Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tembok ibu kota terlihat dari jarak setengah hari perjalanan, memanjang di cakrawala tanpa ujung yang terlihat. Yu Tian menurunkan pedangnya di sebuah rumpun pohon willow beberapa li dari gerbang barat dan mendarat dengan lutut sedikit menekuk.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ratusan pedang terbang menyilang di langit di atas menara-menara kota, dan iring-iringan kereta berkuda yang mengular di jalan resmi menuju gerbang. Debu merah terangkat dari roda-roda kayu, dan suara lonceng pasar sudah sampai ke telinganya.
Ia menurunkan syal putih dari wajahnya dan berlutut di tepi parit kecil. Pantulannya di air masih menunjukkan wajah yang sama dengan lukisan di tiang-tiang pasar, lebih tirus dan dengan rambut sebahu, tetapi tulang pipi dan garis rahang itu tidak akan lolos dari mata penjaga yang teliti.
'Terlalu banyak mata di kota sebesar ini. Penutup kepala dan syal tidak akan bertahan di depan pemeriksa yang cerdas.'
Ia menarik napas dalam-dalam dan memusatkan sedikit Qi ke ujung jarinya, lalu menyentuh keningnya. Qi itu mengalir pelan ke bawah kulit, menyusup ke lapisan-lapisan tipis di bawah pori, dan mengubah warna serta bayangannya sedikit demi sedikit. Pangkal hidungnya melebar tipis, tulang pipinya tampak lebih rata, kulitnya sedikit kecokelatan dan tidak rata, dan alisnya berubah lebih pucat dan tipis.
Dalam sepuluh tarikan napas, wajah di air itu berubah menjadi wajah seorang pemuda biasa yang tidak akan diingat siapa pun, dengan mata yang tidak terlalu tajam dan senyum yang tidak terlalu angkuh.
"Topeng Penipu Para Dewa." Ia menepuk-nepuk pipinya dan mengamati hasilnya dengan ekspresi yang agak tidak puas. "Nama sebesar itu untuk wajah yang membosankan."
Teknik itu tidak mengubah tulang, hanya warna dan bayangan kulit, tetapi Qi yang menopangnya cukup stabil sehingga ia tidak perlu mengangkat topeng saat makan, minum, atau tidur. Ia menyimpan syal ke kantong penyimpanan, mengikat kedua pedang di punggung, dan berjalan ke arah antrean gerbang.
Penjaga di gerbang barat hanya melirik wajahnya sekilas dan menunjuk ke arah dalam dengan dagu. Di dinding batu di sisi gerbang, selembar kertas buronan yang sudah menguning dan sobek di sudutnya masih menempel, dan lukisan di atasnya mulai memudar. Yu Tian melewatinya tanpa menoleh, dan sudut bibirnya hampir naik.
'Lima bulan, dan hidungku masih bengkok di sana.'
Jalan di dalam gerbang lebar sekali, berlapis batu putih yang rata, dengan deretan toko bertingkat di kedua sisinya dan spanduk-spanduk sutra yang bergelantungan dari balkon.
Bau rempah, arak, dan asap dupa bercampur di udara. Ia menyusuri jalan itu dengan langkah lambat, memperhatikan lambang-lambang sekte yang tergantung di depan penginapan dan kedai, dan perutnya yang kosong sejak pagi akhirnya menang atas rasa ingin tahunya. Di sudut sebuah gang, ia menemukan warung mi tua dengan atap rumbia dan tiga meja kayu yang kakinya diganjal batu.
"Satu mangkuk mi kuah. Yang paling pedas." Yu Tian duduk di meja paling ujung dan menjatuhkan beberapa keping tembaga di atas permukaannya.
Seorang perempuan tua dengan celemek berminyak mengangguk dan menghilang di balik tirai dapur. Tak lama kemudian semangkuk mi mengepul diletakkan di hadapannya, dengan irisan daging dan cabai merah yang berenang di kuah keruh.
Di meja sebelahnya, tiga lelaki sedang berbincang keras sambil menyeruput mi mereka. Yang paling gemuk, tukang daging dengan celemek yang masih bernoda merah, menepuk meja dengan telapak tangannya yang lebar.
"Lima bulan, Lao Qian! Lima bulan! Si Lu Heng itu sudah Inti Emas tingkat lima! Dulu waktu masuk sekte, tahu tidak dia di mana? Pengumpulan Qi!"
"Yang kau lupa, dia punya akar api tingkat atas." Lelaki kurus berjubah sastrawan di seberangnya mengunyah dengan tenang. "Dan Lan Shuang dari Awan Azure juga sudah Inti Emas tingkat lima. Mereka berdua diberi semua sumber daya sekte setelah tetua-tetuanya mati. Siapa pun akan cepat kalau diberi segunung batu roh."
Yu Tian menyendok mi ke mulutnya tanpa mengangkat pandangan, dan telinganya mengikuti setiap kata.
'Lima bulan. Aku mengira baru dua atau tiga.' Ia menelan mi itu pelan-pelan, dan pedas cabainya menyengat sampai ke ujung lidah. 'Mereka berdua naik secepat itu tanpa Tubuh Suci, hanya dengan akar dan sumber daya. Entah mereka memang jenius sebenarnya, atau ada hal lain yang membantu mereka.'
"Kabar iblis kejam itu bagaimana?" Orang ketiga, seorang orang tua berambut putih dengan tongkat bambu, menyendok kuah dan menyeruputnya perlahan. "Satu juta inti masih berlaku, kan? Tapi aku dengar ia tidak terlihat sejak lama."
"Lima bulan tidak ada kabar," jawab tukang daging itu sambil mengunyah. "Katanya mungkin ia sudah mati di pegunungan. Atau lari ke luar benua." Ia menurunkan suaranya sedikit. "Tapi bocah Lu Heng dan Lan Shuang itu ke ibu kota, katanya. Tahu untuk apa? Cuman untuk ke Menara Penguasa Langit."
Lelaki tua itu meletakkan sendoknya dan menatap kedua temannya dengan alis terangkat. "Kalian kira menara itu menara biasa? Menara itu dibangun oleh seorang kultivator ranah Penguasa Langit, yang mati dibunuh sebelum sempat menyelesaikannya. Konon jiwanya masih tinggal di puncak. Siapa pun yang sampai ke lantai seratus empat akan diberi hadiah oleh jiwa itu."
"Lantai seratus empat!" Lelaki kurus tertawa dan mengusap dagunya. "Tidak ada yang pernah sampai sejauh itu, Pak Tua."
Yu Tian meletakkan sendoknya pelan di pinggir mangkuk. Menara itu tidak ia kenal.
'Penguasa Langit yang membangun sebuah menara sampai mati. Jiwa yang tinggal di puncak, dan hadiah yang menunggu di lantai seratus empat.' Sudut bibirnya naik sedikit, dan kali ini ia membiarkan senyum itu tetap di sana. 'Dunia ini ternyata masih menyimpan sesuatu yang belum kuketahui. Menarik.'
Ia menghabiskan kuahnya sampai dasar mangkuk, lalu berdiri dan meletakkan sebatang perak di atas meja. Perempuan tua itu keluar dari dapur dan membelalak.
"Tuan, ini satu tael perak! Mi satu mangkuk cuma dua koin! Kembaliannya..."
Yu Tian sudah berjalan ke ujung gang dengan satu tangan terangkat tanpa menoleh. Ia menepuk gagang pedangnya, dan arah langkahnya sudah jelas. Menara Penguasa Langit.