Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAMIEN MENEMUKAN ZERO
Penyelidikan Damien terhadap latar belakang Althea membawanya semakin dalam ke lorong-lorong tersembunyi dunia maya yang jarang disentuh orang biasa, sebuah dunia yang, meski dia sendiri cukup mahir dalam teknologi berkat pendidikan bisnisnya, tetap terasa asing dan penuh bahaya baginya.
Penyelidik yang dia sewa, seorang pria misterius yang hanya dikenal dengan nama samaran Ghost dalam lingkaran kecil orang yang mempekerjakannya, menemukan sesuatu yang tidak terduga ketika mencoba melacak jejak digital yang mungkin ditinggalkan Althea selama lima tahun terakhir.
"Ada aktivitas aneh yang terhubung dengan alamat IP yang pernah digunakan targetmu," lapor Ghost melalui pesan terenkripsi kepada Damien suatu malam. "Bukan dari wanita itu sendiri, tapi seseorang lain yang menggunakan koneksi yang sama."
Damien, yang duduk sendirian di apartemennya yang jauh lebih sederhana dibandingkan kediaman utama keluarga Virell, menatap layar laptopnya dengan alis berkerut. "Jelaskan lebih detail."
Ghost mengirimkan serangkaian data teknis yang membutuhkan waktu bagi Damien untuk memahaminya sepenuhnya, namun kesimpulannya cukup jelas: seseorang yang menggunakan jaringan yang sama dengan tempat tinggal Althea dan Noah selama beberapa bulan terakhir memiliki aktivitas daring yang sangat mencurigakan, terhubung dengan berbagai forum peretas bawah tanah yang sangat eksklusif.
"Identitas daringnya menggunakan nama ZERO," lanjut Ghost. "Reputasinya cukup legendaris di kalangan tertentu. Beberapa bahkan mengatakan dia pernah mencoba menembus sesuatu yang disebut Black Vault, meski tidak ada yang tahu apakah dia berhasil atau tidak."
Damien mengerutkan dahi mendengar nama itu. Black Vault bukanlah istilah asing baginya, mengingat statusnya sebagai anggota keluarga Virell yang cukup dekat dengan lingkaran dalam, meski dia sendiri tidak pernah tahu detail lengkap tentang apa yang sebenarnya tersimpan di dalam sistem misterius itu.
"Siapa ZERO ini?" tanya Damien, mulai merasakan sesuatu yang mendesak dalam dadanya, insting yang mengatakan bahwa informasi ini mungkin lebih penting daripada yang dia sadari pada awalnya.
"Itu masalahnya," jawab Ghost. "Tidak ada yang tahu identitas aslinya. Tapi berdasarkan pola aktivitas dan waktu daring, kemungkinan besar dia beroperasi dari lokasi yang sama dengan alamat yang kau berikan kepadaku."
Damien membutuhkan waktu beberapa hari untuk mencerna informasi itu, menghubungkannya satu per satu dengan potongan-potongan lain yang sudah dia kumpulkan selama berminggu-minggu terakhir. Kemudian, suatu sore ketika dia mengunjungi kediaman utama keluarga untuk acara makan malam keluarga yang kini rutin diadakan sejak Noah dan Althea menjadi bagian dari mereka, dia melihat sesuatu yang membuat semua kepingan itu akhirnya tersambung sempurna.
Noah sedang duduk di sofa ruang keluarga, laptop kecil miliknya sendiri, hadiah dari Elena beberapa minggu lalu, terbuka di pangkuannya. Damien, yang duduk agak jauh sambil berpura-pura membaca berita di ponselnya, memperhatikan cara jari-jari kecil Noah bergerak di atas papan ketik dengan kecepatan dan presisi yang sama sekali tidak sesuai dengan anak berusia lima tahun biasa.
Dia mendekat perlahan, berpura-pura ingin melihat apa yang sedang dilakukan Noah dengan nada ramah yang jarang dia tunjukkan kepada anak itu sebelumnya. "Sedang main apa?"
Noah, tanpa curiga sedikit pun, menunjukkan layarnya dengan antusias, meski dengan cepat menutup salah satu jendela sebelum Damien sempat melihatnya sepenuhnya, sebuah refleks kehati-hatian yang justru semakin mengonfirmasi kecurigaan Damien.
"Aku lagi coba-coba program," jawab Noah riang, meski matanya sekilas menunjukkan kewaspadaan kecil yang aneh untuk anak seusianya.
Damien tersenyum tipis, namun di dalam benaknya, dia sudah mulai menyusun berbagai kemungkinan. Dia melihat gaya penulisan kode yang sempat terlihat sekilas di layar sebelum ditutup, dan meski dia bukan ahli teknologi sejati, cukup untuk membuatnya semakin yakin dengan kesimpulan yang mulai terbentuk di kepalanya.
Malam itu, setelah kembali ke apartemennya, Damien mengirimkan informasi tambahan kepada Ghost, meminta konfirmasi lebih lanjut. Jawaban yang dia terima keesokan harinya menghilangkan sisa keraguan yang masih dia miliki.
"Pola waktu aktivitas ZERO cocok sempurna dengan jadwal anak sekolah," tulis Ghost. "Dan berdasarkan gaya penulisan kode yang kau kirimkan, kemungkinan besar ini orang yang sama."
Damien menyadari bahwa anak kecil yang selama ini dia anggap sebagai ancaman terhadap posisinya dalam keluarga, seorang bocah lima tahun yang lucu dan sering membuat seisi rumah tertawa dengan tingkahnya yang polos, ternyata adalah hacker misterius yang bahkan ditakuti oleh organisasi kriminal dan dihormati di kalangan peretas paling berpengalaman sekalipun.
Sebuah tawa pahit lolos dari mulutnya sendirian di apartemennya malam itu, campuran antara ketidakpercayaan dan sesuatu yang menyerupai kekaguman yang tidak dia duga akan dia rasakan.
Awalnya dia ingin menggunakan informasi tersebut, entah untuk mendiskreditkan posisi Noah dalam keluarga, atau sebagai bahan negosiasi tersembunyi yang bisa dia manfaatkan di masa depan. Berbagai skenario berputar di kepalanya, cara-cara licik yang bisa dia gunakan untuk kembali mendapatkan posisi yang selama ini dia rasa direbut darinya.
Namun ketika dia mengingat kembali momen di ruang keluarga sore itu, cara Noah tersenyum lebar setiap kali berhasil menyelesaikan sesuatu yang rumit, cara dia memeluk kakinya sendiri tanpa curiga ketika Damien pertama kali diperkenalkan sebagai sepupu ayahnya, sesuatu di dalam dirinya mulai goyah.
Damien akhirnya menyadari bahwa kebenciannya, ambisinya, semua kecemburuan yang selama ini dia pupuk terhadap seorang anak yang bahkan tidak meminta untuk dilahirkan ke dalam situasi rumit ini, tidak sebanding dengan nyawa seorang anak yang, dari apa yang dia lihat dan gali selama ini, mungkin sedang berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada yang disadari siapa pun di keluarga itu.