NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Langkah Pertama Sang Ratu

“Tiga yayasan. Empat transfer. Satu sertifikat yang tidak pernah terdaftar.”

Sisi menggeser tiga berkas ke hadapan Anindya di ruang rapat Klub Enggar. Sebulan telah berlalu sejak talak. Bekas pucat di jari manis Anindya mulai menghilang, tetapi daftar nama di mejanya terus bertambah.

Enggar berdiri di dekat layar. “Amara mengumpulkan donasi atas nama program pendidikan anak awak kabin. Sebagian uang masuk ke rekening penyelenggara acara pindahan apartemennya.”

“Buktinya?”

“Rekening tujuan, invoice vendor, dan percakapan dengan bendahara yayasan.” Sisi membuka gambar sertifikat berbingkai emas. “Dokumen ini dipakai Amara untuk mengaku sebagai donatur utama. Nomor registrasinya milik kegiatan lain.”

“Apakah anak-anak menerima dana?”

“Hanya dua puluh persen.”

Anindya menutup berkas. “Kembalikan kekurangannya secara anonim. Jangan biarkan anak-anak menunggu karena kita sedang mengumpulkan bukti.”

Enggar mengangguk. “Lalu Amara?”

“Dia sendiri yang akan menunjukkan kebohongannya.”

Sore itu, sebuah hotel di Jakarta mengadakan acara apresiasi untuk program pendidikan keluarga pekerja penerbangan. Anindya datang dengan seragam karena baru selesai menjalani pemeriksaan simulator. Ia tidak duduk di meja utama. Ia memilih kursi dekat pintu bersama beberapa kru Adiwijaya.

Amara berada di atas panggung.

Gaun birunya berkilau di bawah lampu. Di belakangnya, layar besar menampilkan foto dirinya menyerahkan kotak bantuan kepada anak-anak. Pembawa acara menyebutnya pramugari muda berhati mulia dan calon anggota keluarga Adiwijaya.

“Saya cuma ingin berbagi,” ujar Amara ke mikrofon. “Bagi saya, senyum anak-anak lebih penting daripada angka.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Seorang panitia membawa sertifikat berbingkai yang sama seperti di foto Sisi. Amara mengangkatnya tinggi-tinggi, memastikan kamera infotainment mendapatkan sudut terbaik.

“Sertifikat itu nomor registrasinya berapa?”

Suara Anindya tidak keras, tetapi mikrofon nirkabel seorang reporter di meja sebelah menangkapnya.

Amara memicingkan mata ke arah hadirin. “Kak Anindya? Aku enggak tahu kamu datang.”

“Saya juga baru tahu sertifikat program pendidikan tahun ini memakai nomor program bantuan bencana dua tahun lalu.”

Tepuk tangan berhenti.

Ketua panitia mengambil bingkai itu dari tangan Amara dan memeriksa bagian bawahnya. “Nomornya memang diawali kode bencana.”

“Mungkin percetakannya salah,” kata Amara cepat.

“Bisa jadi.” Anindya berdiri. “Karena itu lebih baik periksa juga rekening donasi. Vendor pesta apartemen pasti punya penjelasan mengapa menerima dana pendidikan.”

Beberapa kamera langsung beralih kepada Amara.

“Apa maksudnya dana program dipakai untuk pesta?” tanya seorang reporter.

“Berapa jumlah yang diterima anak-anak?” sahut yang lain.

“Ini fitnah!” Suara Amara meninggi sebelum ia ingat sedang disorot. Ia menarik napas dan memaksakan senyum. “Kakakku sedang terluka karena masalah pribadi. Tolong jangan salahkan dia.”

“Masalah pribadi tidak mengubah nomor rekening.”

Ketua panitia meminta staf keuangan membuka dashboard donasi di laptop. Sambungan layar panggung belum dimatikan. Dalam hitungan detik, angka penerimaan dan penyaluran tampil di belakang Amara.

“Dana masuk tiga ratus delapan puluh juta,” baca ketua panitia. “Yang disalurkan baru tujuh puluh enam juta.”

Ruangan bergemuruh.

Amara turun satu anak tangga dari panggung. “Saya tidak mengurus transfer. Asisten saya yang menangani semuanya.”

“Nama Anda tercantum sebagai penanggung jawab,” kata staf keuangan.

“Aku cuma meminjamkan nama supaya donaturnya banyak!”

“Lalu mengapa invoice dekorasi apartemen memakai alamat surel Anda?”

Amara membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar. Seorang tamu yang tadi bertepuk tangan meletakkan brosur program ke meja dan pergi. Dua pramugari Adiwijaya di barisan belakang saling berbisik sambil memandang pin nama Amara.

“Audit independen dimulai malam ini,” putus ketua panitia. “Sampai selesai, Nona Amara tidak lagi mewakili program kami.”

Anindya mengambil tasnya. Ia tidak menjelaskan siapa yang memberinya data dan tidak mengaku sebagai penyumbang anonim yang baru menutup kekurangan dana. Ia hanya meninggalkan ruangan ketika panitia mulai meminta laporan keuangan.

Di belakangnya, suara para reporter saling menimpa.

“Nona Amara, apakah keluarga Adiwijaya mengetahui ini?”

“Apakah status calon menantu konglomerat dipakai untuk mencari donasi?”

“Tolong jawab soal invoice pesta!”

Amara berdiri di atas panggung dengan sertifikat palsu di tangannya. Untuk pertama kali, gelar calon nyonya Adiwijaya tidak terdengar seperti mahkota. Gelar itu menjadi alasan semua kamera menolak pergi.

Malam turun ketika Amara memasuki tangga belakang rumah Wicaksana.

Ia masih mengenakan gaun biru, tetapi riasannya telah dihapus kasar. Di sudut gelap dekat gudang, seorang laki-laki menunggunya sambil meremas topi.

“Saya tidak bisa masuk lagi, Bu. Kunci gudang lama dipegang Pak Bramantya.”

Amara menunjukkan foto seorang perempuan tua di ranjang rumah sakit. “Ibumu masih menunggu biaya obat besok pagi, kan?”

Wajah laki-laki itu berubah. “Anda bilang akan membantu.”

“Dan aku akan membantu kalau kamu membawa suratnya.”

“Surat apa sebenarnya?”

“Amplop cokelat dengan tulisan tangan Laras. Ada nama keluarga Adiwijaya di depannya.” Amara mendekat. “Ambil surat itu, atau rumah sakit tidak menerima satu rupiah pun dariku.”

“Kalau cuma surat lama, kenapa harus dicuri malam-malam?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Saya bisa meminta Pak Bramantya membukakan gudang.”

Amara mengangkat ponselnya dan memperlihatkan pesan dari bagian administrasi rumah sakit. Batas pembayaran tertera pukul sembilan esok pagi.

“Silakan. Tapi sebelum Pak Bramantya selesai bertanya, ibumu sudah dipindahkan dari kamar perawatan.”

“Jangan libatkan ibu saya.”

“Kamu yang melibatkannya saat meminta uang.”

Laki-laki itu memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, ia menerima kunci duplikat dari tangan Amara.

Menjelang tengah malam, surat Laras berpindah dari kotak arsip berdebu ke brankas pribadi Amara. Tak seorang pun melihat ketika pintu baja itu menutup.

Di tempat lain, Anindya menerima panggilan dari Enggar saat sedang membersihkan seragamnya di kontrakan.

“Video acara tadi sudah menyebar, Bos. Panitia membekukan posisi Amara sebagai duta program sampai audit selesai.”

“Biarkan audit berjalan. Jangan dorong berita palsu.”

“Dana anonim yang Bos kirim sudah diterima sekolah mitra. Seragam dan biaya semester anak-anak tetap dibayar tepat waktu.”

“Pastikan mereka tidak ikut terseret kamera.”

“Sudah. Tim legal panitia juga meminta salinan invoice. Kami hanya menyerahkan dokumen yang sumbernya bisa dipertanggungjawabkan.”

“Ada kabar lain dari Adiwijaya Airlines. Basarnas meminta dukungan udara untuk bencana banjir bandang di sekitar lereng Merapi. Kapten Arkana mendaftar memimpin salah satu penerbangan bantuan.”

Tangan Anindya berhenti di atas kain seragam.

“Kapan berangkat?”

“Besok sebelum subuh. Kru cadangan sedang dipanggil.”

Ponsel kerja Anindya langsung bergetar. Aplikasi penjadwalan menampilkan pemberitahuan merah dengan label operasi darurat.

Ia membukanya.

FIRST OFFICER: ANINDYA WICAKSANA

CAPTAIN: ARKANA ADIWIJAYA

Enggar masih menunggu di ujung telepon.

“Bos?”

Anindya menggantung seragamnya agar kering, lalu mengambil flight bag dari lemari.

“Siapkan kendaraan. Besok saya terbang ke Merapi bersama Kapten Arkana.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!