Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Part 6
"Itu artinya??"
"Artinya, aku tidak bisa mendiagnosis hanya dari pemeriksaan fisik. Bisa karena kelelahan fisik dan mental. Bisa juga karena... hal lain."
Alex berdiri, berjalan ke meja kerjanya, dan mengambil secarik kertas resep. Tapi kali ini, ia tidak menulis resep.
Ia menulis surat rujukan untuk cek darah dirumah sakit temannya.
"Aku mau kamu cek darah. Lengkap."
Gendis menerima surat itu dengan tangan sedikit gemetar.
"Hasilnya... kapan keluar, Kak?"
Alex menatapnya. Matanya lembut tapi serius.
"Tiga hari."
Gendis menggigit bibirnya. Tiga hari. Rasanya lama sekali. Bagaimana kalau sesuatu yang serius terjadi pada tubuh nya. Apa yang harus dia lakukan?
"Tapi selama tiga hari ini, kamu harus jaga diri. Jangan stress. Jangan kecapekan. Jangan sampai memar-memar lagi kayak tadi. Dan kalau ada gejala aneh, langsung telepon aku. Apapun jamnya."
Gendis mengangguk. "Baik, Kak. Tapi gejala aneh seperti apa contohnya?"
"Mimisan atau pendarahan hebat kalau kamu luka, misalnya."
"Baik lah, aku kerumah sakit temen mu itu ya,"
Alex menyentuh pundaknya. "Kamu kuat, Gendis. Galang pasti tidak ingin melihatmu lemah."
Mendengar nama suaminya, mata Gendis langsung berkaca-kaca. Tapi ia menahan. Sejujur nya hidup sendirian di dunia ini rasanya tidak enak. Meskipun dia berkecukupan, tapi hatinya kosong.
Alex memeluknya sebentar. Lalu melepas. "Kemarin aku ketemu sama Bram?"
"Mas Bram?"
"Iya, tapi wajahnya tidak ramah sama sekali! Aku kira dia sudah berubah karena Galang sudah tidak ada, tapi..."
"Dia tidak pernah menyukai ku, Kak. Dia masih menganggap kalau aku wanita biasa yang numpang hidup dengan adik nya."
"Kenapa kamu tidak katakan yang jujur saja tentang karir mu, Gendis. Ku rasa keluarga Galang akan berubah haluan... mereka akan_"
"Untuk apa kak? Galang sudah tidak ada."
Alex memandangi adik nya dengan serius, ada gurat kesedihan disana, tapi jauh dari itu hatinya juga gelisah, tanda-tanda di tubuh Gendis menunjukan kalau...
"Sekarang pulanglah, Istirahat. Jangan terlalu banyak berpikir."
--------
Gendis keluar dari rumah sakit yang di tunjukan Alex dengan plastik berisi surat untuk pengambilan hasil laboratorium dan beberapa vitamin. Alex menawarkan diri mengantar, tapi Gendis menolak. Ia ingin sendiri.
Ia naik taksi kembali ke rumah Arya. Di perjalanan, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Mbak Yati yang mengatakan "Bu Gendis, Tuan Arya cari-cari Ibu sejak tadi. Beliau marah karena Ibu pergi tanpa izin. Hati-hati, Bu."
Gendis membuang napas. Arya Selalu saja marah. Laki-laki itu tidak pernah sabaran menghadapi apapun.
Kemudian ia memejamkan mata. Tangannya meremas surat rujukan di dalam tas.
Air matanya menetes lagi. Ia cepat-cepat menyekanya.
Sopir taksi menatapnya sekilas lewat kaca spion, tapi tidak bertanya apa-apa.
Setiba di rumah Arya.
Gendis baru melangkahkan kaki ke dalam, langsung disambut oleh suara dingin dari ruang tamu.
"Kemana saja kamu?"
Arya duduk di sofa, satu kaki disilangkan di atas lutut yang lain. Matanya menyipit menatap Gendis dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ke luar," jawab Gendis singkat. Ia tidak berniat berbohong, tapi juga tidak mau menjelaskan panjang lebar.
"Ke luar? Kamu pikir ini hotel? Kamu bisa pergi seenaknya tanpa izin?"
Gendis menatap Arya datar. "Tidak ada dalam kontrak yang mengharuskan ku meminta izin untuk keluar rumah."
Arya terdiam. Rahangnya mengeras, ucapan Gendis ada benar nya. Memang tidak ada kata tertulis yang mengharuskan Gendis meminta izin untuk keluar rumah.
"Kamu lupa? Di mata orang luar, kamu asistenku. Asisten tidak boleh pergi begitu saja tanpa memberi tahu bosnya."
"Tapi di rumah ini, aku bukan asisten," balas Gendis tenang. "Aku istri sah mu, ingat? Atau kamu sendiri yang lupa?"
Arya bangkit dari sofa. Melangkah mendekati Gendis dengan tiga langkah besar.
Gendis tidak mundur. Meskipun jantungnya berdebar kencang.
"Kamu... Berani melawanku," desis Arya pelan.
"Tidak," jawab Gendis tanpa ekspresi. "Aku hanya melakukan yang ingin kulakukan! Dan akan menaati ketentuan yang sudah kita sepakati bersama."
Arya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah. Penasaran. Jengkel. Semua jadi satu.
"Besok, Kamu ikut aku ke acara makan malam dengan klien. Sebagai asisten. Jangan macam-macam apa lagi membantah, aku akan perkenalkan kamu sebagai asisten ku yang baru."
Gendis mengangkat alis. Acara makan malam. Bersama klien dan bersama Arya juga?
Gawat, bagaimana kalau Arya tahu, tapi aku tidak punya alasan untuk menolak.
"Kamu dengar, tidak?"
"Baiklah," jawab Gendis akhirnya. "Aku akan siap."
Arya membuang muka, lalu berbalik pergi ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi.
Gendis menghela napas lega.
Ia menaiki tangga menuju kamar lantai 3. Tarikannya nafasnya mulai berat, seolah dirinya sedang mendaki bukit.
Begitu sampai di kamarnya,
Gendis duduk di tepi kasur. Ia membuka tasnya, mengeluarkan surat dari rumah sakit tadi.
"Tiga hari lagi..." bisiknya.
Ia menyimpan surat itu di dalam laci lemari, di bawah tumpukan pakaian. Tersembunyi dan aman.
Lalu ia meraih botol vitamin yang baru diberikan Alex. Satu butir. Dua butir. Ditelan dengan air putih.
Ia berbaring di kasur, memandang langit-langit.
"Alex bilang aku tidak boleh stres."
"Tapi bagaimana caranya tidak stres tinggal serumah dengan pria yang arogan itu? Bernafas saja aku sulit. Semua terlihat salah!"
Ia memejamkan mata. Memeluk bantal.
"Galang... Aku rindu."
Bersambung...