Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 dianggap keluarga oleh orang asing
Malam semakin larut, di rumah kecil Mira, Alkina membantu mencuci piring setelah makan malam.
Alkina pikir dirinya akan dijadikan pembantu namun ternyata tidak, ia dijadikan bagian dari keluarga dan Alkina sangat terharu untuk itu, ini pertama kalinya ia di anggap sebagai keluarga, bukan di anggap beban atau penyebab seseorang tiada. ia bahkan bisa merasakan kehangatan keluarga dari orang asing yang baru ia kenal bukan dari orang yang dikatakan sebagai keluarganya.
“Kamu nggak perlu bantu,” kata Mira.
“Nggak apa-apa, nek. Aku biasa kerja.” Jawaban itu membuat Mira diam.
Biasa kerja padahal gadis itu masih sangat muda.
Saat Alkina menggulung lengan bajunya, Mira melihat beberapa bekas lebam di tangannya. Hati perempuan itu langsung terasa nyeri.
“Kamu dipukul?”
Alkina buru-buru menurunkan lengan bajunya. “Ti, tidak… cuma jatuh.”
Mira tahu itu bohong, namun ia tidak memaksa. Sebagian luka memang terlalu sulit diceritakan.
“Nanti malam tidur di kamar Rian saja ya,” ucap Mira lembut.
Alkina langsung menolak panik.
“Tidak usah, nek! Saya bisa tidur di luar…”
“Alkina.” Suara Mira begitu hangat.
“Kamu aman di sini.” Kalimat itu sederhana, namun berhasil membuat pertahanan Alkina runtuh lagi.
Karena seumur hidupnya tidak pernah ada yang mengatakan bahwa dirinya aman.
******
Pagi hari di rumah keluarga Wiratmaja terasa kacau.
Tidak ada sarapan di meja. Tidak ada pakaian yang sudah disetrika. Tidak ada lantai mengilap seperti biasanya.
Ranti berdiri di dapur dengan wajah kusut sambil mencoba memasak ayam, namun baru beberapa menit, bau gosong langsung memenuhi ruangan.
“Ah sial!”
Brak!
Wajan dilempar ke wastafel dengan kesal. Biasanya semua itu sudah selesai bahkan sebelum ia bangun tidur dan baru sekarang Ranti sadar Alkina mengurus seluruh rumah sendirian, tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah dihargai.
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Sisil turun sambil menguap, masih sibuk bermain ponsel.
“Mama, sarapannya mana?”
Ranti menoleh dingin. “Bikin sendiri.”
Sisil langsung melotot. “Hah?”
“Kamu sudah besar.” Gadis itu tertawa kecil seolah menganggap ucapan itu candaan, namun wajah Ranti tetap datar.
“Mama serius bicara begitu ke aku sekarang?”
“Selama ini kamu pikir makanan muncul sendiri?” kesal Ranti.
Sisil mulai merasa tidak nyaman. Biasanya Ranti tidak pernah bicara seperti itu padanya.
“Aku mau uang juga,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Hari ini aku mau jalan sama teman-teman.”
Ranti terdiam sesaat lalu perlahan mengambil dompetnya, namun bukan untuk memberi uang, ia justru menutup kembali dompet itu.
“Hari ini tidak ada uang jajan.”
Sisil membeku. “Apa?”
“Tidak ada uang jajan hari ini.” Ucap Ranti penuh penekanan di setiap kalimat nya.
Wajah gadis itu langsung berubah kesal.
“Mama kenapa sih hari ini?” Sisil belum menyadari bahwa posisinya di rumah itu mulai goyah, tidak lagi di manjakan.
Ranti memijat pelipisnya lelah.
“Karena semua pengeluaran rumah membengkak.”
“Itu bukan urusan aku!” ucap Sisil masa bodoh.
“Mulai sekarang jadi urusan kamu.” Tegas Ranti.
Sisil tertawa sinis. “Oh jadi setelah Alkina pergi, aku yang kena?”
Nama itu kembali membuat suasana hening, Ranti menegang sementara Sisil terus berbicara tanpa sadar.
“Kalau kangen pembantu ya cari aja dia lagi.”
Deg.
Kalimat itu menusuk keras, Ranti langsung berdiri.
“Jaga mulut kamu!” tunjuk Ranti.
Bukannya sadar dengan situasi, Sisil malah ikut terpancing emosi.
“Memang salah?! Dari dulu dia kerja kayak pembantu di rumah ini!”