NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Ruang Arsip dan Bisikan Pagi

Suara derap langkah sepatu pantofel menggema teratur di sepanjang koridor lantai dasar gedung administrasi utama SMA Bina Bangsa. Udara pagi terasa segar, membawa aroma dedaunan basah sisa gerimis semalam yang menempel di kaca jendela besar koridor.

Di dalam ruang arsip tua yang terletak tepat di belakang aula utama, lampu gantung kuning kuno memancarkan cahaya temaram ke atas tumpukan kotak kardus berisi dokumen historis yayasan dari dekade sembilan puluhan. Ruangan itu jarang dikunjungi sejak proyek digitalisasi dimulai, sehingga aroma debu dan kertas usang mendominasi ruangan seluas ruang kelas tersebut.

Rian berdiri di depan sebuah lemari besi tua bercat hijau pudar. Jari-jarinya yang lentur bergerak cekatan membuka lembar demi lembar map arsip lama yang memuat catatan anggaran pembangunan gedung sekolah puluhan tahun silam. Di sampingnya, sebuah laptop tipis menyala, menampilkan jendela terminal kode dengan barisan data pemulihan server yang sedang berjalan otomatis.

Cklek.

Pintu kayu ruang arsip terdorong pelan. Kirana—yang hari itu kebetulan datang sebagai pustakawan sukarelawan magang untuk membantu verifikasi data historis lintas institusi—muncul dari balik pintu dengan membawa segelas cangkir kertas berisi teh hijau hangat di tangan kanannya.

"Kau sudah datang sepagi ini, Rian?" sapa Kirana pelan, sedikit terkejut mendapati sosok pemuda itu sudah sibuk di sudut ruangan. Ia melangkah mendekat, lalu menyodorkan cangkir teh hijau tersebut ke atas meja kayu di dekat Rian. "Biasanya anak-anak sekolahmu baru akan masuk gerbang sepuluh menit sebelum bel berbunyi."

Rian menoleh pelan, menghentikan aktivitas mengetiknya di laptop. Ia menatap cangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis itu, lalu mendongak menatap Kirana dengan senyuman tipis yang ramah.

"Selamat pagi, Kirana," ucap Rian dengan nada suaranya yang tenang dan rendah. "Datang lebih awal memberikan keuntungan ruang sunyi sebelum aktivitas harian di sekitar sekolah mulai bising."

Kirana menarik sebuah kursi kayu lipat, lalu duduk di seberang Rian sambil menyandarkan punggungnya. Ia melirik layar laptop Rian yang dipenuhi kode pemodelan data yang rumit. "Kau tidak pernah berhenti membuatku takjub, tahu. Kemarin orang-orang membicarakanmu karena mendapat tiket fast-track ke grand final olimpiade sains nasional, dan hari ini kau malah menghabiskan pagi di ruang arsip kumuh ini untuk merapikan dokumen sejarah lama."

"Pencapaian akademik di atas panggung perlombaan tidak ada artinya jika fondasi sejarah dan data dasarnya tidak dirapikan dengan benar," jawab Rian tenang, menyesap sedikit teh hijau hangat yang diberikan Kirana untuk menyegarkan tenggorokannya. "Sebagian besar orang mengira masa lalu adalah sesuatu yang sudah selesai. Padahal, masa lalu hanyalah cetak biru berulang dari apa yang sedang kita lakukan di masa sekarang."

Kirana terdiam sejenak, meresapi makna di balik kalimat Rian. Ia menyangga dagunya dengan sebelah tangan, menatap lekat-lekat manik mata Rian yang tampak sangat dalam dan menyimpan kedewasaan luar biasa.

"Omong-omong tentang masa lalu," kata Kirana mengubah topik pembicaraan dengan suara yang sedikit diturunkan. "Aku mendengar desas-desus dari beberapa teman kuliahku yang magang di kantor kejaksaan. Mereka bilang, penyelidikan terhadap jaringan korupsi Viktor Tan ternyata menyeret beberapa nama besar dari dewan pengurus lama yayasan sekolahmu. Apakah pihak sekolah tidak merasa terancam dengan pembersihan besar-besaran itu?"

Rian menggelengkan pelan, jemarinya kembali menari di atas papan ketik laptop untuk menyimpan direktori data arsip yang baru saja ia verifikasi.

"Sebuah bangunan yang keropos di bagian tiang penyangga tidak akan bisa diselamatkan hanya dengan mengecat ulang dinding luarnya, Kirana," jawab Rian dengan nada datar namun penuh keyakinan mutlak. "Pembersihan itu adalah prasyarat mutlak agar institusi pendidikan bisa berdiri di atas fondasi yang jujur. Direktur Hartawan mengambil keputusan yang tepat untuk memotong bagian yang busuk."

Kirana mengangguk-angguk kecil, merasa kagum dengan cara pandang Rian yang begitu objektif dan tidak terpengaruh oleh kepanikan sosial di luar sana. "Kau benar... Terkadang, keberanian untuk meruntuhkan sistem yang salah jauh lebih penting daripada sekadar mencari aman di tengah kerumunan."

Sebelum Kirana sempat melanjutkan pertanyaannya, nada dering pendek dari ponsel Rian berbunyi pelan di atas meja. Rian melirik layar kecil ponsel tersebut; sebuah pesan masuk dengan enkripsi tingkat tinggi dari Hartawan Kusuma.

[ Pesan: "Tuan Rian, laporan verifikasi arsip sejarah yayasan gelombang pertama telah diterima oleh tim audit pusat. Direktur Hartawan ingin mengundang Anda untuk singgah sebentar di ruang kerjanya setelah jam sekolah siang ini guna membahas rancangan awal laboratorium riset pusat." ]

Rian membaca pesan itu sekilas, lalu mengetikkan balasan singkat: [ 'Baik, saya akan datang tepat waktu setelah jam pelajaran berakhir.' ]

Ia mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku rompi almamaternya.

"Ada urusan penting lagi?" tanya Kirana menangkap gestur Rian.

"Hanya undangan koordinasi rutin dengan pihak yayasan," jawab Rian berdiri dari kursi kayunya, merapikan beberapa lembar arsip ke dalam kotak dokumen dengan rapi. "Hari sudah hampir jam delapan pagi, Kirana. Aku harus segera bersiap menuju kelas sebelum bel masuk berbunyi."

Kirana ikut berdiri, tersenyum manis. "Baiklah, Rian. Jangan lupa minum tehnya sampai habis. Semangat untuk hari ini!"

"Terima kasih atas tehnya, Kirana," ucap Rian singkat, lalu berbalik dan melangkah tenang meninggalkan ruang arsip menuju gedung utama SMA Bina Bangsa.

Sementara itu, di lantai sepuluh gedung utama Kusuma Tower, suasana di ruang kerja pribadi Hartawan Kusuma tampak sangat tenang dan eksklusif. Di balik meja kerja kayu mahoni yang luas, Hartawan duduk sambil meneliti laporan pendahuluan rancangan arsitektur laboratorium riset teknologi mikro yang akan dibangun khusus untuk Rian di bawah sponsor Kusuma Group.

Pintu kaca ruangan bergeser perlahan, menampilkan sosok Wijaya—kepala divisi pengembangan teknologi dan riset—yang melangkah masuk dengan membawa map biru tebal berisi spesifikasi perangkat keras kuantum.

"Tuan Hartawan," sapa Wijaya hormat sambil membungkuk sekadarsekadar. Ia meletakkan map biru tersebut di atas meja. "Tim teknik kita sudah menyelesaikan draf spesifikasi pengadaan perangkat keras laboratorium riset yang Anda minta. Jika proposal ini disetujui, kita bisa langsung memulai tahap instalasi fisik di gedung pusat riset minggu depan."

Hartawan membuka map tersebut, membaca angka-angka anggaran dan spesifikasi teknis perangkat dengan teliti. Ia mengangguk puas. "Angka investasinya memang cukup besar, Wijaya. Tapi aku yakin setiap sen yang kita keluarkan untuk proyek ini akan membuahkan hasil revolusioner bagi perkembangan teknologi perusahaan kita ke depan."

"Saya sangat setuju, Tuan," timpal Wijaya dengan antusias. "Namun, sejujurnya, ada satu hal yang masih membuat saya penasaran. Mengapa Anda begitu mempercayakan proyek riset bernilai miliaran ini kepada seorang remaja yang masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah?"

Hartawan mendongak dari lembar laporan, menatap Wijaya dengan senyuman misterius di bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kerja.

"Kau melihat Rian sebagai seorang remaja berusia tujuh belas tahun, Wijaya," kata Hartawan pelan dengan nada suara yang penuh keyakinan. "Tapi dari cara dia menganalisis masalah, membaca pola informasi, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan... aku melihat seorang arsitek masa depan yang sedang membangun jalurnya sendiri. Di dunia bisnis dan sains, orang-orang seperti Rian adalah aset langka yang tidak bisa dinilai dengan uang."

Wijaya terdiam sejenak, meresapi penilaian tinggi yang diberikan oleh direktur utamanya. Ia mengangguk paham. "Baik, Tuan. Saya akan memastikan seluruh fasilitas laboratorium disiapkan sesuai dengan standar tertinggi yang diinginkan oleh Rian."

Kembali di lingkungan SMA Bina Bangsa, jarum jam dinding di atas papan tulis kelas 11-B menunjukkan pukul dua belas siang ketika bel tanda waktu istirahat berdering nyaring. Sebagian besar siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin atau area lapangan rumput hijau di bawah naungan pohon trembesi.

Maya berjalan mendekati bangku Rian di sudut belakang kelas, membawa buku catatan fisika dan selembar lembar kerja kelompok. "Rian, apakah kau punya waktu luang sepuluh menit sebelum kita pergi ke ruang bimbingan Pak Darma? Ada beberapa soal termodinamika yang masih belum kupahami sepenuhnya."

Rian merapikan alat tulisnya ke dalam meja, lalu mendongak menatap Maya dengan tenang. "Tentu, Maya. Tunjukkan bagian soal mana yang membingungkanmu."

Maya dengan antusias menunjuk halaman tiga buku catatan miliknya, di mana deretan rumus diferensial kompleks tertulis rapi. "Di sini... mengapa pada tahap penurunan persamaan entropi sistem tertutup, konstanta waktunya harus diubah menggunakan matriks non-linear? Bukankah rumus standar biasanya menggunakan pendekatan linier biasa?"

Rian meraih pensil di tangan Maya, lalu menuliskan beberapa garis persamaan tambahan di bawah catatan tersebut dengan gerakan tangan yang sangat presisi dan cepat.

"Pendekatan linier hanya berlaku jika sistem berada dalam kondisi kesetimbangan stabil yang statis, Maya," jelas Rian dengan suara jernih dan sabar. "Namun, di dunia nyata, setiap aliran energi selalu mengalami fluktuasi dinamis. Jika kau tidak menggunakan matriks non-linear, kalkulasimu akan kehilangan variabel perubahan mikroskopis yang paling menentukan."

Maya mengamati tulisan tangan Rian dengan mata berbinar kagum. "Ah... begitu! Penjelasannya selalu terdengar begitu logis dan mudah dipahami setelah kau uraikan seperti itu. Terima kasih banyak, Rian!"

"Sama-sama," jawab Rian singkat, menutup buku catatan tersebut.

Setelah bel tanda akhir istirahat berdering kembali, Rian dan Maya berjalan berdampingan menuju ruang bimbingan guru sains. Di dalam dada Rian, aliran energi Qi berputar selaras dengan detak jantungnya, menjaga ketenangan batin dan kejernihan pikirannya di tengah dinamika dunia sekolah yang terus bergerak.

Bagi Rian, setiap bimbingan, setiap lembar arsip, dan setiap langkah kecil di sekolah ini adalah bagian dari harmoni semesta yang berjalan sempurna, menuntun dirinya menuju babak grand final nasional dan pencapaian spiritual yang jauh lebih tinggi di masa depan.

1
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!