Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6_Awal penderitaan (bagian 1)
Kerajaan Eiden.
Jalan Utama Menuju Perbatasan Kerajaan Salfaria. Tahun Suci 1558.
Suara hujan turun pelan di sepanjang jalan tanah yang becek.
*Tik... tik... tik...*
Aku terus berdiam diri di dalam tong, menahan napas, sambil menunggu kereta kuda ini berhenti.
"Laparr.." Suara perutku terdengar sangat keras di dalam tong yang sempit, memalukan.
*Kruuuk...*
"Selain itu aku juga sangat haus." Aku menelan ludahku yang sudah kering untuk membuat tenggorokanku tetap basah.
_Sudah berapa lama aku ada di dalam sini..._
_Aku tidak membawa makanan dan minuman..._
_Apa aku akan mati di sini, sendirian seperti ini??_
Nafasku mulai terengah-engah karena tempat yang sempit dan sumpek, udara terasa habis.
*Hah... hah...*
*BRUKK!!*
Kereta itu tiba-tiba berhenti dengan hentakan keras. Tubuhku terbanting di dalam tong.
Dan terdengar suara kuda meringkik panik.
*Hiiik!!*
Terdengar suara kerumunan kasar yang mulai mengepung kereta kuda ini.
"OII!! SEBAIKNYA KAU TETAP DIAM PAK TUA!! KAMI HANYA INGIN MELIHAT BARANG-BARANGMU!!"
*sambil mengancam dengan mengarahkan belati ke arah leher pedagang itu*
Aku keluar perlahan dari tong itu untuk memeriksa keadaan luar, dengan cara sedikit mengintip dari balik kain penutup kereta yang basah.
Tapi aku terkejut... karena melihat pedagang tersebut sudah diancam oleh para bandit, lehernya ditempel belati.
Tanganku gemetar dengan sangat hebat, tidak bisa kukendalikan.
Nafasku juga mulai tidak terkendali, pendek-pendek.
_Gawat.. itu.. para bandit._
Aku mundur perlahan-lahan, menahan napas, lalu tanpa sadar...
*BUUKK!!*
Aku tidak sengaja mendorong salah satu barang dagangan milik pedagang itu sampai jatuh.
Para bandit langsung menoleh ke arah suara itu dengan mata menyipit.
"HEII!! TADI ADA SUARA KAN!! CEPAT PERIKSA APA YANG ADA DI DALAM SANA!!" Para bandit yang lain pun mulai berjalan menuju arah kereta kuda dengan langkah berat.
*Tap... tap... tap...*
Aku yang panik langsung keluar dari kereta itu dan berlari dengan sekuat tenaga, tanpa pikir panjang.
_Gawat.. mereka menyadari ku.. aku harus pergi apapun yang terjadi._
Tapi para bandit melihatku dari kejauhan, mata mereka langsung menyala.
"HOII!! ADA ANAK KECIL YANG BERLARI!!" Bos mereka pun berteriak dengan sangat kencang, suaranya serak.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!! CEPAT TANGKAP ANAK ITU!!" Para bandit mulai mengejarku dengan tatapan tajam seperti binatang lapar.
Aku berlari. Berlari. Dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Kakiku hampir terpeleset di tanah becek.
_Aku tidak ingin mati.. aku tidak ingin mati.._
_Aku benar-benar tidak ingin mati.. tolong..._
Tapi usahaku sia-sia. Napasku habis.
Para bandit menangkap bajuku dari belakang dan mulai mengangkatku dengan kasar.
"AKHIRNYA KAU TERTANGKAP JUGA BOCAH!!" Mereka mengarahkan belati dan pedang mereka ke arahku, dekat ke wajahku.
"JIKA KAU TIDAK INGIN MATI DI TANGAN KAMI SEBAIKNYA KAU DIAM!!"
Tanganku gemetar hebat.
Jantungku berdetak kencang sampai sakit.
*Deg! Deg! Deg!*
Keringatku mulai bercucuran meski hujan turun.
_Aku.. sangat takut. Badanku tidak bisa bergerak..._
Bos para bandit pun mulai menghampiriku dengan senyum miring.
"OII.. OII.. APA YANG DILAKUKAN BOCAH DI DEKAT PERBATASAN INI?? APA KAU TIDAK TAHU BAHWA DAERAH INI ADALAH WILAYAH KAMI??" Salah satu bawahan bandit tiba-tiba mengecek seluruh tubuhku dengan kasar.
"HUFFF.. SEPERTINYA PERCUMA BOS.. DIA TIDAK AKAN LAKU." Bos bandit itu menghela nafasnya karena kecewa.
"HUH... PADAHAL KITA SUDAH REPOT-REPOT MENGEJARNYA. KUKIRA DIA AKAN BISA DIJUAL SEBAGAI BUDAK." Dia tersenyum sinis ke arahku, matanya menatapku seperti sampah.
"KALAU BEGITU.. MATILAH KAU!!"
*PLAKK!!*
Dia memukulku dengan sangat keras sampai aku terjatuh ke tanah berlumpur.
"TENANG SAJA!! ITU BARU PERMULAAN!! AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHMU SEPERTI PAMAN ITU!!" Dia melempar kepala pedagang itu ke arahku. Kepala itu menggelinding dengan mata terbuka.
*Duk... glundung...*
Aku yang sangat ketakutan langsung berteriak dengan sangat keras, suaraku pecah.
"ARGHHH!!!"
Dia mulai menyeretku dengan sangat keras, rambutku ditarik.
"KEBETULAN JALAN INI SANGAT DEKAT DENGAN TEBING YANG JURANG!!" Aku pun terus diseret dan ditendangi oleh anak buahnya, sampai akhirnya aku sampai di tebing itu. Angin kencang dari bawah.
Lalu dia mengangkatku dengan sangat tinggi, di atas jurang yang gelap.
"MUMPUNG SUDAH ADA DI SINI.. BAGAIMANA KALAU KAU... JADI MAINAN KAMI SEMUA!!" Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak, seolah nyawa manusia hanyalah hal sepele bagi mereka.
Aku yang ketakutan mulai menangis. Air mata bercampur hujan.
_tidak.. tidakk.. tolong jangan bunuh aku. Aku mohon..._
Bos bandit itu mulai mengeluarkan pedangnya yang berkarat.
*Sring!*
"BENAR.. ITU DIA!! WAJAH ORANG YANG PUTUS ASA ITULAH YANG SANGAT MENYENANGKAN HATIKU!!" Dia langsung menikamku sampai menembus tubuhku dari depan.
*CROTT!!*
Tubuhku sangat lemas seketika. Hangat mengalir keluar.
Aku berhenti menangis. Tidak ada suara lagi.
Kesadaranku mulai menghilang bersamaan dengan keluarnya darah dari tubuhku yang menetes ke jurang.
Bos bandit itu pun langsung mencabut pedangnya yang menusuk tubuhku dengan kasar.
*SRETTT!!*
"Hei bocah.. kalau kau masih hidup akan kuberitahu."