Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam bergulir membawa hawa dingin ibu kota, namun suasana di dalam Kafe Sudut Temu terasa hangat oleh aroma biji kopi yang baru digiling. Di balik meja kasir, Alea sibuk menghitung lembaran uang tip dengan wajah berbinar-binar.
Di sudut ruangan, menempati meja VIP yang sama seperti biasa, Arka duduk santai dengan segelas americano dingin yang es batunya mulai mencair.
Pemuda itu tampak tenang, namun matanya yang setajam elang tak pernah lepas dari layar tablet terenkripsi di tangannya.
Tepat pukul sepuluh malam, sebuah pesan dengan kode merah berkedip di sudut layarnya. Itu adalah pesan dari regu bayangannya.
"Tuan Muda. Papa Anda baru saja menggerakkan divisi properti dan biro hukum keluarga. Target eksekusi besok pagi: pembebasan lahan paksa SMA Harapan Warga."
Jari Arka berhenti mengetuk meja. Udara di sekitarnya mendadak membeku. Mata sehitam obsidian itu menggelap, memancarkan aura membunuh yang membuat beberapa pelanggan kafe di meja terdekat tanpa sadar merinding dan mempercepat minum mereka.
Arka mematikan layar tabletnya. Ia melirik Alea yang kini sedang tertawa kecil sambil mencatat pemasukan hariannya. Gadis itu tidak tahu bahwa besok pagi, sekolah yang menjadi tempatnya mencari secercah masa depan dan pundi-pundi rupiah, akan diratakan dengan tanah.
Arka berdiri, merapikan jaketnya, dan melangkah mendekati meja kasir.
"Shift-lo sudah selesai, Kan!" ucap Arka datar.
"Ayo pulang. Besok pagi, gue akan jemput lo lebih awal."
Alea mendongak, menautkan alisnya dengan curiga.
"Tumben lo nawarin jemputan pagi? Lo nggak lagi ngerencanain skema penculikan buat ngambil ginjal gue, kan? Soalnya ginjal gue ini aset masa depan kalau-kalau gue gagal SNMPTN!"
"Ginjal lo terlalu banyak mengandung MSG jalanan. Nilai jualnya rendah di pasar gelap," balas Arka sarkas tanpa dosa, membuat Alea mendengus sebal.
"Gue hanya ingin memastikan lo tidak ketinggalan pertunjukan kecil esok pagi!"
_________________
Keesokan paginya, kekacauan yang terjadi di SMA Harapan Warga jauh melebihi definisi 'pertunjukan kecil'.
Alea baru saja turun dari boncengan motor Sport Arka. Di depan gerbang sekolah kini terparkir tiga ekskavator raksasa berwarna kuning menyala, meraung ganas seakan lapar menelan tembok sekolah.
Ratusan siswa berkerumun di halaman dengan wajah pucat. Beberapa menangis berpelukan. Para guru berbisik panik, sementara Kepala Sekolah berdiri gemetar menghadapi barisan pria berjas rapi yang membawa tumpukan dokumen.
"Apa-apaan nih?!" seru Alea membelah kerumunan, matanya membelalak lebar melihat alat berat tersebut.
"Sekolah kita mau dibangun wahana roller coaster atau gimana nih?!"
Di sebelahnya, Arka berdiri dengan postur tegap, wajahnya sedingin pahatan es. Tangannya bersedekap, matanya menatap lurus ke arah pria botak berjas abu-abu yang memegang megafon, ia adalah kepala biro hukum Adiwangsa Corporation.
"Perhatian kepada seluruh staf pengajar dan siswa!" suara pria botak itu menggema lewat megafon, menyebarkan teror ke seluruh penjuru sekolah.
"Berdasarkan keputusan final Yayasan Adiwangsa, hak guna bangunan sekolah ini resmi dicabut! Lahan ini akan segera dieksekusi untuk pembangunan pusat perbelanjaan komersial! Kami beri waktu satu jam bagi kalian untuk mengosongkan gedung ini sebelum alat berat kami merobohkan tembok utama!"
Jeritan histeris dan tangisan langsung meledak di antara para siswa. Harapan mereka untuk lulus dari sekolah itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.
Namun, di tengah atmosfer duka cita yang dramatis itu, sebuah teriakan melengking dari arah gerbang sukses membungkam semua orang.
"HEH, BOTAK LICIK! ENAK AJA LO MAIN GUSUR-GUSUR!"
Seluruh mata sontak menoleh. Kerumunan siswa membelah, memberikan jalan bagi Alea yang kini melangkah maju dengan wajah memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Ia tidak peduli dengan moncong ekskavator yang mengancam nyawanya.
Pria berjas itu mengernyit merendahkan.
"Siapa kau, gadis kecil? Mundur, atau pihak keamanan akan menyeretmu keluar!"
"Gue Alea! Bendahara bayangan kelas XII-IPS 2, sekaligus pemegang saham mayoritas kantin sekolah ini!" bentaknya menunjuk tepat ke wajah pria itu.
"Lo mau gusur sekolah gue?! Punya otak nggak?! Gue baru bayar SPP bulan ini kemarin, lunas tanpa cicil! Kalau ngerobohin, refund dulu uang SPP gue beserta bunganya!"
Pria botak itu ternganga, otaknya tidak mampu mencerna tuntutan absurd tersebut.
"Hah? Uang SPP?"
"Bukan cuma SPP!" Alea semakin beringas, menggebrak pagar hingga berdenting.
"Ini ekosistem bisnis gue! Klien jasa desain Canva gue ada di kelas dua belas! Pelanggan basreng gue di kelas sebelas! Kalau gedung ini rubuh, lo hancurkan sumber pendapatan gue! Mau ganti kerugian ekonomi gue? Gue laporin ke Komnas HAM dan YLKI atas pembunuhan karakter finansial!"
Mendengar ocehan ngawur namun penuh validasi ekonomi. Para pria berjas saling pandang bingung. Mereka disiapkan menghadapi protes soal pendidikan, bukan debat ekonomi makro dari seorang siswi SMA.
"Singkirkan gadis ini!" perintah sang pengacara pada dua penjaga keamanan bertubuh kekar.
Dua pria berbadan besar itu melangkah maju, siap menarik paksa Alea. Namun sebelum jari menyentuh bahu Alea, sebuah tangan kokoh lebih dulu menahan pergelangan salah satu penjaga.
Hawa sedingin musim dingin tiba-tiba menyelimuti halaman.
Arka melangkah ke depan, menempatkan tubuhnya sebagai perisai di hadapan Alea. Sepasang mata obsidiannya menatap tajam, membuat kedua penjaga terbeku ketakutan.
Pengacara botak itu membelalakkan matanya ngeri. Ia langsung mengenali siapa sosok yang berdiri di sana. Seluruh tubuhnya gemetar.
"T-T-Tuan Muda Arka..." gagap pengacara itu, nyaris menjatuhkan megafonnya.
"A-Apa yang Anda lakukan di sini? Kami mendapat perintah langsung dari Tuan Besar Hartawan untuk mengeksekusi lahan ini—"
"Sejak kapan anjing-anjing suruhan Papa berani menggonggong di wilayah kekuasaan gue?" potong Arka pelan, namun suaranya bergetar menembus tulang.
"T-tapi Tuan Muda, dokumen pembongkarannya sudah sah secara hukum! Perusahaan kontraktor ekskavator ini juga sudah dibayar lunas untuk meratakan tempat ini hari ini juga!" bela sang pengacara dengan panik, mencoba berlindung di balik legalitas.
Arka tidak menjawab. Ia hanya merogoh saku celana sekolahnya dengan gerakan elegan, mengeluarkan ponsel hitam berlapis enkripsi, dan menekan satu nomor. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengalihkan pandangan mematikannya dari sang pengacara.
"Cari nama perusahaan kontraktor di lokasi gue saat ini," ucapnya datar. "Beli saham mayoritas mereka. Lakukan akuisisi paksa sekarang. Setelah berpindah kepemilikan, pecat direksinya dan perintahkan alat berat mundur."
Ponsel dimatikan. Hening total menyergap seluruh halaman sekolah.
Alea, yang berdiri di belakang punggung Arka, menatap pemuda itu dengan mulut terbuka lebar hingga rahangnya nyaris menyentuh tanah.
Tidak sampai dua menit kemudian, ponsel di saku mandor ekskavator berdering nyaring. Pria kasar bertopi proyek itu mengangkatnya, wajahnya memucat seketika mendengarkan instruksi dari seberang, lalu ia menoleh ke arah Arka dengan tatapan horor penuh rasa hormat.
"T-Tarik mundur alat berat! Matikan mesin! Perusahaan kita baru saja dibeli oleh Tuan Muda Arka!" teriak sang mandor panik kepada anak buahnya.
Dalam hitungan detik, suara raungan ekskavator itu mati. Moncong besi raksasa ditarik mundur, menjauhi tembok sekolah. Pengacara botak suruhan Hartawan berdiri mematung seperti orang bodoh, tidak menyangka bahwa perintah absolut dari seorang Hartawan Adiwangsa baru saja digagalkan hanya dengan satu panggilan telepon dari putranya sendiri.
Kerumunan siswa dan guru masih terdiam dalam shock berjamaah. Mereka baru saja diselamatkan dari kiamat sekolah oleh murid baru yang terkenal dingin di kelas XII-IPS 2.
Alea perlahan melangkah ke samping Arka, menatap pemuda itu dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak percaya.
"Bos..." panggil Alea dengan suara bergetar, memecah keheningan.
"Lo... lo benar-benar beli perusahaan kontraktor alat berat secara cash?"
Arka menoleh, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Sudut bibirnya berkedut tipis, mengamati wajah terkejut Alea yang sangat menghibur.
"Anggap saja gue sedang melakukan investasi di bidang infrastruktur."
Alea langsung mengusap wajahnya kasar, frustrasi bercampur takjub oleh tingkat kekayaan yang sangat tidak masuk akal ini.
"Kalau punya duit sebanyak itu, kenapa nggak beli franchise minimarket aja sih?! Kan gue bisa lo jadikan kasir utamanya! Atau modal buat buka pabrik basreng sekalian!" omelnya, jiwa wirausaha kecilnya meronta melihat miliaran rupiah dipakai untuk hal yang menurutnya tidak masuk akal.
Arka tidak bisa lagi menahan tawa kecilnya. Suara kekehan berat yang sangat langka dan maskulin itu mengalun dari bibir sang pewaris, membuat seluruh siswi yang mendengarnya nyaris pingsan berjamaah.
"Mungkin lain kali," ucap Arka seraya mengulurkan tangannya, merapikan rambut Alea yang berantakan karena di terpa angin. Matanya melembut, menyiratkan kehangatan yang kontras dengan aura iblisnya beberapa detik lalu.
"Hari ini, gue hanya ingin memastikan... tidak ada satu pun orang yang berani menggusur kerajaan bisnis kecil lo."
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂