Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bayang-Bayang Keterikatan
Ethan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size di dalam kamar mewahnya. Jemarinya melonggarkan dasi yang terasa makin mencekik, lalu melemparkannya sembarangan ke atas meja samping tempat tidur.
Ruangan itu amat luas, megah, dan dingin. Sangat bertolak belakang dengan rumah kontrakan bercat putih pudar yang baru saja ia lihat.
Ia mengangkat tangan, menutup kedua matanya dengan lengan baju yang tersingsing. Bayangan sore tadi terus berputar tanpa henti di kepalanya, bagaimana mobilnya melaju perlahan mengikut langkah Mia, ketakutannya saat tetangga sekitar mulai curiga, hingga keputusan impulsifnya untuk menancap gas dan pergi tepat sebelum Mia melihatnya.
“Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?” gumam Ethan pada langit-langit kamar yang sunyi. Suaranya serak, sarat akan keraguan.
Ia merasa heran dengan perilakunya belakangan. Seorang Ethan, sosok yang biasa dikejar-kejar oleh jutaan penggemar dan lampu kilat kamera, kini justru merendahkan dirinya hingga harus membuntuti seorang wanita secara diam-diam bagai seorang penguntit.
Rasa penasaran itu terus menggerogoti dadanya.
Kapan Mia mulai menyukai berjalan kaki di bawah sinar matahari sore?
Sejak kapan wanita itu tampak begitu cocok dengan kesederhanaan yang asing baginya?
Ketenangan yang terpancar dari wajah Mia tadi sore terasa begitu nyata, namun sekaligus membuatnya merasa makin terasing.
Ponselnya di atas meja bergetar berulang kali, memancarkan cahaya terang yang menampilkan nama manajernya di layar. Namun ia membiarkannya begitu saja. Ia malah menutup matanya rapat-rapat, membiarkan rasa lelah dan rasa bersalah membelit hatinya dalam kegelapan kamar yang sunyi.
Namun keheningannya tiba-tiba terganggu. Ia tersentak kaget saat suara engsel pintu yang berderit memecah kesunyian kamar. Ia langsung menegakkan posisinya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jane melangkah masuk dengan santai, mengabaikan batas privasi yang ia terapkan di rumahnya.
“Jane? Apa yang kamu lakukan di kamarku? Siapa yang mengijinkanmu masuk?” tanyanya heran.
Namun, belum sempat ia menyuarakan kekesalannya, Jane sudah berjalan mendekat. Dengan gerakan manja yang biasa ditampilkan di depan media, Jane tanpa ragu mendudukkan diri di atas pangkuannya.
Tangan wanita itu melingkar halus di lehernya, membawa aroma parfum menyengat yang seketika memenuhi indra penciumannya.
“Kamu dari mana saja, Ethan? Pesanku tidak pernah kamu balas. Bahkan telepon dari manajer juga kamu abaikan,” tuntut Jane dengan suara serak yang dibuat-buat, jemarinya bergerak lembut mengelus rahang Ethan, mencoba memancing gairah pria itu.
“Aku merindukanmu, Ethan.”
Jane memajukan wajahnya, berniat mendaratkan ciuman mesra di bibir Ethan untuk mengajak pria itu berbuat lebih jauh malam ini.
Namun, bayang wajah Mia yang tenang di bawah sinar matahari sore tadi mendadak terlintas begitu jelas di pikiran Ethan, membuat sentuhan Jane terasa amat asing dan mengganggu.
Dengan refleks cepat, Ethan memegang kedua bahu Jane dan mendorong tubuh wanita itu menjauh dari pangkuannya.
“Jangan sekarang, Jane,” tegas Ethan dengan suara dingin seraya berdiri dari tempat tidur, menjauhkan jarak di antara mereka.
Jane yang terkejut hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berpijak di lantai. Matanya membelalak tak percaya, menatap Ethan dengan kombinasi rasa terkejut dan amarah yang mulai tersulut.
“Jangan sekarang?” ulang Jane, nadanya berubah penuh intonasi sinis.
“Kamu ke mana saja seharian ini, Ethan? Ponselmu mati, Marcus sampai ketakutan mencarimu ke mana-mana. Dan sekarang saat kamu kembali, kamu malah menolakku seperti ini?”
Ethan menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
“Aku hanya lelah Jane. Tolong mengertilah.”
“Lelah atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Sikapmu berubah belakangan ini. Kamu dingin, sering melamun, dan selalu punya alasan untuk menghindar. Kamu pikir aku bodoh, Ethan?”
“Tidak ada yang disembunyikan. Aku hanya ingin sendiri, Jane," jawab Ethan datar, berusaha menghindari kontak mata.
Jane tertawa hambar, suara tawa yang sarat akan rasa curiga dan sakit hati.
“sendiri? Seorang Ethan 'ingin menyendiri' sampai harus mengabaikan tunangannya sendiri dan membuat semua orang panik? Jangan bohong padaku, Ethan. Kamu punya perempuan lain di luar sana, kan?”
“Jane, stop. Jangan memulai tuduhan yang tidak-tidak,” potong Ethan tegas, matanya kini menatap Jane dingin.
“Lalu aku harus berpikir apa tentangmu?!” suara Jane meninggi, emosinya tumpah memenuhi ruangan yang tadinya sunyi.
“Kamu tidak pernah mendorongku seperti tadi! Kamu tidak pernah menatapku seasing ini, Ethan! Beritahu aku, siapa perempuan itu? Siapa yang sudah mengalihkan perhatianmu dariku?!"
Ethan bungkam. Bayangan Mia dengan kesederhanaan dan senyum tenangnya di depan rumah kontrakan lusuh itu kembali terlintas. Membuat rasa bersalah dan kebimbangan di dadanya kian membesar.
Diamnya Ethan justru menjadi jawaban yang paling menakutkan bagi Jane.
“Ethan kamu__”
Sebelum wanita itu sempat meluapkan amarahnya lebih jauh, pintu kamar mendadak terdorong keras.
Marcus, manajer Ethan, melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi. Ponsel di genggamannya terus menyala, menampilkan puluhan notifikasi masuk tanpa henti.
“Kalian berdua, stop!” potong Marcus histeris sebelum Jane sempat membuka suara.
”Apa kalian sadar apa yang sedang terjadi di luar sana?!” ujar Marcus dengan nada keras.
Ethan menoleh dingin, sementara Jane bersedekap dengan napas masih memburu.
“Rencana pernikahan kalian sedang ramai di media jam tujuh malam tadi," lanjut Marcus seraya mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin.
Tangannya yang gemetar mengarahkan layar ponsel ke hadapan Ethan dan Jane.
“Beberapa forum rumor hiburan mulai menggoreng isu kalau hubungan kalian retak karena Ethan belakangan sering menghilang tanpa pengawalan.”
Jane tertawa sinis, menatap Ethan dengan pandangan menusuk. “Lihat kan? Publik saja sudah bisa melihat kalau kamu berubah, Ethan!”
“Jane, tolong tahan emosimu dulu!” bentak Marcus frustrasi. Ia menatap Ethan dengan mata membelalak penuh desakan.
“Ethan, dengarkan aku baik-baik. Brand mewah yang baru kamu tanda tangani kontraknya bulan lalu punya klausal ketat soal citra publik. Perusahaan film yang mau merilis proyek besarmu bulan depan juga menjadikan kabar pernikahan kalian sebagai strategi pemasaran utama!”
Marcus melangkah mendekati Ethan, menurunkan suaranya hingga bergetar menahan tekanan berat.
“Karir yang kamu bangun belasan tahun dari nol dengan bermandi keringat, dipuji, bahkan dihujat, sekarang semua ada di tanganmu. Kalau pernikahan ini batal atau sampai ada skandal perselingkuhan yang tercium media, dampak finansialnya akan menghancurkanmu. Gugatan ganti rugi dari investor bisa membuatmu bangkrut, dan label 'aktor tak bertanggung jawab' akan menempel selamanya padamu. Karirmu di industri ini akan selesai, Ethan.”
Kata-kata Marcus menghantam dada Ethan bagai pukulan telak. Ruang geraknya mendadak menyempit. Karir, popularitas, dan nama besar yang selama ini ia agungkan kini terasa bagai rantai emas yang mengikat lehernya erat-erat.
Jane melangkah mendekat ke arah Ethan. Kemarahannya perlahan berganti menjadi senyuman tipis yang penuh kemenangan, menyadari bahwa keadaan kini sepenuhnya berpihak padanya.
Ia merapikan kerah kemeja Ethan yang sedikit kusut, menyentuh dada pria itu dengan lembut namun sarat akan ancaman implisit.
“Kamu denger sendiri kan, sayang?” bisik Jane dengan nada dingin di balik senyum manisnya.
“Kita ini paket komplit. Kamu membutuhkanku untuk menyelamatkan karirmu. Publik ingin melihat kita bahagia di pelaminan. Karirmu taruhannya, sayang.”
–tbc–