Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Standar Tinggi
Namanya muncul di layar proyektor sebelum dia sempat duduk, dan separuh ruangan langsung menoleh ke arahnya.
PIC Proyek: Gwen Aditya, Manajer Operasional
Dia baru dua minggu di Kane Group. Belum genap hafal semua nama di timnya sendiri, apalagi jadi penanggung jawab proyek yang—berdasarkan bisik-bisik yang sudah beredar sejak pagi—nilainya di atas dua ratus miliar rupiah.
"Proyek Meridian," kata Reza, kepala divisinya, berdiri di depan layar dengan tangan terlipat. "Ekspansi ritel ke tiga kota baru. Timeline enam bulan, dan ini bakal jadi salah satu yang paling diawasi board tahun ini."
Gwen menahan diri untuk tidak menelan ludah terlalu kentara.
"Kenapa saya?" tanyanya, langsung, tanpa basa-basi. Dia tahu ini pertanyaan yang seharusnya dia simpan untuk nanti, empat mata, bukan di depan tim. Tapi dia juga tahu kalau dia diam saja sekarang, pertanyaan itu bakal mengganggu dia sepanjang minggu.
Reza tersenyum kecil, seperti sudah menduga akan ditanya begitu. "Karena rekomendasinya bukan dari saya."
"Terus dari siapa?"
"Pak Kane."
Ruangan hening sebentar. Gwen mencoba mencari logika di balik itu—CEO yang baru dia temui sekali, di rapat empat puluh menit yang isinya cuma dia mengoreksi satu proyeksi biaya, tiba-tiba menunjuk dia jadi PIC proyek terbesar kuartal ini?
"Beliau bilang apa persisnya?" tanya Gwen, mencoba terdengar seprofesional mungkin walau kepalanya sedang berputar cepat.
"Katanya," Reza mengangkat bahu, "'orang yang berani koreksi angka board di hari pertama pasti gak takut kerja keras.'"
Beberapa orang di meja tertawa kecil. Gwen tidak—dia terlalu sibuk menganalisis apakah itu pujian atau ujian.
---
Kabar itu belum genap satu jam menyebar sebelum Nadya sudah mengirim pesan panjang lebar, lengkap dengan tiga stiker beruntun yang isinya wajah kaget.
NADYA: WOI. PIC PROYEK MERIDIAN?? Baru dua minggu???
NADYA: gila ini bocoran dari temenku di finance, katanya nilainya gede banget
NADYA: kamu ngapain sampe bisa dipercaya CEO segitunya
Gwen mengetik balasan sambil menyeruput teh manis dari mug kesayangannya, satu-satunya barang personal yang sudah dia bawa dari rumah ke meja kerjanya.
GWEN: gatau. mungkin karena kemarin gue koreksi angka di rapat
GWEN: standar kerjanya emang tinggi kayaknya
NADYA: standar kerja apaan. itu lo dikasih proyek gede bukan tugas ngerjain excel
GWEN: ya sama aja intinya harus akurat
Nadya tidak membalas selama beberapa menit—sesuatu yang jarang terjadi, karena biasanya sahabatnya itu tipe yang membalas dalam hitungan detik. Ketika akhirnya balasan datang, isinya cuma satu kalimat:
NADYA: kadang gue heran gimana caranya lo bisa se-jenius itu di kerjaan tapi se-oon itu buat hal lain.
Gwen mengernyit membaca pesan itu, tapi keburu ada notifikasi kalender yang muncul di sudut layar—undangan rapat mendadak, jam dua siang, dari kalender pribadi Madoc Kane.
Dia menutup obrolan dengan Nadya tanpa membalas.
---
Rapat itu ternyata hanya soal update progress. Tapi yang membuat Gwen bingung bukan isinya—melainkan frekuensinya.
Senin, rapat progress pukul dua siang. Rabu, rapat progress lagi, kali ini pukul sepuluh pagi. Jumat, rapat lagi, dengan alasan "sinkronisasi sebelum weekend."
Belum genap seminggu proyek berjalan, dan Gwen sudah tiga kali duduk di ruang kaca lantai lima belas, menjelaskan hal-hal yang sebenarnya bisa dia rangkum dalam satu laporan tertulis.
"Progress timeline masih sesuai rencana," katanya di rapat ketiga, menunjuk slide yang isinya nyaris sama dengan dua rapat sebelumnya. "Vendor untuk lokasi kedua udah confirm, tinggal nunggu approval izin dari pemda setempat."
Madoc mengangguk, menulis sesuatu di notesnya—kebiasaan yang Gwen perhatikan selalu dia lakukan walau apa yang dia tulis kadang cuma satu-dua kata.
"Approval izinnya kapan target keluarnya?"
"Estimasi dua minggu."
"Kalau molor?"
"Ada plan B, kita mulai renovasi interior duluan sambil nunggu, biar timeline gak keganggu banyak."
"Plan C kalau plan B juga gak jalan?"
Gwen menatapnya sebentar. Pertanyaan itu—untuk konteks progress mingguan yang baru berjalan lima hari—terasa agak berlebihan. Tapi dia menjawabnya juga, karena itu memang tugasnya.
"Kalau sampai plan B juga gagal, kita geser resource ke lokasi ketiga dulu, biar minimal satu dari tiga target tetap on track sementara kita cari solusi buat yang kedua."
Madoc menatapnya lama, lalu—untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai—dia sedikit tersenyum. Bukan senyum lebar, cuma satu sudut bibir yang terangkat tipis, tapi cukup untuk membuat dua orang lain di meja saling lirik.
"Bagus," katanya. "Lanjut aja rencana kerja kamu. Rapat berikutnya Senin depan."
Setelah rapat selesai, Elias yang duduk di sudut ruangan sejak awal—Gwen baru sadar dia ada di sana—mengetuk pelan mejanya sendiri, seolah menahan sesuatu.
Gwen tidak tahu apa yang lucu.
---
Malam itu Nadya datang membawa dua bungkus nasi goreng dan duduk di sofa Gwen tanpa diundang, kebiasaan yang sudah berlangsung sejak kuliah.
"Jadi," katanya sambil membuka bungkusan, "berapa kali dalam seminggu ini kamu ketemu bos kamu langsung?"
"Tiga kali. Kenapa?"
"Tiga kali." Nadya mengulang kata itu pelan-pelan, seperti sedang mencicipi rasa aneh dari sebuah angka. "Buat proyek yang baru jalan seminggu."
"Ya karena nilainya gede, makanya diawasi ketat."
"Gwen." Nadya meletakkan sendoknya. "Proyek gede lain di perusahaan itu biasanya cuma dilaporin ke board bulanan. CEO gak turun tangan langsung tiap minggu buat cek progress satu proyek doang, kecuali—"
"Kecuali apa?"
"Kecuali ada alasan lain."
Gwen mengunyah nasi gorengnya, mencoba memikirkan kemungkinan itu dengan serius. "Mungkin dia emang tipe yang detail-oriented. Kayak, standar kerjanya tinggi banget, jadi dia mau pastiin semuanya berjalan sesuai rencana dari awal."
"Atau," Nadya menyipitkan mata, "dia cuma nyari-nyari alasan buat liat kamu tiga kali seminggu."
Gwen tertawa, satu tawa pendek yang lebih ke arah tidak percaya daripada geli. "Nad, dia CEO. Punya ratusan karyawan buat diurusin. Ngapain juga repot-repot bikin alasan buat ketemu manajer operasional yang baru dua minggu kerja."
"Itu yang gue tanya ke lo."
"Ya karena standar kerjanya emang tinggi. Udah, itu doang alasannya."
Nadya menatapnya lama, ekspresinya campuran antara geli dan putus asa—jenis tatapan yang biasa dia kasih kalau Gwen sudah membuat kesimpulan salah tapi terlalu yakin untuk dikoreksi.
"Terserah deh," katanya akhirnya, mengalihkan topik ke drama Korea yang baru dia tonton, karena dia sudah cukup lama kenal Gwen untuk tahu kapan harus berhenti mendorong sesuatu yang belum siap diterima sahabatnya sendiri.
Tapi sebelum ganti channel, dia sempat mengirim pesan cepat ke ponselnya sendiri—catatan kecil yang dia simpan diam-diam, tanggal hari itu, dengan satu baris:
Rapat progress: 3x/minggu. Alasan: "standar kerja tinggi." Update lagi minggu depan.
Kalau memang benar cuma soal standar kerja, dia tidak akan rugi apa-apa untuk terus mengumpulkan bukti.
Tapi kalau tebakannya benar, dia mau jadi orang pertama yang bisa bilang ke Gwen, "sudah gue bilang."