Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Perjalanan di Mulai
"... Pemandangan seperti ini mah sudah biasa bagiku!" cetus Sandra memecah keheningan, tampak bosan.
"Tunggu sampai kita menginjakkan kaki di perbatasan antara Istarloth dan Greenwood," balasku santai, mencoba mengusir rasa jenuhnya.
"Hah... Aku malah berharap ada rombongan bandit yang nekat menyerang kita!"
"Ohoi!" bentakku refleks. "Lalu siapa yang bakal repot-repot membereskan mereka nanti, hah?!"
"Iya, iya... Kau kan yang paling hebat di party ini!" cibirnya menjulurkan lidah.
Matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. Kereta kuda yang kami tumpangi terus melaju perlahan, meninggalkan Kota Lorenso jauh di belakang—kota yang kini hanya tampak seperti kerlap-kerlip cahaya lilin dan lentera dari kejauhan. Steven menyalakan sebuah lentera minyak lalu menggantungnya di tengah kabin, memberikan pendar cahaya remang-remang di dalam ruangan yang cukup pengap itu.
"Lyan, bisa kau jelaskan detail rincian permintaan dari orang anonim itu?" tanya Steven tiba-tiba, menatapku lekat. "Maksudku, pemandangan atau catatan spesifik seperti apa yang sebenarnya dia butuhkan?"
"Hmm..." Aku terdiam sejenak, memutar otak mencari alasan yang masuk akal. "Dia... minta kita mencatat kondisi kehidupan sosial masyarakat di sepanjang jalur yang kita lalui. Saudagar ini butuh pemahaman mendalam tentang lanskap dan iklim sosial daerah setempat agar ekspansi bisnisnya tidak salah langkah."
"Saudagar, ya?" gumam Steven manggut-manggut.
"Semuanya, dengar!" teriak sang kusir tiba-tiba dari kursi depan. "Kita berhenti dan beristirahat dulu di sini!"
"Baik, Pak!" sahut kami bertiga.
Sang kusir menarik tali pengekang kuat-kuat. Kuda-kuda penarik berhenti perlahan, membawa kereta kami berhenti di tengah area terbuka yang sunyi. Kusir menyuruh kami bertiga untuk beristirahat di dalam kereta, sementara ia dan kuda-kudanya berjalan sedikit ke arah danau tak jauh dari sana untuk mencari pasokan air minum. Bersamaan dengan itu, Steven yang sudah tak sanggup menahan kantuk mulai menguap lebar.
"Hari ini benar-benar ditutup dengan sangat membosankan..." gumam Sandra pelan. Tak lama kemudian, matanya terpejam dan kepalanya terkulai, bersandar pasrah di bahu Steven.
Sementara mereka berdua tertidur lelap, aku berusaha memejamkan mata. Tapi usahaku selalu gagal akibat mendengar dengungan aneh yang bersumber dari luar kereta.
"Suara apa lagi itu?!" gerutuku kesal.
Dengan gusar, aku melangkah turun dari kabin. Saat mengedarkan pandangan, tak ada hal mencurigakan yang terlihat selain jajaran pohon menjulang tinggi yang memblokir pendar cahaya bulan. Begitu aku berniat balik badan untuk kembali masuk, bisikan misterius itu terdengar lagi. Tanpa membuang waktu, aku mengangkat telapak tangan, bersiap merapal mantra.
"Siapa di sana?!" teriakku, memecah keheningan malam. "Tunjukkan dirimu, atau kulenyapkan kau dengan Fire Ball!"
Hening. Karena tidak ada sahutan, aku memutuskan mengurungkan niat dan berbalik arah. Tepat pada saat itu, semak-semak di samping roda kereta mendadak bergoyang hebat. Aku segera mengibaskan tangan seraya merapal sihir angin, menghempaskan rerimbunan rumput tersebut hingga tersingkap.
Di balik semak-semak itu, tampak seorang pria tua yang sedang mabuk berat tengah mengulur waktu sambil mengalunkan indigo mengelilingi.
"… Rupanya kau yang dari tadi mengganggu tidurku!" pekikku gusar.
"Hei... Bocah, untuk apa kau mengurusiku... Hehehehe..." igau pria tua itu terkekeh sembarangan.
"Fire Ball!"
Bola api yang membara langsung terwujud di atas telapak tanganku. Sebelum sempat melemparnya, si kakek tua itu sudah terbirit-birit melarikan diri menembus kegelapan malam. Meski amarahku masih membumbung, aku akhirnya memilih untuk pasrah dan mengakhiri malam ini dengan tidur.
Keesokan harinya, Sandra yang terbangun lebih awal menyadari aku masih terlelap. Tanpa rasa bersalah, ia menyibak rambutku dengan kasar.
"... Bangun! Sudah pagi!" serunya kasar.
Perjalanan kami pun berlanjut. Sang kusir tampak baru saja kembali bersama kuda-kudanya.
"Wah, kalian sudah pada bangun? Pagi sekali!" sapanya ramah sembari memasang kembali tali pengekang. "Hahaha... Semalam menyenangkan sekali! Ada desa kecil tak jauh dari sini yang sedang menggelar pesta, jadi aku sempat ikut minum-minum di sana!"
Oh... Jadi pria tua menyebalkan semalam berasal dari desa itu...
"Aku tidak akan memaafkan mereka…" gumamku lirih seraya mengepalkan tangan.
"Ada apa, Lyan?" tanya Steven yang mendengar samar-samar gumamanku.
"Tidak ada apa-apa," balasku, menyunggingkan senyum tipis.
"Nah, kalau begitu ayo kita berangkat lagi! Sebentar lagi kita akan tiba di perbatasan Greenwood," seru sang kusir, memecah suasana. "Kuharap kalian tidak melewatkan kesempatan untuk melihat keindahan hutan asri di sana!"
Ia menyabetkan cambuknya pelan, membuat kereta kuda kami kembali melaju…
BersambunG...