Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang
Motor pinjaman itu berhenti tepat di depan rumah yang ditunjuk Hanis. Gerbangnya tertutup rapat.
Hanis terlebih dahulu turun dengan menggendong Icha. Kemudian membantu Dior turun. Dua anak tertua turun dari boncengan depan, barulah terakhir Rino.
“Bener ini?” tanya Rino memastikan.
Hanis mengangguk yakin. “Bener, Mas.”
Mereka berlima berdiri mematung. Menatap gerbang hitam tinggi yang melindungi rumah itu. Rino dengan tatapan pasrah, putus asa dan menaruh harapan yang bercampur jadi satu. Haniyah dengan mata yang masih bengkak setelah menangis.
Setelah menguatkan hatinya sendiri, Rino memberanikan diri melangkah maju. Tangannya terulur masuk ke celah gerbang, memencet bel yang menempel pada dinding di belakang gerbang.
Tak berselang lama, muncul wanita berpakaian sangat rapi, rambutnya tertata sempurna dan wangi parfumnya menguar hingga ke luar gerbang. Ia tidak langsung membuka bergbang, memilih berkomunikasi dari celah pagar besi tersebut.
“Ya? Ada perlu apa?” tanyanya ketus.
“Saya mau bertemu Pak Sean, kami ada janji tapi dia tidak bisa dihubungi,” Rino yang menjawab.
“Janji apa ya? Sean lagi di Singapore,” sahut wanita itu.
“Dia menawarkan pekerjaan ke istri saya.”
“Urusan pekerjaan ke kantor, tidak pernah ke rumah.”
Hanis menggeleng. “Bukan, bukan pekerjaan kantor. Kerjasama… kemarin, bulan lalu waktu saya kesini…”
“Ooh… yang soal anak.” Wanita itu mengangguk paham. “Ya… Sean sempat cerita soal itu.”
“Benar, soal itu,” gumam Hanis pelan. Ia menunduk. Ternyata wanita itu yang mungkin adalah istri Sean telah mengetahuinya.
“Masuk dulu kalau begitu.”
Pintu gerbang terbuka otomatis setelah tombol remote dipencet. Wanita itu mendahului masuk, disusul Rino yang melangkah gontai dan Hanis serta anak-anak di belakangnya.
Rino mengantar Hanis kesini, itu sama saja dengan membawa kesayangannya ke tempat penjagalan. Ia sedang mengorbankan Hanis untuk menutupi ketidakmampuannya menghidupi keluarga. Tapi Rino seolah tidak punya pilihan lain, berbagai cara sudah ia coba, dan tak satupun membuahkan hasil yang baik.
“Duduklah,” ucap wanita itu ketika sampai di teras rumahnya. Mempersilahkan tamu-tamunya duduk di kursi kayu teras. “Aku telepon Sean dulu.
Rino dan Hanis duduk di kursi yang tersedia. Hanis masih menggendong Icha, dan di sebelah pahanya ia memangku Dino. Sementara si sulung Seno dan Dior duduk sebangku berdua di samping ayah mereka.
Tak lama kemudian, wanita tadi kembali dengan ponsel di tangannya. “Sebentar ya, Sean bilang akan telepon lima menit lagi. Dia sedang rapat.”
“Baik, tidak apa-apa,” jawab Hanis. Tangannya menahan tubuh Dino yang sudah hendak melompat turun, ingin bermain lari-larian di halaman bersama kakak dan adiknya.
“Oh ya, ini ada snack, sambil nunggu, dimakan aja.” Wanita itu menyodorkan sebuah kaleng wafer aneka rasa yang diambilnya dari ruang tamu dalam pada anak-anak Hanis.
Setelah memperoleh anggukan izin dari sang ibu, Dino menerimanya. “Terima kasih, tante…”
Bocah kecil itu duduk di lantai, disusul kakak dan adiknya, mereka bertiga mulai makan camilan tepung manis tersebut.
Ponsel di tangan bergetar. Pesan masuk dari Sean yang segera diterima dalam mode loudspeaker.
“Halo, Jinny… Mereka masih disana?” suara dari seberang terdengar.
Jantung Hanis berdegup kencang. Itu suara Sean. Suara pria yang hendak menyewanya.
Tubuh Rino menegang. Untuk kali pertama ia mendengar suara Sean. Dalam kepalanya, ia menerka-nerka seperti apa si Sean itu dari suaranya.
“Iya, masih disini. Kamu ngomong langsung aja sama mereka,” jawab wanita yang ternyata bernama Jinny tersebut.
“Oke, boleh. Biar aku ngomong sama mereka.”
Mendengarnya, tubuh Hanis menegang, matanya membulat sempurna. Ini memang tujuannya datang, tapi entah mengapa, ia merasa belum siap. “
“Pegang aja,” ucap Jinny sambil menyodorkan ponselnya yang berlapis softcase warna merah muda pada Hanis.
“Halo… halo…?” panggil Sean di seberang sana, di latar terdengar samar suara beberapa orang berpamitan padanya.
“Halo, Pak Sean…” Suara Hanis akhirnya keluar, meski begitu lirih.
“Halo… Ah, namamu… maaf, saya lupa…”
“Hanis, Pak…”
“Oh ya, Hanis. Kamu jadi bersedia?”
“Bersedia, Pak…”
“Oke kalau kamu bersedia dan sudah siap, kita bisa mulai.”
Rino mengernyitkan dahi mendengarnya. “Kok jadi seperti lomba lari? Bersedia, siap, mulai…”
Hanis menggeplak pelan lutut suaminya. “Jangan bercanda, ih!”
“Halo? Hanis?” panggil Sean yang merasa tidak direspon.
Buru-buru Hanis mengembalikan atensinya pada ponsel dalam genggamannya. “Halo. Ya, Pak Sean. Maaf…”
“Kamu sudah siap? Saya pulang besok pagi. Kamu bisa mulai tinggal di rumah saya. Nanti Jinny yang bantu kamu.”
Hanis menoleh ke arah Rino, meminta persetujuan suaminya. Ia tak menyangka akan secepat ini prosesnya. Bahkan ia belum membawa pakaian atau apapun.
Rino mengangguk. Mengizinkan. Baginya, lebih cepat lebih baik. Perut anak-anaknya tidak bisa menunggu lebih lama. Pun dengan pemilik kontrakan yang kesabarannya sudah di ujung tanduk.
“Ya… Ya, Pak. Saya siap,” jawab Hanis setelah memantapkan diri sekali lagi.
“Ya sudah, selanjutnya sama Jinny ya.”
Ponsel dikembalikan ke Jinny. Wanita itu menerimanya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, melanjutkan obrolan dengan suaminya. Mungkin membahas sesuatu yang mereka tidak ingin Hanis dan Rino dengar.
“Mas, apa nggak terlalu cepat?” tanya Hanis ragu.
Rino menepuk punggung Hanis. “Maaf, Han. Tapi kasihan anak-anak juga kalau kelamaan.”
“Nggak apa-apa, Han. Aku yang jaga mereka.”
“Icha masih kecil, Mas. Dia masih nyusu,” ucap Hanis sendu, tak tega pada anak bungsunya. Selama ini juga Hanis tidak pernah sekalipun terpisah dari anak-anaknya.
“Ini juga demi mereka, Han. Demi anak-anak kita bisa sekolah,” bujuk Rino.
Tak berapa lama kemudian, saat Hanis dan Rino masih berdebat kecil, Jinny keluar dengan membawa sebuah parsel buah. Menyerahkannya ke tangan Rino. “Ini bawa saja, kemarin ada kiriman dari bank, belum saya buka sama sekali.”
“Terima kasih,” ucap Rino.
Perdebatan Hanis dan Rino berhenti seketika. Tentu saja mereka tidak akan bertengkar di depan Jinny.
“Hanis, kamu mulai tinggal disini ya. Anak-anak kamu ikut ayahnya nggak apa-apa, kan?”
Rino mengangguk mantap dan bersemangat. Sementara di sebelahnya, Hanis terdiam, mulutnya terbuka, hendak menolak namun takut.
“Mari,” ajak Jinny, tersenyum ke arah Hanis.
“Anak saya baru dua bulan, ikut saya disini boleh ya?” tanya Hanis pelan pada akhirnya.
“Tidak bisa, Hanis. Kamu harus fokus untuk kehamilan selanjutnya,” tolak Jinny lembut.
“Tapi… tapi dia masih menyusu.”
“Tidak apa-apa. Beri saja uang susunya, nanti saya buatkan susu formula,” potong Rino dengan nada yakin.
“Nah itu ayahnya tidak keberatan kok,” simpul Jinny. Wanita itu merogoh sakunya, mengeluarkan lipatan beberapa uang ratusan ribu dari sakunya dan menyodorkan ke arah Rino yang langsung menerima dengan senang hati.
“Terima kasih, Bu. Saya izin pamit sekarang.” Rino tersenyum lebar, kemudian menepuk pelan pundak Hanis beberapa kali. “Sini, Icha kasih ke aku.”
Dengan berat hati karena suaminya sudah menerima uang di awal, Hanis melepaskan kain gendongan dari pundaknya. Memindahkan bayi Icha yang tengah tertidur ke pelukan suaminya.
“Baik-baik ya kamu disini,” pesan Rino sebelum memberi kode pada anak-anaknya untuk bangkit dan berpamitan pada sang ibu serta Jinny.
...****************...