Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Dua Bulan
Dua bulan telah berlalu sejak malam badai di Villa Toscana. Kehamilan Sarah berjalan dengan lancar. Ia sudah tidak lagi merasakan mual yang terlalu parah, meskipun sesekali masih ada rasa lemas di pagi hari. Tapi secara keseluruhan, ia merasa sehat dan bersyukur.
Selama dua bulan itu, Samudra memang berubah. Ia menjadi jauh lebih perhatian. Setiap pagi, Sarah akan menerima pesan singkat darinya.
"Sudah sarapan?"
"Jangan lupa minum vitamin."
"Istirahat yang cukup, jangan lembur."
Awalnya, Sarah merasa aneh. Samudra adalah CEO dingin yang tidak pernah peduli pada siapa pun. Tapi sekarang, ia seperti pengasuh yang memantau setiap gerak-gerik Sarah. Bahkan saat Sarah sedang bekerja di kantor, Samudra sesekali akan keluar dari ruangannya dan meletakkan segelas jus buah di atas meja Sarah tanpa berkata apa-apa, lalu kembali masuk ke ruangannya.
Felix yang sudah kembali dari London sering menggodanya.
"Wah, Sarah, Bos makin sayang nih," goda Felix suatu pagi.
"Felix, jangan ngaco. Ini semua karena kontrak," jawab Sarah, mencoba membela diri.
"Kontrak, kontrak. Bos itu nggak pernah peduli sama kontrak lain. Kamu beda, Sar," jawab Felix sambil tertawa.
Sarah hanya menggeleng, tapi di dalam hatinya, ia merasakan ada kehangatan. Ia mulai terbiasa dengan perhatian Samudra, dan sedikit demi sedikit, batas antara bos dan asisten mulai kabur.
Hari Sabtu itu adalah hari yang spesial. Samudra telah menjadwalkan kontrol kehamilan kedua untuk Sarah di klinik ProVita. Dan seperti biasa, Samudra bersikeras untuk menemaninya.
"Pak, saya bisa sendiri kok," kata Sarah saat Samudra menjemputnya di apartemen.
"Aku sudah janji ke dokter. Aku harus tahu perkembangan janin," jawab Samudra datar.
Sarah menghela napas, tapi ia tidak bisa menolak. Mereka berdua pergi ke klinik ProVita. dr. Andini menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Selamat pagi, Sarah, Samudra. Bagaimana kabar kehamilannya?" tanya dr. Andini.
"Sehat, Dok. Tidak ada keluhan berarti, hanya kadang lemas," jawab Sarah.
"Wajar, itu efek hormon. Mari kita periksa kandungannya."
Sarah berbaring di ranjang pemeriksaan. dr. Andini mengoleskan gel dingin ke perut Sarah, lalu menempelkan alat USG. Layar di sampingnya menyala, menampilkan gambar hitam putih.
"Lihat, ini janinnya," ujar dr. Andini, menunjuk ke layar.
Samudra yang berdiri di samping Sarah menatap layar itu. Di sana, terlihat sebuah titik kecil yang berdenyut. Denyut jantung kecil yang begitu cepat dan kuat.
"Itu... jantungnya?" tanya Samudra, suaranya sedikit serak.
"Ya, itu detak jantung janin. Sangat kuat. Perkembangannya sangat baik," jawab dr. Andini.
Samudra tidak bisa berkata apa-apa. Ia menatap layar itu, matanya terpaku pada titik kecil yang berdenyut. Ada perasaan aneh di dadanya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa bangga, dan mungkin... rasa memiliki.
Sarah juga menatap layar itu, matanya berkaca-kaca. "Dia... dia hidup, Pak," bisiknya.
Samudra menatap Sarah. "Ya. Dia hidup. Dan dia sehat."
Setelah pemeriksaan selesai, dr. Andini memberi kabar baik. "Janinnya sehat, beratnya sesuai usia kandungan. Sarah, Anda harus tetap menjaga pola makan dan istirahat. Jangan stres."
Sarah mengangguk. "Baik, Dok."
Mereka keluar dari klinik dengan perasaan lega. Samudra terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Ia membuka pintu mobil untuk Sarah.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Samudra saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Senang, Pak. Melihat janinnya sehat, saya merasa lega," jawab Sarah.
Samudra tersenyum tipis. "Aku juga."
Samudra memutuskan untuk mengajak Sarah makan siang di sebuah restoran Italia yang cukup terkenal di dekat klinik. Restoran itu bernama La Trattoria, dengan suasana yang hangat dan nyaman. Mereka duduk di meja dekat jendela, menikmati pasta dan salad.
Di tengah-tengah makan, Samudra menaruh garpunya dan menatap Sarah. Wajahnya terlihat serius.
"Sarah, ada sesuatu yang harus aku sampaikan," ujar Samudra.
Sarah mengerutkan kening. "Ada apa, Pak?"
Samudra menghela napas. "Besok, hari Minggu, aku ingin kamu datang ke rumahku. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Orang tua Bapak?" tanya Sarah.
Bukan orang tuaku, tapi kakekku. Kakek Idris," jawab Samudra. "Dia datang dari Indonesia untuk mengunjungi aku. Dan dia mendengar bahwa aku akan memiliki anak. Dia ingin bertemu denganmu. Dia ingin melihat calon cicitnya."
Sarah membelalak. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. "Kakek Bapak? Dia... dia tahu tentang aku?"
"Aku yang memberitahunya," jawab Samudra. "Kakekku sangat dekat denganku. Dia tidak pernah menanyakan urusan bisnisku, tapi dia selalu peduli dengan kehidupanku. Saat aku bilang aku akan punya anak, dia sangat senang. Dia meminta untuk bertemu denganmu."
Sarah menatap Samudra, merasa gugup. "Tapi Pak... aku hanya asisten kontrak. Apa yang harus aku katakan pada kakek Bapak?"
Samudra menatap Sarah dengan tatapan serius. "Kakekku tidak perlu tahu detail kontrak. Dia hanya perlu tahu bahwa kamu adalah wanita yang mengandung anakku. Dan kamu adalah wanita yang baik. Cukup itu."
Sarah menelan ludah. "Aku tidak yakin, Pak. Aku takut salah bicara."
Samudra menghela napas. "Kakekku orang yang sangat sederhana. Dia tidak suka basa-busi. Cukup kamu bersikap sopan dan jujur. Dia akan menyukaimu, Sarah. Aku yakin."
Sarah masih ragu. Tapi melihat tatapan Samudra yang serius, ia akhirnya mengangguk. "Baik, Pak. Besok saya akan datang."
Samudra tersenyum tipis. "Terima kasih, Sarah. Aku akan menjemputmu pukul sepuluh pagi."
Sarah mengangguk lagi. Di dalam hatinya, ada rasa gugup yang bercampur dengan penasaran. Siapa sebenarnya Kakek Idris? Dan apa yang akan ia katakan pada kakek Samudra? Sarah tidak tahu. Tapi ada satu hal yang ia yakini: besok, hidupnya akan berubah lagi.
Mereka menghabiskan makan siang dengan tenang, lalu Samudra mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, Sarah diam, pikirannya melayang pada besok. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia siap untuk masuk ke dunia Samudra yang sebenarnya?