NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Tatapan di Antara Riuh Resepsi dan Salam Perpisahan

Langkah kaki Rama dan Zikri menapak mantap di atas karpet merah yang membentang menuju area utama gedung resepsi. Melangkah masuk ke dalam ruangan besar itu, wangi mawar merah dan melati langsung menyapa indra penciuman, berpadu lembut dengan sayup-sayup dentingan musik akustik yang diputar tenang. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan, menyoroti riuhnya ratusan tamu undangan yang berbaur rapi dalam busana terbaik mereka.

Di sudut kanan gedung, panggung pelaminan berdiri anggun berhiaskan junjungan bunga bernuansa putih, krem, dan soft pink. Di atas sana, Kak Maya dan Mas Vino tampak bersanding penuh kebahagiaan, melayani tawa dan ucapan selamat dari para tamu yang silih berganti naik menyalami.

Namun, pandangan mata Rama tidak tertahan lama pada sang pengantin. Matanya yang jernih di balik kacamata bening secara refleks teralih ke sisi kiri panggung pelaminan, tempat Alee berdiri mendampingi sang Ayah.

Alee tampak begitu berbeda hari ini. Ia mengenakan balutan kebaya kain nuansa merah muda lembut dengan riasan wajah tipis yang mempertegas keanggunan alaminya. Rambut hitamnya yang biasa dikuncir kuda kini disanggul rapi. Meski penampilannya teramat feminin dan anggun, sisa-sisa gaya petantang-petenteng Alee tetap terlihat jelas dari cara berdiri dan senyum renyahnya saat menyapa sanak saudara.

Langkah Rama sempat terhenti sejenak di tengah antrean tamu. Dadanya berdesir hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjarak dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing, Rama melihat Alee begitu dekat dan nyata. Keraguan yang sempat membayangi pikirannya saat di rumah seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa haru dan kekaguman yang teramat tulus.

Saat Alee berpaling dari seorang kerabat, matanya tak sengaja menangkap sosok Rama yang sedang berdiri tegap dalam balutan kemeja batik bernuansa gelap. Pandangan mata mereka bersitatap lurus di tengah riuhnya panggung pesta.

Alee tidak menghindar. Ia menyunggingkan senyum tipisnya sebuah senyum manis, tenang, dan jujur tanpa ada sedikit pun kepura-puraan. Alee mengangguk kecil, memberikan sapaan hangat yang memotong seluruh dinding canggung di antara mereka.

Ketika giliran Rama dan Zikri naik ke atas panggung, Kak Maya langsung menyambut mereka dengan kehebohan yang khas.

"Wah! Datang juga akhirnya Pak Ketua Kelas!" seru Kak Maya penuh semangat sambil menjabat tangan Rama erat-erat. "Makasih banyak ya Ram, Zik, udah penuhi janji kalian waktu di pantai kemarin!"

"Selamat atas pernikahannya ya, Kak Maya dan Mas Vino. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," balas Rama santai penuh kesopanan, mengulas senyum terbaiknya.

Setelah menyalami pengantin dan Ayah Alee, Rama melangkah perlahan menuju posisi Alee yang berdiri paling ujung. Setiap pijakan kakinya terasa seperti merangkum kembali ribuan kenangan yang pernah mereka lewati.

Alee menatap Rama yang berdiri di hadapannya. Pria itu tampak teramat rapi, dewasa, dan tenang sosok Ketua Kelas yang dulu pernah menjadi pelindungnya di masa-masa sulit.

"Kamu anggun banget hari ini, Lee," puji Rama halus, suaranya terdengar lembut menembus kebisingan musik pesta.

Alee tertawa renyah tawa khas yang teramat dirindukan Rama lalu merapikan sedikit ujung selendang kebayanya dengan gaya santai. "Makasih ya, Pak Ketua. Dan... makasih banyak udah beneran datang memenuhi undangan Kak Maya."

"Kan saya udah janji," sahut Rama penuh kehangatan. "Aku nggak mungkin ingkar janji sama kamu."

Zikri yang berdiri di samping Rama menyalami Alee dengan senyum lega. Ada rasa syukur yang membuncah di dalam dada Zikri melihat dua sahabatnya kini bisa berdiri berdampingan dan bertatap muka kembali dalam suasana yang begitu damai dan dewasa.

Usai menyalami keluarga pengantin, Rama dan Zikri melangkah menuju area meja prasmanan di sudut gedung yang lebih rindang. Di sana, mereka bergabung bersama Nara dan Hanafi yang sudah lebih dulu tiba. Tak lama kemudian, Alee menyempatkan diri turun dari panggung pelaminan untuk menghampiri lingkaran kecil itu.

Untuk terakhir kalinya, mereka berkumpul bersama sebagai kawan sekelas. Tidak ada lagi percikan kesalahpahaman masa lalu, tidak ada lagi rasa canggung yang menahan kata, dan tidak ada lagi beban kecemburuan. Di meja bulat itu, mereka tertawa lepas mengenang kenakalan di kelas 12 MIPA 1, saling bertukar cerita tentang persiapan berkemas ke asrama perkuliahan, dan melayangkan doa-doa tulus bagi jalan hidup masing-masing.

Waktu berjalan tanpa terasa. Ketika resepsi mulai berangsur sepi dan sinar matahari sore merayap makin rendah di ufuk barat, Rama dan Zikri memutuskan untuk pamit. Alee mengantarkan mereka berdua berjalan melintasi selasar luar gedung yang sejuk.

Zikri dengan peka berjalan lebih dulu menuju area parkiran motor, memberikan ruang yang cukup bagi Rama dan Alee untuk mengucap salam perpisahan secara pribadi.

Suara hembusan angin sore berbisik pelan di antara dedaunan taman gedung, memainkan ujung selendang kebaya Alee. Kedua anak manusia itu berdiri berhadapan, menatap satu sama lain dengan kedamaian jiwa yang telah utuh.

"Saya balik duluan ya, Lee," pamit Rama pelan, menyampirkan jaketnya di lengan.

Alee mengangguk mantap, menatap lurus ke dalam iris mata Rama tanpa ada keraguan sedikit pun. "Hati-hati di jalan ya, Ram. Sukses buat kuliahnya di Teknik Sipil Universitas Garuda Indonesia."

Rama menyunggingkan senyum hangatnya yang paling tulus senyum yang dulu selalu hadir saat ia mengajari Alee petikan chord gitar di saung belakang sekolah.

"Kamu juga ya, Lee. Sukses di Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Bangsa," tutur Rama dengan suara berat dan lembut. "Suatu saat nanti... kalau roda kehidupan mempertemukan kita lagi di masa depan, saya harap kamu udah jadi orang yang paling bahagia."

"Pasti, Ram," jawab Alee mantap, menyunggingkan senyum lebarnya yang paling jujur. "Kamu juga harus bahagia ya."

Rama mengulurkan tangannya. Alee menatap jemari itu sejenak, lalu menyambut jabat tangan Rama tanpa ragu. Sebuah genggaman hangat, mantap, dan sarat akan rasa terima kasih sebuah simbol resmi bahwa simfoni masa SMA mereka telah ditutup dengan nada yang paling indah, ikhlas, dan sempurna.

Genggaman itu terlepas perlahan. Rama berbalik dan melangkah melintasi selasar menuju area parkiran. Alee berdiri mematung di tempatnya, menyaksikan punggung tegap sang Ketua Kelas berjalan menjauh hingga akhirnya sosok itu menghilang di balik deretan kendaraan.

Alee menarik napas panjang, meresapi udara sore yang segar, lalu mengembuskannya perlahan. Tidak ada air mata yang menetes, tidak ada rasa sesal yang menyisa di dada. Hatinya terasa begitu lapang dan terang. Janji telah ditepati, petunjuk takdir telah dijawab, dan Alee siap melangkah memasuki babak baru dalam kehidupannya dengan melodi dan semangat yang baru.

1
Muslimin Muslim
good
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!