Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
....
Matahari pagi menyapa Kota Medan dengan sinarnya yang hangat, menyusup melalui celah tirai kamar Elena. Di atas meja nakas, ponsel pintarnya bergetar pelan, memecah kesunyian pagi.
Sebuah pesan singkat dari Julian mendarat di layar:
Jules: Pagi, El. Masih tidur? Hari ini aku mau WFC (work from coffee shop). Temenin ya? Biar kerjanya semangat, ada yang nemenin ngobrol.
Elena membaca pesan itu sambil tersenyum tipis. Kejadian di dalam mobil semalam sempat berkelebat di benaknya, menghadirkan debar asing yang membuat pipinya mendadak hangat. Namun, ia segera menepisnya dan mengetik balasan.
Elena: Pagi juga, Jules. Boleh, tapi tunggu aku selesai beresin rumah dulu ya. Agak siangan dikit kita jalan.
Jules: Siap. Take your time, Ratu Rumah. Nanti aku kabari kalau udah mau jemput.
Satu jam berikutnya dihabiskan Elena untuk merapikan seisi rumah, membereskan dapur, hingga memastikan segala keperluannya beres.
Tepat menjelang siang, deru mesin Lexus putih milik Julian terdengar berhenti di halaman depan. Hari baru telah dimulai, membawa serta lembaran hubungan mereka yang kini telah bergeser ke batas yang jauh lebih rumit dari sekadar persahabatan dua puluh tahun.
Elena meraih tas sandangnya tepat saat ponselnya berdering di atas meja. Nama Julian terpampang di layar.
"Halo, Jules?"
"El, aku udah di depan rumah nih," ujar suara Julian di seberang telepon, hangat dan renyah seperti biasanya.
"Oke, aku keluar sekarang."
Elena melangkah ke ruang tengah untuk berpamitan pada ibunya yang sedang merapikan ruang tamu. "Ma Elena keluar sebentar ya sama Julian. Mau nemenin dia kerja di kafe."
Belum sempat sang ibu menjawab, ketukan pintu terdengar. Elena membukanya dan mendapati Julian berdiri di sana dengan kemeja kasual yang rapi dan senyum tipis yang menenangkan.
"Pagi, Tante," sapa Julian sopan begitu melihat ibu Elena berjalan mendekati pintu. Pria itu menyalami tangan ibu Elena dengan penuh hormat. "Izin bawa Elena keluar ya, Tante. Mau nemenin saya kerja sebentar di luar, sekalian nanti diculik sampai malam kalau boleh."
Ibu Elena tertawa pelan, menepuk pundak Julian dengan penuh percaya diri pada pria yang sudah ia anggap seperti anak sendiri sejak kecil. "Boleh lah, Jules. Yang penting dijaga anak Tante ini ya. Hati-hati di jalan."
"Siap, Tante. Pasti dijaga," jawab Julian mantap.
Setelah pamit, mereka berjalan menuju Lexus putih yang terparkir rapi di halaman. Julian membukakan pintu untuk Elena sebelum akhirnya melangkah mutar ke kursi kemudi.
Mesin mobil halus itu menderu pelan, melaju membelah jalanan kota Medan yang mulai ramai menjelang siang menuju salah satu kafe favorit mereka di pusat kota.
Di dalam kabin Lexus putih yang melaju mulus di bawah terik matahari siang Kota Medan, kecanggungan sisa semalam seolah melebur begitu saja. Seolah tak pernah ada isak tangis pilu ataupun ciuman sarat emosi di bawah temaram lampu mobil, keduanya kini kembali ke ritme nyaman mereka sebagai dua sahabat karib yang saling memahami isi kepala masing-masing.
Julian melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menyodorkan ponsel pintarnya ke arah kursi penumpang.
"Nih, puterin lagu yang asyik, El. Playlist aku lagi bosenin isinya lagu sendu mulu," ujar Julian sambil melirik sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya.
Elena menerima ponsel itu, jemarinya lincah menggulir layar mencari daftar putar yang pas untuk menemani perjalanan siang itu.
"Lagi pengen dengerin lagu-lagu indie pop yang agak santai, ya? Biar nggak ngantuk kerjanya," usul Elena, lalu mengetuk salah satu playlist andalan mereka.
Alunan musik bertempo sedang yang menenangkan langsung mengalir melalui pengeras suara mobil yang jernih. Suasana di dalam kabin terasa semakin adem berkat pendingin udara yang bekerja sempurna.
"Nah, pas ini,"gumam Julian menyetujui. Setelah beberapa menit menikmati alur lalu lintas kota, obrolan mereka bergeser ke hal-hal remeh yang biasa mereka bahas.
"Oh iya, nanti habis kamu selesai kerja dan laptop kamu ditutup, kita mau cari makan apa?" tanya Elena sambil menoleh ke arah Julian, matanya menerawang memikirkan deretan kuliner enak di pusat kota.
"Jangan yang berat-berat banget, tapi kalau bisa yang mengenyangkan."
"Hmm... gimana kalau kita cari pastry atau rice bowl di kafe tempat kita WFC nanti? Atau kalau kamu mau, nanti sore kita mampir sebentar ke mal buat nyari beberapa keperluan rumah yang kemarin sempat kamu bilang habis," tawar Julian santai, menawarkan fleksibilitas penuh untuk jadwal hari itu.
"Boleh juga! Sekalian aku mau nyari beberapa barang kecil yang kelupaan kemarin," balas Elena antusias, menikmati bagaimana obrolan ringan ini menjadi pelarian paling nyaman dari seluruh beban pikiran yang selama ini menghimpit dadanya.
Di bawah naungan musik dan obrolan kasual itu, dunia luar seolah melambat, memberikan mereka ruang untuk bernapas lega sejenak dari kerumitan takdir yang mengintai di balik hari-hari mereka.
ayo tor lanjutin update nya