NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6. Pukulan kedua untuk tukang selingkuh

Gia menyunggingkan senyum dingin. Jari-jarinya dengan lincah mengetik balasan singkat yang langsung membuat seberang sana terbungkam.

‘Silakan sebar, Bu. Tapi pastikan Ibu siap bayar denda pencemaran nama baik sebesar 50 miliar rupiah besok pagi. Pengacara saya sudah menunggu loh. Apa kurang teguran kemarin malam? Kalau iya nanti malam akan aku tambah teguran nya’

'Kamu! Dasar perempuan jahanam!' balas si titik itu.

'Sepertinya anda lebih jahanam daripada yang jahanam.' balas ku meledek nya.

Gia mematikan ponselnya. Ia menghela napas panjang, bersiap menghadapi babak baru permainannya. Namun, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya mengerem mendadak.

Ckiit!

Tubuh Gia terdorong ke depan. Di depan sana, sebuah mobil sedan hitam mewah sengaja melintang memotong jalan mobil Gia. Pintu mobil hitam itu terbuka, dan sosok pria berjas abu-abu dengan kacamata hitam melangkah keluar.

Pria itu bukan Elkan, bukan pula Aldo.

Ia mengetuk kaca mobil Gia pelan, lalu membuka kacamatanya, memperlihatkan sepasang mata yang sangat dikenal Gia dari masa lalunya.

"Lama tidak bertemu, Gia," bisik pria itu saat Gia menurunkan kaca mobilnya dan bertingkah seperti CEO yang menemukan cinta nya.

"Kemarin kita ketemu.. dasar jadi orang jangan terlalu random deh." Ucap Gia.

"Ahaha.. Tidak, bagiku 18 jam itu sangat lama sayang.."

"Apa kata mu? Sayang sayang.. pala mu sini yang ku buat peyang. Ada-ada aja sih kamu el" Jawab Gia.

"Ahaha.. baiklah sayang.. Jam berapa nanti kembali kesini?"

"Aku jitak beneran kamu el.. jangan panggil aku sayang!"

"Jitak lah.. jitakan kamu tu adalah tanda kasih sayang juga."

"Hih.. bikin kesal saja.." Ucap Gia sabar.

"Jam berapa kemari lagi?"

"Jam 2.. udah ah.." Gia menutup jendela mobil lagi, ELkan masih menempelkan wajahnya ke arah jendela itu.

"Pak sekarang aja.. biar dia jatuh.."

"Baik nona.."

Mobil pun melaju lagi dan benar saja, Elkan hampir jatuh karena menempel wajah di jedela mobil Gia.

**

Tepat pukul 2 siang, Gia kembali ke gedung VK, dia masuk lift dan menuju ke ruangan nya kembali. Tak begitu lama, Ada seseorang yang mengetuk pintu.

"Masuk.." Ucap Gia dengan masih fokus ke arah komputer besar itu.

"Per-permisi nona komisaris.. " Ucap Aldo.

Gia melirik tipis, "Sudah selesai? Coba saya lihat" Ucap Gia.

Aldo melangkah maju dan meletakan dokumen itu diatas meja Gia. Gia mengambil dan membaca cepat dokumen itu. Lalu dia mengambil spidol merah dan mecoret-coret dokumen itu.

"Emm.. ada yang salah nona komisaris?"

"Semua salah... Bawa kembali.. Kamu memang tidak becus." Ucap Gia pada Aldo.

"Tapi.. ini.." ucap Aldo terbata.

"Bawa kembali sana.." Jawab Gia tegas.

Aldo mengambil lagi dokumen nya dan berbalik melangkah keluar. Langkah kaki Aldo terasa begitu berat saat keluar dari ruangan Komisaris Utama. Di tangannya, berkas tebal draf proyek yang baru saja disilang besar dengan tinta merah oleh Gia terasa mencengkram erat harga dirinya. Wajahnya yang biasa dipenuhi kesombongan kini pucat pasi, dihiasi keringat dingin yang menetes di pelipis.

"Mas! Gimana?!"

Siska yang sejak tadi menunggu di balik pilar koridor langsung memburu Aldo. Tangannya menggeledah lengan jas Aldo dengan gestur panik.

"Dia terima kan drafnya? Kamu udah jelasin kalau itu ide brilian dari manager terbaik? Dia pasti nyesel kan udah turunin jabatan kamu?" terdengar suara Siska, kentara sekali kecemasan di dalamnya.

Aldo tidak menjawab seketika. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kaca koridor, menatap berkas bergaris merah di tangannya dengan tatapan kosong.

"Ditolak," gumam Aldo lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.

"Apa?! Ditolak?!" Siska membelalakkan mata, suaranya melengking hingga beberapa staf yang melintas berbisik-bisik. "Gila ya itu perempuan! Jelas-jelas dia sengaja mau nyiksa kamu! Ini tuh tindak kesewenang-wenangan!"

"Bisa diam nggak sih, Siska?!" bentak Aldo meluapkan kekesalannya. Napasnya memburu, matanya memerah menahan rasa malu yang membakar dada. "Kepalaku mau pecah! Kalau aku gagal di proyek pertama ini, namaku habis di depan board of directors!"

Siska tersentak. Ia melangkah mundur satu pijakan, tak menyangka akan dibentak di tengah koridor kantor. "Kamu... kamu bentak aku demi membela mantan istri murahan kamu itu?"

"Dia bukan perempuan murahan!" desis Aldo dengan nada tertahan, melirik kanan-kiri agar tak terdengar karyawan lain. "Dia pemegang saham terbanyak di sini, Siska! Satu sentilan jari dia bisa bikin aku ditendang ke jalanan dan diblacklist dari seluruh perusahaan raksasa!"

"Terus kamu mau pasrah gitu aja?!" sergah Siska, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan gengsi. "Ingat ya, Mas! Aku milih kamu karena kamu bilang kariermu bakal melejit! Kalau kamu cuma jadi bahan injakan Gia di sini, aku juga yang ketularan malu!"

Tanpa menunggu balasan Aldo, Siska menghentakkan kakinya kasar, berbalik pergi meninggalkan koridor dengan heels yang mengetuk lantai nyaring. Aldo hanya bisa mengepalkan tangan, meremas berkas draf proyeknya hingga remuk di bagian pinggir.

Sementara itu, di dalam ruang kerja Komisaris Utama yang sangat luas, Gia duduk tenang di kursi kulit hitamnya. Di hadapannya, Elkan berdiri santai sambil merapikan lengan kemeja putihnya yang tergulung hingga siku.

"Kamu terlalu lembut sama dia," ujar Elkan datar. Ada kilat geli di matanya saat menatap Gia. "Kalau aku yang pegang, draf sampah seperti itu sudah kubuang ke tempat daur ulang di depan mukanya."

Gia menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan tubuhnya seraya melipat kedua lengan di dada. "Siksaan fisik itu cepat berlalu, Elkan. Tapi menyiksa mental dan harga dirinya sedikit demi sedikit? Itu baru seni."

Elkan terkekeh renyah. "Keren. Ternyata calon istriku punya bakat jadi antagonis yang anggun."

Gia mendengus kesal, melempar pulpen ke arah Elkan yang dengan lincah ditangkap oleh pria itu. "Bisa berhenti panggil 'calon istri'? Batas kita cuma rekan bisnis yang saling menguntungkan, ingat?"

"Kita lihat nanti," sahut Elkan santai, mengedipkan sebelah matanya sebelum berjalan menuju pintu keluar. "Jangan lupa, besok pagi jam delapan tepat. Kita lihat seberapa hancur hasil revisi manajer kesayanganmu itu."

Pintu ruangan tertutup rapat, meninggalkan Gia sendirian dalam keheningan suite eksekutifnya. Gia memutar kursinya menatap pemandangan pencakar langit kota dari balik kaca tebal. Dua tahun ia menekan ambisi dan identitasnya demi membina rumah tangga dengan pria yang dikiranya tulus. Ternyata, ketulusan Aldo hanya sebatas ketebalan dompet.

Ponsel di atas meja mendadak bergetar hebat. Nama yang tertera di layar membuat sudut bibir Gia terangkat dingin.

Ibu Titik.

Gia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Gia! Kamu perempuan nggak tahu diri!" suara melengking mantan ibu mertuanya langsung menyambar tanpa permisi. "Kamu apakan anak saya di kantor?! Aldo telepon Ibu sambil nangis-nangis bilang kamu meras dia!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!