Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilangnya Virgine
Seminggu berlalu sejak pengucapan ikrar cinta Dimas untuk Tari, mereka semakin lengket saja dan tidak bisa dipisahkan, teman-teman satu poskonya semua sudah tahu hubungan mereka termasuk bu Minah. Mereka semua mendukung Tari dan Dimas yang memang terlihat sangat serasi dari segi wajah. Semua merasa bahagia melihat keromantisan kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut, kecuali satu orang yang sejak tau hubungan Dimas dan Tari sudah diresmikan, wajahnya tidak pernah menampakkan muka bersahabat pada Dimas. Ialah Galen yang sejak lama menyimpan rasa pada Tari tapi akhirnya kalah oleh Dimas karena ketidak beraniannya selama ini mengungkapkan perasaan.
Seperti hari ini saat mereka sedang sarapan dimeja makan, Galen seperti anak kecil yang selalu menyerang Dimas. Dimas terlihat duduk berdekatan dengan Tari.
"Galen, itu tempat duduk mas ganteng, lu gak boleh duduk disitu," Seru Chery melihat Galen duduk dikursi Dimas yang hanya berdiri sebentar mengambil air minum.
"Dia kan bisa duduk ditempat lain, tuh masih ada kosong diujung," jawab Galen sinis. Kursi makan bu Minah memang terbilang unik karena hanya sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu, kursi itu diletakkan berhadapan dan tiap kursi bisa diduduki oleh lima orang.
Tari yang sekarang duduk disamping Galen hanya diam saja, begitupun Nara, ia berfikir percuma berdebat dengan Galen.
"Tidak papa Cher, biarkan saja Galen duduk disitu kalau ia mau," ucap Dimas saat kembali kemeja makan.
"Aku bisa duduk dimana saja," lanjutnya sambil mengulas senyum kearah Tari dan dibalas dengan anggukan Tari yang ikut tersenyum tipis.
Mereka semua pun melanjutkan sarapan dalam suasana hening.
"Dimas, entar sore dari kantor Desa kamu bisa tolong ibu tunggui bapak dipondok bambu?" tanya bu Minah saat Dimas sudah akan berangkat kekantor Desa. Pondok Bambu adalah rumah-rumah kecil dipinggir pantai yang biasa ditempati oleh warga disana saat pulang melaut. Pondok milik bu Minah meskipun kecil tapi sangat bersih dan tertata rapi.
"Ibu ada acara pengajian dirumah bu dusun," lanjut bu Minah lagi.
"Iya bu, entar Aku kesana."
"Aku pergi dulu bu," ucap Dimas mencium tangan ibunya kemudian berlalu keluar, dihalaman rumah sudah nampak Tari menunggunya.
"Chery dan Nara?" nada suara Dimas menyiratkan pertanyaan.
"Mereka sudah duluan mas," jawab Tari.
"Oh okey, ayo kita berangkat," Tari pun naik kemotor Dimas, dan seperti hari-hari sebelumnya ia selalu melingkarkan tangan diperut Dimas.
"Oya Tar, entar aku mau kepantai nungguin bapak pulang dari laut, apa kamu mau ikut?" tanya Dimas sambil melajukan motornya.
"Seru tuh mas, iya aku mau," jawab Tari.
"Okey, dari kantor desa kita langsung kesana, bapak biasanya pulang habis magrib," ucap Dimas.
Sesampainya dikantor desa mereka berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing, Tari dan teman satu poskonya ada kunjungan kerumah-rumah warga hari ini, mereka berdua berjanji akan bertemu kembali sebentar sore.
"Cieh yang makin mesrah aja tiap hari," ucap Chery menyenggol bahu Tari.
"Apaan sih Cher," sahut Chery tersipu malu.
"Gimana rasanya jadi pacar mas Dimas, Tar?" Nara ikut-ikutan menggoda Tari.
"Kalian nih apaan sih Nar, sama aja kali dengan orang pacaran lainnya," jawab Tari.
Mereka terus menggoda Tari sampai tidak terasa mereka sudah sampai dideretan rumah warga yang akan dikunjunginya.
Setelah semua kegiatan selesai sore itu, seperti perjanjian Tari dan Dimas mereka pun bertemu kembali dikantor desa.
"Cher, Nar, gua gak balik bareng kalian yah, gua mau ikut mas Dimas kepantai nungguin bapaknya pulang melaut," ucap Tari saat mereka akan berpisah.
"Lu yakin mau ikut Tar? Langit mendung loh, kelihatannya sebentar lagi ada turun hujan deras," kata Nara.
"Iya Tar, perasaan gua gak enak nih," sahut Chery.
"Kalian tenang aja, gua sama mas Dimas kog," jawab Tari meyakinkan sahabatnya.
"Ya udah, lu hati-hati yah," sahut keduanya berbarengan.
"Sip," jawab Tari menaikkan jempol kanannya, kemudian berlalu dari sana.
Tari bertemu Dimas diparkiran kantor desa, ia pun naik dimotor Dimas lalu motor melaju dengan kecepatan sedang kearah Pondok Bambu. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya Tari bernyanyi-nyanyi kecil dan Dimas yang terus bersiul. Mereka berdua benar-benar sedang dimabuk cinta.
Tidak berapa lama sampai juga mereka di Podok Bambu, Tari langsung masuk kedalam dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Pondok Bambu tersebut terlihat seperti sebuah saung, dindingnya terbuat dari bambu dan memiliki tiang pendek sehingga butuh tangga untuk menaikinya. Didalam pondok tersebut hanya terdapat sebuah kasur, sebuah meja dan satu lagi lemari. Kamar mandinya terletak akan dibawah dibanding badan pondok.
"Bu Minah bersih sekali yah mas," ucap Tari setelah melihat keadaan diruangan itu.
"Iya Tar, ibu paling tidak suka liat ada yang berantakan, langsung diberesin," jawab Dimas.
"Kamu tidak mau jalan-jalan dulu dipinggir pantai?" tanya Dimas.
"Aku capek mas, aku mau duduk-duduk saja disini, dari sini juga bisa liat pantai kog," jawab Tari yang sedang duduk ditangga-tangga pondok.
"Okey kalau begitu, kita disini saja," balas Dimas. Mereka menikmati semilir angin pantai yang begitu dingin menusuk ke tulang-tulang karena keadaan cuaca yang sedang mendung.
Dan benar saja tidak lama berselang terdengar suara guntur menggelegar disusul turunnya hujan yang sangat deras. Dimas lalu mengajak Tari masuk kedalam pondok karena diluar sangat dingin dan gemercik hujan mengenai tangga pondok tersebut.
"Kenapa bapak melaut saat cuaca tidak bagus begini mas? tanya Tari setelah mereka berada didalam pondok.
"Tadi pagi cuaca masih bagus Tar, mudah-mudahan bapak baik-baik saja," jawab Dimas.
"Iya mas," balas Tari.
Semakin lama hujan semakin deras turunnya, diluar sudah mulai gelap, Dimas mulai menyalakan lampu emergency charger yang dibawanya dari rumah. Aliran listrik memang tidak sampai kepondok tersebut.
"Kamu kedinginan Tar?" tanya Dimas melihat Tari mengepalkan kedua tangannya dan menaruh didadanya, Tari mengangguk perlahan. Dimas kemudian mengambil selimut yang biasa dipakainya dari lemari dan diberikannya pada Tari.
"Kamu rebahan saja dulu di kasur," ucap Dimas. Tari pun menurut kata Dimas.
Malam semakin merambat, hawa dingin juga semakin merasuk, Tari mulai gemetar karena kedinginan, Dimas mendekatinya dan merebahkan tubuhnya didekat Tari, Tari pun tidak menyuruh Dimas untuk pergi bahkan saat Dimas mulai menaruh tangannya diperut Tari, ia membiarkannya saja. Tubuh Dimas mulai dialiri hawa yang sangat panas, ia seolah tidak bisa lagi menahan hasratnya. Dibalikkannya tubuh Tari menghadap kearahnya, ia bisa merasakan jantung Tari yang saat ini sedang berdetak kencang. Entah setan apa yang sudah merasuki keduanya sampai mereka berdua seolah terbius obat penenang hingga mereka melakukan hubungan terlarang malam itu. Tari langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos saat kesadarannya kembali.
"Apa yang sudah kita lakukan mas," Tari seketika menangis histeris, tapi tangisnya tidak berguna lagi karena nasi sudah bubur.
"Maafkan aku Tar, maafkan aku," ucap Dimas mencoba menenangkan Tari, untungnya diluar masih hujan deras jadi tidak ada yang bisa mendengar tangisan Tari yang histeris.
❤️Hi jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENT redearsku tersayang, maaf kalau ada salah-salah kata yah, yang baiknya diikuti, yang tidak baiknya dibuang jauh-jauh😘🤗
❤️ Cinta seringkali membutakan para penikmatnya, terus bentengi diri dengan keimanan yang kuat menurut kepercayaan masing-masing karena saat engkau sudah terjatuh kedalam lumpur, baunya mungkin akan hilang saat diberi wewangian tapi bekasnya disela-sela bagian tak nampak akan tetap ada😊