NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 — Larasati Mulai Goyah

Raka berkata bukti kecil dapat menjatuhkan kebohongan besar. Di studio Balet Larasati, kebohongan yang mulai retak justru jauh lebih sederhana: keyakinan bahwa Larasati tidak pernah membutuhkan suaminya.

"Ulang dari hitungan kelima!"

Musik diputar kembali. Enam penari muda bergerak melintasi lantai, tetapi Larasati menghentikan mereka sebelum delapan hitungan selesai.

"Garis tanganmu terlambat. Fokus."

Penari di barisan depan menunduk. "Maaf, Mbak Laras. Tapi tadi kami sudah mengikuti hitungan yang sama."

Asisten koreografer memeriksa video. "Mereka benar, Mbak. Musiknya tidak terlambat."

Larasati melihat pantulan dirinya di cermin. Dialah yang memberi aba-aba sepersekian detik terlalu cepat.

Ponselnya tergeletak di dekat speaker. Pada layar masih terbuka video Raka menjelaskan bukti sengketa kafe. Ia menontonnya sebelum latihan, lalu memutarnya lagi saat jeda. Suara tenang itu terus mengganggu konsentrasi.

Lima tahun lalu, ia mengira ketenangan Raka berarti kelemahan.

Kini ketenangan yang sama membuat klien membayar, profesor berdiri membela, dan ribuan orang percaya kepada pekerjaannya.

Mungkin Raka tidak berubah.

Mungkin selama ini Larasati hanya tidak pernah melihatnya berdiri di tempat yang benar.

"Istirahat dua puluh menit," katanya.

Para penari keluar. Ratna masuk membawa dua kopi dan map sponsor. Tatapannya singgah pada video di ponsel.

"Kau masih menonton dia?"

"Algoritma yang menampilkan."

"Algoritma tidak menekan tombol putar tiga kali."

Larasati mematikan layar. "Aku hanya ingin tahu apa yang sedang ramai."

Ratna meletakkan kopi. "Raka sedang menikmati kebetulan. Satu profesor, satu sekolah, lalu drama klien. Jangan menyebut itu kerajaan bisnis."

"Dia menangani semuanya sendiri."

"Dibantu teman-teman dan perempuan tetangga itu."

Nada Ratna berubah tipis pada kata perempuan.

Larasati menangkapnya. "Kenapa kau terdengar terganggu?"

"Aku terganggu karena kau kehilangan fokus menjelang due diligence."

Ratna membuka map. Salah satu sponsor meminta kepastian jadwal pengumuman restrukturisasi. Tim Sebastian menjanjikan pertemuan dengan calon investor, tetapi meminta citra pribadi Larasati tetap terkendali.

"Keisha punya pertunjukan kelas minggu depan," kata Larasati. "Raka berhak tahu."

"Kirim melalui pengacara."

"Dia ayahnya, bukan rekan sengketa."

"Kau baru mengingat itu setelah melihat pengikutnya lima puluh ribu?"

Pertanyaan tersebut membuat Larasati terdiam.

Ia mengambil ponsel dan mengetik.

Mas, minggu depan Keisha tampil di sekolah. Kalau kamu mau datang, aku bisa kirim jadwalnya. Kita juga bisa bicara setelah acara.

Jempolnya berhenti di atas tombol kirim.

Ratna membaca dari samping. "Hapus kalimat terakhir."

"Kenapa?"

"Karena kau hanya terbiasa ada seseorang yang mengurus semua hal. Sekarang telurmu harus dibuat pembantu, mobilmu harus dijadwalkan sopir, dan tidak ada yang memijat kakimu setelah latihan. Kau merindukan pelayanan, bukan Raka."

Larasati ingin menyangkal, tetapi bayangan yang muncul justru secangkir air hangat di sisi ranjang dan tangan Raka membalut pergelangan kakinya tanpa pernah meminta terima kasih.

"Kalau aku memang merindukannya?"

Jari Ratna yang memegang map menegang.

"Jangan merendahkan dirimu untuk seorang tukang mural," katanya terlalu cepat. "Kau punya Sebastian."

"Aku tidak bilang ingin Sebastian."

"Semua orang tahu dia pasangan yang sepadan."

"Semua orang, atau Mbak?"

Ratna menutup map lebih keras daripada perlu. "Kita pulang. Mama menunggu makan malam."

Di rumah Pondok Indah, Sulastri telah menyusun katalog perhiasan dan proposal gala di meja. Sebastian menawarkan menjadi sponsor utama pertunjukan baru Balet Larasati. Logo Sanjaya akan berdiri di samping nama Larasati dalam semua materi.

"Ini kesempatan besar," kata Sulastri. "Kalau hubungan kalian diumumkan setelah restrukturisasi, investor akan melihat dua nama kuat bergabung."

"Hubungan apa?" tanya Larasati.

"Jangan pura-pura. Sebas kembali untukmu."

Bambang yang duduk jauh dari meja menurunkan koran. "Laras masih menikah."

"Justru Raka yang minta cerai," balas Sulastri. "Kalau dia bisa pergi, kenapa Laras harus menunggu sendirian?"

"Karena urusan anak dan hukum belum selesai."

Sulastri memutar mata. "Kau juga mulai membela dia? Raka baru mendapat beberapa proyek. Sebesar apa pun muralnya, dia tetap pekerja tangan. Sebastian punya jaringan, modal, dan nama keluarga."

"Pekerja tangan membangun sesuatu," kata Bambang. "Apa yang dibangun kita selama lima tahun selain kebiasaan menyuruhnya?"

Meja makan mendadak sunyi.

Sulastri menatap suaminya dengan marah. "Kalau kau sangat menghargainya, kenapa tidak bicara saat dia pergi?"

Bambang tidak menjawab. Pertanyaan itu mengenai tempat yang tak bisa ia bela.

Keisha berlari masuk membawa brosur es krim baru. "Mama, lihat! Ada rasa mangga emas lagi. Om Sebastian bilang nanti belikan."

Larasati mengambil brosur. Di sudutnya tertulis mengandung kacang dan produk susu. Salinan rekam medis dari pengadilan terbayang di benaknya.

"Yang ini tidak boleh," katanya, lalu menyimpan brosur.

Keisha merengek. Sulastri menyuruh Larasati jangan berlebihan. Untuk pertama kalinya, Larasati tidak langsung mengikuti ibunya.

Sebastian menelepon saat mereka masih di meja. Sulastri segera menyalakan pengeras suara.

"Aku sudah minta restoran menyiapkan satu kotak untuk Keisha," katanya. "Rasa mangga favoritnya."

"Batalkan, Sebas," jawab Larasati. "Ada kacang dan susu. Dokter mencatat alerginya."

"Dia makan waktu ulang tahun dan baik-baik saja. Raka hanya mencari alasan agar tetap ikut campur."

Larasati memandang Keisha yang sedang menggaruk ringan bagian leher setelah makan biskuit. Tidak ada ruam, tetapi gerakan itu cukup membuatnya menyimpan camilan dari meja.

"Tetap batalkan."

Hening sesaat terdengar dari sambungan.

"Baik," kata Sebastian akhirnya. "Kalau itu membuatmu tenang. Soal sponsor, kita perlu tanda tangan besok. Aku juga sudah meminta dua calon mitra menunda keputusan terhadap Studio Nusa Karya sampai masalah harganya jelas. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan Raka mengambil sorotanmu."

Larasati menatap pengeras suara. "Aku tidak pernah memintamu menutup pekerjaannya."

"Aku melindungi kepentinganmu."

Kalimat itu seharusnya terdengar romantis. Anehnya, Larasati justru teringat kontrak lima tahun yang ditolak Raka. Perlindungan Sebastian selalu datang bersama pintu yang hanya bisa dibuka olehnya.

"Jangan lakukan lagi atas namaku," kata Larasati.

Sulastri mematikan sambungan dengan wajah tidak senang. Ratna memandangi adiknya, sementara Bambang untuk pertama kalinya mengangguk kecil dari ujung meja.

Larasati mulai melihat bahwa dua lelaki itu menawarkan hal berbeda: Raka memberi pilihan, sedangkan Sebastian menamai kendali sebagai perlindungan.

Namun keberanian kecil itu belum cukup untuk menghadapi hal yang lebih besar.

Di kamar malam itu, pesan kepada Raka masih tersimpan sebagai draf. Larasati menghapus kalimat tentang bicara setelah acara, menulisnya kembali, lalu menghapus seluruh pesan.

Ratna berdiri di luar pintu yang tidak tertutup rapat. Ia melihat nama Raka pada layar adiknya dan menggenggam ponselnya sendiri begitu kuat.

"Kau hanya kehilangan kebiasaan," bisiknya, entah meyakinkan Larasati atau dirinya sendiri.

Di dalam kamar, Larasati menulis lagi satu kata.

Mas...

Kursor berkedip lama. Pesan itu tidak pernah dikirim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!