NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Vian melangkah masuk ke kelas. Seperti biasa, suasananya ramai. Tawa dan percakapan bersahutan, tapi keberadaannya tetap samar—nyaris tak terlihat. Ia berjalan pelan menuju kursinya dengan langkah tenang, seolah sudah terbiasa menjadi bayangan.

Entah sejak kapan, ada satu kaki menjulur dari bawah meja.

Tubuh Vian tersandung, terjerembab ke depan. Dahinya membentur ujung meja—cukup keras hingga meninggalkan memar kebiruan.

Namun kelas tetap gaduh. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang peduli.

Bahkan orang yang menjengkalnya pun tetap tertawa, sibuk dengan obrolannya.

Vian tidak mengenal mereka, dan mereka pun tidak berusaha mengenalnya. Sejak pertama kali pindah sekolah, sebelum sempat menyapa siapa pun, ia sudah lebih dulu dijauhi.

Padahal ia sama sekali tidak tahu kenapa.

Dengan kepala berdenyut, ia berdiri pelan Seluruh tubuhnya terasa dingin, mungkin karena terkejut atau kehilangan keseimbangan. Lalu sesuatu menetes dari hidungnya—hangat dan kental.

Darah. Ah, menyebalkan.

Ia buru-buru menyeka dengan lengan bajunya, ingin segera duduk agar tak menarik perhatian. Namun sebelum sempat, selembar sapu tangan tiba-tiba terulur di depan wajahnya.

Vian menatap si pelaku . Sebelum mengambil sapu tangan itu " makasih" suaranya nyaris tidak terdengar. Dengan sapu tangan yang menyumpal hidungnya– menyerap darah yang terus mengalir.

Setelah di perhatikan lebih lanjut orang yang membantunya duduk di tempatnya. Apakah dia Leo – orang yang duduk sebangku dengan nya.

Leo mengangguk kecil sebelum kembali ke tempat duduk nya. Dia diam dengan tenang dengan mata yang pokus membaca buku tebal. Jika di perhatikan lebih lanjut itu sebuah novel.

Vian duduk di kursi kosong. Tidak banyak tanya. Karena dia tidak tau apakah Leo sama atau berbeda seperti mereka. Yang jelas dia gak mau berurusan dengan mereka untuk saat ini.

***

Bel tanda istirahat berbunyi nyaring.

Dalam sekejap, kelas yang tadi sunyi berubah jadi lautan suara—kursi diseret, tawa pecah, langkah kaki berlarian keluar. Semua orang tampak lega, seperti baru terbebas dari penjara jam pelajaran.

Beberapa siswa sudah berebut ke kantin, sebagian lain mengelilingi meja teman mereka sambil bercanda.

Udara siang bercampur dengan aroma jajanan goreng yang terbawa angin dari luar jendela. hangat, riuh, dan penuh kehidupan.

Namun tidak bagi Vian.

Ia masih duduk di tempatnya, memandangi bekas noda darah yang sudah kering di sapu tangan nya.

Tangannya yang lain menopang dagu, menatap kosong ke arah papan tulis yang mulai dipenuhi coretan spidol dari jam pelajaran sebelumnya.

Tawa teman-temannya terdengar sayup, seperti gema dari dunia lain.

Ia ingin ikut tertawa, tapi tidak tahu apa yang lucu. Ia ingin berdiri, tapi tidak tahu hendak ke mana.

Vian menelungkupkan kepala di bawah meja.

Tangannya jadi bantal, matanya terpejam setengah, mencoba tidur di tengah riuhnya suara teman-teman yang bercanda. Tapi bukannya tenang, pikirannya malah makin berisik.

Kadang, tidur memang bukan soal lelah tapi soal ingin sejenak menghilang.

Menemukan rasa tenang dan nyaman.

Vian sendirian dikelas. Semuanya pergi keluar termasuk Leo yang tergesa keluar entah kemana. Padahal ia sudah bertekad. Setidaknya ia mempunyai satu teman di kehidupan ini. Namun nihil . Kenyataannya dia selalu sendirian,dan teman satu-satunya hanya kesepian.

"Bosan"gumamnya, walaupun dia terbiasa dengan sepi, tapi entah kenapa , kesepian selalu terasa asing.

“Puk.”

Sebuah suara kecil terdengar di atas meja. Vian mengangkat kepala dengan malas, matanya menangkap sebungkus roti dan sebotol susu di sana.

Ia menatap orang yang menaruhnya — Leo.

“Buat lo,” ucap Leo singkat, suaranya terdengar ketus .Namun entah kenapa, kali ini Vian tidak merasa terganggu. Ada sesuatu yang aneh bukan pada Leo, tapi pada dirinya sendiri.

Ia hanya mengangguk pelan. “Makasih,” katanya, hampir tanpa suara.

Leo tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu meja, lalu duduk diam di kursi miliknya . melanjutkan bacaan yang belum sepenuhnya selesai

Vian memandangi roti dan susu itu lama-lama. Ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat perasaan yang bahkan ia lupa pernah ada.

Saat pertama kali bertemu Leo, entah kenapa, ia merasa seolah sudah mengenalnya sejak lama.

"Kamu Leo ya"tanya Vian basa-basi , padahal ia sudah tau teman sebangkunya dari ibu guru.

Leo berdehem kecil , terlihat tidak minat menanggapi nya.

"Kamu ada tugas kelompok dengan ku , apa kau tau?" Tanya nya."ya, Bu Lea yang memberitahukan nya tadi"acuhnya.

Vian mengangguk menanggapi, ia sekarang tau nama Bu guru muda itu.

"Kita akan kerjakan tugasnya kapan?" Tanya nya lagi "terserah"

"Nanti, sesudah pulang?"

"Oke"

Mereka terdiam. percakapan mereka hanya sebentar, sesederhana itu.

Tak ada yang mencoba melanjutkan, tak ada yang berusaha memaksa akrab.

Namun di antara diam itu, tidak juga ada jarak yang menyesakkan.

Mereka hanya duduk di bawah cahaya siang yang perlahan merambat masuk lewat jendela tenang, tanpa kata, tapi juga tanpa rasa canggung.

Percakapan yang singkat, namun di antara mereka tidak ada yang mendobrak hingga menimbulkan sesuatu yang tidak nyaman.

Hening yang menggantung justru terasa aman, seolah keduanya tahu: beberapa hubungan tidak butuh banyak bicara untuk bisa saling mengerti.

Sepulang sekolah , waktu sudah menunjukkan pukul 3 , karena hari ini tidak ada mata pelajaran tambahan kelasnya pulang lebih dulu.

Dan sekarang Vian dan Leo sedang berada di sebuah cafe , yang tak jauh dari sekolah. Ia sudah memberitahu abangnya jika hari ini dia akan mengerjakan tugas. Sehingga dia bisa lebih leluasa.

Leo, walaupun tampangnya terlihat berandal dan nakal. Dia dengan nurut mencatat yang harus di catat. Dan membantu Vian dalam mencari referensi di media sosial. Dan itu sangat membantu.

Setelah beberapa menit mengerjakan tugas, akhirnya tugas itu selesai. Dan mereka saat ini sedang bersantai menikmati cemilan kecil di kafe itu.

Vian melirik sekilas ke arah Leo, lalu menunduk menatap minuman di tangannya.

Busa di permukaannya perlahan mengempis, sementara pikirannya justru makin riuh.

Kafe itu tenang—musik lembut, percakapan pelan, aroma kopi yang menenangkan.

Namun di dalam kepalanya, semuanya berisik.

Nyut.

Rasa sakit itu datang lagi, menusuk di pelipis.

Ia menghela napas pelan, berusaha menyamakan detak jantungnya dengan irama musik yang terdengar samar.

Tapi sia-sia. Pikiran tetap berputar, tak tahu harus berhenti di mana.

Tanpa sadar ,dia mencengkam kuat rambutnya . Karena menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya.

"Heyy, Lo kenapa!!" Teriaknya tanpa sadar. Leo mendekati Vian berusaha melepaskan cengkraman dari rambutnya. Setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang. Menyisakan keterdiaman di antara mereka berdua.

"Lo oke kan?"tanya Leo

"Aku gak papa, tadi cuman sakit kepala doang"

Leo menatap Lamat Vian "Tapi , Lo pucet gitu"  Vian mengangguk "ya ,ini bawaan mungkin?" Ucapnya ambigu

Mereka sama-sama terdiam sebelum sebuah tangan merangkul Vian dengan hangat. Vian terkejut. Belum sempat ia bereaksi . Suara yang biasanya terdengar dingin dan ketus , terdengar sangat tulus baginya.

"Gue tau Lo lagi memendam sesuatu ,dan gue tau kita tidak kenal dekat . Tapi gue paling benci mendiami seseorang yang jelas membutuhkan gue"ucapnya. Vian terdiam sebelum membalas pelukannya.

" jadi kalau ada apapun bilang aja"

"Makasih”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!