~ terinspirasi dari legenda Jaka Tarub ~
Tentang bagaimana seorang pemuda dari jaman Hindu-Buddha bisa hinggap di jaman moderen. Namanya Aji, pekerjaan sehari-harinya adalah berburu, memancing, dan berdagang.
Ia mendadak tersedot oleh sebuah lingkaran aneh di langit. Lingkaran aneh itu kemudian membawanya ke suatu daerah yang sangat aneh. Ia melihat banyak hal aneh di daerah tersebut. Yang pada akhirnya, Aji akan berjumpa dengan cinta sejatinya.
"Ini di tahun 2015?" tanya pemuda yang ternyata bernama Aji tersebut.
Lalu, seorang gadis muda nan berparas ayu itu mengangguk.
Akankah Aji bisa kembali selamanya ke masanya lagi? Atau, seterusnya ia akan di tahun 2015? Siapakah juga cinta sejati Aji? Pretty? Shania? Anindita? Rohaya? Mareta? Anastasia? Febe? Atau, masih ada yang lainkah?
Cover by:
RON AND TEAM
mahapatihronnietambunan@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IG @nuellubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aji di Rumah Lani
"Pretty," Seorang ibu yang mengenakan sanggup yang sepertinya hendak ke acara lernikahan, menghampiri Pretty.
"Iya, Mom," Pretty mengeluh lagi. Perempuan itu belum siap mendengarkan celotehan ibu kandungnya.
"Tadi Mommy lihat, kamu ke rumah security kita. Ada apa?"
"Minta dibeliin pembalut, Mom. Pretty lagi haid." jawab Pretty asal saja.
"Tapi, baru kemarin kamu selesai haid. Mommy nggak suka kamu berbohong."
"Bu-buat te-temen Pretty, Mom." Sejak kecil, Pretty memang tak berbakat untuk menjadi seorang pembohong. Dia selalu gugup, jika harus berkata hal yang tak sesuai dengan fakta sesungguhnya. Maka dari itu, Pretty selalu mempersiapkan apa saja yang harus diucapkan, jika harus berbohong.
"Ada yang kamu sembunyikan dari Mommy. Kamu nggak naksir sama security kita, kan?" selidik Mommy yang was-was anak sulungnya jatuh cinta dengan seorang duda yang sudah memiliki tiga orang anak tersebut.
"Are you kidding, Mom? Apa aku kelihatan sebagai daun muda yang suka mengejar om-om?"
Di dalam keluarga Sumaili, sebetulnya bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Inggris. Bahasa Inggris dan Indonesia digunakan secara bergantian. Kadang ayah Pretty sering menyisipkan kosa kata bahasa Belanda, mengingat darah Belanda dalam nadi ayah Pretty.
"Justru Mom yang berkata begitu. Tapi, andai kamu mulai menyukai pria yang lebih tua, yah Mommy bisa apa. Selama kamu bahagia, Mommy turut berbahagia. Toh, kamu sudah dewasa. Usia kamu sudah dua puluh dua. Kamu lebih tahu mana yang terbaik untuk kamu." Mommy mulai berceloteh panjang lebar. Ini yang Pretty hindarkan.
"Eee..." Pretty bingung harus menjawab apa. Menyukai laki-laki yang lebih tua, memang tengah Pretty rasakan. Akan tetapi, bukan dengan Lani juga. Pretty sepertinya jatuh hati ke Aji. Aji bisa dibilang lebih tua dari Pretty. Itu terlihat dari penampilan Aji yang begitu kampungan.
"Benar dugaan Mommy? No need to be ashamed. Kamu tahu sendiri, Daddy dan Mommy berjarak usia sepuluh tahun. Perbedaan usia bukan masalah besar untuk Daddy dan Mommy. Pokoknya, selama Pretty bahagia dengan pilihan Pretty, Mommy dukung. Mommy juga belum pernah melihat kamu pacaran sebelumnya."
Bagaimana Pretty menjelaskannya? Akankah Mommy percaya dengan cerita Pretty? Ceritanya sedikit aneh bin ajaib, namun sungguh terjadi dialami tadi pagi. Pretty juga tidak yakin ini cinta. Lantas, deburan jantung itu apa? Bisakah disebut cinta saat jantung kita berdebar melihat wajah seorang lawan jenis?
***
Di rumah Lani,
"Kowe adus dhisik. Awak kowe mambu. Mengko kowe nganggo klambine anak saya sing lagi wae mlebu SMP. Podo wae, kowe sama dia." ujar Lani yang menyodorkan pakaian anak sulungnya yang baru duduk di kelas tujuh.
Aji menerimanya dengan bingung. "Adus? Nanging, kene ora ana kali."
Lani sepertinya tak salah dengar. Geli juga dia, namun ada rasa kesal juga. Anak majikannya memperkenalkan dia ke orang dari kampung mana? Apa Aji ini diambil dari daerah terpencil Indonesia?
"Ora ono kali ing kene. Kowe adus ing kamar mandi. Ngerti?"
"Kamar mandi?" Aji makin kebingungan. "Iku apa?"
"Tuh--" Lani menunjuk ruangan kecil di sudut rumah. "--iku nama'e kamar mandi. Ing ngendi kita ngresiki awak. Ojo kakehan takon. Mumet iki saya."
Aji mengangguk dan melihat pria paruh baya melengos begitu saja--meninggalkan Aji yang masih kebingungan. Cara mandi di dunia ini seperti apa, pikir Aji. Ganti Aji yang kebingungan sekali.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.