Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
Sementara itu di rumah Nabila, wanita itu masih memikirkan kejadian yang terjadi di mall beberapa hari lalu. Saat Raka pergi ke rumah Aisyah, ia sempat berharap Raka akan pulang dengan membawa kabar bahwa Aisyah mengembalikan semua akses keuangan yang dibekukannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Raka pulang dengan wajah kusut dan sampai sekarang masalah itu belum juga selesai.
Bukan hanya itu, Nabila juga mulai merasa kesal karena setiap kali berhadapan dengan Aisyah, Raka selalu melempem. Pria itu memang marah, tetapi pada akhirnya tetap tidak mampu membuat Aisyah tunduk seperti yang ia harapkan.
“Dasar laki-laki lembek!” cibir Nabila dengan kesal.
Hari itu ketika Raka hendak berangkat ke toko, Nabila tiba-tiba menghampirinya. “Aku ikut.”
Raka yang sedang memasukkan dompet ke dalam saku celana langsung menoleh. “Ikut ke mana?”
“Ya ikut ke toko dong, Mas,” jawab Nabila merengek.
Raka menatapnya dengan mata menyipit. “Mau ngapain kamu ke sana?”
“Aku bosan di rumah sendirian.” Nabila meraih lengan suaminya sambil memasang wajah manja. “Aku juga ingin berkenalan dengan semua karyawan kamu, Mas. Selama ini kalau aku ke sana, palingan cuma ngantar makanan aja. Aku kan juga ingin Mereka melihat aku sebagai istri kamu.”
Raka tampak ragu karena jika Nabila ikut, kemungkinan besar akan ada masalah. Namun wanita itu terus mendesak sampai akhirnya ia tidak memiliki alasan untuk menolak.
“Baiklah,” jawab Raka akhirnya. Dalam hatinya ia berharap hari ini Aisyah tidak datang ke toko atau restoran.
Nabila langsung tersenyum puas mendengar jawaban itu. Wanita itu pun segera mengambil tas dan ponselnya yang ada dalam kamar.
*
Sesampainya di toko, Raka langsung masuk ke ruangannya untuk memeriksa beberapa laporan. Sementara Nabila yang semula mengatakan ingin melihat-lihat justru keluar melalui pintu samping dan berjalan menuju restoran yang letaknya bersebelahan dengan toko. Ia tahu Aisyah sering berada di sana.
Begitu masuk, Nabila langsung menemukan wanita itu yang sedang memeriksa beberapa catatan bersama salah seorang karyawan. Tanpa basa-basi, Nabila menghampiri mereka dengan wajah penuh amarah.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri, ya!” seru Nabila sambil bersedekap dengan pongah. Dadanya membusung ke depan, dan wajahnya yang sengaja ia angkat tinggi terlihat begitu angkuh.
Beberapa karyawan yang mendengar suara keras dari Nabila spontan menoleh lalu secara serempak saling pandang dengan teman di sebelahnya.
Aisyah mengangkat wajah dengan tenang. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut melihat kedatangan Nabila. “Ada apa?”
“Masih tanya ada apa?” Nabila mendengus. “Kamu pikir semua harta ini milikmu? Toko ini, restoran ini, rumah yang kamu tempati, semuanya itu milik Raka!”
Aisyah menutup buku catatan di tangannya sebelum berdiri. “Terus hubungannya sama kamu apa?”
Nabila semakin tersulut. “Kamu itu dulunya hanya perempuan miskin. Seharusnya kamu berterima kasih karena Mas Raka mengambilmu sebagai istri. Kalau tidak sampai sekarang kamu masih tinggal di rumah ibumu yang reot.”
Aisyah tersenyum tipis mendengar segala ocehan Nabila. “Memangnya kamu dulunya anak orang kaya? Bukannya kamu juga dari keluarga miskin ya? Itu kan alasannya makanya kamu selalu mencari suami kaya? Oh iya… mana suami kamu yang katanya tajir melintir itu?”
“Kamu!” Nabila menuding ke arah Aisyah dengan wajah yang merah padam karena Aisyah mengungkit masa lalunya.
Melihat Nabila yang tak bisa membantah, Aisyah melanjutkan dengan suara yang tetap tenang. “Aku memang miskin tapi aku bukan wanita yang hanya duduk ongkang-ongkang kaki.
“Selama lima belas tahun aku membantu mengurus rumah, mendukungnya ketika kami masih di titik nol hingga bisa jadi toko dan restoran besar seperti sekarang. Jadi wajar dong, kalau aku mempertahankan sesuatu yang dibangun dengan perjuanganku.”
“Kamu cuma ibu rumah tangga!” bentak Nabila. “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?”
Beberapa karyawan mulai saling pandang.
Aisyah tidak terpancing. Wanita itu malah memindai penampilan Nabila dari atas sampai bawah. “Terus kamu? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan selain merayu dan mengangkang?”
Wajah Nabila semakin merah padam karena merasa dikupas tuntas. Tapi ia tidak mau mengalah. “Pokoknya semua itu adalah milik Raka. Kamu tidak berhak menguasai semua hanya karena kamu istri pertama.”
Aisyah menatap wanita itu beberapa saat sebelum berkata, “Kalau aku tidak berhak, siapa yang berhak? Kamu?” Aisyah tertawa tergelak. "Oh... Pantes aja baru jadi istri, malah sejak belum jadi istri kamu sudah minta dibeliin ini itu!"
“Aku bukan orang seperti itu!” pekik Nabila dengan tangan terkepal.
“Benarkah?” Tatapan Aisyah berubah sedikit lebih tajam. “Terus kenapa baru datang berapa bulan, bukan bantu cari uang, malah minta ini itu? Kemarin gagal belanja, ya? Kasihan…?” Aisyah berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nabila menatap Aisyah dengan dada turun naik dan bibir bergetar menahan amarah. Kedua tangannya terkepal erat di samping badan. Dan kalimat berikutnya dari Aisyah membuatnya semakin emosi.
“Kok aku jadi curiga ya?” Aisyah melangkah mendekat, menatap Nabila dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya.
“Jangan-jangan kamu bercerai dengan suamimu dulu bukan karena kamu mengalami KDRT. Jangan-jangan suamimu yang menceraikan kamu karena kamu terlalu matre!”
Wajah Nabila seketika berubah. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar tanpa satu pun kata yang keluar.
Aisyah yang melihat reaksi Nabila seperti itu menjadi curiga bahwa apa yang baru saja Ia juga secara asal itu adalah benar.
“Kamu…” Nabila menunjuk Aisyah dengan tangan gemetar. “Jangan sembarangan menuduh!”
Aisyah terkekeh. “Kenapa? Apa tebakanku benar?”
Beberapa karyawan yang sejak tadi diam mulai berbisik.
“Pantesan dia juga mendekati Pak Raka. Padahal tahu kalau Pak Raka adalah suami bu Aisyah. Berarti memang benar cuma mengincar harta.”
“Iya benar. Dari dulu kalau datang ke restoran atau ke toko cuma mepet-mepet Pak Raka aja.”
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di telinga Nabila membuat wajahnya semakin merah. Padahal Ia datang untuk menggertak Aisyah. Tapi kenapa Aisyah yang selama ini selalu lemah lembut dan mengalah padanya, kini sikapnya berubah seperti itu? para karyawan, Kenapa mereka justru berdiri di pihak Aisyah padahal mereka tahu bahwa dirinya adalah kesayangan Raka.
Amarah Nabila semakin memuncak. Ia merasa dipermalukan di depan semua orang, terlebih lagi karena Aisyah tetap berdiri tenang sementara dirinya terlihat seperti orang yang sedang memperebutkan harta.
Tidak! Ia tidak boleh kalah. Jika Aisyah ingin menggunakan para karyawan untuk melawannya, maka ia akan menggunakan Raka.
Nabila menarik napas dalam-dalam. Tatapannya berubah dalam sekejap. Yang tadinya begitu garang, kini memasang wajah memelas.
Kemudian wanita itu maksud selangkah untuk lebih dekat dengan Aisyah. “Aku cuma ingin bicara baik-baik… Aku sedang hamil, di dalam perutku ada anak Raka. Kenapa kamu tidak bisa mengerti?”
Aisyah mengerutkan kening melibat perubahan sikap Nabila yang begitu drastis. Hingga kemudian Nabila meraih tangan Aisyah dan sedetik kemudian.
Bruk!
“Nabila?!”