Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Umpan yang Mulai Dimakan
Lampu kristal di aula utama kediaman Duke Killian memantulkan cahaya temaram yang berkilau di atas lantai marmer hitam. Elena duduk dengan tenang di sofa beludru, jemarinya yang lentik perlahan menyesap teh kamomil hangat. Di seberangnya, sang pemilik kastil—Duke Killian, pria misterius berkulit pucat dengan reputasi tirani berdarah dingin—sedang membaca setumpuk dokumen rahasia yang baru saja Elena serahkan.
Suasana hening melingkupi ruangan itu, hanya menyisakan detak jarum jam dinding kuno dan gemerisik kertas yang dibalik. Tatapan Killian yang setajam elang sesekali melirik ke arah Elena. Pria itu masih merasa heran bagaimana seorang wanita yang dulunya dikenal sangat naif, lemah lembut, dan rela mengorbankan segalanya demi Gavin, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu dingin, penuh perhitungan, dan berbahaya.
"Kau yakin dengan informasi ini, Nona Elena?" Killian memecah keheningan. Suaranya berat dan berwibawa, sanggup membuat bulu kuduk pelayan mana pun meremang. Namun, Elena bahkan tidak berkedip.
Elena meletakkan cangkir tehnya perlahan tanpa menimbulkan suara sekecil pun. "Saya tidak pernah bermain-main dengan aliansi kita, Yang Mulia Duke. Tiga hari dari sekarang, Gavin akan melakukan transaksi pasokan senjata ilegal dengan para pemberontak dari wilayah barat di pelabuhan tua. Dia menggunakan nama samaran dan jalur rahasia kekaisaran yang ia curi dari pengaruh keluarga saya dulu."
Kilatan kemarahan sempat melintas di mata Elena saat menyebut nama 'Gavin'. Ingatan tentang kematian tragis putranya dan rasa sakit saat tubuhnya terbakar hidup-hidup di sel bawah tanah di kehidupan pertamanya masih terasa begitu nyata. Napasnya sempat memburu, namun dengan cepat ia menguasai diri. Di kehidupan kedua ini, ia telah bersumpah untuk menyeret Gavin dan sekutunya ke neraka terdalam.
Killian menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetuk-ngetukkan jemarinya yang panjang di atas meja kayu ek. "Gavin sangat berhati-hati. Jika ini adalah jebakan untuk memancingku bergerak dan menuduhku melakukan makar, kau tahu apa konsekuensinya bagimu, bukan?"
Elena tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Jika saya ingin mengkhianati Anda, saya tidak akan repot-repot menyerahkan peta rute pelarian terdekat mereka. Target utama saya adalah kehancuran Gavin. Kehancuran yang mutlak. Dan untuk mencapainya, saya membutuhkan kekuatan militer rahasia milik Anda untuk mengepung mereka tanpa menyisakan satu celah pun."
Killian menatap wanita di depannya dengan ketertarikan yang semakin dalam. Tirani berdarah dingin itu jarang mempercayai orang lain, namun kecerdasan dan keberanian Elena perlahan-lahan mulai meruntuhkan tembok pertahanannya. "Baiklah. Aku akan mengirim pasukan bayangan terbaikku. Kita akan menangkap basah tikus kekaisaran itu di dermaga."
Sementara itu, di sebuah paviliun mewah yang terletak di pinggiran ibu kota, Gavin sedang berdiri menghadap jendela besar yang mengarah ke taman bunga. Wajahnya yang tampan tampak tegang. Di pelukannya, ada sebilah gaun satin merah muda yang dikenakan oleh seorang wanita berambut ikal kecokelatan. Wanita itu adalah Rachel, adik tiri Elena.
"Gavin, sayang... apakah rencana ini aman?" Rachel berbisik dengan suara manja, menyandarkan kepalanya di dada Gavin. "Aku selalu merasa cemas sejak Elena berubah menjadi sangat dingin. Dia tidak lagi memedulikan penjelasanku, bahkan mengabaikan ayah saat makan malam keluarga."
Gavin mengusap rambut Rachel mencoba menenangkan, meski pikirannya sendiri sedang berkecamuk. "Jangan khawatir, Rachel-ku. Elena hanyalah wanita bodoh yang sedang mencoba mencari perhatian. Dia mengira dengan bersikap sombong bisa membuatku berlutut memohon cintanya kembali. Transaksi senjata besok di pelabuhan tua akan menjadi batu loncatan terakhirku. Begitu aku mendapatkan takhta kekaisaran, Elena dan seluruh keluarganya tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk menentang kita."
Rachel tersenyum penuh kemenangan di balik dada Gavin. Perasaan cemburu dan dendam yang ia pendam sejak kecil terhadap Elena sebagai anak kandung yang sah akan segera terbayar lunas. Dia membayangkan hari di mana Elena akan bersujud di kakinya, memohon ampunan.
Gavin tidak pernah tahu bahwa 'wanita bodoh' yang ia remehkan itu sebenarnya sedang memegang tali kekang yang siap menjerat lehernya kapan saja.
Malam pelaksaan transaksi pun tiba. Pelabuhan tua ibu kota tertutup oleh kabut tebal yang dingin. Suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal tua berpadu dengan hembusan angin malam yang mencekam.
Gavin turun dari kereta kudanya yang tidak berlambang, mengenakan jubah hitam tebal untuk menyembunyikan identitasnya. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi yang setia mengikutinya dengan waspada. Di dermaga nomor empat, beberapa peti kayu besar sudah diturunkan dari kapal dagang asing.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian khas saudagar wilayah barat mendekati Gavin. "Apakah Anda membawa emas yang dijanjikan, Tuan?"
Gavin memberi isyarat kepada pengawalnya, yang kemudian membuka sebuah koper besi berisi batangan emas murni berlogo kekaisaran. "Ini bayaranmu. Sekarang, pastikan semua senjata ini memiliki kualitas terbaik untuk pasukan kita."
Saudagar itu tertawa puas dan mulai memeriksa emas tersebut. Namun, sebelum transaksi itu benar-benar selesai, suara langkah kaki kuda yang teratur memecah keheningan malam dari arah kegelapan pelabuhan. Bukan hanya satu atau dua, melainkan puluhan langkah kaki yang mengepung area dermaga dengan sangat cepat.
"Siapa di sana?!" teriak Gavin panik, tangannya langsung menghunus pedang dari pinggangnya.
Dari balik kabut, muncullah barisan ksatria berbaju zirah hitam legam—Pasukan Bayangan milik Duke Killian. Mereka bergerak dengan efisiensi yang mematikan, langsung menodongkan busur panah dan tombak ke arah kelompok Gavin dan para penyelundup.
Gavin terkesiap, wajahnya seketika memucat. Bagaimana bisa pasukan Duke Killian mengetahui lokasi rahasia ini? Rencana ini hanya diketahui oleh dirinya, Rachel, dan beberapa orang kepercayaan!
Di tengah kepanikan itu, sebuah kereta kuda mewah berlambang kepala serigala perak—lambang kediaman Duke—berhenti tepat di depan lingkaran kepungan. Pintu kereta terbuka, dan seorang pria dengan aura intimidasi yang luar biasa keluar terlebih dahulu. Duke Killian.
Namun, yang membuat jantung Gavin seolah berhenti berdetak adalah sosok wanita yang keluar setelah Killian. Wanita itu mengenakan gaun beludru biru tua yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta kini menatap Gavin dengan tatapan kosong, dingin, dan penuh kejutan kebencian yang mendalam.
"Elena...?" bisik Gavin tidak percaya. "Kau... apa yang kau lakukan di sini bersama Duke?!"
Elena berjalan maju beberapa langkah, berdiri dengan anggun di samping Killian. Angin malam menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya, membuatnya tampak seperti dewi kematian yang datang menjemput kutukan.
"Senang melihatmu di sini, suamiku tersayang... atau haruskah aku memanggilmu penyelundup ilegal?" suara Elena terdengar sangat merdu namun begitu menusuk kalbu.
"Elena! Apa kau sudah gila?! Aku ini tunanganmu! Beraninya kau menjebakku dan membawa musuh kekaisaran ke sini!" teriak Gavin mencoba mengintimidasi, menyembunyikan rasa takutnya yang amat sangat.
Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar mengerikan di tengah dermaga yang sunyi. "Tunangan? Ah, ingatanmu sungguh pendek, Gavin. Hubungan kita sudah berakhir sejak kau memutuskan untuk menyentuh adik tiriku yang tak tahu malu itu. Dan mengenai makar... bukankah kau sendiri yang sedang menggalang kekuatan ilegal untuk menggulingkan Kaisar saat ini?"
Killian maju selangkah, menatap Gavin seolah melihat seekor serangga yang menjijikkan. "Tangkap mereka semua. Jika ada yang melawan, eksekusi di tempat."
"Baik, Yang Mulia!" seru para ksatria serentak.
Pertempuran singkat namun sepihak pun terjadi. Pengawal Gavin yang kalah jumlah dan posisi langsung dilumpuhkan dalam hitungan menit. Saudagar dari wilayah barat langsung berlutut memohon ampun, sementara Gavin dipaksa berlutut di atas tanah dermaga yang dingin dan kotor akibat hantaman dari ksatria Killian. Pedangnya terlempar jauh ke dalam laut.
Gavin mendongak dengan napas terengah-engah, menatap Elena yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Elena... tolong aku... ini semua demi masa depan kita... aku dipaksa oleh ayahmu dan Rachel!" Gavin mulai memohon secara menjijikkan, mencoba memanfaatkan kenaifan Elena yang ia ketahui dulu.
Elena berlutut sedikit, menyamakan tingginya dengan Gavin yang bersujud. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Gavin dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pria itu.
"Di kehidupan pertamanya, Elena yang naif memang akan percaya padamu, Gavin. Dia akan mati terbakar demi kebahagiaanmu. Tapi Elena yang ada di depanmu saat ini... adalah Elena yang merangkak keluar dari api neraka bawah tanah untuk membalaskan kematian putranya."
Mata Gavin membelalak lebar mendengar bisikan aneh tersebut. Kehidupan pertama? Kematian putra? Apa yang dibicarakan wanita ini? Sebelum Gavin sempat mencerna kata-kata itu, Elena sudah berdiri kembali dan berbalik memunggungi Gavin tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah kediaman Duke. Pastikan dia mendapatkan perawatan 'terbaik' sebelum kita menyerahkannya ke pengadilan kekaisaran minggu depan," perintah Killian dingin kepada bawahannya.
Saat Gavin diseret pergi sambil berteriak memaki, Elena menatap hamparan laut malam yang luas. Angin dingin bertiup kencang, namun hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ini barulah langkah awal dari permainan balas dendamnya. Gavin sudah masuk ke dalam perangkap, dan selanjutnya, giliran Rachel dan seluruh keluarga tirinya yang akan merasakan penderitaan yang sama.
Killian mendekati Elena, menyelimutkan jubah bulunya ke bahu Elena yang tampak bergetar akibat hawa dingin. "Kau melakukannya dengan baik, Elena. Langkah pertama kita sukses besar."
Elena menoleh ke arah Killian, menatap pria tirani yang kini menjadi satu-satunya sekutu terkuatnya. "Ini baru permulaan, Yang Mulia Duke. Neraka sesungguhnya untuk mereka belum dimulai."