NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:190.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Gedung Wijaya Tower berdiri dengan sangat megah di antara jajaran pencakar langit di kawasan segitiga emas Sudirman, Jakarta Pusat. Dinding kaca kebiruannya memantulkan terik matahari siang, memancarkan kesan kokoh dan tak tersentuh dari perusahaan konglomerat nomor satu di negeri ini.

Di lobi utama yang luas dan berlantai marmer mengkilap, langkah kaki Adila terdengar berirama santai. Penampilannya masih sama seperti saat ia bertemu dengan Dr. Adrian di kafe tadi kemeja garis-garis biru muda yang longgar dengan kulot putih. Begitu ia melewati gerbang keamanan otomatis, beberapa resepsionis dan staf keamanan langsung menunduk hormat dengan senyuman yang sangat ramah. Berita tentang status Adila sebagai putri bungsu Hadi Wijaya yang baru saja menyabet gelar lulusan dokter terbaik nasional sudah menjadi rahasia umum di seluruh anak perusahaan Wijaya Group.

Adila membalas sapaan mereka dengan anggukan sopan, lalu melangkah menuju lift khusus eksekutif yang langsung membawanya ke lantai paling atas, tempat ruangan kerja Papi Hadi dan kakaknya, Ardi.

Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai tiga puluh lima, suasana tenang namun sibuk langsung menyambutnya. Di lorong luas berlapis karpet tebal itu, Adila melihat sosok kakak laki-lakinya, Ardi Wijaya, sedang berdiri di depan meja sekretaris sembari memeriksa beberapa dokumen di dalam tab miliknya. Ardi nampak sangat gagah dengan kemeja kerja tanpa dasi yang kancing atasnya sengaja dibuka, memberikan kesan eksekutif muda yang santai namun karismatik.

"Eh, anak ilang baru kelihatan," ledek Ardi begitu mendongak dan melihat adiknya berjalan mendekat. Pria itu menyerahkan tab-nya kembali ke sekretarisnya lalu melipat tangan di depan dada dengan senyuman jahil.

Adila langsung mengerucutkan bibirnya, memberikan tatapan sebal yang manja. "Apa sih, Kak Ardi? Orang baru juga sampai, langsung diledek anak ilang."

Ardi terkekeh, melangkah mendekati adik bungsunya lalu mengacak rambut Adila dengan gemas. "Ya lagian, dari pagi dicariin Mami di rumah katanya ada janji keluar. Rapi banget begini, habis dari mana kamu? Jangan bilang habis kencan ya?"

"Enak saja, bukan kencan tahu!" sahut Adila sembari merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah kakaknya. "Aku habis ketemu sama Dokter Adrian di kafe daerah Selatan tadi."

Mendengar nama Dr. Adrian disebut, mata Ardi langsung berbinar jenaka. Alis tebalnya naik-turun, sengaja menggoda Adila habis-habisan. "Oh... ketemu Dokter Adrian? Siang-siang begini di kafe? Wah, kemajuan pesat ini namanya. Padahal kemarin di hotel Papi baru kasih lampu hijau, hari ini jalurnya sudah langsung dieksekusi saja sama Dokter Adrian."

"Kak Ardi, stop ya! Jangan mulai deh!" pipi Adila mendadak merona tipis, membuat wajah cantiknya kelihatan berkali-kali lipat lebih manis. Ia memukul lengan kakaknya dengan tas selempang kecilnya tanpa tenaga. "Kami itu ketemu secara profesional, Kak. Membahas kelanjutan proyek penelitian internasional yang dulu sempat tertunda waktu aku masih koas. Bukan kencan!"

"Iya, iya, profesional... Berawal dari profesional, berakhir di pelaminan. Biasanya kan begitu rumusnya," goda Ardi lagi tanpa ampun, tertawa lepas melihat wajah adiknya yang makin cemberut. "Tapi serius, Dil. Dokter Adrian itu orangnya lurus banget. Kakak beberapa kali urusan bisnis kedokteran sama dia, dia itu tipe pria yang tidak punya waktu buat drama. Kalau dia sampai bela-belain ngajak kamu ketemu di luar rumah sakit siang-siang begini, itu artinya kamu emang spesial di mata dia. Entah sebagai asisten riset, atau... ya yang lain."

Adila memutar kedua bolanya dengan malas, mencoba mengalihkan pembicaraan agar jantungnya tidak makin berdegup aneh. "Terserah Kak Ardi mau ngomong apa ah. Papi ada di dalam ruangan tidak? Aku ke sini memang mau menceritakan soal proyek riset ini ke Papi."

"Ada tuh di dalam, lagi senggang habis rapat internal tadi. Masuk saja," jawab Ardi sembari menunjuk pintu jati besar di ujung lorong dengan ibu jarinya. "Tapi awas ya, jangan manja-manja banget sama Papi, Mami nanti cemburu."

"Biarin! weekk!" Adila menjulurkan lidahnya dengan ejekan, lalu melangkah cepat meninggalkan Ardi yang masih tertawa pelan melihat tingkah kekanakan adiknya.

Bagi orang luar atau rekan-rekannya di rumah sakit, Dr. Adila Arrena Wijaya mungkin dikenal sebagai sosok wanita yang dingin, tenang, jenius dan sangat tegar saat menghadapi badai perceraiannya kemarin. Namun, di dalam lingkaran keluarganya, Adila sebenarnya adalah sosok anak perempuan bungsu yang sangat dekat dengan Ayahnya, manja dan penuh kehangatan seperti gadis-gadis pada umumnya. Selama sepuluh tahun menikah dengan Revan, sisi manja ini terkubur dalam-dalam karena ia dituntut untuk selalu mengalah dan menjadi wanita mandiri yang memikul beban rumah tangga sendirian. Kini, setelah kembali ke dunianya yang asli, sisi itu perlahan bangkit kembali.

Tok... Tok... Tok...

Adila membuka pintu ruangan kerja Papi Hadi setelah mendengar suara sahutan dari dalam. Begitu pintu terbuka, bau harum cerutu premium dan kehangatan ruangan langsung menyambutnya. Papi Hadi sedang duduk di balik meja kerja mahoni raksasanya, namun begitu melihat siapa yang datang, pria tua penguasa bisnis itu langsung meletakkan kacamata bacanya dan tersenyum sangat lebar.

"Ya ampun, kesayangan Papi datang," ucap Papi Hadi, suaranya terdengar begitu renyah dan penuh kasih sayang.

Adila langsung menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan setengah berlari menghambur ke arah kursi kerja ayahnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menggelayutkan kedua tangannya di bahu Papi Hadi, memeluk leher pria paruh baya itu dari belakang dengan sangat manja.

"Papiii... Dila kangen," rengek Adila, menumpukan dagunya di bahu sang Papi.

Papi Hadi tertawa terkekeh, mengusap lembut kepala Adila dengan tangan tuanya yang hangat. "Kangen bagaimana? Kan setiap hari kita sarapan bareng di rumah, Sayang. Ada apa ini? Pasti ada maunya ya atau ada yang mengganggumu lagi?"

Adila melepaskan pelukannya, lalu duduk di kursi besar tepat di samping meja kerja Papi Hadi, melipat kedua kakinya dengan santai kebiasaan yang hanya berani ia lakukan di depan ayahnya sendiri. "Tidak ada yang mengganggu kok, Pi. Dila cuma mau cerita kalau tadi Dila habis ketemu Dokter Adrian di kafe."

"Oh ya? Dokter Adrian?" Papi Hadi menaikkan sebelah alisnya, tersenyum penuh arti yang sama persis dengan ekspresi Ardi di luar tadi. "Bagaimana diskusinya? Papi dengar dari Adrian kemarin, dia mau mengajakmu masuk ke proyek riset internasional dengan rumah sakit di Seoul ya?"

"Iya, Papi! Dokter Adrian tadi menyerahkan draf proposal resminya ke Dila," ucap Adila dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat, menceritakan setiap detail rencana uji klinis bedah mikro robotik yang baru saja ia bahas di kafe tadi. "Ini proyek besar sekali, Pi. Dan Dokter Adrian bilang, kalau proyek ini sukses berjalan beberapa bulan, dia mau merekomendasikan Dila untuk ambil beasiswa spesialis bedah saraf langsung di Korea Selatan lewat jalur kerja sama itu!"

Papi Hadi mendengarkan cerita putri bungsunya dengan saksama. Ada rasa bangga yang teramat besar membuncah di dalam dadanya melihat binar kehidupan dan ambisi cemerlang yang kembali terpancar dari mata Adila. Ini adalah Adila-nya yang dulu—gadis kecilnya yang jenius dan selalu ambisius mengejar mimpi, sebelum dunianya sempat diredupkan oleh pernikahan parasit bersama Revan.

"Papi sangat mendukung, Dila," ucap Papi Hadi lembut, meraih jemari tangan Adila dan meremasnya pelan. "Apapun yang terbaik untuk karier dan masa depanmu, Papi pasti fasilitasi. Sembari menunggu rumah sakit internasional baru kita selesai dibangun beberapa bulan lagi, riset bersama Adrian ini adalah batu loncatan yang sangat luar biasa untukmu."

Papi Hadi menjeda kalimatnya sebentar, menatap mata adiknya dengan senyuman jenaka yang tertahan. "Tapi Papi mau tanya... di luar urusan riset medis itu, bagaimana pandanganmu tentang sosok Adrian sebagai seorang pria, Dila?"

Adila langsung terkesiap, pipinya kembali memanas seketika. "Papi... kok ikut-ikutan Kak Ardi sih bertanya begitu? Kami itu murni rekan kerja profesional, Pi!"

"Hahaha, Papi kan cuma bertanya, Sayang," kekeh Papi Hadi, menggoda anaknya yang mulai salah tingkah. "Adrian itu pria yang sangat matang, bertanggung jawab dan yang paling penting, dia menghargaimu karena kapasitas otak dan kemampuanmu sendiri, bukan karena embel-embel nama Wijaya Group. Papi bisa melihat itu dari caranya menatapmu kemarin di hotel. Pria seperti dia sangat langka di zaman sekarang."

Adila menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyuman tipis yang mendadak terukir di bibirnya. Kata-kata Papi Hadi ada benarnya, dan ingatan tentang bagaimana dr. Adrian begitu tegas mempertahankannya di tim riset sejak ia masih berada di titik terendah dulu kembali berputar di kepalanya. Sisi hatinya yang sempat mati rasa akibat pengkhianatan Revan, perlahan-lahan mulai merasakan sebuah getaran baru yang jauh lebih sehat, berkelas, dan menenangkan bersama dr. Adrian.

1
Jetva
🤔🤔🤔daster lengan🤔🤔🤔🙄🙄🙄🤔🤔🤔🤔🤔
Evi Goenharto
loh bukannya Revan kmrn udh ditangkap polisi ya thor
Jetva
Hadi🤔Bayu🤔 Danang🤔...???????
Jetva
🙄🙄🙄udah meninggal beberapa tahun lalu....????🤔🤔🤔🤔🙄🙄🙄🙄berarti meisya hamil anak Revan...???gimana sih...?? bingung gua🤔🤔🤔🤔🤔
Jetva
🤣🤣🤣🤣🤣..aq merasa lucu...itu anak siapa yg di dalam perut jalang itu...anak teman apa anak Revan..?? koq mau"x tampung terus...sampai bercerai dr istri yg kaya raya cm demi benalu🤣🤣🤣
Jetva
Lah emang elu ogeb bgt, Revan...masa lu yg tanggung biaya harus ikut kemauan yg ditanggung..?? emang super lolot...
Jetva
loh..sebenarnya itu anak siapa..?? koq Revan mati matian belain diaaaa..????..teman ya teman..beda dgn istei...istri itu belahan jiwa...teman makan teman namax klo cara mesya...
Evi Goenharto
thor jgn bikin bingung, itu dirumah Aris apa dirumah Dila sih ...🤣
evi carolin
papi hebat , peran antagonisnya dapet ... 🤣🤣🤣 sukses bikin Doni mati kutu tp salah orang 😱🤣🤣 ,kmbali normal ya Papi ,ni calon jodoh yg asli datang ... tampilin wajah coolnya n wibawa seorang papi 😁
Evi Goenharto
kasian mantan suaminya...pdhl udh trpuruk ya, udh pasti nyesel setengah idup, ketambah ama kasus kriminal makin lengkap udh penderitaannya, pdhl wkt msh pny gaji gede kmrn gregetan bgt bacanya wkt gajinya dibagi 2 ama nenek lampir 🤣
Rismawati Damhoeri
wah..mangkin tak masuk akal ajanih, memangnya nama istrinya nggak ada bintinya gitu...?,
Ros Ayuk: 💪💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
Rismawati Damhoeri
umur 32 th baru dokter muda..?, umur berapa tuh mulai kuliah?, umur berapa juga nanti jdi dokter spesialis?, tua ini mah...🤭😍🤣🤣
Rismawati Damhoeri
jangan sekarang jual rumahnya dila, tunggu resmi bercerai dulu, tak bagus di liat orang...nanti di kirain gimanaa lagi..😄🤭
Rismawati Damhoeri
nah, itu baru istri hebat..👍, jangan kayak di novel lain setelah 10 th, pergi tanpa membawa apa..nggak goblok itu namanya..😄😄😄🤣🤣
Maria Magdalena
Akhirnya tertangkap jg berarti sdh diintai lama.
Maria Magdalena
waduuhh si papi bikin ngakak aja🤣🤣🤣🤣
Maria Magdalena
karmap mulai datang tiara nikmati ya 😄
niktut ugis
ya kali hbis ngerampok 5M msh domisili di kost kumuh🤔
minimal pny rmh tingkat 1 lah dan ada di daerah yg jauh dari jangkauan radar keluarga Ardi.
ajaib juga sich Thor klu tiara sebodoh ini otak nya dlm mengelola uang 5M
Maria Magdalena: Kan takut ketahuan
total 1 replies
niktut ugis
sedikitnya mereka harus berterima kasih juga sama tiara tanpa tiara beberkan semuanya perjodohan Siska Ardi akan terjadi
niktut ugis
tindakan yg keren Tiara biar si curut aris & keluarga nya ikut hancur sekalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!