Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakaian Kebesaran
Chester memperhatikan dari bawah saat Ayyana melangkah susah payah menaiki tangga kayu.
Gaun pengantin berkain tebal dengan ekor panjang itu jelas-jelas menyiksa sang ahli waris Sanders Corp.
Alih-alih menawarkan bantuan, Chester memilih berbalik dan mendudukkan tubuhnya di sofa kulit ruang utama, menyandarkan kepala sembari memejamkan mata sejenak untuk mengurai rasa lelah.
GEDEBUK!
Suara benturan keras dari lantai dua memecah keheningan rumah dinas tersebut setelah lima belas menit terasa begitu sunyi.
Mata Chester seketika terbuka lebar.
Naluri tempurnya membakar habis rasa lelah dalam sekejap.
Tanpa berpikir panjang, Chester bangkit dari sofa.
Chaster tidak berlari, tetapi langkah kakinya luar biasa lebar—melompati tiga anak tangga sekaligus di setiap tapakan dengan kecepatan dan ketenangan seorang prajurit terlatih.
Hanya dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di depan pintu kamar utama.
Knock! Knock! Knock!
Chester mengetuk pintu kayu tebal itu dengan keras. "Ayyana! Kamu tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban dari dalam, hanya terdengar helaan napas gusar dan suara kain bergesekan yang kasar.
"Ayyana, buka pintunya," panggil Chester lagi, suaranya makin menegang. Tetap tak ada respons. Ayyana sengaja mengabaikannya.
Rahang Chester mengeras. Ia tidak punya waktu untuk permainan seperti ini. "Ayyana, buka sekarang atau saya dobrak. Dalam hitungan ketiga."
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Chester mengambil setengah langkah mundur, mengangkat kakinya siap menghantam engsel pintu.
Tepat saat tenaganya disalurkan, pintu mendadak terbuka lebar dari dalam.
Refleks mematikan milik sang Kapten bekerja sepersekian detik.
Chester menahan seluruh tumpuan tubuhnya secara mendadak, berhenti tepat beberapa sentimeter sebelum tubuh tegapnya menabrak Ayyana yang berdiri gemetar di balik pintu.
WUSH!
Sebuah buket bunga mawar melayang menghantam dada bidang Chester, disusul sepasang sepatu high heels mahal yang dilempar asal dan mendarat di dekat kakinya.
"Pria brengsek!" maki Ayyana histeris, napasnya berburu dengan wajah memerah padam karena emosi dan frustrasi.
Kedua tangannya berusaha keras meraih ritsleting di bagian belakang gaun pengantinnya yang tersangkut dan terlalu rumit untuk dibuka sendiri.
Gaun berat itu melilit tubuhnya, membuatnya merasa terkunci dalam pakaian gila yang merusak hidupnya seharian ini.
"Gaun sialan ini tidak mau lepas! Ritsletingnya tersangkut!" teriak Ayyana dengan mata berkaca-kaca, meluapkan seluruh kekesalannya tepat di depan wajah dingin Chester. "Kamu puas sekarang, Kapten?! Kamu mau tertawa, hah?!"
Chester tidak tertawa. Tak ada sedikit pun riak kejengkelan atau tawa mengejek di wajah tegasnya.
Chaster hanya menatap buket bunga yang berserakan di dekat kakinya, lalu mengalihkan pandangan lurus ke arah Ayyana—menatap mata wanita itu yang memerah menahan tangis dan amarah yang meluap.
Tanpa mengandalkan emosi, Chester mengambil satu langkah maju.
Posisinya yang menjulang tinggi membuat Ayyana refleks mundur setengah langkah, namun punggung wanita itu langsung tertahan oleh kusen pintu.
"Berbalik," perintah Chester pendek. Suaranya tenang, datar, namun sarat dominasi yang tak bisa dibantah.
Ayyana mendelik tajam, matanya menatap Chester dengan penuh kecurigaan dan rasa defensif. "Apa?"
"Berbalik, Ayyana," ulang Chester, kini dengan nada yang sedikit lebih dalam. "Kamu mau gaun ini lepas atau mau terus-terusan mengamuk sampai pagi?"
Ayyana mengepalkan tangannya, membuang muka dengan gusar sebelum akhirnya memutar tubuhnya membelakangi Chester.
Napasnya masih memburu, menaik-turunkan bahunya yang terbuka di balik gaun pengantin yang menyesakkan itu.
Chester melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Ia mengangkat kedua tangannya.
Jemarinya yang kasar dan berurat—terbiasa memegang senjata berat—kini menyentuh bagian belakang gaun Ayyana dengan sangat hati-hati.
Sentuhan kulit Chester yang hangat pada punggung atas Ayyana yang terbuka membuat wanita itu tersentak pelan dan menegang seketika.
"Diam. Jangan bergerak," bisik Chester tepat di atas kepala Ayyana.
Dengan ketelitian seorang prajurit, jemari Chester meraba kain renda mewah yang tersangkut pada kait besi ritsleting.
Tanpa menggunakan kekerasan yang bisa merusak kain atau melukai kulit Ayyana, ia mengurai benang yang tersimpul dengan tenang.
Sreeek.
Dalam satu tarikan perlahan dan halus, ritsleting gaun itu berhasil diturunkan hingga ke batas pinggang, menyingkap kain pelapis dalam dan punggung mulus Ayyana ke udara malam yang dingin.
Gaun yang terasa seperti baju besi itu seketika melonggar. Ayyana meraup udara segar sebanyak-banyaknya, merasakan beban berat di dadanya akhirnya terangkat.
Chester langsung menarik kembali kedua tangannya dan mengambil dua langkah mundur, memberi ruang yang cukup tanpa memanfaatkan kesempatan.
"Ganti pakaianmu," ujar Chester dingin dari balik punggung Ayyana. "Saya tunggu di bawah sepuluh menit lagi. Jangan buat saya naik ke sini untuk kedua kalinya."
Tanpa menunggu balasan dari Ayyana, Chester berbalik dan melangkah turun menuju ruang utama, meninggalkan Ayyana yang berdiri kaku memegangi bagian depan gaunnya yang hampir meluncur jatuh.
Ayyana berdiri kaku di ambang pintu, jemarinya meremas kain bagian depan gaunnya yang kini kendur agar tidak merosot jatuh.
Matanya menatap punggung lebar Chester yang bergerak menjauh dan perlahan menghilang di balik belokan tangga.
Langkah kaki pria itu begitu teratur, tenang, dan tanpa suara—seolah insiden pelemparan buket bunga dan jeritan histerisnya tadi hanyalah angin lalu yang tak memengaruhi ketenangan sang Kapten sedikit pun.
Ayyana memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang gemetar.
Ada rasa canggung, emosi, sekaligus kelelahan luar biasa yang campur aduk di dadanya.
Chaster baru saja membantu gaunnya yang tersangkut dengan efisiensi dingin tanpa menyentuh kulitnya lebih dari yang diperlukan, menunjukkan batas profesionalitas yang hampir terasa tidak manusiawi.
Dengan sisa tenaga yang ada, Ayyana berbalik dan menutup pintu kamar. Ia menguncinya rapat-rapat, lalu membiarkan gaun pengantin seberat belasan kilogram itu merosot jatuh menghantam lantai parquet.
Namun, kepanikannya kembali memuncak saat ia melangkah ke arah lemari pakaian.
Kosong. Tak ada satu pun tas bawaannya di sana. Yang tersimpan di dalam lemari kayu tebal itu hanyalah deretan kemeja formal, kaus polos, dan beberapa sweatshirt milik Chester.
Semua pakaian itu berukuran jumbo untuk tubuh Ayyana yang ramping.
Dengan emosi yang kembali tersulut, Ayyana terpaksa menyambar sebuah sweatshirt oversized milik Chester.
Saat dikenakan, sweatshirt itu melorot hingga melewati pertengahan pahanya, sementara lengannya menenggelamkan seluruh jemari tangannya.
Tepat sembilan menit kemudian, Ayyana melangkah menuruni tangga. Ia terpaksa menggulung lengan pakaian yang kebesaran itu berulang kali agar tidak mengganggu geraknya.
Chester yang sedang berdiri di dekat meja utama langsung menoleh.
Matanya menyapu penampilan Ayyana dari ujung kepala hingga ujung kaki—menatap istrinya yang kini tenggelam di balik pakaian sendiri.
"Mana barang-barangku?" tembak Ayyana langsung, suaranya sarat akan kejengkelan sembari menunjuk pakaian jumbo yang melekat di tubuhnya. "Kamu sengaja tidak membawa tas saya dari venue?"
Chester menatapnya datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh gaun mahal yang kini berganti pakaian kebesarannya.
"Semua barang pribadimu sedang diperiksa oleh tim keamanan sebelum diizinkan masuk ke area kediaman militer," jawab Chester tenang. "Untuk malam ini, pakai apa yang ada."