Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percayalah
Klek
Klek
Gio sudah berada di atas. Dia mencoba membuka pintu. Namun, beberapa kali hendak membuka, tak berhasil.
“Si4l pintunya dikunci!” umpatnya kesal.
Telinga mendengar huru hara di dalam sana, hingga matanya menatap dari celah kesil pintu yang memang bentuk di atasnya terdapat gari – garis terbuka. Dia melihat kedua tangan Fio yang dipegang oleh dua pria serta dua orang lagi yang dengan senyum geli mencoba menghampiri.
“Fio,” teriaknya kencang. “Fiona.”
Gio tak terima wanitanya dikeroyok empat pria. Pintu yang terbuat dari besi itu dia tendang dengan kekuatan masimal. Jika memegang p1stol, sudah pasti dia menembak pintu ini dari tadi. Namun, tidak mudah memegang senjata api di negeri ini.
Amarah yang menguasai membuat kekuatan Gio di atas rata – rata.
Brak
Pintu itu terbuka.
Sontak, empat pria yang hendak mencelakai Fiona menoleh ke arahnya dan hawa takut menyergap. Mata Gio yang merah serta aura dingin di wajahnya membuat empat pria itu takut.
“Lepaskan! Atau semua tulang kalian patah.”
Klenteng
Tongkat besi yang dipegang dua orang yan hendak menyiksa Fio pun terlepas dari tangan mereka begitu saja. Sepertinya, mereka kenal dengan pria yang berdiri ini.
“Lari!” teriak salah satu orang dari mereka yang dipanggil Bos.
Dua pria yang memegang Fio pun langsung terlepas dan mereka hendak lari. Namun, Gio tidak melepaskan. Tubuh tinggi kekar yag berdiri di pintu menghalangi mereka untuk keluar. Sehingga, Gio dapat …
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Memukul mereka satu persatu. Lalu, Gio menarik baju salah seorang pria itu hingga diangkat ke atas dan dibenturkan ke dinding.
“Tangan mana yang kau gunakan untuk memegang wanitaku, hah!”
Pria itu ciut. Dia takut. Bahkan, celananya sudah basah karena takut yang berlebihan.
“Tidak, Tidak. Saya hanya memegang tangannya. Saya tidak memukulnya. Demi Tuhan!”
Fio memegang pergelangan tangannya yang sakit karena cengkeraman kedua pria yang menahannya tadi.
Gio meletakkan tangan itu ke tembok dan memukulnya.
“Aaaaa …” jerit pria itu. Sepertinya tulang lunak di telapak tangannya remuk karena hantaman tangan Gio dan dinding yang menyandarnya.
“Tuan, tolong! Saya hanya disuruh orang.”
“Siapa yang menyuruhmu? Siapa?” tanyanya gahar.
“Perempuan.”
Gio menatap Fiona yang kini sudah tampak baik – baik saja sembari bertanya perempuan yang dimaksud pria ini.
Pria ini tinggal sendiri. Pria yang dipanggil bos ini malah sudah ditinggal lari tiga pengikutnya. Saat, Gio menarik dan mengangkatnya ke atas, tiga anak buahnya malah memilih menyelamatkan diri mereka masing – masing.
“Perempuan?” tanya Gio yang diangguki langsung oleh pria dengan tubuh yang masih menempel di dinding dengan kaki menjuntai tak menapak ke lantai.
“Tolong, lepaskan saya!” lagi – lagi, pria itu memohon.
Padahal, sebelumnya dia sangat arogan dan menyebalkan.
“Apa dia, Dara?” Kini, Fio yang bicara. Dia sudah mendekat sembari mengingat – ingat. “Perempuan dengan gaun malam terbuka berwarna merah muda yang duduk di kursi dua puluh tiga?”
“Iya, benar.” Pria itu lega karena Fio ternyata kenal dengan orang yang menyuruhnya.
“Gi, lepaskan!” pinta Fio pada Gio.
“Tidak bisa. Dia sudah memukulmu, memegangmu, dan ….”
“Lalu, kamu ingin membunvhnya? Ini bukan Itali.”
Sontak, Gio menurunkan pria itu hingga kakinya kembali menapak bumi.
“Terima kasih. Terima kasih.”
Pria itu langsung pergi dan kembali lari terbirit – birit.
Kemudian, Gio menoleh pada Fio. “Siapa Dara? Kamu kenal?’
Fio mengangguk.
Dahi Gio mengernyit. “Aku akan buat perhitungan.”
“Tidak.” Fio menahan tangan Gio hingga tanpa disadari pegangan lembut itu terasa sebuah sentuhan yang tidak biasa.
Gio menoleh pada lengannya yang masih dipegang Fio. Sontak, Fio menurunkan tangannya.
“Jangan salah faham! Aku …”
“Ya, aku mengerti,” jawab Gio santai. “Kembali ke ruangan vvip, mereka sudah menunggumu.”
“Dan, kamu juga menungguku?” Pertanyaan itu membuat Gio terdiam.
Tangan kanannya di masukkan ke dalam saku kanan. Gaya khas seorang Gio yang membuat hati Fio bergejolak tiap berada di dekatnya.
“Ya, tentu.”
Fio menarik napasnya kasar, lalu pergi meninggalkan Gio seorang diri. Namun, bu satu atau dua langkah dia bergerak, kakinya kembali tertahan dan menolehnya pelan.
“Wanitaku? Apa kamu tadi memanggilku begitu?”
Seketika, Gio menggeleng. “Tidak.”
Untuk hal ini, dia harus berbohong dulu. Kamudian, Fio bertanya diluar pembicaran sebelumnya.
“Aku tidak menemukan Gala dan selingkuhannya.”
“Itu artinya, Tuhan masih melindunginya.” Jawaban santai Gio membuat Fio mengerutkan bibirnya.
Fio tidak berkata lagi. Meski, secara logika tidak percaya karena bukti tidak ada di depan mata, tapi hatinya mengatakan bahwa apa yang dikatakan Gio benar.
Fio kembali berbalik untuk pergi. Namun, dia terhenti lagi dan kembali menatap mafia tampan itu. “Terima kasih karena sudah menolongku. Aku …”
“It’s oke. Itu gunanya aku. Apa pun yang kamu butuhkan, katakan saja. Aku pasti akan membantu.”
Fio menatapnya tajam.
“Tidak dengan imbalan. Sumpah. Aku akan selalu menolongmu tanpa permintaan. Percayalah.”
Percaya? Pada mafia? Entah, di mana logika Fiona. Akan tetapi, kepalanya memilih mengangguk dan hatinya memilih percaya.
“Kamu tahu aku masih tertahan di sini, dari mana?” tanyanya lagi.
“Feeling saja. Aku tahu kamu sedang dalam bahaya. Aku juga tahu, saat ini kamu sedang tidak baik – baik saja. Percayalah, ibumu pasti ditemukan.”
Deg
“Kamu tahu?”
Kedua mata mereka bertemu. Gio menatap Fio dalam dan ingin sekali memeluknya.
Dalam insiden itu, kawanan perampok menyekap Fio, gadis berusia delapan tahun di dalam kamar, lalu melenyapkan sang ayah, dan mebawa pergi ibunya. Hingga detik ini, Fio tidak pernah bertemu ibunya lagi. Polisi tidak bisa melacak keberadaan sang ibu.
Dalam persidangan dinyatakan bahwa sang ibu lari ketakutan. Namun, Fio tidak percaya. Dia sempat mendengar teriakannya yang semakin menjauh hingga dirinya ikut berteriak sembari memukul pintu.
Tidak ada yang melihat kejadian itu.