NovelToon NovelToon
Danu, Kejarlah Aku

Danu, Kejarlah Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Dokter / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.

Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.

Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.

Bagaimana cerita selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Aku menoleh ke sumber suara. Iya benar, sosok yang menegur kami tak lain adalah Danu. Seketika aku terkesiap mendapati penampilannya yang jauh dari sosok Danu seperti biasanya.

Danu yang kukenal dulu adalah pria karismatik yang selalu tampil rapi demi mencuri perhatian banyak wanita. Namun kini, tubuhnya tampak lebih kurus, sementara kumis dan janggut yang tak terawat membuat wajahnya terlihat kuyu dan berantakan.

Sempat terbesit tanya di benakku, apa yang telah terjadi padanya hingga berubah drastis begini? Namun, rasa penasaran itu segera kutepis. Apa pun alasannya, bukankah itu bukan lagi urusanku?

Baru saja aku hendak melepaskan diri dari pegangan Tegar, Danu sudah merangsek maju. Pandangannya langsung mengunci tangan Tegar yang melingkari pinggangku.

"Lepaskan istriku!"

Suara bariton itu menggelegar, membuat aku dan Tegar sama-sama tertegun sesaat.

Tegar lekas mengendurkan rangkulannya, tetapi Danu telanjur berdiri tepat di hadapan kami. Rahangnya mengetat hebat, sementara sorot matanya yang menghunjam seketika mengubah atmosfer yang semula hangat menjadi pekat oleh ketegangan.

"Aku tanya sekali lagi, kalian sedang apa?" desak Danu penuh tekanan.

Aku mengernyit tak suka. "Aku tadi hampir jatuh karena pusing. Kak Tegar cuma menahanku."

"Aku tidak bertanya padamu!" bentaknya kontan.

Aku terperanjat. Danu lantas mengalihkan tatapan sengit pada Tegar.

"Aku sedang bicara denganmu. Apa kau tidak dengar?"

Tegar balas menatap dengan tenang, meski jelas risih dengan nada bicara Danu yang merendahkan. "Dinda sudah jelaskan, Dia hampir terpeleset. Aku hanya refleks membantunya agar tidak cedera."

"Membantu?" Danu mendengkus sinis. "Apa tidak ada cara lain selain memeluknya begitu?"

Aku mendesah jengah. Bahkan dalam situasi darurat seperti ini, pria itu masih saja mencari celah untuk meledakkan emosi.

"Kak Tegar tidak memelukku! Dia cuma menangkapku supaya aku tidak jatuh!" tegasku sengit.

Danu menoleh sekilas padaku. "Aku bisa melihatnya sendiri, Din. Kamu tidak perlu bersusah payah membelanya."

"Kalau begitu, seharusnya kamu juga sadar kalau aku nyaris celaka! Alih-alih langsung menuduh yang bukan-bukan, setidaknya tanyakan dulu keadaanku!"

Ucapanku telak membuat Danu terbungkam sesaat, meski garis ketegangan di wajahnya sama sekali tidak mengendur. Tanpa diduga, tangannya terulur dan mencengkeram pergelangan tanganku.

"Cukup. Ikut aku."

Refleks, aku menyentak tanganku hingga terlepas dari genggamannya. "Aku belum selesai bicara!"

"Dinda, jangan pancing kesabaranku!"

"Memangnya kenapa kalau kamu marah? Aku tidak berbuat salah!"

Danu menatapku tajam. Aku tahu amarah lelaki itu sudah di ujung tanduk, tetapi kali ini aku bergeming. Aku sudah lelah terus-menerus mengalah demi menghindari keributan.

"Dan kau," Danu beralih menatap Tegar dengan angkuh, "aku harap kau tahu batasan. Dinda masih istri sahku, jadi jangan bersikap seolah kau punya hak atas dirinya."

Kening Tegar berkerut. "Aku tidak pernah merasa memiliki Dinda. Aku hanya menolong saat dia butuh bantuan. Bukankah itu manusiawi?"

"Kalau begitu, cukup bantu seperlunya. Tidak perlu sampai bersentuhan fisik."

"Danu!" seruku habis kesabaran. "Kak Tegar tidak bersalah. Berhenti menyudutkannya!"

Danu kembali menoleh padaku, matanya menyipit penuh selidik. "Jadi, sekarang kamu terang-terangan membelanya?"

Aku terkesiap sejenak sebelum mengembuskan napas kasar. "Aku membela pihak yang benar. Apa itu juga sebuah dosa di matamu?"

"Jaga ucapanmu, Dinda!"

"Kalau begitu, kamu juga harus jaga sikap! Datang tanpa diundang, langsung pasang muka garang dan menebar tuduhan. Sebenarnya apa sih mau kamu?"

Danu bungkam. Manik matanya menatapku lekat-lekat, seolah sedang membaca isi kepalaku. Namun, begitu ekor matanya melirik Tegar lagi, rahangnya kembali mengeras.

"Kita pulang sekarang."

"Aku tidak mau."

"Aku tidak sedang minta pendapat."

Aku tertegun. Inilah Danu yang amat kukenal, si maha benar yang terbiasa mendikte dan memaksa orang lain tunduk pada kehendaknya. Sayangnya, dia sepertinya lupa bahwa aku yang sekarang bukan lagi wanita yang sama seperti dulu.

"Dan aku juga tidak butuh izinmu untuk tetap di sini," balasku tandas. "Aku datang ke Ujung Kulon untuk mengabdi sebagai relawan, dan tugasku belum selesai. Jadi, aku tidak akan pergi cuma karena kamu menyuruhku."

"Dinda, jangan menguji batas kesabaranku."

"Silakan saja kalau mau marah. Tapi keputusanku tetap tidak."

Sorot mata Danu kian menghujam. Pandangannya turun, meneliti wajahku yang bersandar pada meja, seolah baru menyadari bahwa alisku berkerut menahan pening.

"Kepalamu masih sakit?" Nada suaranya sedikit melunak, meski tetap terdengar kaku seperti tengah menginterogasi.

Bukannya menjawab, aku justru terdiam. Perubahan gestur yang terlampau cepat itu membuatku bingung.

"Sedikit," sahutku akhirnya pelan.

Danu langsung melangkah maju, berniat meraih lenganku. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kulitku, aku kontan mundur selangkah.

"Aku bisa sendiri."

Wajahnya seketika menegang lagi. "Jangan keras kepala! Kamu baru saja nyaris ambruk, dan sekarang masih berani membangkang?"

"Aku bukan anak kecil, Danu!"

"Dan aku suamimu!"

Bentakan itu memicu kesunyian sesaat di antara kami. Bahkan Siska, yang sejak tadi hanya menonton dari kejauhan dengan cemas, memilih menunduk.

Aku menatap lekat pria di hadapanku. Ada sesak yang menghimpit dada, menimbun amarah yang sudah lama kupendam.

"Ya, kamu memang suamiku. Tapi tanyakan pada nuranimu, kapan terakhir kalinya kamu bersikap selayaknya pria yang menginginkanku di sisinya?"

Danu terhenyak.

Aku menelan ludah, membiarkan suaranya tercekat di tenggorokan sebelum melanjutkan. "Dulu, kamu sendiri yang memaksaku menerima kenyataan pahit tentang pernikahanmu dengan Belinda. Kamu yang membuatku merasa tak punya ruang di hidupmu. Dan sekarang, setelah aku pergi menata puing-puing hidupku, kamu muncul dan berlagak seolah aku adalah propertimu yang bisa diatur sesuka hati."

Aku menarik napas gemetar, berusaha menstabilkan intonasi. "Jadi, tolong... jangan hanya mengingat status kita saat kamu ingin memegang kendali. Ingat juga bagaimana caramu memperlakukanku selama ini."

Untuk beberapa detik, keheningan menyelimuti kami. Danu terpaku, seolah tamparan telak baru saja mendarat di wajahnya.

Namun, gejolak itu perlahan mereda. Danu membuang muka sebentar ke arah Tegar lalu menyimpan sisa-sisa kecemburuan yang kentara sebelum kembali menatapku dengan sorot mata yang kini jauh lebih terkontrol, meski masih menyiratkan intimidasi tersendiri.

"Baiklah. Kalau itu maumu, aku tidak akan memaksamu pulang malam ini."

Aku mengerjap, sedikit tak menyangka mendengar keputusan itu.

"Tapi ingat, Dinda," lanjutnya dengan penekanan di tiap suku kata, "aku ke sini bukan untuk pelesiran lalu pulang dengan tangan kosong."

Danu mengambil jeda singkat, menatapku lurus-lurus. "Besok kita bicara lagi. Berdua saja. Dan aku tidak terima alasan apa pun untuk menghindar."

Tanpa menunggu tanggapanku, dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area tersebut.

Aku terpaku di tempat, menatap punggungnya yang kian menjauh ditelan temaram malam. Entah mengapa, kehadiran Danu yang mendadak ini justru menyalakan kembali bara kecemasan di dadaku.

Bukan karena sisa-sisa rasa cinta. Melainkan karena aku sangat paham, Danu bukanlah tipe pria yang sudi menyerah begitu saja setelah menelan penolakan.

Dan melihat bagaimana reaksi posesifnya saat mendapati Tegar berada dekat denganku tadi, satu hal kini menjadi sangat terang, Danu mungkin belum sepenuhnya tahu apa yang ia inginkan dariku, tetapi satu hal yang pasti, dia tidak akan pernah sudi melihatku berpaling pada lelaki lain.

"Din, kamu enggak apa-apa?" tanya Siska.

"Enggak apa-apa, hanya ngerasa eneg sama pusing aja," jawabku sambil memegang perut.

Aku melihat Siska menatapku dengan tatapan cemas, tak lama ia bertanya lagi, "Din kapan kamu terakhir datang bulan?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam seketika, bukan aku tak paham tapi aku sangat tahu arah pembicaraan Siska dan aku juga mulai berpikir ke arah sana.

"Apa mungkin aku hamil?"

1
Diana
Danu terlalu bodoh dan buta sih.
Diana
tinggalkan Danu, Dinda!
Diana
playing victim kamu Belinda.
Diana
jangan cengeng Dinda, Danu itu sudah ada pawangnya.
sutiasih kasih
pasti si paling maha benar...
mantan suami pecundang🙄🙄
sutiasih kasih
jgn" Dinda hamil nich....
sutiasih kasih
novel ini g di lanjut lgi kah??
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: lanjut kak, hihihi bener2 nunggu autornya free, masih banyak drama di RL nya🙏
total 1 replies
Endang Anwar Rahmawati
😍
falea sezi
🤣🤣 enak g dan di khianati mamam tuh
falea sezi
mending cerai enak aja di jadiin danu ban serep saat Belinda g sebaik yg dian kira🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mampusss
sutiasih kasih
lanjut up dunk thorrr
sutiasih kasih: ku kirim kopi... biar semangar thorr😘😘
total 2 replies
sutiasih kasih
sadarrrr woiiii bung....😂😂😂
sutiasih kasih
lupa ya klo km sdh mnjatuhkn talak ke Dinda.... perempuan yg sll mnjadi tumbal 🙄🙄
sutiasih kasih
mampusssss....
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
sutiasih kasih
harusnya km brsyukur blm mnyentuh belinda ..... bisa jdi belinda sdh trjangkit pnyakit krna seringnya di celup bnyk laki".....
Mariatul
baper aku Thor. mau nangis iya, mau meledak pun iya. 😁😁
sutiasih kasih
jalang sesungguhnya siapa danu???
sutiasih kasih
double up dunk thor😘😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, udah proses
total 1 replies
sutiasih kasih
10 th.... gmn klo dinda hamil ankmu danu.....
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!