NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 26

Kabut tebal berwarna keperakan menggantung rendah di atas benteng perbatasan selatan Akademi Canglan, membiaskan sinar matahari terbit menjadi garis-garis cahaya suram. Gerbang kayu berlapis besi hitam setinggi lima belas meter berderit berat saat perlahan dibuka oleh empat orang pengawal berpakaian zirah. Di balik selubung pelindung magis yang bergetar tipis, terbentang rimba raya kuno yang membisu—Hutan Roh Tingkat Rendah, sebuah wilayah meluas tanpa batas yang dipenuhi vegetasi liar dan hawa magis pekat.

Hembusan angin pertama yang keluar dari celah gerbang membawa aroma tanah basah, pembusukan dedaunan tua, serta pendar hawa dingin yang memicu naluri bertahan hidup. Begitu selubung pelindung benar-benar terbuka, ratusan murid baru bersorak riuh, melompat maju berhamburan menembus garis batas bagai kawanan hewan yang terlepas dari kurungan.

"Serbu area utara! Cari binatang roh tingkat dua!" seru beberapa murid dari kota besar yang memimpin rombongan depan dengan percaya diri.

Di antara riuhnya derap langkah kaki dan kibatan jubah, kelompok klan Zhongli berjalan dengan formasi melingkar yang rapi. Zhongli Chen melangkah di tengah, dikelilingi oleh delapan pengikutnya yang bersenjata lengkap. Sebelum menghilang di antara kerapatan pepohonan utara, Zhongli Chen sempat memutar kepalanya, melayangkan tatapan dingin beracun ke arah Shen Jue sambil menyunggingkan senyum penuh ancaman.

"Lihat gayanya yang sok menguasai itu," cemooh Xi'er sambil mendengus kecil, menatap punggung rombongan klan Zhongli yang kian menjauh.

"Biarkan mereka berburu di tempat ramai," pungkasi Shen Jue tenang sambil merapikan tali tas pinggangnya. "Ayo, jalur kita berbelok ke kanan."

Shen Jue memimpin langkah menuju jalur kecil berduri di sebelah barat, membelakangi rombongan utama murid yang terus membanjiri area tengah dan utara hutan. Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi mengikutinya tanpa ragu sedikit pun.

Hanya dalam waktu lima belas menit berjalan meninggalkan area gerbang utama, kebisingan ratusan murid mendadak surut secara drastis. Vegetasi di jalur barat tumbuh jauh lebih liar dan tidak teratur. Pepohonan raksasa berusia ratusan tahun menjulang tinggi memayungi langit, membuat sinar matahari pagi hanya sanggup menembus sebagai berkas-berkas cahaya tipis yang temaram. Udara di sekeliling mereka perlahan berubah menjadi lembap dan pekat.

Shen Jue mendadak menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon akar menggantung. Ia merogoh dua kantung kain kecil berisi bubuk herbal yang dibelinya kemarin dari tas pinggangnya, lalu membagikannya kepada Xi'er dan Gongsun Zhi.

"Taburkan bubuk ini di pergelangan kaki dan lipatan jubah kalian," perintah Shen Jue pelan.

"Ini bubuk pahit penyamar bau yang kemarin kau beli kan?" tanya Xi'er penasaran sambil mulai mengusapkan bubuk herbal berwarna cokelat muda itu ke sepatu kulitnya.

"Benar," jawab Shen Jue mantap. "Vegetasi Rawa Barat dipenuhi serangga penghisap darah dan lintah magis. Bubuk ini bukan hanya menyamarkan bau tubuh kita dari penciuman binatang buas, tetapi juga menolak reptil kecil beracun."

Gongsun Zhi mengusapkan bubuk itu ke pangkal Tombak Besi Hitam-nya dan seluruh lipatan jubahnya tanpa banyak bicara. Ketelitian Shen Jue dalam mempersiapkan hal-hal kecil seperti ini semakin memperkuat rasa percayanya terhadap kepemimpinan pemuda berkerudung linen abu-abu tersebut.

Selesai mengoleskan bubuk penyamar bau, ketiganya melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Rawa Barat. Medan tanah yang tadinya keras berangsur-angsur berubah menjadi pijakan lumpur hitam yang licin dan pekat. Akar-akar pohon bakau raksasa mencuat melintasi permukaan air keruh, bersilang-siur bagai jaring-jaring raksasa yang menutupi dasar rawa.

Kabut tebal berwarna kelabu melayang rendah sejajar dengan pinggang mereka, membatasi jarak pandang hingga kurang dari sepuluh meter. Kesunyian di Rawa Barat terasa begitu menindas; hanya ada suara kepak sayap burung malam yang terganggu, gelembung gas rawa yang meletup sesekali di atas air keruh, dan derak dahan kering yang terinjak.

"Tempat ini benar-benar seram," bisik Xi'er halus sambil mengetatkan cengkeraman pada pisau belatinya.

Sebagai pemilik Roh Binatang Musang Bayangan Perak, tubuh Xi'er memperlihatkan kelincahan luar biasa di medan sulit ini. Ia tidak berjalan di atas lumpur hitam yang dalam, melainkan melompat ringan dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Gerakannya hampir tanpa suara, bagai bayangan perak yang menari di antara kerapatan kabut.

Sementara itu, Gongsun Zhi berjalan di barisan paling depan di atas tanah, memimpin dengan ketahanan fisiknya yang kokoh. Setiap kali langkah kaki beratnya menapak lumpur, ia menggunakan pangkal Tombak Besi Hitam-nya untuk menguji kedalaman rawa di depan mereka.

"Tahan," tegur Shen Jue mendadak dari barisan belakang, menahan bahu tegap Gongsun Zhi.

"Ada apa, Shen Jue?" tanya Gongsun Zhi sambil menghentikan langkahnya dan mengangkat tombak setinggi dada.

Shen Jue berjongkok pelan di atas akar pohon besar, menunjuk ke arah genangan air keruh berdiameter tiga meter tepat di hadapan kaki Gongsun Zhi. Permukaan air itu tampak tenang dan tertutup oleh lapisan lumut kebiruan yang indah.

"Jangan tergiur oleh permukaan tanah yang tampak rata," jelas Shen Jue datar sambil mengambil sebuah dahan kayu kering dan melemparnya ke tengah genangan lumut tersebut.

Plop!

Begitu dahan kayu menyentuh permukaan lumut kebiruan, genangan air itu seketika bergolak hebat. Lapisan lumpur di bawahnya tersedot masuk secara mendadak, menelan dahan kayu tebal itu dalam hitungan detik tanpa menyisakan jejak. Itu adalah kolam *Rawa Isap*—perangkap alami paling mematikan di Hutan Roh yang sanggup menelan petarung dewasa hingga tenggelam total.

"Kalau aku melangkah satu tindakan lagi tadi..." gumam Gongsun Zhi dengan dahi dibasahi sedikit keringat dingin.

"Lumut Jiwa Dingin selalu tumbuh di atas permukaan air beracun yang dalam," analisis Shen Jue tenang sambil berdiri kembali. "Warna birunya menyerap energi busuk dari bangkai di dasar rawa. Jika kalian melihat lumut berwarna sama di depan, selalu ambil jalan memutar menaiki akar."

"Shen Jue, kau tahu dari mana hal-hal seperti ini? Bukankah kau belum pernah masuk ke Hutan Roh sebelumnya?" tanya Xi'er penasaran dari dahan atas.

"Buku-buku kuno di perpustakaan desa mencatat banyak hal, asal kau rajin membacanya," sahut Shen Jue sambil menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius di balik kerudungnya.

Mereka bertiga terus merangsek masuk lebih dalam ke jantung Rawa Barat, melintasi rintangan demi rintangan dengan panduan analisis tepat dari Shen Jue. Kombinasi ketahanan Gongsun Zhi, kelincahan Xi'er, dan kecerdasan taktis Shen Jue membuat mereka bergerak sangat cepat tanpa membuang stamina secara sia-sia.

Setelah hampir dua jam menyusuri keheningan Rawa Barat, perubahan atmosfer mendadak terasa di udara. Hawa dingin yang menguar dari rawa mendadak bercampur dengan aroma amis yang tajam dan pekat—bau khas dari keberadaan binatang buas berdarah murni.

Shen Jue mendadak mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat berhenti total. Xi'er seketika merendahkan tubuhnya di atas dahan pohon, sementara Gongsun Zhi mengencangkan cengkeramannya pada Tombak Besi Hitam.

"Lihat ke bawah sana," bisik Shen Jue sambil menunjuk ke arah batang pohon bakau raksasa di sebelah kiri mereka.

Kulit kayu bakau setebal telapak tangan itu tampak hancur terkelupas secara kasar. Terlihat bekas goresan taring panjang yang dalam, dipadu dengan cetakan telapak kaki berukuran tiga kali lipat tangan manusia terpatri jelas di atas lumpur basah yang masih segar.

"Jejak ini masih baru," pungkasi Shen Jue mendatar, matanya berkilat penuh konsentrasi. "Binatang roh pertama kita ada di sekitar sini."

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!