NovelToon NovelToon
Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.

​Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.

​Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?

​"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Balik Pintu

"Baru pulang, Syafiya?" tanya Bramantyo saat melihat Syafiya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tampak lelah. Pria paruh baya itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran.

​"Eh, Daddy... Iya, Dad, baru pulang ini," balas Syafiya kaget, berusaha menyunggingkan senyum setenang mungkin agar kegelisahannya tak terbaca.

​"Mommy di mana?" tanya Bramantyo seraya menurunkan korannya sedikit, menatap anak angkat kesayangannya itu.

​"Mommy masih di butik, Dad. Katanya sebentar lagi pulang, masih ada sisa gaun yang harus dicek," jawab Syafiya sopan. "Kalau begitu, Syafiya naik ke kamar dulu ya, Dad."

​"Iya, Nak. Bersihkan badan dulu, lalu istirahat. Kamu kelihatan capek sekali hari ini," ujar Daddy hangat penuh perhatian.

​"Iya, Dad. Terima kasih."

​Syafiya melangkah menaiki anak tangga satu per satu. Rasa lelah fisik dan beban mental setelah kejadian di butik siang tadi benar-benar menguras tenaganya.

Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengunci diri di kamar dan menenangkan pikirannya yang kacau.

​Namun, saat berjalan melintasi koridor lantai dua menuju kamarnya, langkah Syafiya mendadak terhenti. Suara samar pertengkaran dari balik pintu kamar utama—kamar Zeffan dan Valerie—membuatnya terpaku.

​"Mas, tolong mengerti! Aku lagi capek banget hari ini!" suara Valerie terdengar meninggi, meski ditahan agar tak terdengar sampai ke lantai bawah.

​"Capek kenapa, Valerie? Kamu cuma ke dokter anak dan

belanja sebentar!" balas Zeffan dingin, nada suaranya terdengar tidak sabar dan menuntut.

​"Elvano demam seharian, Mas! Aku harus ngurus dia tanpa bantuan siapa-siapa! Kenapa kamu cuma mikirin keinginan kamu sendiri sih?" tegur Valerie, suaranya gemetar menahan emosi.

​"Aku ini suamimu, Valerie. Apa susah memenuhi kewajibanmu sebagai istri malam ini?" cecar Zeffan tajam.

​Syafiya membelalakkan mata di balik pintu yang sedikit renggang. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari topik pembicaraan pasangan suami-istri tersebut. Valerie menolak berhubungan badan karena lelah mengurus Elvano yang sedang sakit.

​"Aku bukan menolak untuk selamanya, Mas! Aku cuma minta malam ini aja! Aku butuh istirahat!" tangis Valerie akhirnya pecah secara perlahan. "Kenapa belakangan ini kamu jadi emosional dan kasar begini kalau aku bilang capek?"

​Zeffan terkekeh dingin, tawa yang sangat dihafal Syafiya sejak kejadian di butik siang tadi.

​"Kalau kamu terus-terusan menolak kayak gini, jangan salahkan aku kalau aku cari kepuasan di luar, Valerie," ancam Zeffan datar tanpa penyesalan.

​"Mas Zeffan! Tega banget kamu ngomong begitu!" seru Valerie terperanjat tak percaya.

​Di luar kamar, Syafiya membeku di tempatnya. Napasnya tertahan, dan rasa bersalah yang teramat sangat makin menjalar meremukkan dadanya.

 Kata-kata Zeffan bukan sekadar ancaman kosong untuk Valerie, melainkan sebuah petunjuk terselubung bahwa pria itu memang sudah menyiapkan Syafiya sebagai tempat pelampiasannya.

"Aku tidak pernah tega denganmu, Valerie. Tapi kamu selalu saja beralasan begitu jika aku meminta hakku. Bukan cuma malam ini, sudah hampir dua tahun ini kamu selalu menolaknya!" potong Zeffan dingin, nada suaranya terdengar makin tajam dan menuntut.

​"Dua tahun, Mas?!" seru Valerie tak percaya, suaranya gemetar menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam. "Kamu sadar nggak apa yang kamu omongkan? Aku hamil tua, melahirkan Elvano, dan mengurus anak kita dari bayi! Mana bisa kamu hitung itu sebagai penolakan yang sengaja?!"

​"Itu alasanmu terus, Valerie. Aku sudah cukup bersabar selama ini," balas Zeffan datar, seolah menutup mata dari perjuangan istrinya.

​"Sabar yang mana, Mas? Aku ini istri kamu, bukan sekadar pemuas nafsumu!" isak Valerie pecah, suaranya terdengar begitu terluka di balik pintu. "Kalau kamu memang sudah tidak sabar dan tidak bisa mengerti posisiku sebagai ibu dari anakmu, katakan langsung! Jangan cuma bisa menyalahkan aku!"

​"Aku cuma minta kamu melayani suamimu malam ini. Kenapa harus serumit ini?" bisik Zeffan dengan penekanan dingin yang menakutkan.

​"Karena aku manusia, Mas! Aku lelah!" balas Valerie serak.

​Karena tidak ingin mendengar apa pun lagi, Syafiya dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tangannya yang gemetar meremas tali tas erat-erat, melangkah setengah berlari menyusuri koridor lantai dua agar tidak ketahuan berada di sana.

​Cklik.

​Begitu masuk ke dalam kamarnya, Syafiya langsung mengunci pintu rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di daun pintu. Dadanya naik turun memburu, diiringi jantung yang berdegup sangat kencang.

​Air mata yang sempat tertahan kembali luruh membasahi pipinya. Pertengkaran suami-istri itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Syafiya kini menyadari alasan di balik obsesi gelap Zeffan padanya—pria itu merasa frustrasi dalam pernikahan rumah tangganya dan menjadikan Syafiya pelampiasan atas ketidakpuasannya pada Valerie.

​"Gila... Kak Zeffan benar-benar sudah gila," gumam Syafiya serak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, meratapi posisinya yang kini makin terjepit di tengah retaknya hubungan rumah tangga kakak angkatnya sendiri.

Namun pertengkaran itu tidak berhenti begitu saja. Suara Zeffan yang biasanya tenang kini terdengar begitu pekat dengan kemarahan yang tertahan, menembus sampai ke koridor.

"Jangan mengatakan aku tidak pernah mengertimu, Valerie! Aku selalu mengertimu, tidak pernah memaksamu! Aku meminta baik-baik! Tapi apa? Kamu selalu membentakku, Valerie! Jangan bersikap manis di depan orang, tetapi bersikap jahat di depan suami!" bentak Zeffan, suaranya naik beberapa nada dari sebelumnya.

"Aku nggak pernah berniat jahat sama kamu, Mas!" balas Valerie tak kalah emosional, napasnya terdengar memburu di balik pintu. "Tapi cara kamu menuntut itu yang bikin aku merasa nggak dihargai! Kamu cuma datang kalau ada maunya, tanpa pernah tanya gimana capeknya aku seharian ini!"

"Aku kerja seharian di kantor, Valerie! Mencari nafkah buat kamu dan Elvano! Apa salah kalau aku cuma minta perhatian dari istriku sendiri di rumah?!" cecar Zeffan tajam.

"Perhatian yang mana, Mas? Yang kamu minta itu bukan perhatian, tapi pelampiasan!" isak Valerie makin kencang. "Tolonglah... mengerti posisi aku sekali saja. Elvano masih kecil, dia butuh aku. Aku cuma minta waktu buat istirahat malam ini!"

Zeffan terkekeh dingin, tawa sinis yang selalu berhasil meremukkan mental siapa pun yang mendengarnya.

"Alasan yang sama terus-menerus," bisik Zeffan dengan nada amat datar namun menusuk. "Jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti perhatian yang aku minta ini diberikan oleh wanita lain, Valerie."

"Mas Zeffan! Kamu mengancam aku?!" seru Valerie terperanjat, suaranya bergetar hebat antara marah dan tak percaya. "Tega-teganya kamu berpikiran untuk main belakang di saat rumah tangga kita baru seumur jagung?!"

"Aku nggak mengancam. Aku cuma mengingatkan," sahut Zeffan dingin. "Kalau kamu terus-terusan mengabaikan kewajibanmu, jangan protes kalau tempatmu pelan-pelan digantikan."

Di dalam kamarnya, Syafiya yang belum sempat melangkah jauh dari pintu hanya bisa mematung rapat. Kedua tangannya menutup mulutnya sendiri agar suara tangisnya tak pecah.

Setiap kata yang diucapkan Zeffan kepada Valerie terasa seperti tamparan keras yang ditujukan langsung ke wajahnya.

Syafiya tahu betul... 'wanita lain' yang dimaksud Zeffan saat ini tidak lain adalah dirinya sendiri.

1
Aditya hp/ bunda Lia
hhmmmm ... 🤔
anak siapa hayooo
Aditya hp/ bunda Lia
coba bicara baik2 kalian tuh jangan juga selalu membela Valerie kalo salah yah slah biar gak tambah kacauuuu ...
Aditya hp/ bunda Lia
kasian juga ..
Anisa Dwi riona
lanjut Thor.makin Seruuu
lexxa
sepertinya syafiya ini emng istrinya zaffankan?, yg ilang ingatan gara² zaffan di jebak valerie sampe hamil kan yaa?🤣(soal nya valerie sama zaffan pernah slh ngomong di bab sebelumnya),ini cuman khayalan ku yaa🤣
Aditya hp/ bunda Lia
apanyang akan terjadi kalo pada saatnya nanti mommy Marlina dan Daddy Bram tau kalo zeffan menjadikan syafiya simpanannya
Aditya hp/ bunda Lia
huuuh, ... Valerie habis kamu
Aditya hp/ bunda Lia
zeffan gila ...
Aditya hp/ bunda Lia
huuh, ... gak akan bisa pergi syafiya
Aditya hp/ bunda Lia
ternyata oh ternyata ...
Aditya hp/ bunda Lia
gak usah denger si Valerie pergi ajah
Aditya hp/ bunda Lia
simalakama yah Valerie ...
Aditya hp/ bunda Lia
bagus zef
Aditya hp/ bunda Lia
cabut ajah inpestasimu zef
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍👍
Aditya hp/ bunda Lia
Nah, ... makin rame ributnya ini
Anisa Dwi riona
hati hati kamu syafiya.kunci pintunya
Aditya hp/ bunda Lia
gak ngancurin gimana sih zefran yah bakalan ancur atuh hidup syafiya .. jadi wanita simpanan tanpa status gitu
Aditya hp/ bunda Lia
nanti pas kebongkar takutnya yang disalahin syafiya ... dituduh menggoda
Aditya hp/ bunda Lia
hadir ☝️
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!