Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Perempuan yang Menyimpan Dosa
Hujan mengguyur Shanghai ketika Celine Wang tiba di Hotel Lanting keesokan paginya.
Bangunan itu sudah tidak lagi berfungsi sebagai hotel. Sejak tujuh tahun lalu, sebagian besar ruangannya ditutup setelah perusahaan pemiliknya mengalami kebangkrutan. Hanya beberapa kantor kecil di lantai dasar yang masih digunakan, sementara lantai atas dibiarkan kosong dan dipenuhi debu.
Celine berdiri di depan pintu masuk, menggenggam salinan surat terakhir ibunya.
Bawa kepada William. Hanya dia yang masih bisa dipercaya.
Kalimat dalam rekaman Shen Yiran terus terngiang di kepalanya.
Jika rekaman itu asli, berarti ibunya pernah bertemu dengan Shen Yiran setelah kematian Shen Guowei. Mereka mungkin telah bekerja sama untuk menyelamatkan dokumen yang dapat mengungkap pengalihan aset Shengyuan.
Namun, mengapa Amelia tidak pernah menceritakan semuanya?
Dan mengapa pesan anonim yang diterimanya semalam begitu keras melarangnya datang ke tempat ini?
“Celine.”
Daniel muncul dari sebuah mobil hitam bersama dua petugas keamanan. Ia menghampiri Celine sambil membawa tas berisi peralatan pemeriksaan dokumen.
“Aku sudah memeriksa informasi bangunan ini. Ruang arsip lama berada di lantai tiga. Pemilik baru mengizinkan kita masuk setelah menerima surat permintaan resmi.”
Celine mengangguk.
“Aku tidak ingin mengambil apa pun tanpa pencatatan. Jika kita menemukan dokumen, semuanya harus difoto dan diperiksa sebelum dipindahkan.”
Daniel tersenyum tipis.
“Kau semakin berhati-hati.”
“Aku sudah terlalu sering melihat bagaimana sebuah bukti bisa digunakan untuk menyesatkan orang.”
Senyum Daniel menghilang ketika melihat kesedihan di wajahnya.
“Kau tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Celine menunduk sesaat.
“Aku tahu. Tapi terkadang, aku merasa semakin banyak orang membantuku, semakin banyak pula rahasia yang harus kutakuti.”
Daniel tidak memaksanya menjawab lebih jauh. Mereka kemudian memasuki bangunan tersebut.
Ruang arsip di lantai tiga berada di ujung koridor yang gelap. Pintu kayunya sudah lapuk, tetapi kuncinya tampak baru diganti.
Daniel menunjukkan surat izin kepada pengelola gedung. Setelah pintu dibuka, mereka menemukan ruangan sempit dengan lemari besi tua dan sejumlah kotak dokumen.
“Hotel ini pernah menjadi tempat pertemuan bisnis Shen Guowei dan William,” jelas Daniel. “Mereka mungkin menyimpan salinan kontrak di sini sebelum Shengyuan berdiri.”
Celine memeriksa setiap kotak dengan hati-hati.
Hampir satu jam berlalu tanpa hasil berarti. Sebagian besar dokumen telah rusak akibat kelembapan. Beberapa hanya berisi tagihan hotel dan daftar tamu dari bertahun-tahun lalu.
Hingga akhirnya, Celine menemukan sebuah buku registrasi yang sampulnya terlepas.
Ia membuka halaman bertanggal lima belas tahun lalu.
Di sana tercatat tiga nama yang membuat napasnya tertahan.
William Wang.
Shen Yiran.
Amelia Wang.
Ketiganya tercatat menggunakan ruang pertemuan yang sama pada pukul delapan malam, tiga hari setelah kematian Shen Guowei.
Celine menyentuh nama ibunya dengan ujung jari.
“Ibu benar-benar bertemu dengannya,” bisiknya.
Daniel memotret halaman itu.
“Ini bukti bahwa mereka berada di tempat yang sama, tetapi belum membuktikan apa yang mereka bicarakan.”
Celine membalik halaman berikutnya.
Di bagian bawah terdapat catatan kecil dari petugas hotel:
Pertemuan dihentikan pukul 21.35. Seorang pria datang menjemput Nyonya Amelia. Dokumen diserahkan kepada pihak kedua.
“Pihak kedua?” Celine mengerutkan kening. “Siapa yang dimaksud?”
Daniel memeriksa halaman itu dengan kaca pembesar.
“Tidak ada nama. Hanya inisial.”
Ia menunjuk dua huruf yang ditulis samar di sebelah catatan tersebut.
A.W.
Celine merasakan dadanya mengencang.
“Inisialku?”
“Mungkin. Tapi A.W. juga bisa merujuk pada orang lain. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan.”
Celine mengangguk, meski pikirannya sudah dipenuhi pertanyaan.
Apakah Amelia menyerahkan dokumen kepada seseorang yang menggunakan inisial yang sama dengannya? Ataukah catatan itu memang sengaja dibuat agar penyelidikan mengarah kepadanya?
Tiba-tiba, Daniel menemukan sebuah amplop tipis yang terselip di antara dua halaman buku registrasi.
Amplop itu kosong, tetapi pada bagian dalamnya terdapat tulisan tangan yang hampir pudar.
Salinan kedua tidak pernah meninggalkan ruangan ini.
Celine segera memandang lemari besi di sudut ruangan.
“Kalau begitu, kita harus memeriksa lemari itu.”
Lemari besi tersebut terkunci, tetapi pengelola gedung memiliki kunci cadangan. Setelah dibuka, mereka menemukan beberapa map tua, sebuah kotak kayu kecil, dan sebuah kaset rekaman.
Di atas kotak kayu terdapat tulisan tangan Amelia.
Untuk William, jika aku tidak sempat menjelaskan semuanya.
Celine merasa lututnya melemah.
Selama bertahun-tahun, ia membayangkan ibunya meninggalkan semua rahasia penting di dalam kotak kayu yang ditemukannya dahulu. Namun, ternyata masih ada satu kotak lain yang tidak pernah ia ketahui.
Daniel mengenakan sarung tangan sebelum membuka tutupnya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto, selembar surat, dan salinan dokumen pengalihan aset Shengyuan.
Tanda tangan William, Victor, dan Shen Guowei terlihat pada halaman pertama. Namun, pada halaman kedua, terdapat tanda tangan seseorang yang tidak mereka duga.
Shen Yuxin.
Celine membeku.
“Tidak mungkin.”
Daniel segera memeriksa tanggal dokumen tersebut.
Tanggalnya tercatat lima belas tahun lalu, ketika Yuxin masih sangat muda.
“Bisa jadi tanda tangan ini milik orang lain dengan nama yang sama,” ujar Daniel. “Atau dokumennya telah diubah.”
Celine menatap tanda tangan itu dengan perasaan campur aduk.
Apakah Yuxin benar-benar terlibat dalam pengalihan aset? Jika tidak, mengapa namanya muncul dalam dokumen yang begitu tua?
Ia mengambil surat Amelia dan mulai membacanya.
William, jika kau membaca surat ini, berarti aku tidak berhasil menyerahkan seluruh bukti kepadamu.
Shen Yiran mengetahui siapa yang mengubah angka dalam laporan Shengyuan. Namun, ia tidak bisa mengungkapkannya tanpa membahayakan anak yang sedang dilindunginya.
Jangan mencari Shen Yiran melalui Victor. Dia bukan orang yang membawanya pergi.
Celine berhenti membaca.
Kalimat berikutnya ditulis dengan tinta berbeda.
Dan jika suatu hari Celine mencari kebenaran ini, jangan biarkan dia mengetahui semuanya sekaligus. Ada kesalahan yang kulakukan demi menyelamatkan keluarga kita. Aku tidak tahu apakah dia akan sanggup memaafkanku.
Air mata menggenang di mata Celine.
“Ibu menyembunyikan sesuatu dariku sampai akhir hayatnya.”
Daniel meletakkan tangannya di atas meja, tidak menyentuh Celine, tetapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana.
“Mungkin ibumu ingin melindungimu.”
“Semua orang mengatakan hal yang sama.” Suara Celine bergetar. “Ayah menyembunyikan sesuatu untuk melindungiku. Ibu menyembunyikan sesuatu untuk melindungiku. Victor menyembunyikan sesuatu untuk melindungi keluarganya.”
Ia mengusap pipinya.
“Lalu siapa yang melindungiku dari akibat semua kebohongan mereka?”
Daniel tidak memiliki jawaban.
Celine menunduk, menatap surat itu dengan hati yang terasa hancur. Ia ingin mengenang ibunya sebagai perempuan yang penuh kasih, bukan seseorang yang ikut terlibat dalam rahasia yang menyebabkan keluarganya kehilangan segalanya.
Namun, ia juga tahu bahwa mencintai seseorang tidak berarti menutup mata terhadap kesalahannya.
Ia akan mencari kebenaran tentang Amelia, meskipun jawabannya menyakitkan.
Sore harinya, Celine menghubungi Shen Yuxin dan memintanya datang ke Hotel Lanting.
Yuxin tiba tiga puluh menit kemudian. Begitu melihat dokumen di atas meja, wajahnya langsung pucat.
“Kau menemukan ini di mana?” tanyanya.
“Di ruang arsip lama. Aku ingin tahu mengapa namamu tercantum pada dokumen pengalihan aset Shengyuan lima belas tahun lalu.”
Yuxin memandang tanda tangan tersebut tanpa menyentuhnya.
“Aku tidak pernah menandatangani dokumen ini.”
“Kalau begitu, siapa yang menggunakan namamu?”
“Aku tidak tahu.”
Celine mengamati wajahnya.
“Apakah kau pernah mendengar tentang dokumen ini sebelumnya?”
Yuxin menggeleng, tetapi matanya bergerak ke arah surat Amelia.
“Di mana kau mendapatkan surat itu?”
“Di kotak milik ibuku.”
Yuxin membaca beberapa baris yang terlihat, kemudian mendadak duduk.
“Ayahku pernah mengatakan bahwa ada seseorang yang menggunakan nama anggota keluarga Shen untuk mengesahkan pengalihan aset. Aku tidak pernah tahu siapa orangnya.”
“Apakah itu sebabnya kau menerima surat misterius empat tahun lalu?”
Yuxin terdiam.
“Ya. Tapi aku tidak tahu siapa pengirimnya. Aku hanya diberi tahu bahwa jika seorang perempuan bernama Celine Wang datang mencari kebenaran, aku harus membantunya.”
Celine menarik napas panjang.
“Aku ingin mempercayaimu, Yuxin. Tapi aku tidak bisa terus berjalan dengan mengandalkan kepercayaan saja.”
“Aku mengerti.”
“Mulai sekarang, kita akan memeriksa setiap dokumen bersama Daniel. Tidak ada lagi rahasia di antara kita.”
Yuxin mengangguk pelan.
“Ada satu hal yang belum kukatakan kepadamu,” ujarnya kemudian. “Beberapa bulan lalu, aku menerima foto seorang perempuan yang sangat mirip dengan Shen Yiran. Foto itu diambil di Hong Kong.”
Celine menegakkan tubuh.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Karena aku tidak yakin perempuan itu benar-benar Yiran. Dan karena orang yang mengirimkannya memberikan satu peringatan.”
“Apa?”
Yuxin menatap Celine dengan mata berkaca-kaca.
“Dia mengatakan bahwa jika aku membantumu menemukan Yiran, kau akan mengetahui siapa yang sebenarnya diselamatkan oleh ibumu malam itu.”
Celine merasa jantungnya berdegup keras.
“Siapa yang diselamatkan Ibu?”
Yuxin menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Malam itu, ketika Celine kembali ke apartemennya, sebuah paket kecil telah menunggu di depan pintu.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat foto Amelia Wang sedang berdiri di depan sebuah rumah tua. Di sampingnya ada Shen Yiran, sementara seorang anak kecil berdiri di antara mereka.
Pada bagian belakang foto tertulis tanggal yang sama dengan tanggal pertemuan di Hotel Lanting.
Di bawahnya terdapat satu kalimat:
Anak yang diselamatkan Amelia bukan anak Shen Yiran.
Celine membaca kalimat itu berulang kali.
Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya terasa membeku.
Anak kecil dalam foto itu mengenakan gelang perak dengan liontin berbentuk bunga. Celine pernah melihat gelang yang sama dalam sebuah foto masa kecil Alexander Wu.
Ia segera mengambil ponselnya dan memperbesar gambar tersebut.
Bentuk wajah anak itu memang tidak cukup jelas untuk memastikan identitasnya. Namun, gelang tersebut hampir tidak mungkin salah.
Jika anak itu benar-benar Alexander, berarti Amelia pernah terlibat dalam penyelamatan putra Victor Wu—jauh sebelum Celine menikah dengan Alexander.
Mengapa ibunya membantu keluarga Wu?
Apa hubungan Alexander dengan Shen Yiran?
Dan jika Amelia menyelamatkan Alexander, mengapa ia tidak pernah menceritakannya kepada Celine?
Ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Celine menjawab tanpa berkata apa-apa.
Suara seorang perempuan terdengar pelan dari seberang.
“Celine, kau sudah menemukan foto itu, bukan?”
“Siapa ini?”
“Aku seseorang yang berutang nyawa kepada ibumu.”
Celine menggenggam ponselnya erat-erat.
“Apakah kau Shen Yiran?”
Hening sejenak.
Lalu perempuan itu menjawab dengan suara yang nyaris berbisik.
“Jangan percaya kepada Victor Wu. Jangan percaya kepada Evelyn Zhao. Dan yang paling penting, jangan pernah menyalahkan Alexander atas sesuatu yang dilakukan ketika dia masih kecil.”
Celine membeku.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, perempuan itu menambahkan satu kalimat terakhir.
“Ibumu tidak meninggal karena sakit, Celine. Dia meninggal setelah seseorang mengetahui bahwa dia masih menyimpan bukti tentang malam kematian Shen Guowei.”
Sambungan terputus.
Celine berdiri terpaku di tengah apartemennya.
Selama ini, ia percaya bahwa kematian ibunya adalah kehilangan yang menyakitkan, tetapi terpisah dari kematian ayahnya.
Kini, semua keyakinan itu runtuh.
Jika ucapan perempuan tadi benar, maka kematian Amelia mungkin bukan akhir dari rahasia keluarga Wang.
Itu adalah bagian dari rahasia yang sama.
Dan seseorang telah memastikan bahwa Amelia tidak sempat menceritakan semuanya kepada putrinya.
Celine menatap foto di tangannya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ayah… Ibu…” bisiknya. “Apa yang sebenarnya kalian lakukan demi menyelamatkan kami?”
Di luar, hujan kembali turun.
Sementara Celine masih berusaha memahami kebenaran yang baru saja terungkap, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Pesan itu hanya berisi satu foto terbaru.
Shen Yiran berdiri di depan sebuah jendela di Hong Kong.
Di belakangnya, terlihat seorang pria yang wajahnya sengaja disamarkan.
Namun, cincin yang dikenakannya tampak jelas.
Cincin keluarga Wu.
Dan di bawah foto itu tertulis:
Jika kau ingin mengetahui siapa yang membunuh Amelia Wang, datanglah ke Hong Kong. Kali ini, jangan membawa Alexander.
Bersambung.