NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - SAH TAPI BELUM CINTA

Akhirnya, setelah ditolak Rio, digosipkan satu kantor, dan berjalan dengan sepatu penuh lumpur, aku nggak lagi merasa seperti ondel-ondel.

Aku merasa seperti pengantin beneran.

Selama lima detik.

Setelah itu, jantungku kembali berulah.

Ruangan akad di KUA Kebayoran ternyata sederhana. Ada meja kayu, beberapa kursi, lemari berkas, dan karpet hijau yang aromanya campuran disinfektan dan kayu lama.

Aku duduk di samping Damian sambil berusaha mengatur napas. Di atas meja ada map hijau dan kotak cincin berwarna perak. Cincin di jariku sedikit longgar. Kalau tanganku kugoyangkan terlalu keras, mungkin benda itu bisa kabur sebelum akad selesai.

Jangan sampai cincin saja lebih dulu kabur daripada pemiliknya.

Damian duduk dengan kemeja putih yang masih rapi. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya tenang seperti biasa. Namun, aku melihat tangan kanannya mengepal di atas paha. Buku jarinya memutih sebelum perlahan rileks kembali.

Oh, ternyata CEO juga bisa gugup.

Aku hampir tersenyum ketika dia menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak, Pak.”

“Kamu melihat saya.”

“Memangnya nggak boleh?”

“Boleh. Biasanya orang melihat saya kalau ada yang ingin disampaikan.”

Aku menahan senyum. “Bapak gugup?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku melirik tangannya. Damian segera menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja.

“Bukan gugup,” katanya.

“Terus?”

“Dingin.”

Aku melirik AC. “Suhunya dua puluh lima derajat, Pak.”

“Kamu banyak bicara kalau gugup.”

Aku langsung tutup mulut.

Sial. Dia benar lagi.

Di belakang kami, Mama Damian duduk dengan kerudung marun dan tisu di tangan. Wajahnya terlihat bahagia. Tatapan itu membuat dadaku terasa aneh.

Pernikahan ini bukan berawal dari cinta. Tidak ada kisah saling mengejar atau lamaran romantis. Beberapa hari lalu, aku bahkan masih menangisi Rio.

Sekarang, aku akan menjadi istri Damian selama satu tahun.

Semua berawal dari penolakan, sebuah bunga seharga Rp35 ribu, dan tawaran pernikahan kontrak senilai lima ratus juta rupiah.

Hidupku benar-benar punya selera humor yang aneh.

Penghulu memeriksa berkas sekali lagi.

“Untuk wali nikah, sudah dipastikan siapa yang akan bertindak sebagai wali hakim?”

Aku mengangguk. “Bapak saya sudah meninggal, Pak. Ibu saya tinggal di kampung.”

“Baik. Kita pastikan semua persyaratan lengkap, lalu kita mulai.”

Aku menarik napas panjang. Kalau memikirkan semuanya sekaligus, rasanya ingin mengambil tas dan pulang naik angkot.

Menikah dengan bos sendiri. Tinggal serumah. Menjalani kontrak satu tahun. Dan tetap harus kuliah sambil menghadapi gosip kantor.

Aku bahkan belum tahu bagaimana cara memanggilnya di rumah.

Pak Damian?

Mas Damian?

Sayang?

Astaga, yang terakhir hampir membuatku tersedak sendiri.

“Kalau begitu, kita mulai.”

Suara penghulu membuatku kembali fokus.

Ijab kabul dibacakan. Namaku disebut dengan jelas, lengkap dengan nama almarhum Bapak. Seketika, pikiranku melayang ke kampung, ke rumah sederhana tempat Ibu membesarkanku, dan ke malam-malam ketika aku belajar ditemani suara hujan dari atap bocor.

Ibu selalu memintaku menyelesaikan kuliah, apa pun yang terjadi.

Sekarang aku duduk di sini, bersiap menikah dengan laki-laki yang beberapa minggu lalu bahkan tidak pernah kubayangkan akan menjadi bagian dari hidupku.

Damian menarik napas sekali.

Lalu menjawab dengan suara tegas.

“Saya terima nikah dan kawinnya Lili Saraswati binti Slamet Riyadi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Lancar.

Jelas.

Tanpa terbata-bata sedikit pun.

Suaranya bahkan lebih mantap daripada ketika memimpin rapat direksi.

Penghulu dan para saksi memastikan ijab kabul telah berlangsung dengan benar.

Kemudian satu kata terdengar.

“Sah.”

Dadaku langsung terasa penuh.

Aku menunduk. Mataku panas, tenggorokanku tercekat. Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

“Alhamdulillah...” Mama Damian berbisik sambil mengusap sudut matanya.

Aku menoleh kepada Damian. Wajahnya masih serius, tetapi tatapannya tidak sedingin biasanya.

“Sudah,” katanya pelan.

Aku masih bengong.

“Tarik napas.”

Barulah aku sadar sejak tadi menahan napas.

“Pak,” bisikku.

“Ya?”

“Kita benar-benar sudah menikah?”

Dia menatapku beberapa detik.

“Kalau masih ragu, kita bisa tanya lagi kepada penghulu.”

“Enggak usah!”

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Senyum tipis itu justru membuatku semakin sadar bahwa semuanya nyata. Aku benar-benar telah menikah dengan Damian Aditya Pratama.

Setelah menandatangani dokumen yang diperlukan, aku menerima buku nikah. Tanganku gemetar saat membukanya.

Namaku tercetak di sana.

Di sebelahnya, nama Damian.

Aku menyentuh tulisan itu dengan ujung jari. Kemarin aku masih mengejar laki-laki yang malu mengakui perasaannya kepadaku. Hari ini, namaku resmi tercatat sebagai istri orang lain.

Untuk satu tahun.

Setidaknya, itu yang tertulis dalam kesepakatan kami.

Mama Damian menghampiri lalu memelukku.

“Selamat, Sayang.”

Tubuhku sempat kaku. Aku belum terbiasa dipeluk seperti itu oleh orang yang baru kukenal. Namun, beberapa detik kemudian, aku membalas pelukannya.

“Terima kasih, Ma.”

“Panggil Mama saja. Jangan sungkan.”

Aku mengangguk. Pelukannya hangat dan membuatku teringat Ibu.

Bagaimana cara menjelaskan semuanya nanti?

*Bu, aku menikah.*

*Dengan siapa?*

*Bosku.*

*Bos yang mana?*

*Yang memberikan aku lima ratus juta.*

Aku menahan tawa sendiri. Ibu mungkin langsung menyuruhku pulang.

“Lili!”

Aku menoleh. Mbak Santi dan Kak Sinta berdiri di pintu. Mbak Santi bahkan sudah mengangkat ponsel.

“Ya ampun, beneran nikah! Foto satu aja, Lil!”

Aku refleks menutup buku nikah.

“Kok kalian tahu aku di sini?”

Kak Sinta nyengir. “Rahasia kantor.”

“Rahasia apanya? Kalian pasti lihat lokasi!”

Mereka tertawa. Mbak Santi hampir mengarahkan kamera ketika Damian berdiri.

“Kalau mau mengucapkan selamat, silakan. Tapi jangan merekam atau menyebarkan dokumen pribadi tanpa izin.”

Ponsel Mbak Santi langsung turun.

“Maaf, Pak.”

“Besok tetap masuk kerja seperti biasa.”

“Siap, Pak!”

Kak Sinta menepuk bahuku. “Selamat, ya, Lil.”

“Terima kasih.”

“Bu Lili,” goda Mbak Santi.

Aku memejamkan mata. “Jangan panggil Bu terus. Aku belum terbiasa!”

“Baik, Bu Lili.”

Percuma. Mereka pasti akan terus menggodaku.

Di parkiran, mobil Alphard hitam sudah menunggu. Aku duduk di belakang bersama Mama Damian, sementara Damian duduk di depan bersama sopir.

Buku nikah masih kugenggam di pangkuan, seperti benda milik orang lain.

Mama menggenggam tanganku.

“Dingin sekali. Kamu gugup?”

“Sedikit, Ma.”

“Wajar. Mama dulu juga begitu.”

Aku tersenyum kecil.

“Ma, nanti aku boleh menelepon Ibu?”

“Tentu. Kamu harus memberi tahu beliau.”

Aku mengangguk. Aku memang harus menelepon Ibu. Bukan cuma karena aku sudah menikah, tetapi karena untuk pertama kalinya aku mengambil keputusan sebesar ini tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu.

Sayangnya, ponselku mati kehabisan baterai.

Aku menatap layar hitamnya.

“Bagus. Hidupku berubah total, HP-ku malah ikut menyerah.”

Mama tertawa kecil. Aku ikut tertawa.

Tak lama kemudian, Damian menerima telepon.

“Besok pagi, bantu Lili mengambil barang-barangnya dari kos. Koordinasikan dulu dengannya. Jangan buang apa pun tanpa izin.”

Aku menoleh ketika dia menambahkan, “Sweater kremnya juga jangan dibuang.”

“Pak!”

Damian menutup telepon dan menatapku melalui kaca spion.

“Apa?”

“Kenapa sweater saya ikut diurus?”

“Karena kamu meninggalkannya di kantor.”

“Itu sweater kesayangan saya!”

“Kalau begitu, rawat baik-baik.”

Aku memeluk tas. “Bukan berarti boleh disemprot pengharum ruangan!”

“Saya belum bilang mau menyemprotnya.”

“Tapi Bapak pernah membicarakan semprotan anti-bau!”

“Itu baru rencana.”

“Pak Damian!”

Mama tertawa lagi, sedangkan aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Baru beberapa jam menjadi istrinya, aku sudah punya satu kesimpulan: pernikahan ini mungkin cuma berlangsung satu tahun, tetapi kalau setiap hari seperti ini, rasanya bisa sepuluh tahun.

Aku menurunkan tangan dan diam-diam melirik Damian.

Dia masih tenang, seolah hidupnya baik-baik saja. Padahal, aku yakin hidupnya juga tidak akan pernah sama lagi.

Anehnya, kali ini aku tidak terlalu takut.

Mungkin karena kami sama-sama terjebak dalam kesepakatan yang kami pilih sendiri.

Aku sebagai istri kontrak.

Dia sebagai suami kontrak.

Dan kami bahkan belum tahu siapa yang akan menyerah lebih dulu.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!