Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Genggaman Tangan Pertama
Ancaman terhadap Bimo dan Nala berubah menjadi tindakan tiga hari kemudian.
Seorang lelaki datang ke tempat belajar sementara mereka di desa dekat Vila. Ia membawa kartu identitas palsu dan surat penjemputan atas nama Yudha. Guru hampir membuka gerbang sebelum Bimo berkata kode penjemputan hari itu salah.
"Ayah bilang kodenya nama wayang," katanya. "Bukan angka."
Guru segera membawa kedua anak ke ruang terkunci dan menelepon Arka. Lelaki itu pergi sebelum petugas tiba, tetapi wajahnya terekam kamera toko di seberang jalan.
Pada waktu yang sama, tiga pemasok membatalkan pengiriman bahan ke Astarasa.
Ningsih menerima surat pembatalan dengan alasan risiko reputasi. Di belakangnya, bank menunda fasilitas modal kerja setelah menerima laporan anonim bahwa perusahaan sedang terlibat perkara pidana.
"Mereka menyerang dua titik bersamaan," kata Sekar. "Anak-anak agar Arka menarik diri. Bisnis agar aku tidak punya tenaga melawan."
Arka baru tiba dari Kota Palagan menjelang sore. Ia langsung menuju tempat belajar, memeriksa prosedur bersama Yudha, lalu membawa Bimo dan Nala kembali ke Vila.
"Ayah tidak marah?" tanya Bimo.
"Kenapa Ayah harus marah?"
"Aku bicara keras kepada gurunya."
"Kamu mengingat aturan dan melindungi adikmu. Ayah bangga."
Nala memeluk lengan kakaknya. "Bimo pintar."
Sekar berjongkok di depan mereka. "Kalian mau membantu aku sekarang?"
Kedua anak mengangguk.
"Pilih kamar paling nyaman di Vila, bawa buku, lalu jangan keluar sampai Ayah bilang aman. Tugasnya penting sekali."
Nala langsung menggandeng Bimo ke dalam. Memberi mereka tugas membuat ketakutan terasa memiliki batas.
Di ruang kerja, Arka dan Sekar membagi masalah tanpa saling mengambil alih. Arka menangani rute, penjagaan, sekolah, serta koordinasi polisi. Sekar menangani pemasok, bank, dan pengiriman Astarasa.
"Saya bisa meminta unit menghentikan kontrak sementara agar tekanan bisnis berkurang," kata Arka.
"Jangan. Itu yang mereka inginkan. Mereka akan bilang Astarasa hanya hidup karena Anda."
"Anda punya modal kerja pengganti?"
"Dana cadangan dari rekening Astarasa yang berhasil dibekukan sebelum dipindahkan. Cukup untuk satu siklus."
Sekar menghubungi koperasi petani yang pernah dibayar langsung. Sebagai ganti kepastian pembayaran saat barang diterima, mereka bersedia menambah pasokan. Dua cabang Astarasa Bogor menggabungkan kendaraan agar biaya pengiriman turun. Eyang Kus mengirim surat kepada bank berisi laporan audit awal dan meminta dasar tertulis penundaan fasilitas.
Satu pemasok beras tetap menolak. Pemiliknya mengaku menerima foto kendaraan rusak dan pesan bahwa gudangnya akan diperiksa pajak jika masih bekerja dengan Sekar.
"Kirim ancaman itu kepada kami," kata Sekar. "Bapak tidak wajib meneruskan kontrak, tapi jangan menghapus pesannya."
"Saya takut usaha saya ditutup."
"Saya mengerti. Kami tidak akan menuntut denda pembatalan."
Pemilik itu terdiam. "Ibu tidak marah?"
"Yang mengancam Bapak adalah pihak yang harus saya lawan. Bukan Bapak."
Beberapa menit kemudian, ia mengirim tangkapan layar lengkap. Nomor pengirim sama dengan salah satu nomor yang pernah dipakai untuk menyebar foto hotel.
Bening meneruskannya kepada penyidik. Ningsih mencari pengganti dari stok internal Astarasa, sedangkan Sekar menghubungi cabang restoran yang bisa mengurangi menu berbasis beras selama dua hari tanpa mengganggu gaji pegawai.
"Ini akan menurunkan margin," kata Ningsih.
"Lebih baik margin turun daripada pemasok kecil dihukum karena dipaksa takut. Catat semua biaya sebagai kerugian akibat gangguan, nanti kita tuntut melalui jalur yang tepat."
Arka mendengar pembicaraan itu melalui pintu terbuka. Ia tidak menawarkan uang atau tekanan pada pemasok. Ia meminta Yudha memasukkan nomor ancaman ke dalam penyelidikan yang sudah ada.
"Mereka memakai ketakutan sebagai modal," katanya.
"Kalau kita panik, mereka mendapat keuntungan dua kali," jawab Sekar.
Arka mengangguk. Pembagian mereka semakin jelas: ia menutup jalan menuju anak-anak, Sekar menutup kebocoran yang hendak menenggelamkan pekerjaannya.
Ketika bank tidak dapat menunjukkan putusan pidana apa pun, penundaan ditinjau kembali.
"Satu truk kurang," kata Ningsih menjelang malam.
Sekar membuka daftar kendaraan Reksa. "Hotel Menteng memiliki truk pendingin yang sedang tidak dipakai."
"Pak Handoko menolak melepasnya."
"Minta penolakan tertulis. Kirim salinan kepada komisaris dan auditor."
Sepuluh menit kemudian, truk tersedia.
Arka berdiri dekat papan kerja, memperhatikan Sekar memindahkan kotak-kotak jadwal sampai seluruh pengiriman memiliki jalur.
"Anda tidak butuh saya untuk menyelamatkan bisnis," katanya.
"Saya butuh Anda menjaga anak-anak agar saya bisa berpikir."
Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Sekar tidak menganggap pengakuan membutuhkan seseorang sebagai kelemahan.
Menjelang Subuh, pengiriman terakhir sampai di lokasi. Segel utuh, suhu aman, jumlah sesuai. Di sisi lain, polisi menemukan mobil yang dipakai penjemput palsu. Kendaraan itu disewa dengan dokumen curian, tetapi rekaman kamera memberi wajah yang bisa dilacak.
Krisis terlewati tanpa kontrak putus dan tanpa seorang anak pun keluar dari gerbang.
Pagi hari, Bimo dan Nala turun membawa dua gambar bertuliskan `Misi Selesai`. Nala langsung memeluk Sekar. Bimo masuk ke pelukan Arka, lalu mengulurkan tangan kepada Sekar.
Sekar menggenggamnya.
"Tadi aku tidak takut," kata Bimo.
"Tidak apa-apa kalau takut," jawab Sekar. "Yang penting kamu tetap ingat apa yang harus dilakukan."
"Aku sedikit takut," akunya.
"Aku juga."
Bimo menatapnya seperti baru tahu orang dewasa boleh mengakui ketakutan.
Mereka berjalan ke taman setelah sarapan. Nala berlari bersama Ningsih mencari buah delima yang matang. Bimo tetap memegang tangan Sekar, seolah memastikan perempuan itu tidak menghilang.
Arka berjalan di sisi lain.
Ketika Bimo tersandung akar, Arka spontan menangkap tangan kecil itu. Telapak tangannya menutup tangan Sekar yang masih berada di bawah jemari Bimo.
Anak itu kembali berdiri dan segera berlari menyusul Nala.
Tangan Arka tidak langsung terangkat.
Telapaknya tetap menutupi tangan Sekar. Hangat, berat, dan tidak memaksa. Sekar bisa menarik diri kapan saja.
Ia tidak melakukannya.
"Kita bekerja cukup baik bersama," kata Arka.
"Karena kita tidak saling memberi perintah pada bagian yang bukan milik kita."
"Kalau begitu saya hanya akan memberi satu saran."
"Apa?"
"Jangan hadapi malam berikutnya sendirian."
Jari Sekar bergerak kecil. Arka menyesuaikan genggaman, bukan mengencangkan.
Di bawah pohon delima tua, Sekar membiarkan tangannya tinggal di sana.
Untuk pertama kalinya, ia berani membayangkan sebuah hidup yang tidak dibangun dari rasa takut ditinggalkan.
Langkah Yudha terdengar tergesa dari teras.
"Komandan, ada laporan dari Jakarta."
Arka melepaskan tangan Sekar hanya setelah melihat wajah Yudha.
"Keluarga Danuwijaya mengadakan beberapa pertemuan tertutup," lanjut Yudha. "Pak Handoko hadir dua kali. Sepertinya mereka menyiapkan sesuatu yang besar untuk Bu Sekar."
Kehangatan tangan Arka masih tertinggal di telapak Sekar, tetapi ketenangan pagi itu sudah pecah.
Musuh mereka sedang mengumpulkan orang di Jakarta.
Kali ini, Sekar siap menunggu.