NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — LANGKAH PERTAMA SANG ZERO

00:00:01

Angka pada stopwatch mulai bergerak.

Ervan mengambil langkah pertamanya.

Udara pagi masih dingin. Jalanan di sekitar panti belum terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan melintas dan orang-orang yang memulai aktivitas lebih awal.

Ia sengaja tidak berlari cepat.

Tujuannya hari ini bukan mencetak rekor.

Ia hanya ingin mengetahui kondisi tubuhnya.

Lima kilometer.

Jarak yang terdengar sederhana ketika dibaca di layar.

Namun kenyataan mulai berbicara bahkan sebelum seperempat target itu tercapai.

Sekitar satu kilometer kemudian, langkah Ervan mulai melambat.

"𝘏𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩..." Bunyi itu lolos begitu saja dari mulut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Napasnya berubah berat.

Keringat membasahi dahi.

Paha mulai terasa panas, sementara betisnya seperti perlahan diberi beban tambahan setiap kali kakinya menghantam aspal.

Ervan melihat layar ponsel.

1,03 KM

Ia mendecakkan lidah.

"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘪𝘭𝘰𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳... 𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘨𝘢," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napasnya.

Ia terus berlari beberapa puluh meter sebelum akhirnya menyerah pada kondisi tubuh.

Kecepatannya turun menjadi jalan cepat.

Kedua tangannya bertumpu sebentar di pinggang sementara dadanya naik turun.

Untuk sesaat Ervan justru merasa lega.

Setidaknya ada satu hal yang masih normal.

Dirinya masih bisa kelelahan.

CORE yang aktif seratus persen tidak tiba-tiba mengubahnya menjadi manusia super yang dapat berlari puluhan kilometer tanpa bernapas.

Namun rasa lega itu segera berubah menjadi kesadaran yang sedikit pahit.

"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka keringat di alis dengan punggung tangan, lalu tertawa pendek tanpa suara. "𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘭𝘢𝘳𝘪."

Dulu, sebelum hasil CORE-nya terus-menerus menunjukkan nol persen, Ervan cukup rajin menjaga kondisi tubuh.

Ia berlari.

Melakukan latihan kekuatan dasar.

Bahkan beberapa kali mencoba mengikuti program latihan calon Hunter yang ditemukan di internet.

Namun semua itu perlahan berhenti.

Untuk apa melatih tubuh demi menjadi Hunter jika pintu menuju dunia Hunter bahkan tidak bisa dibuka?

Seiring waktu, latihan berubah menjadi sesekali.

Kemudian jarang.

Akhirnya hampir tidak pernah.

Pekerjaan di minimarket dan aktivitas sehari-hari memang membuat tubuhnya tidak sepenuhnya pasif, tetapi itu jelas berbeda dari latihan fisik terstruktur.

Ervan menatap jalan panjang di depannya.

Baru sekarang satu kenyataan lain terasa jauh lebih nyata dibanding saat ia hanya membacanya melalui layar.

Ia bukan sekadar calon Hunter yang kurang latihan.

Ia adalah calon Hunter yang terlambat memulai.

Pada umumnya, anak dengan CORE kompatibel menjalani proses pemasangan sejak usia sekitar lima hingga delapan tahun.

Ketika CORE mereka berhasil aktif, proses pendidikan dimulai.

Bukan langsung berburu BETA.

Tubuh mereka terlebih dahulu dibentuk.

Instruktur mengajarkan cara berlari dengan benar, menjaga keseimbangan, membangun kekuatan dasar, mengontrol pernapasan, memahami batas fisik, sampai disiplin latihan.

Ketika usia bertambah, materi mereka ikut berkembang.

Teori BETA.

Dasar pertarungan.

Kontrol tubuh.

Penggunaan Regalia.

Sebagian bahkan menerima pelatihan khusus sesuai potensi masing-masing.

Mereka bertumbuh bersama CORE mereka.

Ervan?

Delapan belas tahun.

Dan baru pagi ini ia benar-benar memulai.

"𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯... 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengucapkannya pelan, seperti membaca hasil hitungan yang tidak bisa ditawar.

Kalimat itu tidak terdengar menyenangkan.

Namun Ervan tidak mencoba menolaknya.

Itu fakta.

Satu bulan sebelum seleksi.

Tubuh yang sudah lama tidak terlatih.

Tanpa instruktur.

Tanpa fasilitas khusus.

Tanpa keluarga Hunter.

Dan pengetahuan praktisnya nyaris nol.

Kalau ada orang mengatakan peluangnya buruk, Ervan tidak akan membantah.

Ia mengangkat ponsel.

Target lima kilometer masih terpampang.

Ervan menarik napas panjang.

"𝘠𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas itu lewat mulut dan menurunkan ponsel.

Ia mulai berlari lagi.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵... 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di antara dua tarikan napas, matanya lurus ke ujung jalan.

---

Kilometer kedua jauh dari indah.

Ervan beberapa kali harus memperlambat langkah.

Pada kilometer ketiga, kausnya sudah basah oleh keringat.

Napasnya semakin berat.

Otot kaki mulai memprotes.

Ia bahkan sempat mempertimbangkan memotong rute dan kembali ke panti.

Namun setiap kali pikiran itu datang, Ervan hanya melihat angka jarak pada layar.

Sedikit lagi.

Lalu sedikit lagi.

Ia tidak sedang mencoba membuktikan bahwa dirinya kuat.

Hari ini ia hanya ingin menyelesaikan sesuatu yang sudah ia mulai.

Ketika angka akhirnya menyentuh—

5,00 KM

Ervan segera menghentikan stopwatch.

Ia menepi.

Kedua tangannya bertumpu pada lutut.

"𝘏𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩..." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunduk dalam-dalam, mulutnya terbuka mencari udara.

Dadanya terasa seperti bekerja dua kali lebih keras.

Keringat menetes dari dagu.

Kedua kaki berat.

Tidak ada sensasi kemenangan spektakuler.

Tidak ada kekuatan misterius meledak dari tubuhnya.

Yang ada hanya rasa lelah.

Sangat lelah.

Namun Ervan tersenyum tipis.

Lima kilometer selesai.

Buruk.

Lambat.

Dengan beberapa kali menurunkan kecepatan.

Tapi selesai.

Ia menyimpan hasil waktunya tanpa mencoba mencari pembenaran.

Hari Pertama — Baseline.

Itulah yang penting.

---

Setelah berjalan santai beberapa menit, Ervan kembali ke halaman panti.

Ia seharusnya mandi lalu beristirahat.

Namun rasa penasaran membuatnya duduk di salah satu bagian halaman yang cukup kosong.

"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘔𝘶𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil meluruskan kedua kaki yang masih berdenyut.

Ia membuka aplikasi catatan.

Lari: 5 KM.

Kondisi: berat setelah ±1 KM.

Napas: tidak stabil.

Kaki: cepat lelah.

Kesimpulan awal: kondisi fisik buruk.

Ervan menatap kalimat terakhir.

Tidak menyenangkan.

Tetapi jujur.

Ia meletakkan ponsel.

Kemudian mengambil posisi push-up.

"𝘚𝘢𝘵𝘶," hitung 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan suara tertahan.

Tubuh turun.

"𝘋𝘶𝘢."

Naik.

"𝘛𝘪𝘨𝘢." Hitungan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 keluar bersama embusan napasnya.

Beberapa repetisi pertama masih mudah.

Memasuki belasan, tekanan pada lengan mulai terasa.

Ervan terus memaksa.

Ketika gerakannya mulai kehilangan bentuk, ia berhenti.

Bukan karena tidak mau melanjutkan.

Ia tidak ingin latihan pertama berubah menjadi cedera akibat ego.

Setelah istirahat, ia berganti sit-up.

Kemudian squat.

Plank.

Setiap latihan dicatat.

Jumlah repetisi.

Durasi.

Kapan otot mulai panas.

Seberapa berat napasnya.

Ervan tidak memiliki alat profesional, tetapi ia mempunyai sesuatu yang cukup berguna.

Kesabaran untuk mengumpulkan data.

Selesai latihan, ia telentang di lantai halaman.

Tangannya terasa sedikit gemetar.

Napas masih berat.

"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪," keluh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada langit di atasnya. "𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯."

"𝘈𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘮𝘶𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯?" tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 dari arah samping.

Ervan langsung menoleh.

Rosaline berdiri beberapa meter darinya sambil membawa keranjang pakaian.

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlalu cepat. Ia mencoba menumpukan siku untuk bangkit, tetapi lengannya belum mau diajak bekerja sama.

"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menggeser keranjang pakaian ke pinggulnya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪. 𝘓𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢... 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, berusaha terdengar seperti orang yang punya rencana.

Rosaline melihat keringat yang membasahi tubuh Ervan.

"𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘤𝘶𝘤𝘪?" tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

Ervan mengangkat satu tangan.

"𝘒𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lalu membiarkan tangannya jatuh lagi ke lantai. "𝘕𝘢𝘱𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘬𝘪, 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯... 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭."

"𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘭," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲. Sudut bibirnya bergerak sedikit, entah geli entah lega.

Ervan mendengus kecil.

Rosaline melanjutkan langkahnya sebelum berhenti.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘨𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘨𝘪." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 hanya menoleh separuh, suaranya lebih pelan daripada tadi. "𝘔𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪."

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯," sahut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa beranjak dari lantai.

"𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘮𝘶. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢," balas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 sambil kembali melangkah.

Ervan hanya tersenyum kecil.

Setelah Rosaline pergi, ia duduk.

Tatapannya mengikuti perempuan tua itu sampai menghilang ke dalam bangunan.

Kemudian terdengar suara anak-anak dari dalam panti.

Tawa.

Pertengkaran kecil soal sesuatu.

Seseorang memanggil Rosaline.

Ervan terdiam.

Dulu ia ingin menjadi Hunter karena terlihat keren.

Setidaknya begitu ketika masih kecil.

Namun seiring bertambahnya usia, alasannya berubah.

Hunter mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding pekerjaan biasa.

Mereka memiliki kemampuan untuk melindungi orang lain.

Mereka bisa mengubah nasib.

Kalau dirinya berhasil—

mungkin Rosaline tidak perlu lagi terus menghitung uang untuk memastikan kebutuhan bulan depan cukup.

Mungkin atap bocor tidak perlu menunggu donasi.

Mungkin anak-anak di dalam sana bisa mendapat sesuatu yang lebih baik.

Ervan mengepalkan tangan.

Rasa lelah di lengannya masih nyata.

Dan itu bagus.

Rasa lelah berarti ada sesuatu yang harus diperbaiki.

---

Malam harinya, sebuah jadwal sederhana memenuhi halaman buku catatan Ervan.

PAGI

- Jogging.

- Latihan stamina.

- Sprint pendek.

SORE

- Push-up.

- Sit-up.

- Squat.

- Plank.

- Latihan kekuatan dasar.

MALAM

- Teori BETA.

- Materi seleksi Hunter.

- Evaluasi latihan.

- Istirahat.

Ervan menatap jadwal itu.

Satu bulan.

Ia tahu tubuh tidak dapat dibentuk secara ajaib dalam waktu sesingkat itu.

Ia juga tahu mengejar mereka yang sudah berlatih sejak usia lima tahun dalam tiga puluh hari terdengar hampir mustahil.

Tetapi ia tidak perlu mengejar seluruh kehidupan mereka dalam satu bulan.

Ia hanya perlu memastikan bahwa ketika hari seleksi tiba—

dirinya jauh lebih baik daripada hari ini.

Ervan mengambil ponsel.

Halaman seleksi Hunter kembali terbuka.

Jempolnya menggulir sampai bagian paling bawah.

Satu tombol berada di sana.

REGISTER

Ervan diam.

Selama bertahun-tahun tombol seperti itu tidak pernah punya arti baginya.

CORE-nya nol persen.

Tidak peduli seberapa besar dirinya bermimpi, ia bahkan tidak memenuhi syarat untuk memulai.

Sekarang berbeda.

Ia mungkin terlambat.

Ia mungkin lemah.

Ia mungkin kalah pengalaman lebih dari satu dekade.

Tapi pintunya akhirnya terbuka.

Ervan menatap tombol itu beberapa detik.

"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lirih, hampir hanya untuk dirinya sendiri. "𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."

Jempolnya bergerak.

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lebih mantap daripada yang ia kira.

Tap.

Layar berubah.

«HUNTER SELECTION REGISTRATION»

Ervan mulai mengisi formulir.

Nama.

Tanggal lahir.

Identitas.

Data CORE.

Satu demi satu.

Sampai akhirnya formulir berhasil dikirim.

Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi masuk.

«PENDAFTARAN BERHASIL.»

«Nama: Ervan Noir»

«Status: Calon Peserta Seleksi Hunter»

Ervan menatap layar itu lama.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

Zero kembali berdiri di garis awal.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!