Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Tidak Mengharap Bantuan Keluarga Lagi
Setelah berjalan cukup jauh yang cukup melelahkan, sampailah Ling Qingxue dan Liu Xui di depan sebuah toko obat yang begitu besar yang terletak di sebelah selatan kotaraja.
Sejenak kedua gadis itu memperhatikan gedung berlantai tiga itu serta orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya sambil menarik napas karena cukup lelah sehabis menempuh perjalanan jauh.
Beberapa saat kemudian, setelah merasa cukup beristirahat, Ling Qingxue masuk ke dalam toko obat itu yang diikuti oleh Liu Xui.
Saat mereka melangkah memasuki areal toko, aroma jamu yang khas dan ramuan herbal yang langka segera menyambut mereka, langsung menyeruak masuk ke hidung mereka.
Tampak seorang lelaki paruh baya berjubah putih segera datang menghampiri mereka. Sikap serta senyum ramahnya tidak pernah lepas begitu dia sudah sampai di hadapan Ling Qingxue dan Liu Xui.
"Selamat datang di toko kami, Gu Niang," sambutnya begitu ramah dengan sikap profesional seorang pebisnis dan pemilik usaha. "Ada yang bisa saya bantu?"
Ling Qingxue tetap bersikap santai dan tenang. Sedangkan Liu Xui masih sedikit takut-takut dan canggung di belakangnya.
"Saya mau membeli bahan ramuan: Akar Rumput Mutiara Ungu, Serbuk Bunga Melati Merah, Anggrek Tebing Es, dan Buah Inti Api Naga," kata Ling Qingxue langsung, tanpa mau berbasa-basi dan tanpa mau berlama-lama.
Sejurus lamanya pak tua pemilik toko belum menanggapi pesanan Ling Qingxue. Dia malah memperhatikan keadaan Ling Qingxue beberapa saat sambil tercenung.
"Ada apa, Laoban?" tanya Ling Qingxue datar. "Apa bahan-bahan yang saya sebutkan itu tidak ada di toko Anda?"
"Bukan begitu, Gu Niang, semua bahan yang Anda sebutkan tadi masih ada stoknya di toko saya," kata pak tua itu tetap ramah dan tersenyum sopan. "Bahkan masih cukup banyak...."
"Hanya saja... bahan-bahan yang Anda pesan itu adalah bahan-bahan yang cukup mahal...," lanjutnya bernada ragu menjelaskan.
"Saya takutnya...," pak tua itu memutus ucapannya sambil kembali mengamati penampilan Ling Qingxue yang kurang meyakinkan punya duit banyak.
Meski Ling Qingxue tidak berpenampilan seperti pengemis, tapi outfit yang dia kenakan begitu sederhana, menunjukkan dia dari kalangan rakyat biasa.
Biar bagaimanapun Pemilik Toko tidak berani menjual bahan ramuan-nya yang mahal kepada rakyat biasa yang tidak punya uang.
"Apa Anda kira saya berpenampilan gembel begini, lantas saya tidak punya uang, Laoban?" kata Ling Qingxue bernada datar dan sinis, sedikit mengandung kemarahan, namun tetap bersikap tenang.
Lalu dia mengeluarkan uang sekantong yang nilainya 10 koin emas, terus berkata bernada ketus.
"Apa ini kurang hah?"
Pak tua pemilik toko terdiam sejurus lamanya melihat Ling Qingxue benar-benar mengeluarkan uangnya. Tampak dia merasa sedikit malu sempat meremehkan Ling Qingxue yang berpenampilan kurang meyakinkan itu.
Lalu buru-buru dia langsung menetralkan sikap, terus berkata penuh rasa bersalah.
"Tunggu sebentar, Gu Niang, saya akan segera mengambil pesanan Anda."
Beberapa saat kemudian, pak tua pemilik toko telah kembali dengan membawa empat kotak kayu berukuran kecil yang berisikan empat bahan herbal sesuai pesanan Ling Qingxue.
Sejenak Ling Qingxue memeriksa keempat bahan ramuan itu. Sambil memeriksa tentu saja dia berkomunikasi dengan sistem, meminta bantuan sistem untuk mendeteksi semua bahan ramuan itu.
Setelah merasa puas dengan pesanannya --atas bantuan sistem--, Ling Qingxue menyelesaikan transaksi pembayaran dengan pemilik toko. Setelah itu dia keluar dari toko bersama Liu Xui dengan hati yang puas.
Meski empat bahan ramuan itu cukup fantastis harganya, lebih dari 2 koin emas, tapi Ling Qingxue masih punya banyak uang. Cukup bagi dia dan Liu Xui untuk makan beberapa bulan ke depan.
Bahkan, jika ada bahan ramuan lagi yang dianjurkan sistem buat keperluan peningkatan dirinya, bisa dia beli dengan uang yang ada. Mudah-mudahan.
Ling Qingxue berusaha untuk tidak bergantung lagi kepada siapa pun, termasuk dan terutama kepada keluarganya.
★☆★☆
Tak lama kemudian setelah meninggalkan toko obat, Ling Qingxue dan Liu Xui kini sudah berada di tengah pasar kotaraja, tepatnya pasar bahan makanan.
Ling Qingxue melihat keadaan sekeliling pasar, mengamati bahan-bahan segar yang akan dia beli. Lalu terdengar gumamannya yang bernada getir.
"Liu Xui, dulunya aku selalu berharap mendapat makanan dari keluargaku. Tapi sekarang, itu tidak akan terjadi lagi...."
"Shao jie, ke depannya... kita akan berusaha memperoleh kebutuhan kita sendiri," tanggap Liu Xui bernada optimis, "tanpa bergantung pada siapa pun...."
"Ya, tanpa bergantung pada siapa pun," kata Ling Qingxue menimpali.
Pada kehidupan yang lalu Ling Qingxue selalu percaya ucapan Ling Yaofei yang mengatakan bahwa makanan yang diberikan untuknya berasal dari kedua kakaknya, Ling Yujian dan Ling Yuchen.
Dia selalu berpikir, meskipun ayahnya tidak perduli padanya dan Su Yinfei, sang ibu tiri, tidak menyukainya, setidaknya masih ada kedua kakaknya yang perduli dan memperhatikannya.
Tapi kenyataannya, itu hanyalah angan-angannya belaka. Makanan yang diberikan padanya, melalui perantaraan adik tirinya itu, ternyata hanyalah makanan sisa yang keluarganya sudah tidak ingin memakannya.
Sungguh miris....
Ketika menyadari akan hal itu, betapa hati Ling Qingxue teramat sakit, penghinaan yang diberikan oleh Ling Yaofei dan Su Yinfei sungguh keterlaluan.
Namun sekarang dia sudah bertekad untuk tidak mengejar kasih sayang keluarganya dan akan membalas penghinaan yang diberikan oleh kedua ular berbisa itu.
Ketika Ling Qingxue dan pelayan setianya sampai di rumah kecil Ling Qingxue, hari sudah senja. Sementara suasana di kediaman utama Jenderal Ling Guojin masih seperti biasa, tenang dan sunyi, namun tak ada aura kepedulian keluarga itu terhadap dirinya.
Ling Qingxue dan Liu Xui akhirnya masuk ke dalam rumah dengan membawa kelelahan, namun merasa senang. Saat Liu Xui hendak ke dapur membawa belanjaan mereka, Ling Qingxue menahannya sebentar, lalu berpesan.
"Liu Xui, mulai sekarang jangan biarkan siapa pun menggangguku. Biarpun itu Jenderal Ling atau kedua putranya, jangan biarkan mereka masuk ke kamarku."
"Baik, Shao jie," kata Liu Xui mengangguk patuh.
"Jika mereka bertanya tentang aku, katakan saja kalau aku sedang sakit!" pesan Ling Qingxue lagi.
"Baik, Shao jie," kata Liu Xui lagi seraya tersenyum penuh semangat.
"Kenapa kamu tersenyum, Liu Xui?" tanya Ling Qingxue lembut bernada heran.
"Aku senang akhirnya Anda telah menyadari kekeliruan Anda, Shao jie," sahut Liu Xui masih tersenyum.
Mendengar ucapan Liu Xui itu, Ling Qingxue ikut tersenyum. Dia amat berterima kasih pelayan setianya ini selalu memperhatikannya.
Lalu, setelah berpesan demikian kepada Liu Xui, dia masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Sedangkan Liu Xui lanjut ke dapur untuk menyimpan bahan makanan yang sudah mereka beli.
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,