Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide baru
Sialan. Benda apa itu?
Ryan kaget sekali saat merasakan tubuhnya yang seperti kesetrum. Dan Claire baru berhenti begitu rambut pria itu sudah berdiri seperti Kean tadi. Ryan masih menatap Claire dengan wajah kaget tidak percaya, matanya berkedip-kedip linglung. Sementara Claire, gadis itu diam sebentar menatapnya, lalu tertawa ngakak.
"Hahahaha! Rambutnya bang! Macho!"
Lordan, Kiara dan Kael masih berdiri di tempat mereka berdiri tadi juga menahan tawa. Ryan menatap mereka semua bergantian dengan wajah yang tampak kesal luar biasa. Apalagi para pengawal yang berjaga di bagian situ juga semuanya menahan tawa.
Jelas Ryan malu dan kesal setengah mati. Gadis yang dia panggil nona ini, jahilnya luar biasa. Bisa-bisanya dia menemukan alat seperti itu. Dari mana dia dapat coba?
"Rambut bang Ryan udah persis nanas, hahahahah!"
Ryan menggertakan gigi. Tangannya terangkat untuk mengatur kembali rambutnya, tapi tidak bisa. Seakan rambut mengeras dan menempel pada posisinya yang berdiri tegak, tidak mau turun meski sudah ditarik berkali-kali. Wajahnya makin memerah, bukan karena marah saja, tapi juga karena malu melihat semua orang di sekitarnya berusaha menahan tawa.
Baru saja dia hendak buka suara, ponselnya berbunyi. Dari si bos besar, siapa lagi kalau bukan Jeremy. Langsung dia angkat.
"Iya bos?"
Mendengar kata bos, Claire segera mendekat dan agak menempel ke Ryan. Ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh suami dinginnya itu. Ryan masih kesal, tapi membiarkan saja gadis itu melakukan apa yang dia mau. Daripada kena strum lagi.
"Kau sudah sampai rumah?"
"Iya."
"Si nakal itu, apa yang dia lakukan?"
Wajah Claire yang tadi ceria langsung berubah kesal sambil mencak-mencak tanpa suara. Ryan menatap Claire sebentar, lalu menatap tiga orang asing seumuran gadis itu. Bahkan tanpa bertanya ia bisa menebak ketiga orang itu adalah teman-temannya.
Ryan menahan senyum tipis, lalu menjawab dengan nada tenang namun tetap sopan, berusaha menyembunyikan keributan yang baru saja terjadi.
"Nona sedang berkumpul dengan tiga orang temannya di halaman belakang, bos. Sejauh ini tidak ada hal yang berbahaya. Hanya ... sedang memperlihatkan sesuatu yang dia buat sendiri."
Di ujung telepon, suara Jeremy terdengar datar namun tetap waspada.
"Sesuatu yang dia buat? Jangan sampai dia membuat kekacauan yang berbahaya. Suruh penjaga di situ tetap awasi dia tapi tidak perlu melarang apa pun yang ingin dia lakukan kalau tidak berbahaya. Kau cepat ambil berkas yang aku minta dan kembali ke sini."
"Siap bos."
Setelah itu panggilan terputus. Claire masih mencak-mencak kesal pada Jeremy.
"Dasar laki-laki dingin!" gerutu Claire sambil melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya tertekuk kesal.
Ryan hanya menggeleng pelan, tidak berani menanggapi terlalu banyak. Ia sudah tahu betul sifat kedua orang ini, Jeremy yang selalu tegas, dingin dan tertutup, sedangkan Claire yang lincah, berani, dan suka melakukan hal bebas yang sulit dikendalikan. Sebagai orang kepercayaan bosnya, ia hanya perlu berada di tengah dan memastikan tidak ada hal yang berbahaya yang dilakukan gadis ini. Kenakalannya yang tadi itu tidak berbahaya, jadi masih bisa ditoleransi meski Ryan sudah kesal sekali tadi.
"Aku pergi dulu nona. Pastikan tidak melakukan hal yang membahayakan diri nona sendiri. Bos sudah berjanji pada orangtua nona untuk menjaga nona."
Claire mendengus keras, tapi akhirnya mengangguk pasrah.
"Baiklah, bang Ryan pergi saja sana. Pergi. Aku mau main sana sahabat-sahabat aku." katanya.
Ryan menatap ketiga orang teman Claire yang berdiri di belakang sana lagi, sebelum pamit pergi dengan rambut yang masih berdiri. Dia pasti sudah lupa masalah rambutnya itu. Setelah kepergian pria itu, rasa kesal Claire perlahan menghilang, tergantikan dengan ide baru yang dia dapat. Tentang pembuatan bom ringan.
"Guys, gue tiba-tiba dapat ilham!" Serunya berlari kembali ke teman-temannya.
Matanya berbinar terang seolah baru menemukan harta karun, membuat Kean, Kiara, dan Lordan menoleh serentak dengan ekspresi campuran antara penasaran dan waspada. Soalnya idenya sahabat mereka itu banyak yang aneh-aneh.
"Ilham apaan?"
"Gue mau coba bikin bom ringan. Ledakin kantor polisi yang kemaren nangkap bapak-bapak yang gak bersalah itu."
Tuhkan bener idenya aneh lagi.
"Claire, gak usah aneh-aneh. Bom itu bahaya loh."
"Tapi bapaknya di tuduh sampai stres berat, serangan jantung dan meninggal. Mana dari pihak kantor polisi daerah itu sama sekali gak ada yang minta maaf sama keluarganya. Kan kita pernah jadi saksinya si bapak emang nggak nyolong, tapi suara kita nggak di dengar pula. Malah di ancam balik sama pihak mereka. Pokoknya gue dendam."
"Gue setuju." Kean angkat suara setuju dengan Claire. Dia masih sakit hati mengingat kejadian itu. bagaimana keadilan seolah dibeli dengan kekuasaan dan uang, sehingga orang yang lemah hanya bisa menelan kenyataan pahit sampai akhir hayatnya.
Lordan segera bersuara.
"Gue juga setuju. Tapi kita bikin bom yang ringan-ringan aja. Jangan sampai ada yang jadi korban. Kita bom-nya bagian halaman di kantor polisi saja kalau mau balas dendam. Biarin mereka pusing dengan asap dan suara ledakannya saja, bukan menghancurkan gedung atau melukai orang. Tujuannya hanya memberi peringatan keras."
"Betul, gue juga setuju kalau kayak gitu. Terus kita tinggalin catatan yang di tulis harus adil dan nggak usah banyak tingkah kalau jadi polisi. From: tangan kanannya wakil presiden." tambah Kiara polos. Kepalanya langsung dapat jitakan kecil dari Kean.
"Bukan kayak gitu ceritanya dodol, itu namanya lo bikin papanya Claire dalam masalah besar."
Kiara hanya menyengir.
"Oh, iya yah."
Lordan hanya tersenyum. Dan Claire, tentu dia setuju dengan rencana teman-temannya.
"Kalo gitu, habis markas kita selesai dibangun, misi kita bikin bom di mulai." katanya.
Semuanya mengangguk kompak. Claire tampak puas sekali. Di otaknya dia sudah mulai merancang apa saja yang akan dia butuhkan nanti. Setidaknya, dendamnya pada polisi bisa tersalurkan.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣