Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA LAURENT
Restoran mewah di pusat kota itu tampak semakin ramai ketika Elma tiba. Cahaya lampu kristal menggantung anggun di langit-langit, memantulkan kilauan keemasan pada setiap sudut ruangan. Aroma hidangan yang baru saja disajikan berpadu dengan alunan musik piano yang terdengar lembut. Elma baru saja menyelesaikan pekerjaannya di pengadilan ketika sang ibu menghubunginya dan meminta agar mereka makan malam bersama. Tidak ada penjelasan panjang, hanya sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa ayah dan ibunya ingin membicarakan sesuatu. Setibanya di restoran, seorang pelayan mengantarnya menuju meja di sudut ruangan. Di sana, Adrian Laurent dan Isabella Laurent sudah menunggunya.
"Maaf, aku terlambat," ujar Elma sembari menarik kursi.
Adrian meletakkan ponselnya. "Tidak masalah. Kami juga baru tiba beberapa menit lalu."
Isabella tersenyum tipis. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Seperti biasa, cukup padat. Ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan sebelum akhir pekan."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu sudah menikah sekarang. Seharusnya kamu mulai memperhatikan kehidupan rumah tanggamu juga." Sambung Ibunya.
Elma mengangkat pandangan. Ia belum sempat menjawab ketika seorang pelayan datang membawa daftar menu. Mereka memesan makanan masing-masing. Selama beberapa menit, percakapan hanya berkisar tentang pekerjaan dan kabar keluarga. Namun, Elma cukup mengenal kedua orang tuanya untuk mengetahui bahwa undangan makan malam ini bukan sekadar ajakan menghabiskan waktu bersama. Ia yakin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Maxime?" Adrian akhirnya membuka percakapan.
Elma meletakkan gelas air putihnya. "Baik. Kenapa Ayah bertanya?"
"Sudah berapa lama kalian tinggal bersama setelah renovasi rumah selesai?"
"Belum terlalu lama, baru beberapa hari yang lalu" Jawabnya.
"Bagaimana kehidupan kalian sekarang? Apakah semuanya berjalan lancar?"
Elma mengangguk. "Sejauh ini baik-baik saja."
Adrian memperhatikan putrinya beberapa saat sebelum menyandarkan punggungnya pada kursi. "Ayah harap kamu memahami betapa pentingnya hubungan ini bagi keluarga kita."
Elma terdiam, kalimat itu terdengar begitu familiar dan tetap sama sejak pernikahannya. Setiap orang selalu memiliki alasan yang sama ketika membicarakan Maxime Sinclair, keturunan keluarga Sinclair. Sebuah nama besar yang selalu disebut dengan penuh kehati-hatian.
"Ayah tidak perlu menjelaskan lagi betapa besar pengaruh keluarga Sinclair dalam dunia bisnis," lanjut Adrian. "Kerja sama perusahaan kita dengan mereka telah membawa banyak perubahan. Beberapa proyek besar yang sedang berjalan juga bergantung pada hubungan baik kedua keluarga."
"Aku tahu, Ayah." Ujar Elma.
"Karena itu, Ayah ingin kamu menjaga hubunganmu dengan Maxime. Jangan sampai persoalan kecil dalam rumah tangga berkembang menjadi sesuatu yang bisa merusak hubungan kedua keluarga."
Elma menatap ayahnya. "Persoalan kecil seperti apa yang Ayah maksud?"
Adrian sedikit mengernyit. "Kamu mengerti maksud Ayah. Dalam pernikahan, selalu ada perbedaan pendapat. Kamu tidak boleh membiarkan ego menguasai keadaan."
"Aku tidak pernah berniat membiarkan ego menguasai rumah tanggaku." Balas Elma.
"Bagus. Pertahankan itu."
Elma diam sesaat.
"Ayah," panggilnya kemudian. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Jika suatu hari hubungan antara aku dan Maxime tidak berjalan baik, apakah Ayah akan tetap menganggap pernikahan kami penting? Atau semuanya hanya akan menjadi masalah karena kerja sama perusahaan?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Isabella yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka segera menyela.
"Elma, jangan berpikir terlalu jauh. Pernikahan membutuhkan usaha. Kamu dan Maxime harus sama-sama belajar memahami satu sama lain."
"Aku tahu, Ma."
"Kalau begitu, jangan terlalu banyak mempertanyakan sesuatu yang belum tentu terjadi."
Elma menarik napas perlahan. Ia tidak ingin membuat suasana makan malam itu menjadi buruk. Namun, ia juga tidak berniat terus-menerus mengangguk hanya untuk menyenangkan kedua orang tuanya.
"Aku hanya ingin tahu, apakah Ayah dan Mama benar-benar mengkhawatirkan kehidupanku atau hanya mengkhawatirkan hubungan bisnis keluarga?"
Suasana meja makan seketika berubah. Adrian menatap putrinya dengan sorot mata serius.
"Jangan salah memahami maksud kami. Kami tentu mengkhawatirkanmu."
"Kalau begitu, seharusnya itu menjadi hal pertama yang ingin Ayah dan Mama ketahui. Bagaimana perasaanku, bagaimana kehidupanku setelah menikah, dan apakah aku bahagia."
Isabella menghela napas kecil. "Kami sudah tahu kamu baik-baik saja. Lagi pula, kamu menikah dengan pria yang memiliki segalanya. Maxime bisa memberikan kehidupan yang nyaman."
Elma tersenyum hambar. "Apakah menurut Mama kehidupan yang nyaman hanya bisa diukur dari uang dan kedudukan?"
"Jangan memutarbalikkan perkataan Mama."
"Aku tidak sedang melakukannya."
Isabella mengambil serbet di pangkuannya, kemudian meletakkannya di samping piring. "Ada hal lain yang ingin Mama bicarakan denganmu."
Elma menatap ibunya.
"Kalian sebaiknya mulai memikirkan keturunan," ujar Isabella tanpa basa-basi. "Kamu dan Maxime sudah menikah. Akan lebih baik jika kalian segera memiliki anak."
Elma terdiam beberapa detik. "Kenapa harus terburu-buru?"
"Karena itu penting. Kehadiran seorang anak akan semakin memperkuat ikatan kedua keluarga. Apalagi keluarga Sinclair memiliki kedudukan yang begitu besar. Kamu harus memastikan posisimu sebagai istri Maxime tetap terjaga."
Kening Elma berkerut. "Posisiku? Heh,,,"
"Ya. Kamu adalah menantu keluarga Sinclair. Jangan sampai ada hal yang membuat kedudukanmu di keluarga itu dipertanyakan."
Elma meletakkan peralatan makannya dengan hati-hati. "Ma, aku menikah dengan Maxime untuk menjalani kehidupan rumah tangga, bukan untuk mengamankan kedudukanku di keluarganya."
"Elma."
"Aku memahami bahwa Mama menginginkan yang terbaik untuk keluarga kita. Namun, memiliki anak bukan keputusan yang seharusnya dibuat karena kepentingan bisnis atau demi mempertahankan kedudukan seseorang."
Isabella menatapnya tajam. "Kamu terlalu idealis. Kehidupan tidak sesederhana yang kamu pikirkan."
"Mungkin. Tetapi ada beberapa hal yang memang tidak seharusnya diperlakukan seperti transaksi."
Adrian mulai menunjukkan ketidaksenangannya.
"Jaga ucapanmu, Elma. Ibumu hanya memberikan nasihat."
"Aku menghargai nasihat Mama, Ayah. Namun, menghargai bukan berarti aku harus menyetujui semuanya."
Jawaban itu membuat Adrian terdiam.
Elma melanjutkan dengan suara tenang. "Jika suatu hari aku dan Maxime memutuskan untuk memiliki anak, itu harus karena kami berdua menginginkannya dan siap menjadi orang tua. Bukan karena keluarga Laurent membutuhkan jaminan agar kerja samanya dengan keluarga Sinclair tetap berjalan."
Isabella menggeleng pelan. "Kamu selalu punya jawaban untuk segala hal."
"Karena aku seorang pengacara, ma. Aku punya pikiran yang tajam, aki ingin keputusan dalam hidupku memiliki alasan yang benar."
Isabella terdiam sesaat, kemudian kembali membuka percakapan. "Bagaimana dengan Evelyn? Kamu sudah menghubunginya?"
Elma mengangguk. "Beberapa hari lalu."
"Kakakmu sedang sangat sibuk sekarang. Jadwal syuting, pemotretan, dan berbagai acara membuatnya hampir tidak punya waktu untuk keluarga. Mama ingin kamu lebih memperhatikannya."
"Aku selalu menghubunginya, Ma."
"Kalau begitu, sesekali temui dia. Pastikan dia makan dengan baik dan tidak terlalu memaksakan diri. Kamu tahu sendiri bagaimana Evelyn. Dia sering mengabaikan kesehatannya ketika sedang mengejar pekerjaan."
Elma menatap ibunya cukup lama. "Kenapa Mama tidak mengatakan itu langsung kepada Evelyn?"
Isabella tampak sedikit terkejut. "Maksudmu?"
"Evelyn sudah dewasa. Dia bisa mengatur pekerjaannya sendiri. Kalau Mama mengkhawatirkannya, Mama bisa menghubunginya secara langsung."
"Mama hanya meminta bantuanmu."
"Aku tidak keberatan membantu Kak Evelyn. Dia kakakku dan aku menyayanginya. Tapi Mama tidak bisa terus-menerus menjadikanku orang yang harus memastikan semua orang baik-baik saja."
"Elma, kamu adiknya. Sudah sewajarnya kamu memperhatikan kakakmu."
"Aku tahu. Tapi menjadi adik bukan berarti aku harus mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya bisa dia jalankan sendiri. Lalu aku, siapa yang akan memperhatikanku."
Elma menghela napas pelan. "Aku punya pekerjaan, Mama. Aku juga sedang belajar membangun rumah tanggaku sendiri. Aku ingin menjadi istri yang baik bagi Maxime, tapi aku juga ingin tetap menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa terus-menerus diminta menjaga semua orang tanpa pernah ditanya apakah aku sendiri baik-baik saja."
Isabella terdiam, sementara Adrian menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Sepertinya pernikahan membuatmu banyak berubah," ujar Adrian akhirnya.
Elma tersenyum tipis. "Mungkin aku hanya mulai memahami bahwa hidupku juga memiliki batas."
"Ayah tidak pernah bermaksud menjadikanmu alat untuk kepentingan keluarga."
Elma menundukkan pandangannya sejenak. Ada rasa kecewa yang sulit ia sembunyikan. "Kalau begitu, aku berharap Ayah tidak memperlakukanku seperti itu."
Adrian mengerutkan kening. "Selama ini Ayah dan Mama sudah berusaha memberikan kehidupan terbaik untukmu dan Evelyn. Semua yang kami lakukan juga demi masa depan kalian."
"Aku tahu. Aku tidak pernah menyangkal semua yang sudah Ayah dan Mama berikan." Elma kembali mengangkat wajahnya. "Tetapi aku ingin Ayah dan Mama mengerti satu hal. Aku bukan bagian dari aset perusahaan yang bisa digunakan untuk menjamin sebuah kerja sama. Aku juga bukan seseorang yang harus terus-menerus mempertahankan hubungan dengan orang lain hanya karena keluarga kita membutuhkan keuntungan."
"Elma, keluarga kita memiliki tanggung jawab besar," kata Adrian dengan suara lebih rendah.
"Dan aku memahami itu, ayah. Aku juga bagian dari keluarga Laurent. Aku akan menghormati keluarga Sinclair, menjaga sikapku, dan berusaha membangun pernikahan yang baik dengan Maxime. Tetapi aku tidak akan mengorbankan prinsipku hanya untuk memenuhi kepentingan bisnis keluarga."
Adrian tidak segera membalas.
"Aku tidak ingin suatu hari nanti harus menyadari bahwa seluruh keputusan dalam hidupku ternyata dibuat untuk menyenangkan orang lain. Aku ingin menjadi istri karena aku memilih untuk menjalani pernikahan ini, bukan karena aku sedang menjalankan tugas untuk mempertahankan nama Laurent."
Isabella menatap putrinya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak kehabisan kata-kata.
"Jangan berpikir bahwa kami tidak menyayangimu," ucapnya kemudian.
Elma tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Aku tidak pernah meragukan kasih sayang Mama dan Ayah padaku. Aku hanya terkadang berharap kasih sayang itu tidak selalu datang bersama tuntutan."
Kalimat tersebut membuat meja makan kembali sunyi. Kesunyian itu berlangsung hingga makan malam itu usai.
Setelah makan malam selesai, Elma mengambil tasnya. "Aku pulang dulu. Besok pagi ada sidang yang harus kuhadiri."
Adrian mengangguk. "Hati-hati di jalan."
Elma membungkuk sedikit, kemudian mencium pipi ayah dan ibunya seperti yang biasa ia lakukan.
Sebelum beranjak, Isabella kembali memanggilnya. "Elma."
Elma menoleh.
"Jangan sampai perkataan Mama malam ini membuatmu menjauh dari keluarga."
Elma menatap ibunya dengan lembut. "Aku tidak pernah berniat menjauh, Ma. Tetapi aku juga ingin memiliki ruang untuk menjalani hidupku sendiri."
Setelah mengatakan itu, Elma melangkah meninggalkan meja. Langkahnya tetap tenang ketika melewati lorong restoran, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai hal yang sulit diabaikan.
Malam itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari. Bagi kedua orang tuanya, pernikahannya dengan Maxime bukan hanya tentang dua orang yang membangun kehidupan bersama. Ada kepentingan yang jauh lebih besar di baliknya. Ada perusahaan, kedudukan, hubungan antarkeluarga, dan harapan tentang keturunan yang semuanya seolah-olah harus ia penuhi.
Elma tidak membenci keluarganya. Ia juga tidak menyesali pernikahannya. Namun, ia kecewa karena orang-orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang justru lebih sibuk membicarakan apa yang bisa ia berikan daripada bagaimana kehidupannya setelah menikah.
Ia mengeluarkan ponsel dari tas dan menatap layar yang menampilkan beberapa pesan dari Maxime. Suaminya itu mungkin sedang berada di rumah sekarang.
Elma mengembuskan napas panjang.
Setidaknya, satu hal ingin ia pertahankan mulai malam ini: ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk keluarganya sendiri, menentukan bagaimana seharusnya ia menjalani pernikahan.
Jika pernikahannya dengan Maxime memang harus diperjuangkan, ia ingin memperjuangkannya sebagai seorang istri.
Bukan sebagai seorang Laurent yang sedang menjalankan kepentingan keluarganya.
☆