"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Proposisi
Pesan Rayhan masih menyala di layar ketika Nadhira terbangun keesokan paginya.
Ia membacanya sekali lagi, lalu melihat Alif yang tidur dengan satu tangan mencengkeram ujung dasternya. Setelah dua hari pintu digedor dan orang dewasa saling berebut hidup mereka, ajakan bicara singkat itu terasa lebih mengkhawatirkan daripada bentakan.
Rayhan tidak pernah memakai kata yang tidak perlu.
Menjelang pukul sebelas, sebuah mobil hitam berhenti di ujung gang Perumahan Mekar Jaya. Mobil itu terlalu besar untuk masuk tanpa membuat motor para tetangga harus dipindahkan. Sopir berjas turun dan menunggu di samping pintu belakang.
Istri Pak RT datang ke rumah Nadhira untuk menjaga Alif selama pertemuan berlangsung. Meski begitu, bocah itu tidak mau melepaskan leher ibunya.
"Mama cepat pulang," kata Nadhira sambil berjongkok.
"Alif ikut."
"Mama cuma bicara sebentar. Alif makan pisang sama Ibu, ya."
Bocah itu menatap mobil hitam di ujung jalan, lalu kembali memeluknya. Nadhira menunggu. Ia tidak menarik tangan kecil itu dengan paksa. Baru setelah istri Pak RT menunjukkan semangkuk irisan pisang dan membiarkan Alif membawa mobil merahnya, pelukan tersebut perlahan longgar.
"Kalau Alif menangis, telepon saya," pesan Nadhira.
"Tenang. Pintu saya kunci, dan Bapak ada di depan," jawab perempuan itu.
Perjalanan dari Tangerang menuju Jakarta memakan waktu lebih dari satu jam. Gedung-gedung tinggi mulai menggantikan deretan warung dan rumah berdempetan. Nadhira duduk diam di jok kulit yang dingin, sadar bahwa blus krem lamanya memiliki benang lepas di bagian manset.
Mobil berhenti di depan sebuah kafe hotel yang pintunya dibukakan petugas. Di dalam, udara beraroma kopi panggang dan bunga segar. Gelas-gelas bening tertata seperti pajangan, dan harga satu minuman di menu hampir sama dengan belanja sayur Nadhira selama beberapa hari.
Rayhan menunggu di meja pojok dekat jendela. Kemejanya abu-abu gelap, jam tangannya sederhana tetapi jelas mahal. Di hadapannya hanya ada segelas air putih dan tablet yang layarnya mati.
Ia berdiri ketika Nadhira datang.
"Terima kasih sudah datang."
"Anda membuat saya penasaran sejak semalam."
Rayhan menarik kursi untuknya, lalu duduk setelah Nadhira mengambil tempat. Seorang pelayan mendekat. Nadhira memilih teh hangat paling sederhana, tetapi Rayhan tetap memesan makanan.
"Saya sudah makan," katanya.
"Anda belum menyentuh sarapan ketika Gilang pergi tadi malam."
Nadhira menatapnya. "Gilang melaporkan itu juga?"
"Dia melaporkan kondisi orang yang sedang kami lindungi."
Kata lindungi membuat bahunya menegang. "Sampai kapan?"
Rayhan tidak langsung menjawab. Ia melipat kedua tangan di atas meja.
"Bu Sumini dan Agus mundur karena ada pengacara. Pak Darmo mundur karena ada petugas keamanan. Mereka tidak berubah pikiran. Mereka hanya menunggu saat Anda sendirian lagi."
"Saya tahu."
"Rumah itu tidak aman."
"Saya juga tahu."
"Santunan perusahaan cukup untuk menyewa tempat lain, tetapi alamat baru bisa mereka temukan. Proses waris akan berlangsung lebih dari beberapa hari. Selama itu, tekanan dapat berpindah ke Alif."
Jari Nadhira yang berada di bawah meja mengepal. Rayhan menangkap perubahan kecil pada wajahnya.
"Saya tidak mengatakan itu untuk menakut-nakuti Anda," lanjutnya. "Saya mengatakan hal yang sudah mereka tunjukkan sendiri."
Teh datang bersama sepiring nasi dan ayam panggang. Nadhira tidak menyentuh makanan. Uap dari cangkir naik di antara mereka, tipis dan cepat hilang.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?"
Rayhan menatapnya lurus. "Menikahlah dengan saya."
Suara sendok menyentuh piring dari meja lain. Di meja mereka, tidak ada satu benda pun yang bergerak.
Nadhira mengira kepalanya kembali bermasalah akibat benturan. "Maaf?"
"Saya menawarkan pernikahan."
"Anda baru mengenal saya dua hari."
"Benar."
"Saya janda mantan karyawan Anda, tinggal di rumah sempit, dan sedang berebut warisan dengan dua keluarga."
"Semua itu juga benar."
Ketenangan Rayhan membuat Nadhira hampir marah. "Lalu Anda mengajak saya menikah seolah sedang menawarkan kontrak kerja?"
"Karena pada awalnya memang akan menjadi kesepakatan."
Rayhan membuka layar tablet, tetapi tidak menunjukkan dokumen. Hanya ada halaman catatan dengan beberapa pokok pembicaraan.
"Pernikahan kita harus sah secara agama dan dicatat di KUA. Tidak ada status hukum bernama pernikahan kontrak yang bisa menggantikan itu. Kesepakatan pribadi hanya mengatur batas hidup bersama, harta, tanggung jawab kepada anak, dan hak untuk mengakhiri hubungan melalui proses yang sah."
Nadhira menahan napas. Setidaknya pria ini tidak sedang menawarkan akad tersembunyi tanpa pencatatan.
"Apa yang saya dapat?" tanyanya.
"Tempat tinggal dengan keamanan. Pendampingan hukum sampai sengketa Hendra selesai. Alif tetap memakai nama Wijaya dan hak warisnya tidak berubah. Saya tidak meminta Anda menyerahkan santunan, saham, atau harta bawaan. Kita bisa membuat perjanjian perkawinan di hadapan notaris."
"Dan tubuh saya?"
Pertanyaan itu keluar pelan, tetapi Rayhan tidak mengalihkan pandangan.
"Milik Anda. Saya tidak akan menyentuh Anda tanpa persetujuan. Kamar kita terpisah."
Jawaban tersebut datang tanpa tersinggung dan tanpa tawa meremehkan. Ketegangan di bahu Nadhira turun sedikit, belum sepenuhnya.
"Apa yang Anda dapat?"
Untuk pertama kalinya, Rayhan memandang keluar jendela. Lalu ia mengambil ponsel dan membuka sebuah foto.
Seorang bocah laki-laki duduk di tepi ranjang dengan piyama biru. Tubuhnya tampak kurus, kulitnya pucat, dan kedua tangannya memeluk bantal. Matanya besar, tetapi tidak ada senyum di sana.
"Namanya Arkan," kata Rayhan. "Usianya empat tahun. Ibunya sudah meninggal."
Nadhira melihat foto itu lebih lama. "Dia sakit?"
"Fisiknya lemah. Dokter mengatakan tidak ada penyakit berat yang tersembunyi, tetapi ia mudah demam, sulit makan, dan menutup diri dari orang baru."
"Anda ingin saya menjadi ibunya?"
"Saya ingin rumah yang stabil untuknya. Saya tidak meminta Arkan memanggil Anda apa pun. Saya juga tidak meminta Anda mencintainya dalam satu hari."
"Tapi Anda tetap mencari perempuan untuk mengisi kekosongan itu."
Rayhan menerima tuduhan tersebut tanpa membela diri terlalu cepat. "Ya. Karena saya tidak bisa berpura-pura hanya Anda yang membutuhkan sesuatu dari kesepakatan ini."
Kejujurannya terasa lebih berat daripada rayuan.
Nadhira menatap foto Arkan lagi. Anak itu tidak mengenakan pakaian mahal yang mencolok. Hanya piyama, ranjang, dan wajah seorang bocah yang tampak sendirian di rumah besar.
"Kenapa saya? Ada banyak perempuan yang lebih sesuai dengan dunia Anda."
Rayhan mematikan layar ponsel. "Tiga tahun lalu, sebuah perundingan proyek berubah kacau. Ada struktur besi yang roboh ketika orang-orang berebut keluar. Hendra mendorong saya menjauh. Lengannya patah, sedangkan saya selamat tanpa cedera serius."
Nadhira tidak memiliki ingatan tentang kejadian itu. Hendra mungkin tidak pernah menceritakannya kepada istrinya.
"Saya menawarkan kompensasi," lanjut Rayhan. "Dia menolak. Katanya, kalau suatu hari keluarganya kesulitan, dia hanya ingin saya tidak menutup mata."
Tenggorokan Nadhira mengencang. "Jadi ini pembayaran utang?"
"Sebagian."
"Sebagian lainnya?"
"Kemarin saya melihat Anda melindungi Alif meski berdiri saja hampir tidak sanggup. Hari ini saya tahu Anda membaca surat sebelum menandatanganinya dan berani bertanya tentang batas. Arkan tidak membutuhkan seseorang yang hanya pandai tersenyum di depan kamera."
Nadhira menurunkan tatapan pada teh yang mulai dingin. Ia tidak mau tersentuh oleh penilaian pria yang baru dikenalnya. Namun, dua hari terakhir semua orang menyebutnya beban, janda, barang yang bisa dipindahkan, atau jalan menuju uang. Rayhan adalah orang pertama yang menyebut keberaniannya sebagai alasan ia dipilih.
"Anda tidak mengenal sisi buruk saya."
"Anda juga tidak mengenal sisi buruk saya. Karena itu saya menawarkan kesepakatan yang dapat diperiksa, bukan janji manis."
Pelayan datang untuk menanyakan makanan. Nadhira akhirnya mengambil satu suap. Perutnya yang kosong langsung terasa perih, mengingatkan bahwa keputusan besar tetap harus dibuat oleh tubuh yang belum pulih.
"Kalau saya menolak?"
"Pendampingan hukum tetap berjalan sampai urusan Hendra selesai."
Nadhira mengangkat mata. "Anda tidak akan menarik bantuan?"
"Tidak. Itu hak keluarga Hendra, bukan alat untuk memaksa Anda menerima saya."
Jawaban tersebut menutup satu kecurigaan, tetapi membuka ketakutan lain. Jika Rayhan tidak menahannya dengan utang budi, ia harus menilai tawaran ini berdasarkan manfaat dan risikonya sendiri.
"Berapa lama kesepakatan ini?"
"Belum saya tentukan. Anda boleh mengusulkan setelah membaca draf. Saya tidak akan menyiapkan dokumen sebelum Anda menyatakan bersedia mempertimbangkan."
"Dan kalau keluarga Anda menolak?"
"Itu urusan saya."
"Kalau Arkan menolak saya?"
Jeda Rayhan kali ini lebih panjang. "Kita tidak memaksanya."
Nadhira memikirkan Alif yang baru berani melepaskan lehernya setelah melihat semangkuk pisang. Anak tidak bisa dipindahkan seperti koper ke rumah asing, hanya karena orang dewasa membuat kesepakatan.
"Saya perlu bertemu Arkan sebelum keputusan final."
"Wajar."
"Alif juga tidak boleh diperlakukan berbeda karena dia bukan anak kandung Anda."
"Itu harus ditulis."
"Tidak ada perubahan nama, tidak ada adopsi paksa, dan tidak ada larangan saya bekerja nanti."
"Tuliskan semuanya."
Nadhira menatap pria di depannya, mencoba menemukan ejekan atau rasa tidak sabar. Tidak ada. Rayhan seolah benar-benar menganggap syarat-syaratnya sebagai bagian perundingan, bukan pembangkangan.
Tetap saja, menikah bukan sekadar pindah ke rumah berpagar tinggi. Ada seorang anak rapuh, seorang pria yang menyimpan banyak hal, dan jarak kelas yang terlihat bahkan dari harga teh di meja ini.
"Beri saya waktu satu hari," katanya akhirnya.
Rayhan mengangguk. "Besok sore saya menunggu jawaban."
Ia tidak menawarkan tangan, tidak mendesak, dan tidak membicarakan gaun atau pesta. Pertemuan berakhir dengan cara yang sama dinginnya seperti dimulai, tetapi hidup Nadhira tidak lagi terasa berada di tempat yang sama.
Dalam perjalanan pulang, Nadhira menelepon istri Pak RT. Suara Alif terdengar dari jauh.
"Mama pulang?"
"Mama di jalan. Alif sudah makan?"
"Pisang. Dua."
"Anak pintar. Tunggu Mama."
Mobil membutuhkan hampir sembilan puluh menit menembus lalu lintas siang menuju Tangerang. Ketika akhirnya berbelok ke gang rumah, Nadhira melihat kendaraan yang sangat dikenalnya.
Mobil lama Bu Sumini terparkir tepat di depan pagar.