darius dengan suara datar sambil menatap lurus ke depan.

Taksi itu terus melaju pelan menyusuri jalanan kompleks yang teduh, melewati deretan mansion megah bergaya modern klasik.

Hingga akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah area estate pribadi yang berdiri megah. Mansion Nomor Satu, kediaman paling mewah dan luas di seluruh Dama Sanctuary.

Darius lalu keluar dan memberikan beberapa lembar uang kertas bernominal besar dari sakunya dan meletakkannya di atas dashboard tanpa meminta kembalian.

"T-Terima kasih banyak, Tuan!" jawab sopir taksi itu penuh rasa syukur, sambil masih memandangi punggung Darius dengan rasa takjub.

Saat Darius melangkah mendekati pintu gerbang mansion pribadi tersebut, dua pria berjas hitam rapi yang berdiri menjaga pintu masuk langsung menyilangkan tangan di dada dan membungkuk.

"Selamat datang, Tuan," sapa salah satu pengawal pribadi itu dengan penuh penghormatan.

Darius hanya mengangguk pelan sebagai respons, wajahnya tetap tenang, tanpa ada riak emosi sedikit pun. Ia lalu melangkah masuk melewati pintu utama mansion.

Desain interior Mansion Nomor Satu memancarkan kemewahan yang tenang dan elegan. Di tengah ruangan, sebuah lampu gantung kristal tergantung anggun, membiaskan cahaya yang hangat.

Sesaat setelah Darius melangkahkan kakinya melewati pintu utama, langkah kaki yang halus dan teratur terdengar mendekat.

Enam orang pelayan wanita memakai gaun hitam-putih yang sangat rapi dan elegan berbaris rapi membentuk dua jajar. Paras mereka sangat cantik dengan wajah yang bersih dan anggun.

Raut wajah para pelayan wanita tersebut memancarkan keterkejutan. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat sosok pemilik misterius Mansion Nomor Satu secara langsung.

Seorang wanita cantik bertubuh jangkung yang tampaknya merupakan kepala pelayan di mansion itu melangkah satu langkah di depan rekan-rekannya.

"Selamat datang, Tuan," sapa kepala pelayan itu dengan suara yang lembut dan merdu. "Saya Angelina, kepala pelayan di sini. Kami semua bertugas untuk melayani seluruh kebutuhan Anda di tempat ini."

Pelayan wanita lainnya diam-diam melirik Darius. Sorot matanya yang tajam dan tak tersentuh membuat dada mereka berdebar kencang.

Darius menatap keenam pelayan wanita itu dengan raut wajah yang tetap datar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling interior mansion yang sangat bersih dan terawat dengan sempurna.

"Kalian melakukan tugas dengan baik menjaga tempat ini," sahut Darius pendek, suaranya mengalun tenang dan dingin.

Angelina mengangkat wajahnya perlahan, menyunggingkan senyuman. "Terima kasih atas pujian Anda, Tuan. Suatu kehormatan bagi kami bisa menyambut kehadiran Anda."

"Apakah Tuan ingin kami menyiapkan teh, atau menyiapkan ruang mandi utama?" lanjut Angelina sambil menatap pria di hadapannya dengan pandangan penuh hormat.

"Tidak perlu," tolak Darius dengan nada suara datar namun tegas. "Aku hanya ingin meninjau tempat ini sebentar."

Angelina mengangguk patuh seraya membungkuk anggun. "Baik, Tuan. Jika Anda membutuhkan sesuatu, kami selalu siap."

Angelina lalu memberi isyarat tangan dengan pelan kepada lima pelayan wanita lainnya agar tidak mengganggu ketenangan Darius.

Meskipun telah berbalik untuk kembali ke tugas masing-masing, beberapa pelayan wanita itu masih sempat melirik Darius dengan pipi yang sedikit merona.

Setelah memberikan instruksi singkat kepada Angelina, Darius melangkahkan kakinya menuju sebuah lift pribadi.

Darius lalu masuk dan menekan tombol menuju lantai bawah tanah, lift itu pun turun hingga berhenti di sebuah garasi pribadi seluas ribuan meter persegi.

Darius menyusuri garasi bawah tanah itu. Di sana berjejer berbagai mahakarya otomotif dunia mulai dari Bugatti, BMW, Rolls Royce, Ferrari, Aston Martin, Porche, Lamborghini, Koenigsegg, hingga Pagani.

Pandangan mata Darius yang tajam dan dingin akhirnya tertuju pada sebuah mobil hypercar yang terparkir paling depan di sudut khusus.

Bugatti Veyron berwarna hitam legam dengan aksen garis merah darah. Lapisan bodinya yang terbuat dari serat karbon berkilau sempurna di bawah sorotan lampu.

Darius melangkah mendekati mobil itu. Setelah menyapukan jemarinya di atas kap mesin bertenaga ribuan kuda tersebut, ia membuka pintu dan langsung masuk.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!