"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Maafin Nisa, Papa
"Lagipula," lanjut Annisa dengan nada berbisik yang sangat jelas terdengar di kegelapan malam, "Mas Rian sanggup membeli perhiasan mewah puluhan juta rupiah pekan ini, kan? Masa cuma untuk bayar tagihan listrik dua juta rupiah saja Mas Rian sampai harus berteriak-teriak membentak istri di depan pintu?"
Deg!
Jantung Rian seperti berhenti berdetak seketika.
Perhiasan mewah puluhan juta?!
Mata Rian melotot lebar menatap Annisa dengan rasa horor yang sangat hebat. Dari mana Annisa tahu soal pembelian perhiasan itu?! Apakah Annisa sudah menemukan nota gelang berlian Eriska di saku jasnya?!
Bu Rini yang mendengar ucapan Annisa mendadak menoleh tajam ke arah Rian. Rasa penasarannya yang tadi sore sempat dipicu oleh ucapan Annisa kini meledak kembali.
"Rian ... apa maksud si Nisa ini?!" tanya Bu Rini dengan suara tertahan, memegang lengan putranya. "Perhiasan mewah apa yang kamu beli?! Kamu beli emas puluhan juta buat siapa?! Kenapa Ibu tidak pernah tahu?!"
"G-gak ada, Bu! Nisa cuma ngelindur! Dia cuma asal bicara!" jawab Rian panik setengah mati. Keringat dingin merembes deras dari pelipisnya. Ia memandang Annisa dengan sorot mata penuh ancaman dan kepanikan. "Kamu jangan mengarang cerita ya, Nisa!"
Annisa hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak gentar dengan gertakan Rian.
"Nisa tidak mengarang cerita, Mas. Tapi ya sudahlah, itu kan uang Mas Rian sendiri. Nisa tidak berhak mencampuri," kata Annisa santai. Ia lalu melangkah mundur kembali ke dalam kamarnya.
"Sekarang, kalau Mas Rian, Ibu, dan Sisil mau rumah ini menyala lagi, silakan Mas Rian bayar tagihan listriknya lewat aplikasi seluler malam ini juga. Dan untuk makan malam ... karena Mbak Sri sudah tidak bekerja lagi dan Nisa tidak punya uang belanja, silakan Mas Rian belikan makanan di luar untuk Ibu dan Sisil."
"Annisa! Kamu mau ke mana?!" teriak Rian saat Annisa mulai memegang gagang pintu kamar.
"Nisa mau tidur, Mas. Di dalam kamar AC-nya dingin karena Nisa pakai genset portabel kecil yang Nisa beli sendiri," sahut Annisa tanpa dosa. "Selamat menikmati malam yang hangat ya, Mas Rian, Ibu, Sisil."
Brak!
Annisa menutup pintu kamar utama dengan rapat dan memutar anak kuncinya dari dalam.
"Annisa! Buka pintunya! Annisa!" Rian menggedor pintu itu beberapa kali, namun tidak ada sautan lagi dari dalam.
Di lorong tangga yang gelap dan pengap, Bu Rini langsung mencengkeram kemeja Rian dengan raut wajah menuntut. "Rian! Jawab jujur sama Ibu! Uang kamu ke mana aja, hah?! Kenapa tagihan listrik bisa nunggak?! Kenapa kamu bisa beli perhiasan puluhan juta tapi Ibu gak pernah dikasih?!"
"Aduh, Bu! Jangan nanya-nanya sekarang deh! Rian pusing!" bentak Rian frustrasi, melepaskan cengkeraman ibunya.
Sisil yang sudah tidak tahan dengan udara panas dan bau keringat mulai menangis lagi. "Mas Rian! Sisil lapar! Rumah panas banget, Sisil gak bisa tidur kalau kayak gini! Mas Rian gimana sih, katanya Manager kaya raya!"
Rian memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Di dalam kegelapan rumahnya sendiri, di bawah impitan tagihan listrik yang menunggak, amukan ibu, tangisan adiknya, dan ancaman pinjaman online yang menumpuk ... Rian baru menyadari satu hal yang mengerikan.
Tanpa Annisa Septiani di sisinya, kehidupan mewahnya yang selama ini ia banggakan tak lebih dari sekadar rumah kertas yang rapuh dan siap hancur dalam sekali tiupan.
***
Pagi hari di ibu kota disambut dengan langit biru yang cerah. Di kawasan pusat bisnis Sudirman, deretan gedung pencakar langit berdiri megah mencakar awan. Di antaranya, sebuah gedung megah berlantai tiga puluh dengan logo berlapis emas bertuliskan VANTARA TOWER tampak paling mencolok dan anggun.
Sebuah mobil Sedan Mercedes-Maybach berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan pintu masuk utama gedung Vantara Group. Seorang petugas keamanan berseragam rapi dengan sigap membukakan pintu penumpang belakang.
Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang wanita muda dengan penampilan yang sangat memukau. Annisa Septiani tak lagi mengenakan gaun rumahan berbahan katun lusuh. Hari ini, ia tampil begitu sempurna dalam balutan blazer sutra berwarna biru dongker dan celana bahan dengan potongan sangat elegan. Rambut hitam panjangnya ditata rapi, sementara riasan tipis di wajahnya menonjolkan kecantikan alami sekaligus ketegasan seorang putri tunggal konglomerat.
Sebagai lulusan terbaik S1 Manajemen Universitas Indonesia, Annisa sebenarnya memiliki otak encer dan naluri bisnis yang tajam. Hanya saja, selama tiga tahun terakhir, potensi besar itu sengaja ia padamkan demi berpura-pura menjadi istri rumah tangga biasa di depan Rian.
Sepatu high heels lima sentimeter yang dikenakannya bertabrakan dengan lantai marmer lobi, menciptakan bunyi berirama yang penuh rasa percaya diri.
Seluruh staf dan petugas keamanan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala dengan nada sangat hormat. "Selamat pagi, Mbak Annisa."
"Selamat pagi," balas Annisa singkat dengan anggukan kepala yang anggun.
Annisa melangkah menuju lift khusus direksi, menekan tombol lantai paling atas. Tujuannya hari ini hanya satu: menemui sang ayah, Pak Yusuf Al-Ghazali.
Ketika pintu lift terbuka di lantai lima puluh, sebuah ruangan kerja luas dengan pemandangan panorama kota Jakarta membentang di hadapannya. Di balik meja kerja kayu jati yang megah, duduk seorang pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang amat kuat, tegas, dan karismatik.
Pak Yusuf mendongak. Begitu matanya menangkap sosok putri tunggalnya, raut wajah tegas penguasa Vantara Group itu seketika mencair menjadi kehangatan penuh kerinduan.
"Annisa," panggil Pak Yusuf dengan suara beratnya yang mantap, berdiri dari kursi kebesarannya.
"Papa," bisik Annisa pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca. Tanpa ragu, Annisa melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh tegap ayahnya.
Tiga tahun lalu, Annisa keras kepala meninggalkan rumah mewah ini demi menikahi Rian—pria yang ia kira tulus mencintainya dari nol. Dulu, Pak Yusuf sempat menentang keras pernikahan itu karena sebagai pria matang, ia tahu betul tabiat Rian yang dinilainya picik, silau harta, dan tidak selevel dengan keluarga Al-Ghazali. Namun demi memberikan pelajaran hidup pada putri tunggalnya, Pak Yusuf akhirnya mengalah.
Pak Yusuf mengelus lembut rambut Annisa. "Papa sudah dengar semuanya dari Pak Danu kemarin sore. Anak Papa sudah puas bermain-main jadi Cinderella?"
Annisa melepaskan pelukannya, lalu tersenyum tipis—senyuman yang sarat akan rasa penyesalan sekaligus ketegasan baru.
"Nisa minta maaf, Pa. Dulu Nisa tidak mau mendengarkan nasihat Papa," ucap Annisa tulus. "Pria yang Nisa bela mati-matian ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat murahan. Tapi tenang saja, Pa ... Nisa tidak akan menangis untuk pria seperti dia."
Kala itu pernikahan Annisa sah diwalikan oleh adik ayahnya, karena sandiwara Annisa yang mengatakan anak yatim piatu dan dari keluarga biasa saja.
Pak Yusuf menatap mata putrinya, menemukan kilatan ketegaran yang sangat luar biasa. Ia tertawa bangga, menepuk bahu Annisa. "Bagus! Itu baru putri tunggal Yusuf Al-Ghazali! Lalu, apa rencana kamu sekarang, Nak?"
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu