Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Singgah di Bangku Kelas
Kalian pernah tidak, berada di posisi ini? Ada sebuah genk di kelas, lalu tiba-tiba salah satu anggotanya bertengkar dengan teman se-genknya.
Karena berantem, dia memisahkan diri dan terpaksa pindah tempat duduk, Karena kita biasa duduk sendirian, tanpa permisi dia langsung nyelonong duduk di sebelah kita.
Namun, saat mereka sudah baikan, kita yang tadinya menemani malah dilupakan begitu saja. Fiks, kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, berarti nasib kita persis!
Aku sering sekali mengalami hal seperti itu. Rasanya mirip seperti rumah kontrakan atau indekos—hanya disinggahi sementara saat mereka butuh tempat berteduh ,Kalau mengutip lirik lagu zaman sekarang, mungkin lebih tepat disebut "rumah singgah".
Untuk mempermudah cerita, mari kita samarkan nama mereka. Sebut saja Fara, Siti, Lilis, dan Susi.
Mereka berempat adalah satu genk yang ke mana-mana selalu bersama. Sebenarnya, dulu aku pernah mencoba untuk bergabung. Saat aku bertanya apakah boleh ikut bermain, mereka memang menjawab boleh.
Namun, nada suara, raut wajah, dan bahasa tubuh mereka sama sekali tidak menunjukkan kerelaan. Sikap dingin itu membuatku sadar diri. Daripada merasa tidak diterima dan seperti benalu, aku memilih untuk menyendiri saja.
Hingga tibalah hari Senin yang lumayan cerah. Pagi itu, aku berjalan menuju sekolah dengan semangat yang dipaksakan. Jujur saja, sebenarnya aku paling benci hari Senin.
Penyebab utamanya adalah jadwal pelajaran Matematika yang siap menguras otak di jam pertama, apalagi dalam beberapa hari ke depan kami akan menghadapi ujian harian.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas yang masih lumayan sepi, lalu berjalan menuju bangkuku di barisan tengah. Begitu sampai di depan meja, langkahku terhenti. Aku kaget bukan main. Di sana, Fara sudah
duduk manis di kursi milikku sambil menata buku-bukunya di atas meja.
Aku menarik kursi perlahan, lalu bertanya dengan nada suara yang sangat pelan, "Lho, Fara? Ini kan tempat dudukku. Kamu bukannya duduk sama Siti di depan?"
Fara menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. "Aku lagi berantem sama Siti. Aku duduk di tempatmu dulu, ya?" katanya sambil menatapku dalam-dalam, berusaha meyakinkan.
Ah, andai saja waktu bisa diulang atau aku terlahir kembali dengan ingatan masa depan, saat itu juga aku pasti akan langsung menolaknya mentah-mentah! Mengapa? Karena belakangan aku tahu, pola perilakunya selalu sama.
Dia hanya memanfaatkan orang lain untuk membicarakan keburukan temannya saat sedang bermusuhan, lalu besoknya berbaikan seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, namaku juga anak SD yang polos dan mudah penasaran. Aku malah menanggapi obrolannya.
"Ooh, begitu. Emang kamu ada masalah apa sama Siti?" tanyaku. Ya ampun, kalau diingat-ingat lagi, aku dulu kepo sekali sampai ingin tahu urusan orang lain.
Mendengar pertanyaanku, wajah Fara mendadak berubah makin memelas. "Siti itu... dia jahat banget sama aku! Padahal selama ini aku selalu baik sama dia," ucapnya dengan nada merajuk.
Sekarang, kalau mengingat momen itu, rasa-rasanya aku ingin sekali menampar wajah berpura-puranya itu. Sungguh akting yang sangat luar biasa untuk anak seusia SD.
"Ooh... begitu toh," jawabku singkat sebagai tanggapan terakhir sebelum bel masuk berbunyi.
Hari itu berjalan begitu saja. Saat jam istirahat tiba, kami akhirnya bermain bersama. Namun, selama istirahat, Fara seperti sengaja memancingku untuk membicarakan hal-hal buruk tentang Siti dan anggota genk lainnya. Dia terus-menerus
memancing topik yang memojokkan Siti. Sialnya, aku yang polos dan kurang waspada ini malah masuk ke dalam perangkapnya. Aku ikut-ikutan melontarkan beberapa komentar yang seharusnya tidak kuucapkan.
Keesokan harinya, pemandangan di kelas kembali berubah. Saat aku masuk, Fara sudah kembali duduk di bangku asalnya bersama Siti. Mereka berdua tertawa bersama seolah-olah pertengkaran hebat kemarin tidak pernah terjadi sama sekali.
Anehnya, saat aku berjalan melewati meja mereka, Siti menatapku dengan tatapan yang sangat sinis dan tajam. Aku bingung kenapa dia tiba-tiba sinis padaku, tetapi karena malas memperpanjang masalah, aku memilih untuk cuek dan berjalan menuju bangkuku sendiri.
Belakangan, kebenaran yang menyebalkan itu akhirnya terungkap.
Ternyata, setelah Fara berbaikan dengan Siti, dia menceritakan semua percakapan kami saat istirahat kemarin. Parahnya lagi, Fara tidak sekadar bercerita jujur, melainkan memutarbalikkan fakta dan melebih-lebihkan perkataanku! Dia membuat seolah-olah
akulah yang menjadi dalang dan sibuk menggosipkan keburukan Siti, sementara dirinya pura-pura menjadi korban.
Dan sialnya, kejadian seperti yang dilakukan Fara ini tidak hanya terjadi sekali. Di lain waktu, anggota yang lain—entah itu Lilis atau Susi—juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama saat mereka sedang berantem.
Bangkuku selalu jadi pelarian sementara, dan aku selalu jadi korban adu domba mereka. Sungguh, kalau diingat-ingat lagi, rasanya sebal dan menyesakkan sekali!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Pesan untuk Mereka:
.
Aku tidak marah kalau kamu mau berbaikan lagi sama dia. Aku cuma capek terus-terusan dijadikan tempat singgah. Kalau memang mau berteman, ya bertemanlah dengan tulus dari awal. Jangan cuma datang dan mendekat pas kamu lagi merasa sepi saja.