Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Wisuda Aliqa
Ku pandangi langit-langit kamar yang berwarna putih polos, pikiran ku melayang membayangkan siapa wanita yang kemarin bersama davin dan bisa merubah davin yang dingin ketika bersamaku menjadi sosok davin yang ceria. Segera ku tepis semua pemikiran tentangnya, tidak perlu memikirkan seseorang yang bahkan tidak memikirkan mu bukan.
Tak terasa besok adalah hari wisuda ku, hari terakhir melepas status sebagai anak SMA. Saat melaksanakan sarapan, ayah berkata padaku bahwa besok davin akan datang ke hari penting ku, sebenarnya kehadirannya tak terlalu ku harapkan yang terpenting adalah orang tua ku, ayah dan bunda.
Tok tok tok" suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Non..." Teriak Bi Lastri dari balik pintu kamar.
"Masuk Bi."
"Non ini ada titipan dari Non Orin."
"Orin nya mana Bi?"
"Barusan cuma nganterin ini aja Non, terus langsung pulang lagi. Ada urusan katanya, jadi dia titip salam aja untuk Non Al."
"Ya sudah makasih Bi."
"Sama-sama Non." Bibi pun keluar meninggal kan kamar, lalu kembali menutup pintunya.
Ku raih bingkisan yang Bibi berikan, ku buka paper bag nya, kemudian ku lihat isinya. "Cantik" gumam ku. Isinya adalah kebaya yang akan aku kenakan besok di acara wisuda. Kebaya berwarna maroon dengan bagian atas sedikit terekspose dan rok dengan belahan hingga keatas lutut menampilkan kaki mulus milik ku.
[Rin makasih ya, kebaya nya bagus euy. Kok gak mampir dulu?] tanya ku melalui pesan yang dikirimkan kepadanya. Beberapa menit menunggu akhirnya pesan ku di balas olehnya.
[Ada acara Al jadi gue buru-buru. Besok tinggal dateng aja ya ke salon, udah gue booking jam 05.30 pagi ya Al.]
[Oke, makasih ya.]
[Sama-sama Al, sampai ketemu besok.]
Ku simpan ponsel ku di atas meja, tak ku balas pesan terakhir yang dikirim olehnya. Tak sabar rasanya menunggu besok.
***
Setelah melaksanakan sholat subuh, biasanya aku bergegas untuk kembali menaiki kasur, menutupi tubuhku dengan selimut lalu kembali merajut mimpi. Tapi tidak dengan hari ini, setelah melaksanakan sholat aku langsung menuju kamar mandi dan mandi lebih lama dari biasanya. Karena ini hari penting ku maka aku ingin tampil semaksimal mungkin.
Ku kenakan kebaya dan sepatu berhak tinggi yang sejak kemarin sudah ku persiapkan, tak lupa di tambah tas tenteng kecil berwarna hitam untuk mempercantik tampilan ku. Ku semprotkan parfum di seluruh tubuhku, agar ketika aku melewati orang-orang, mereka terbang melayang mencium wangi harum tubuhku seperti di iklan-iklan, aku terkekeh geli membayangkan nya.
Ku hampiri Pak Maman, untuk meminta tolong mengantarkan ku ke salon yang akan merias wajahku. Aku pergi tanpa make up sedikitpun dan rambut tergerai agar nanti di buat sanggul di salon yang akan aku datangi.
"Wangi banget lo Al, ngabisin parfum satu botol lo ya?" tanya Orin, yang terlebih dulu sudah datang di salon.
"Dua botol."
"Serius lo?" tanya Orin keheranan.
"Ya enggak lah, becanda kali."
"Gue kira iya." Orin terkekeh.
Ku pandangi Orin yang membelakangi ku, terlihat wajahnya dari balik kaca, meski Orin sering berdandan, tapi ketika di rias di salon Orin semakin memancarkan aura cantiknya.
"Giliran lo, gue udah. Cantik gak?" tanya Orin sambil memutar-Mutar badannya dan mengedipkan matanya.
"Cantik sih tapi sayang jomblo, banyak milih sih."
"Emang lo kagak? enak aja ngatain orang jomblo."
"Ah udah ah, gue mau di rias dulu biar makin cantik paripurna," kemudian berlalu dan ku dudukan tubuhku di depan meja rias.
Penata rias mulai membersihkan wajahku, mengaplikasikan berbagai macam make up dengan brush berbeda, yang tidak aku ketahui namanya satu persatu.
Satu jam berlalu, wajahku telah selesai di rias dan rambutku telah selesai di tata. Ku tatap lekat wajahku yang berada di cermin, make up nya flawless. Terlalu cantik jika yang di dalam cermin sana adalah aku, setelah puas menatap diri sendiri di depan cermin segera aku pergi untuk menemui Orin.
"Yuk Rin berangkat, gue udah beres," ajak ku, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. "Mau diem aja lo?"
"Ini beneran elo kan Al? Tuh kan apa gue bilang kalo lo dandan makin cantik."
"Pake atau ga pake make up. Gue tetep syannttiikkk kalii," jawab ku penuh percaya diri.
"Terserah dahh, nyesel gue muji lo."
***
Setelah acara wisuda berakhirpun tak ku dapati seseorang yang berjanji kepada Ayah untuk hadir di acara wisuda ku, tak terlalu ku hiraukan karena tak juga ku harapkan kehadirannya. Kami menuju parkiran, ternyata mobil yang Ayah parkirkan bersebelahan dengan mobil yang di tumpangi Orin. Mobil BMW yang sangat jelas aku ketahui siapa pemiliknya, terlihat dari plat nomornya B 1 MA.
"Al..." ku hentikan aktivitasku yang akan memasuki mobil, ku hampiri pemilik suara berat itu.
"Kak Bima, aku kira sudah pulang ke jakarta?"
"Belum Al, dateng dulu ke acara wisuda nya Orin. Soalnya Ibu lagi gak enak badan, jadi kaka yang nemenin Orin."
"Yaudah Kak, aku pulang duluan ya."
"Jangan dulu pulang Al, udah cantik gitu masa langsung pulang. Mending main dulu ke mall dekat sekolah kita, ya kita makan aja disana," ajak Orin.
"Yah malu lah ke mall pake kebaya."
"Gak apa-apa, cantik kok. Yuk makan dulu sebentar aja, nanti pulangnya biar Kak Bima yang antar," bujuk Kak Bima.
"Yaudah ayo, aku ingin makan ramen yang pedas ya Kak," jawab ku, dengan tersipu malu. Sepertinya wajah ku sudah semerah tomat sekarang sudah beberapa kali Kak Bima memuji ku cantik, membuat hatiku dag dig dug der. "Yah, aku ikut orin ya, Ayah sama Bunda duluan aja," ucapku
"Yaudah hati-hati nak, titip a
Aliqa ya Bim." ucap a
Ayah dan berlalu meninggalkan kami.
***
Tak berselang lama mobil yang di tumpangi pun sampai di mall yang kami tuju, karena jaraknya memang sedekat itu. Kalo kata lagu dangdut sih, lima langkah dari rumah. Setelah sampai di restoran ramen, aku langsung memilih menu yang ku inginkan.
Pandangan ku beralih kepada sosok laki-laki dan perempuan yang sedang menyantap hidangan di depannya. Laki-laki dengan postur tubuh yang aku kenali duduk membelakangi ku, sehingga wajahnya tak terlihat. Wanita yang ada di depan nya, aku pernah melihatnya. "Tapi dimana?" pikiran ku berkelana mencari jawaban. Wanita itu yang aku temui sedang bergelayut manja di lengan Davin. Mungkin kah laki-laki yang ada di hadapannya sekarang adalah Davin, hingga pada akhirnya laki-laki itu pun membalikan badannya, mata kita bertemu dan saling tatap satu sama lain. Davin beranjak dari duduknya lalu menautkan lengan nya dengan wanita yang ada di hadapannya, Davin berlalu pergi mengajak wanita itu bersamanya. Entah apa yang ku rasakan saat ini, hatiku seakan bergemuruh melihat davin bersama dengan wanita lain, apakah ini bisa di sebut cemburu? tapi ku rasa tidak karena belum ada hubungan apapun antara kita.
"Al.. Al..." seseorang menepuk punduk ku.
"Ya.." aku terperanjat, ketika seseorang menepuk pundak ku.
"Mikirin apa sih? Kenapa belum di makan ramen nya, tuh liat sampe mau dingin gitu."
"Gak mikirin apa-apa Kak." Terlalu fokus memperhatikan Davin, membuat ku tak sadar bahwa remen yang ku pesan sudah berada cukup lama di atas meja.
"Yaudah di habisin ya al, habis itu Kakak antar kamu pulang."