NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Dongeng

Luki pulang tepat pukul tujuh malam, seperti biasa, meski beban di pikirannya jauh lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Ketika pintu lantai tiga terbuka, Indra sudah menunggu dengan wajah cerah, seolah tidak ada bayangan bahaya apa pun yang sedang mengintai dari kegelapan kota di luar sana.

"Ayah! Alena Kakak Kakak—eh, Kak Alena masih di sini!" Indra menarik tangan ayahnya menuju ruang tengah, di mana Alena duduk di sofa sambil membolak-balik buku sketsa yang sama dari sesi tadi siang.

"Sudah menunggu lama?" tanya Luki, menatap Alena.

"Nggak terlalu. Indra menunjukkan koleksi bukunya sama saya sambil menunggu." Alena berdiri, menutup buku sketsanya. "Ada waktu sebentar setelah dia tidur?"

Luki mengangguk. "Tentu."

Malam itu, ritual yang sama seperti biasa berjalan — mandi, makan malam, sikat gigi — tapi kali ini dengan tambahan kecil yang tak terduga: Indra memaksa Alena ikut duduk di tepi ranjangnya saat waktu dongeng tiba.

"Kak Alena juga boleh dengerin," kata Indra, sudah berbaring di bawah selimut galaksinya. "Tapi Ayah yang baca. Ayah pinter kasih suara-suara beda buat tiap karakter."

Alena melirik Luki, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan diundang ke bagian paling privat dari rutinitas keluarga ini, apalagi di hari pertama bekerja. Tapi Luki hanya mengangguk kecil, mengambil buku dari rak seperti biasa — kali ini bukan "Naga yang Takut Api", melainkan cerita baru berjudul "Rubah yang Kehilangan Ekornya".

Ia duduk di tepi ranjang, membuka halaman pertama, dan mulai membaca dengan suara yang berubah untuk setiap karakter — suara berat untuk beruang tua di hutan, suara melengking untuk burung kecil yang cerewet, suara lembut untuk sang rubah yang sedih.

Alena duduk di kursi kecil di sudut kamar, menyaksikan sesuatu yang terasa hampir surealis — pria yang sama yang beberapa jam lalu, jika ia tahu, mungkin sedang memerintahkan pengejaran terhadap organisasi kriminal rival, kini duduk dengan lembut membacakan dongeng tentang seekor rubah yang belajar bahwa kehilangan sesuatu tidak berarti kehilangan seluruh dirinya.

Ketika Indra akhirnya tertidur di tengah kalimat terakhir, Luki menutup buku itu perlahan, seperti biasa, dan duduk sebentar lebih lama dari yang diperlukan sebelum akhirnya berdiri dan mematikan lampu utama.

Mereka berjalan keluar kamar bersama dalam diam, menuju ruang kerja Luki, di mana secangkir teh sudah menunggu di meja — disiapkan oleh salah satu staf rumah tangga tanpa diminta, sesuatu yang tampaknya sudah menjadi kebiasaan setiap malam setelah sesi dongeng.

---

"Jadi," kata Luki, duduk di kursinya, menatap Alena yang duduk di seberang meja. "Apa yang ingin Anda sampaikan?"

Alena membuka buku sketsanya, menunjukkan halaman yang sama dengan diagram rumah yang digambar Indra siang tadi. "Indra sangat memperhatikan detail-detail kecil di sekitarnya — sesuatu yang normal untuk anak dengan tingkat kecerdasannya. Tapi yang membuat saya khawatir bukan kemampuannya mengamati. Yang membuat saya khawatir adalah apa yang ia amati."

Ia menunjuk pada salah satu sudut diagram, di mana Indra menandai sebuah simbol kecil di dekat pintu ruang kerja Luki. "Ia bilang ini 'pintu yang selalu terkunci ganda'. Dan di sini—" jarinya berpindah ke bagian lain diagram, "—ia menggambar tanda kecil di dekat garasi, yang katanya menandai 'tempat mobil-mobil aneh datang malam-malam'."

Luki diam, mendengarkan dengan wajah yang semakin serius setiap detik.

"Pak Subroto, saya tidak akan pura-pura tidak tahu bahwa ada sesuatu yang tidak biasa tentang situasi keluarga Anda," lanjut Alena, hati-hati memilih kata-katanya. "Saya tidak akan bertanya apa itu. Tapi saya perlu jujur pada Anda soal sesuatu yang lebih penting dari rahasia apa pun yang Anda simpan: Indra sudah mulai membangun teori sendiri tentang siapa Anda sebenarnya. Dan anak sepintar dia, kalau dibiarkan menyusun teka-teki itu sendirian tanpa penjelasan, bisa sampai pada kesimpulan yang jauh lebih menakutkan daripada kenyataan yang sebenarnya."

Kata-kata itu menghantam Luki lebih keras dari yang ia perkirakan. Ia menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota Jakarta yang berkelip di kejauhan, tempat di mana kerajaan yang ia bangun dengan darahnya sendiri terus berjalan tanpa henti, tanpa peduli seberapa banyak ia berusaha memisahkannya dari dunia kecil putranya.

"Apa yang Anda sarankan?" tanyanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

"Saya tidak menyarankan Anda menceritakan semuanya," jawab Alena cepat. "Saya bukan orang yang berhak menentukan itu, dan saya tahu ada alasan kuat kenapa Anda memilih menyembunyikannya. Tapi mungkin sudah waktunya Anda mulai memberi Indra sedikit kebenaran yang bisa ia pahami — bukan detail, tapi kerangka. Sesuatu yang membuatnya merasa dipercaya, bukan dilindungi dengan cara yang justru membuatnya merasa diasingkan dari kehidupannya sendiri."

Luki menghela napas panjang, tangannya mengusap wajahnya sendiri, sebuah gestur kelelahan yang jarang sekali ia tunjukkan di depan siapa pun. "Saya sudah kehilangan istri saya karena dunia ini. Saya tidak tahu apakah saya sanggup kehilangan rasa hormat anak saya juga, kalau ia tahu siapa ayahnya sebenarnya."

"Justru itu," kata Alena, lebih lembut sekarang, "risiko terbesarnya bukan dia kehilangan rasa hormat kalau tahu kebenarannya. Risiko terbesarnya adalah dia menemukan kebenaran itu sendirian, tanpa konteks, tanpa penjelasan — dan menyimpulkan bahwa Anda tidak cukup mempercayainya untuk jujur."

Ruangan itu hening untuk beberapa saat. Di luar, hujan mulai turun perlahan, menetes di jendela kaca ruang kerja, menciptakan bayangan-bayangan air yang bergerak lambat di wajah Luki yang sedang menimbang kata-kata Alena dengan seluruh keseriusan seorang pria yang baru saja disadarkan bahwa benteng yang ia bangun untuk melindungi anaknya mungkin, tanpa ia sadari, sedang perlahan mengasingkan anak itu darinya.

"Saya akan memikirkannya," katanya akhirnya.

Alena mengangguk, berdiri untuk berpamitan. Tapi sebelum ia melangkah keluar, Luki memanggilnya sekali lagi.

"Alena."

Ia berbalik.

"Terima kasih," kata Luki, dan kata-kata itu keluar tanpa formalitas apa pun, tanpa jarak — hanya kejujuran seorang ayah yang merasa tidak sendirian dalam menanggung beban melindungi anaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!