Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN PERTAMA
Tempat asal Cahaya Pertama berubah menjadi sunyi.
Tidak ada lagi suara.
Tidak ada lagi cahaya yang bergerak.
Bahkan Sumber Darah Pertama yang menjadi awal dari banyak kekuatan...
terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.
Sesuatu yang selama ini tersembunyi.
LAHIRNYA KEGELAPAN PERTAMA
Arkan berdiri di hadapan para pewaris.
Tatapannya tidak lagi tenang seperti sebelumnya.
Untuk pertama kalinya...
mereka melihat keraguan di wajahnya.
Atlas memperhatikan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Arkan melihat ke arah kehampaan.
"Sebelum cahaya memilih untuk ada..."
"ada sesuatu yang juga muncul."
Oliver bertanya:
"Kegelapan?"
Arkan mengangguk.
"Bukan kegelapan seperti yang kalian kenal."
"Melainkan bayangan dari keberadaan pertama."
DUALITAS PERTAMA
Arkan mulai menjelaskan.
"Ketika Cahaya Pertama muncul..."
"ia menciptakan kemungkinan."
"Dari kemungkinan itu lahirlah kehidupan."
Namun setiap cahaya memiliki sisi lain.
Setiap penciptaan memiliki kehancuran.
Setiap pilihan memiliki konsekuensi.
"Dan dari sisi yang tidak diterima oleh cahaya..."
"lahirlah Bayangan Pertama."
SOSOK DI BALIK KEGELAPAN
Sebuah bayangan muncul di udara.
Tidak memiliki bentuk yang jelas.
Tidak memiliki wajah.
Namun auranya membuat seluruh ruang terasa berat.
Sang Pengamat langsung mundur.
"Aku pernah merasakan energi ini."
Semua menatapnya.
"Di mana?"
Sang Pengamat menjawab:
"Di awal kehampaan."
ANCAMAN YANG BERBEDA
Seraphion menyipitkan mata.
"Apakah dia ingin menghancurkan dunia?"
Arkan menggeleng.
"Itu terlalu sederhana."
"Dia tidak ingin menghancurkan."
"Dia ingin membuktikan bahwa semua penciptaan adalah kesalahan."
Semua terdiam.
KEYAKINAN BAYANGAN PERTAMA
Arkan melanjutkan.
"Menurutnya..."
"dunia menderita karena memiliki pilihan."
"Jika tidak ada pilihan..."
"tidak akan ada kesalahan."
Oliver mengingat sesuatu.
"Pemikiran itu..."
"mirip dengan Seraphion."
Seraphion terdiam.
Karena ia menyadari sesuatu.
Bayangan Pertama bukan hanya musuh dari luar.
Ia adalah bentuk ekstrem dari ketakutan yang pernah ia miliki.
PANGGILAN DARI BAYANGAN
Tiba-tiba...
sebuah suara terdengar.
Bukan dari satu arah.
Melainkan dari seluruh ruang.
"Arkan."
Semua menoleh.
"Kau masih mempertahankan ciptaan yang rapuh ini?"
Arkan mengepalkan tangan.
"Kau seharusnya tetap tertidur."
Suara itu tertawa pelan.
"Dan kau seharusnya tahu..."
"Bahwa cahaya tidak pernah menang tanpa bayangan."
PILIHAN ARKAN
Atlas menatap Arkan.
"Kau mengenalnya."
Arkan diam.
Lalu menjawab:
"Ya."
"Dia adalah bagian dari diriku."
Semua terkejut.
DUA SISI SATU AWAL
Arkan melihat tangannya.
"Aku lahir dari Cahaya Pertama."
"Tapi dia lahir dari sisi yang ditolak."
"Kami bukan saudara."
"Kami bukan musuh."
"Kami adalah dua bagian dari awal yang sama."
BANGKITNYA BAYANGAN
Jauh di luar dunia...
sebuah mata terbuka.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada kehancuran.
Namun semua makhluk yang memiliki kekuatan merasakan hal yang sama.
Sesuatu yang lebih tua dari para dewa...
telah bangun.
PERINTAH ARKAN
Arkan berbalik kepada para pewaris.
"Kalian harus kembali ke Alam Dewa."
Atlas mengerutkan kening.
"Kau tidak ikut?"
Arkan menatap bayangan yang mulai membesar.
"Aku harus menahannya."
Oliver bertanya:
"Sendirian?"
Arkan tersenyum kecil.
"Tidak."
"Aku sudah tidak sendirian."
Ia melihat kelima pewaris darah Aurelian.
"Karena sekarang kalian membawa alasan kenapa cahaya pertama memilih menciptakan dunia."
AKHIR BAGIAN 1
Gerbang kembali menuju Alam Dewa terbuka.
Namun sebelum mereka pergi...
suara Bayangan Pertama terdengar sekali lagi.
"Pergilah."
"Kumpulkan seluruh kekuatan kalian."
"Karena ketika aku datang..."
"dunia akan dipaksa memilih."
Dan untuk pertama kalinya...
para pewaris menyadari.
Perang berikutnya bukan tentang siapa yang lebih kuat.
Tetapi tentang apakah keberadaan dunia ini masih layak dipertahankan.
Gerbang menuju Alam Dewa perlahan tertutup.
Atlas, Oliver, Aeron, Kael, Elyon, dan Seraphion kembali meninggalkan tempat asal Cahaya Pertama.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang merasa kemenangan.
Karena mereka tahu...
sesuatu yang jauh lebih tua dari seluruh sejarah sedang bergerak.
KEMBALINYA PARA PEWARIS
Saat mereka kembali ke Alam Dewa...
seluruh kerajaan para dewa langsung merasakan perubahan.
Langit yang sebelumnya tenang berubah gelap.
Bintang-bintang terlihat redup.
Bukan karena kehancuran.
Tetapi karena seluruh dunia seakan menunggu sesuatu.
Vael segera menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi?"
Atlas menatapnya.
"Kita memiliki musuh baru."
"Dan dia bukan berasal dari dunia mana pun yang kita kenal."
PENJELASAN TENTANG BAYANGAN
Di aula utama Alam Dewa...
para penjaga berkumpul.
Elyon menjelaskan tentang Bayangan Pertama.
"Dia bukan makhluk yang ingin mendapatkan kekuasaan."
"Dia tidak mencari tahta."
"Dia bahkan tidak menginginkan kehancuran."
Kael bertanya:
"Lalu apa yang dia inginkan?"
Elyon menjawab:
"Dia ingin membuktikan bahwa keberadaan adalah kesalahan."
Ruangan menjadi sunyi.
KETAKUTAN PARA DEWA
Para dewa mulai panik.
Karena selama ini...
mereka selalu menghadapi musuh yang memiliki tujuan.
Kekuasaan.
Balas dendam.
Kehancuran.
Namun kali ini...
mereka menghadapi sesuatu yang ingin menghapus alasan dunia untuk ada.
Sang Pengamat berdiri.
"Ketakutan terbesar bukanlah ketika musuh ingin menang."
"Tapi ketika musuh percaya bahwa kemenangan bukan tujuan."
SERAPHION DAN MASA LALUNYA
Seraphion berdiri jauh dari yang lain.
Ia memandang langit.
Elyon menghampirinya.
"Kau memikirkan sesuatu."
Seraphion diam.
Lalu berkata:
"Aku hampir menjadi seperti dia."
Elyon tidak menjawab.
"Jika aku memiliki kekuatan sebesar itu dulu..."
"Aku mungkin akan melakukan hal yang sama."
PERUBAHAN SERAPHION
Untuk pertama kalinya...
Seraphion tidak mencari alasan untuk membenarkan dirinya.
Ia mengakui kesalahannya.
"Aku pikir menghapus penderitaan berarti menyelamatkan dunia."
"Tapi sekarang aku mengerti..."
"Dunia bukan berharga karena tidak memiliki masalah."
"Dunia berharga karena mereka masih bisa memilih untuk menjadi lebih baik."
Elyon tersenyum kecil.
"Berarti kau akhirnya memahami sumpah Aurelian."
PERSIAPAN PERANG BESAR
Atlas memanggil seluruh penjaga.
"Kita tidak tahu kapan dia datang."
"Tapi kita harus bersiap."
Pasukan Alam Dewa mulai bergerak.
Namun kali ini...
mereka tidak bersiap untuk perang biasa.
Mereka bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa dilawan hanya dengan kekuatan.
KEKUATAN YANG BERBEDA
Oliver mencoba membaca kemungkinan masa depan.
Namun kali ini...
ia berhasil melihat sesuatu.
Bukan masa depan.
Melainkan sebuah kemungkinan.
Sebuah dunia tanpa cahaya.
Sebuah dunia tanpa bayangan.
Sebuah dunia tanpa pilihan.
Oliver langsung membuka mata.
"Aku melihat akhir."
Atlas menatapnya.
"Apa yang terjadi?"
Oliver menjawab:
"Jika kita kalah..."
"...tidak akan ada kehancuran."
Semua diam.
"Lalu?"
Oliver menatap mereka.
"Tidak akan ada apa pun."
PESAN ARKAN
Tiba-tiba simbol cahaya muncul di tangan Atlas.
Pesan dari Arkan.
Suara Arkan terdengar:
"Jangan mencoba mengalahkannya dengan menjadi lebih kuat."
"Itulah kesalahan pertama para makhluk hidup."
"Ketika menghadapi sesuatu yang takut pada kehidupan..."
"jangan buktikan bahwa kalian lebih kuat."
"Buktikan bahwa kehidupan memiliki alasan untuk dipertahankan."
RAHASIA KEKUATAN BAYANGAN
Sang Pengamat membaca energi Bayangan Pertama.
Wajahnya berubah.
"Ada sesuatu yang salah."
Aeron bertanya:
"Apa?"
Sang Pengamat menjawab:
"Bayangan itu tidak semakin kuat karena menyerap energi."
"Ia semakin kuat..."
"...karena semakin banyak makhluk yang kehilangan harapan."
Semua terdiam.
MUSUH SEBENARNYA
Atlas akhirnya memahami.
Bayangan Pertama tidak membutuhkan pasukan.
Tidak membutuhkan senjata.
Tidak membutuhkan kerajaan.
Karena senjata terbesarnya adalah keraguan.
Dan jika para makhluk mulai percaya bahwa dunia tidak layak diselamatkan...
maka Bayangan Pertama akan menang.
BERSAMBUNG
Malam itu...
di ujung Alam Dewa...
sebuah retakan hitam mulai terbuka.
Bukan gerbang.
Bukan portal.
Melainkan tanda bahwa Bayangan Pertama mulai mendekat.
Dan dari dalam kegelapan...
sebuah suara terdengar.
"Aku datang bukan untuk menghancurkan dunia."
"Aku datang untuk menunjukkan bahwa dunia tidak pernah pantas ada."
Retakan hitam di langit Alam Dewa semakin melebar.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada gelombang kehancuran.
Namun setiap makhluk yang melihatnya merasakan sesuatu yang lebih menakutkan.
Kehadiran yang membuat hati mempertanyakan segalanya.
KEDATANGAN BAYANGAN PERTAMA
Para penjaga berdiri di seluruh penjuru Alam Dewa.
Mereka siap bertarung.
Namun Atlas menyadari sesuatu.
Musuh kali ini tidak datang seperti musuh sebelumnya.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada serangan.
Hanya satu keberadaan.
Sebuah bayangan perlahan turun dari retakan.
Bentuknya menyerupai seseorang.
Namun wajahnya selalu berubah.
Seolah-olah ia mengambil bentuk dari ketakutan setiap makhluk yang melihatnya.
PERTEMUAN ARKAN DAN BAYANGAN
Cahaya muncul di samping para pewaris.
Arkan kembali.
Namun kali ini...
auranya berbeda.
Ia tidak datang sebagai pengamat.
Ia datang sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab.
Bayangan Pertama menatapnya.
"Kau masih memilih mereka?"
Arkan menjawab:
"Ya."
"Meskipun mereka lemah?"
Arkan melihat para makhluk di Alam Dewa.
"Mereka lemah."
"Tapi mereka bisa berubah."
ARGUMEN BAYANGAN
Bayangan itu tertawa kecil.
"Itulah kesalahan cahaya."
"Kalian selalu melihat kemungkinan."
"Kalian selalu berharap."
"Tapi berapa banyak yang harus menderita sebelum kalian mengakui bahwa pilihan adalah sumber kehancuran?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka tahu...
ada kebenaran dalam kata-katanya.
JAWABAN ATLAS
Atlas maju.
"Dunia memang penuh kesalahan."
"Banyak yang terluka."
"Banyak yang membuat keputusan buruk."
Bayangan itu menatapnya.
"Lalu?"
Atlas menggenggam senjatanya.
"Namun kesalahan bukan alasan untuk menghapus kesempatan."
"Kalau seseorang bisa berubah..."
"maka dunia masih memiliki alasan untuk bertahan."
UJIAN BAYANGAN
Bayangan Pertama mengangkat tangannya.
Tiba-tiba seluruh Alam Dewa berubah.
Para pewaris melihat dunia yang berbeda.
Dunia tanpa perang.
Tanpa kehilangan.
Tanpa kesedihan.
Dunia sempurna.
Namun kali ini...
mereka tahu harga di baliknya.
COBAAN UNTUK OLIVER
Oliver melihat semua orang yang pernah ia gagal lindungi.
Bayangan itu berkata:
"Kau bisa mengembalikan mereka."
"Kau hanya perlu menerima bahwa pilihan tidak diperlukan."
Oliver terdiam.
Kenangan itu terasa nyata.
Namun ia menggeleng.
"Jika aku menghapus pilihan..."
"...maka mereka bukan lagi mereka."
COBAAN UNTUK ATLAS
Atlas melihat dunia di mana tidak ada seorang pun yang terluka.
Semua aman.
Semua bahagia.
Tapi semua keputusan dibuat olehnya.
Bayangan bertanya:
"Bukankah ini yang kau inginkan?"
Atlas menjawab:
"Tidak."
"Aku ingin melindungi mereka."
"Bukan memiliki mereka."
COBAAN UNTUK SERAPHION
Seraphion melihat masa lalunya.
Ia melihat semua penderitaan yang membuatnya memilih jalannya.
Bayangan berkata:
"Lihat."
"Semua ini terjadi karena mereka memiliki kebebasan."
Seraphion diam lama.
Lalu berkata:
"Dulu aku percaya begitu."
"Tapi sekarang aku tahu..."
"Rasa sakit bukan bukti bahwa kehidupan gagal."
"Rasa sakit adalah bagian dari alasan seseorang menghargai kehidupan."
KEKUATAN YANG TIDAK TERDUGA
Bayangan Pertama mulai melemah.
Bukan karena serangan.
Bukan karena kekuatan.
Tetapi karena sesuatu yang tidak ia pahami.
Harapan.
Arkan tersenyum.
"Ini alasan cahaya memilih mereka."
BAYANGAN BELUM KALAH
Namun tiba-tiba...
Bayangan Pertama tertawa.
"Kalian pikir ini kemenangan?"
Tubuhnya mulai menghilang.
"Aku tidak datang untuk menang hari ini."
"Aku datang untuk menanamkan pertanyaan."
Semua terdiam.
Sebelum menghilang...
Bayangan itu berkata:
"Karena ketika dunia mulai meragukan dirinya sendiri..."
"...aku akan kembali."
SETELAH PERTEMUAN
Retakan di langit tertutup.
Namun tidak ada yang merasa lega.
Karena mereka tahu...
pertempuran sebenarnya baru dimulai.
Sang Pengamat melihat seluruh Alam Dewa.
"Dia benar."
Atlas menatapnya.
"Apa maksudmu?"
Sang Pengamat menjawab:
"Bayangan Pertama tidak membutuhkan kehancuran."
"Ia hanya perlu membuat kita berhenti percaya."
Arkan menatap langit.
"Dan karena itu..."
"Kita harus menemukan alasan baru untuk tetap berharap."
Di kejauhan...
sebuah cahaya kecil muncul.
Pesan terakhir dari Cahaya Pertama.
"Perjalanan kalian belum mencapai akhir."