Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. CEO Kaku dan Buku Level Nuklir
Kaizen melotot tersinggung, tangan kanannya bergerak merapikan kerah jasnya dengan gerakan yang kaku. "Ya pakaian ini kan memang pakem fashion Papa dari dulu! Terlihat gagah, rapi, disiplin, dan berwibawa di mata dunia internasional. Kamu anak kemarin sore tahu apa tentang wibawa, sih?!"
"Wibawa dari mana... itu namanya gaya kaku sekaku kanebo beku yang disimpan di dalam freezer, Pah!" cibir Sella sambil tertawa cekikikan.
Ia kemudian memilih mengabaikan gerutuan sang mantan tentara yang masih sibuk memantau radius area sekitar layaknya seorang prajurit yang sedang menjaga garis perbatasan negara dari serangan musuh. Sella kembali sibuk berpose narsis dengan berbagai macam gaya imut di depan kamera ponselnya, siap mengunggahnya ke media sosial dengan takarir bertuliskan: Bonjour, Paris!
****
Sementara di belahan tempat lain Sella sedang sibuk menikmati keindahan Menara Eiffel, suasana di dalam kantor cabang utama Abraham Company justru terasa sangat bertolak belakang. Tempat itu tampak seperti museum formal yang sangat sunyi, dingin, dan kaku.
Di ruangan lantai teratas gedung pencakar langit itu, Raditama Abraham duduk dengan posisi tegak lurus tanpa bersandar di kursi kebesaran berbahan kulit premium miliknya. Setelan jas bernuansa navy yang ia kenakan tampak sangat licin tanpa ada kerutan sedikit pun. Rambut hitamnya tertata sangat rapi dan klimis dengan sapuan pomade mahal, memancarkan wewangian maskulin yang sangat elegan.
Akibat efek terlalu lama menghabiskan usia mudanya untuk mengurus roda bisnis raksasa keluarga dan setiap hari hanya bergaul dengan jajaran direksi yang usianya dua kali lipat darinya, membuat sifat Adit ikut ketularan kaku akut. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, ia sudah melupakan bagaimana caranya bersenang-senang seperti anak muda seumurannya.
"Saya sudah menyusun dan merapikan kembali semua jadwal pertemuan penting Anda dengan para klien utama dari Eropa untuk seminggu ke depan, Pak Adit," ucap Gavin, sekretaris sekaligus orang kepercayaan keluarga Abraham yang usianya sudah masuk kepala lima, berbicara dengan sikap sangat hormat.
Gavin menyerahkan sebuah tablet tipis berteknologi tinggi ke atas meja kerja. Adit menerima tablet tersebut dengan gerakan tangan yang sangat mekanis, persis seperti robot protokol buatan pabrik Jerman.
"Terima kasih banyak atas kinerjanya, Pak Gavin. Laporan data yang Anda sajikan ini... terlihat sangat komprehensif, mendalam, dan rapi. Saya sangat mengapresiasi tingkat efisiensi kerja Anda," ucap Adit memberikan pujian. Namun, nada bicaranya terdengar terlalu baku, formal, dan datar, seolah-olah ia sedang membacakan naskah teks resmi negara.
Gavin sedikit berdehem pelan untuk menahan senyumnya, merasa dalam hati bahwa bos mudanya ini makin hari kelakuannya makin mirip dengan orang kolot zaman kolonial.
"Sama-sama, Pak Adit. Oh iya, ada satu poin lagi yang perlu saya ingatkan. Kita memiliki jadwal pertemuan bisnis yang sangat krusial dengan klien VIP dari Asia tepat pukul sembilan malam nanti. Pihak beliau secara khusus meminta untuk bertemu di restoran lounge hotel tempat Anda menginap malam ini. Katanya, agar suasananya bisa terasa lebih... santai dan kasual."
Adit mangut-mangut kecil dengan ekspresi wajah yang tetap datar tanpa emosi. "Santai dan kasual? Baik kalau begitu. Saya tetap akan menyiapkan materi presentasi data yang mendalam, akurat, dan tebal agar jalannya suasana santai tersebut bisa tetap berjalan produktif, profesional, dan memiliki integritas korporasi yang tinggi."
Gavin seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menarik napas pasrah dalam hati. Maksud dari kata 'santai' itu cuma sekadar ngopi-ngopi dan mengobrol ringan sambil menikmati musik malam, Pak CEO... bukan malah mau menggelar acara seminar ilmiah atau sidang pleno skripsi! batin Gavin menjerit gemas dengan kekakuan bosnya.
"Baik kalau begitu, Pak Adit. Silakan Bapak melanjutkan pekerjaan dokumennya yang tersisa, saya mohon permisi keluar ruangan."
"Silakan, Pak Gavin. Selamat melanjutkan dedikasi dan loyalitas Anda yang tinggi pada kemajuan perusahaan kita," jawab Adit sambil memberikan satu anggukan kecil berkekuatan formalitas tinggi.
Begitu pintu ruang kerjanya yang kedap suara tertutup rapat, Adit menghela napas panjang untuk pertama kalinya hari itu. Ia berdiri dari kursi kerjanya, melangkah pelan ke arah dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap keindahan tata kota Paris yang menawan di luar sana.
Bukannya mengagumi keindahan estetika kota romantis tersebut, mata Adit justru bergerak melirik ke arah meja kerjanya. Pria itu berjalan kembali ke meja, lalu sibuk merapikan letak pulpen hitamnya agar posisinya sejajar tegak lurus dengan penggaris besi—presisi sempurna sampai ke hitungan milimeternya.
"Pukul sembilan malam," gumam Adit pelan pada bayangan wajah tampannya sendiri yang terpantul di permukaan kaca jendela.
Ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya ke atas, mencoba berlatih tersenyum ramah dan bersahabat untuk menyambut pertemuan bisnis nanti malam. Namun, karena tidak terbiasa tersenyum, hasilnya malah terlihat aneh dan menyeramkan, persis seperti ekspresi orang yang sedang menahan sakit gigi akut. Adit menggelengkan kepala, lalu kembali memasang ekspresi wajah andalannya: wajah KKK (Kaku, Keras, dan Kantoran).
Bagi seorang Raditama Abraham, satu-satunya hiburan terbaik di dunia ini adalah melihat pergerakan grafik saham perusahaannya yang meroket naik di layar monitor. Ia melangkah keluar dari ruangan kerjanya menuju ruang rapat direksi dengan langkah kaki yang diatur sedemikian rupa agar terdengar mantap, berat, dan berwibawa.
****
Siang itu, cuaca kota Paris terasa jauh lebih bersahabat dan romantis. Setelah lelah lahir dan batin menjadi objek foto estetis paksaan dari kedua orang tuanya di Menara Eiffel, Sella akhirnya memutuskan untuk menikmati waktu sendiri (me-time) di sebuah toko buku sekaligus kafe berkonsep vintage yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Kedua orang tuanya lebih memilih untuk tidur siang di kamar hotel—mungkin energi mereka terkuras habis karena harus mengawasi gerak-gerik Sella selama di tempat wisata yang lincahnya sudah melebihi belut sawah diberi pelumas.
Bagi Sella, kafe ini adalah surga dunia yang tersembunyi. Di sudut ruangan, rak-rak buku kayu berukuran raksasa berjajar dengan sangat rapi, menawarkan aroma khas kertas-kertas tua yang menenangkan pikiran. Sella, yang notabene adalah seorang pencinta novel romantis (romance) garis keras, langsung hanyut tenggelam ke dalam dunia imajinasinya sendiri.
"Aduh, so sweet banget sih si Duke tampan ini... mau dong diculik ke kastel megahnya terus dikasih kartu kredit tanpa limit," gumam Sella mesem-mesem sendiri menatap halaman buku. Kedua kakinya berayun dan menendang-nendang udara saking gemasnya dengan plot cerita yang ia baca.
Begitu satu buku novel berhasil ia tandaskan, jiwa petualangannya mendadak bangkit. Ia mulai menyusuri deretan rak buku lain yang lebih dalam, hingga langkah kakinya terhenti di sebuah sudut rak yang posisinya agak remang dan sepi dari pengunjung lain.
Detik itu juga, kedua mata bulat Sella membelalak sempurna. Di hadapannya, berjejer rapi deretan novel impor dengan ilustrasi sampul (cover) sesosok pria bertubuh kekar telanjang dada, lengkap dengan judul tulisan yang... ehm, sangat dewasa dan khusus untuk konsumsi usia matang.
Sella menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya mendadak berdisko dengan ritme cepat. Seumur hidupnya yang baru berjalan 19 tahun, ia tidak pernah berani menyentuh "buku haram" semacam itu. Bayangan wajah galak Papanya yang akan mendisiplinkannya dengan cara dihukum militer jika sampai ketahuan, langsung terlintas jelas di otaknya.
Namun, rasa penasaran Sella saat ini sudah berada di level dewa tertinggi. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada intel atau mata-mata utusan Papanya yang sedang memantau. Dengan tangan yang mulai gemetar dan bulir keringat dingin mulai bermunculan di pelipis, ia menyambar satu buku dengan kecepatan kilat, lalu mendekapnya erat-erat di depan dada seolah-olah sedang menyembunyikan barang selundupan terlarang dari bea cukai.
Di sisi lain rak buku yang sama, Raditama Abraham sebenarnya sedang menikmati waktu bernostalgia. Meskipun sehari-hari ia sudah menjelma menjadi seorang CEO muda yang omongannya selalu penuh dengan istilah grafik saham, Adit tetaplah seorang pemuda normal yang memiliki satu hobi rahasia: mengoleksi komik fantasi.
Adit berjalan menyusuri lorong rak dengan langkah kaki yang kaku khas orang kantoran. Matanya kemudian tertuju pada sebuah komik edisi terbatas keluaran terbaru yang letaknya berada tepat di atas kepala seorang gadis yang sedang berdiri membelakanginya.
Awalnya, Adit ingin bersikap acuh tak acuh dan menjaga wibawanya sebagai eksekutif muda. Namun, saat ia melangkah mendekat untuk meraih komiknya, mata elangnya tidak sengaja menangkap barisan kalimat bahasa Inggris di halaman buku yang sedang didekap—namun posisinya sedikit terbuka—oleh gadis di depannya itu.
“Pria itu merengkuh pinggangnya dengan posesif, napasnya yang menderu panas mulai membakar ceruk lehernya...”
Mata Adit nyaris keluar dari kelopaknya membaca kalimat itu. Ia mematung di tempat.
Buset, nih cewek tampang polos cantik-cantik tapi bacaan sastranya level nuklir!