NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Aturan Calon Menantu

Akhir pekan itu, Arman akhirnya membawa Claudia ke rumah orang tuanya.

Bukan untuk acara besar.

Hanya sekadar berkenalan lebih dekat sekaligus membicarakan rencana pernikahan.

Sejak pagi, Bu Mira sudah sibuk menyiapkan berbagai hidangan.

Ia bahkan meminta suaminya membeli beberapa makanan yang menurutnya disukai calon menantu.

“Jangan sampai Claudia merasa kita tidak menyambutnya dengan baik,” kata Bu Mira.

Pak Hendra mengangguk.

“Kita harus membuat hubungan kedua keluarga tetap baik.”

Bu Mira menatap suaminya.

“Kamu tahu sendiri kenapa.”

Pak Hendra terdiam.

Mereka sama-sama tahu alasan sebenarnya.

Keluarga Claudia memiliki bisnis besar dan koneksi luas.

Jika Arman menikah dengan Claudia, mereka berharap bisnis keluarga akan mendapatkan suntikan modal dan berkembang lebih cepat.

Karena itulah, untuk sementara mereka harus menahan banyak hal.

Bel rumah berbunyi.

Bu Mira segera membuka pintu.

Arman berdiri di sana bersama Claudia.

“Ma.”

Bu Mira tersenyum lebar.

“Masuk, Nak.”

Kemudian ia melihat Claudia.

“Claudia, ya?”

Claudia tersenyum tipis.

“Iya, Tante.”

Bu Mira langsung mempersilakan masuk.

Namun sejak langkah pertama Claudia memasuki rumah itu, matanya bergerak memperhatikan berbagai sudut.

Ruang tamu.

Perabotan.

Lukisan.

Bahkan hiasan di meja.

Bukan seperti seseorang yang sedang berkunjung.

Lebih seperti seseorang yang sedang menilai rumah calon mertuanya.

“Rumahnya masih seperti dulu,” ujar Arman.

Bu Mira tersenyum.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Mereka kemudian duduk.

Bu Mira menyuguhkan makanan.

“Claudia, coba ini. Tante yang masak sendiri.”

Claudia mengambil sedikit.

“Terima kasih.”

Ia mencicipinya.

“Enak.”

Bu Mira terlihat lega.

Mereka berbincang beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke pembicaraan utama.

Pernikahan.

“Kalian sudah menentukan tanggal?” tanya Pak Hendra.

Claudia mengangguk.

“Aku ingin secepatnya.”

Arman menoleh.

“Kita belum menentukan tanggal pasti.”

Claudia tersenyum.

“Karena kamu terlalu banyak pertimbangan.”

Pak Hendra tertawa kecil.

“Kalau begitu, bagus. Pernikahan memang jangan terlalu lama ditunda.”

Claudia mengangguk.

Namun kemudian ia berkata,

“Tapi saya punya beberapa hal yang ingin saya bicarakan.”

Bu Mira langsung menatapnya.

“Hal apa?”

“Setelah menikah.”

Ruangan menjadi sedikit hening.

Claudia meletakkan cangkirnya.

“Saya ingin setelah menikah, saya dan Arman tinggal sendiri.”

Bu Mira sedikit terkejut.

“Bukannya kalian belum membicarakan tempat tinggal?”

“Saya sudah membicarakannya dengan Arman.”

Claudia menoleh kepada Arman.

“Benar, kan?”

Arman mengangguk pelan.

“Iya.”

Bu Mira mencoba tersenyum.

“Tentu saja bisa dibicarakan.”

Claudia melanjutkan.

“Dan saya ingin kami punya privasi.”

“Privasi?”

“Iya.”

Claudia menatap kedua orang tua Arman.

“Saya tidak keberatan datang berkunjung. Tapi saya tidak ingin ada yang datang ke rumah kami tanpa memberi tahu terlebih dahulu.”

Pak Hendra terdiam.

Bu Mira juga mulai kehilangan senyum.

Claudia melanjutkan dengan tenang.

“Termasuk Tante dan Om.”

Arman langsung menoleh.

“Claudia.”

“Apa?”

“Kamu tidak perlu bicara seperti itu.”

“Aku hanya menjelaskan dari awal.”

Claudia kembali menatap Bu Mira.

“Saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya hanya ingin aturan rumah tangga kami jelas.”

Bu Mira mengepalkan tangannya di bawah meja.

Namun ia menahan diri.

Pak Hendra juga memilih diam.

Claudia belum selesai.

“Saya juga tidak ingin urusan keuangan rumah tangga kami dicampuri.”

Bu Mira langsung menatapnya.

“Maksudnya?”

“Pendapatan Arman dan penghasilan saya akan menjadi urusan kami berdua.”

Bu Mira tersenyum kaku.

“Ya... tentu saja.”

“Dan kalau kami membantu keluarga, itu harus berdasarkan kesepakatan kami.”

Arman semakin tidak nyaman.

“Claudia, sudah.”

Claudia justru menatapnya.

“Aku harus menyampaikannya sekarang.”

Ia kemudian kembali kepada kedua orang tua Arman.

“Saya hanya tidak ingin setelah menikah ada kesalahpahaman.”

Bu Mira menahan napas.

Dalam hati, ia merasa tersinggung.

Calon menantunya bahkan belum resmi menjadi bagian keluarga, tetapi sudah berani membuat banyak aturan.

Namun ia teringat sesuatu.

Keluarga Claudia.

Modal.

Bisnis.

Masa depan keluarga mereka.

Akhirnya Bu Mira hanya tersenyum.

“Baiklah,kami mengerti.”

Claudia mengangguk puas.

Percakapan berlanjut mengenai pesta pernikahan.

Claudia kembali menyampaikan keinginannya.

“Saya ingin resepsi besar.”

Pak Hendra mengangguk.

“Ya, tentu.”

“Banyak tamu dari keluarga saya.”

“Tidak masalah.”

“Dekorasinya juga harus bagus.”

Bu Mira mengangguk.

“Bisa.”

Claudia tersenyum.

Arman yang duduk di sampingnya hanya diam.

Setelah beberapa jam, mereka akhirnya berpamitan.

Begitu mobil Arman dan Claudia meninggalkan halaman, wajah Bu Mira langsung berubah.

“Arman itu kenapa?”

Pak Hendra menatap istrinya.

“Kenapa?”

“Kenapa dia membiarkan Claudia bicara seperti tadi?”

Pak Hendra menghela napas.

“Kita sendiri tahu alasannya.”

Bu Mira terdiam.

“Tapi setidaknya dia harus membuat istrinya nanti tahu diri.”

“Kita tidak bisa terlalu keras sekarang.”

Bu Mira mengepalkan tangan.

“Dulu Retna tidak pernah berani bicara seperti itu.”

Pak Hendra mengangguk.

“Itulah yang Ibu mau?”

Bu Mira langsung menjawab,

“Tentu.”

“Kalau begitu, katakan kepada Arman.”

Malam itu Arman kembali mendapat nasihat dari ibunya.

“Claudia memang akan menjadi istrimu,” kata Bu Mira. “Tapi dia harus tahu posisi.”

Arman mengerutkan kening.

“Posisi bagaimana?”

“Dia harus menghormati orang tua suaminya.”

“Aku tahu,ma.”

“Jangan sampai setelah menikah dia justru mengatur keluarga.”

Arman diam.

Bu Mira kemudian menyebut nama yang selama ini tanpa sadar menjadi pembanding.

“Retna dulu tidak pernah seperti itu.”

Arman terdiam.

“Retna tahu bagaimana menjadi istri.”

Kalimat itu membuat Arman kembali teringat mantan istrinya.

Namun ia tidak menjawab.

Di Bali, kehidupan Retna berjalan jauh lebih sederhana.

Siang itu ia sedang menjemur pakaian ketika Nathan datang membawa dua gelas minuman.

“Ini untuk kamu.”

Retna menoleh.

“Untuk saya?”

Nathan mengangguk.

“Kamu kelihatan capek.”

Retna menerima gelas itu.

“Terima kasih.”

Nathan duduk di kursi teras.

Retna ikut duduk setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Beberapa saat mereka hanya menikmati suasana.

Kemudian Nathan bertanya,

“Kamu dari mana sebenarnya?”

Retna terdiam.

“Dari Jawa.”

Nathan tersenyum.

“Saya tahu.”

“Maksud saya... kota mana?”

Retna ragu.

“Tidak jauh.”

Nathan tertawa kecil.

“Jawaban yang aman.”

Retna ikut tersenyum.

Nathan tidak memaksa.

Namun rasa ingin tahunya semakin besar.

Retna berbeda dari orang-orang yang pernah bekerja dengannya.

Ia sangat polos.

Sering gugup.

Kadang salah memahami perkataannya.

Tetapi selalu berusaha.

Dan ada sesuatu di balik sikapnya yang membuat Nathan merasa perempuan itu sedang melarikan diri dari sesuatu.

“Kamu datang ke Bali karena pekerjaan?”

Retna mengangguk.

“Iya.”

“Tidak ada keluarga di sini?”

“Tidak ada.”

“Teman?”

“Cuma Lilis.”

Nathan mengangguk.

“Kamu tinggal sendiri sebelumnya?”

Retna menunduk.

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Ia tidak ingin menceritakan Arman.

Tidak ingin menceritakan perceraian.

Tidak ingin menceritakan bagaimana dirinya diusir.

Ia hanya ingin menjadi Retna yang baru.

“Saya memang ingin mencari pengalaman baru,” jawabnya akhirnya.

Nathan menatapnya beberapa detik.

Ia tahu jawaban itu bukan seluruh cerita.

Tetapi ia tidak memaksa.

“Kalau begitu, saya tidak akan bertanya lagi.”

Retna menoleh.

“Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf.”

Nathan tersenyum.

“Kamu cerita kalau sudah siap.”

Retna terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat hatinya sedikit hangat.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada seseorang yang memaksa dirinya menjelaskan sesuatu yang belum sanggup ia ceritakan.

Nathan kemudian berdiri.

“Besok saya mau makan masakan kamu lagi.”

Retna tersenyum.

“Mau makan apa?”

“Yang kamu tahu.”

Retna tertawa kecil.

“Kalau begitu jangan protes.”

“Saya tidak akan protes.”

Nathan berjalan masuk ke rumah.

Retna memandang punggungnya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Bali, ia merasa tidak keberatan jika seseorang perlahan mengenalnya.

Namun ia masih belum siap membuka semua luka yang dibawanya.

Sementara di rumah orang tua Arman, Bu Mira masih memikirkan satu hal.

Claudia memang calon menantu yang mereka butuhkan.

Tetapi jika perempuan itu terus menuntut dan membuat aturan, mereka tidak tahu apakah Arman akan sanggup menghadapinya.

Dan tanpa mereka sadari, pernikahan yang mereka harapkan membawa kekayaan justru perlahan akan menjadi sumber masalah baru.

Sedangkan Retna...

Tanpa uang, tanpa keluarga di sisinya, dan tanpa siapa pun yang bisa diandalkan, justru sedang menemukan ketenangan di sebuah rumah sederhana bergaya Bali.

Di rumah itu ada Nathan.

Seorang pria asing yang perlahan mulai penasaran dengan perempuan yang berusaha keras menyembunyikan masa lalunya.

Dan semakin Nathan mengenal Retna, semakin ia ingin tahu satu hal.

Apa sebenarnya yang membuat perempuan itu datang ke Bali sendirian?

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!