Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Saat Harga Diri Tak Lagi Bisa Ditawar
Pagi itu, Aynara sedang menyapu halaman ketika beberapa tetangga yang kebetulan lewat berhenti di depan pagar.
"Nara?"
Aynara mengangkat wajah dan tersenyum sopan. "Pagi, Bu."
Salah seorang dari mereka memandang rumah Jayadi, lalu kembali menatap Aynara. "Katanya kemarin kamu menikah, ya?"
Aynara mengangguk kecil. "Iya."
"Kemarin saya lihat kamu pakai gaun pengantin. Dijemput mobil mewah pula."
Tetangga lainnya ikut menyahut.
"Pak Jayadi, Bu Jayadi, sama Caca juga pulangnya diantar mobil yang sama, 'kan?"
Aynara hanya tersenyum tipis. Namun pertanyaan berikutnya membuat tangannya berhenti menyapu.
"Terus kok sekarang kamu malah ada di rumah? Suamimu tinggal di sini juga?"
Aynara membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab.
Cepi yang sejak tadi berada di teras langsung menyahut. "Suaminya gak tinggal di sini."
Para tetangga menoleh kepadanya.
Cepi tersenyum tipis. "Namanya juga jadi istri. Gak cukup cuma modal cantik."
Aynara menundukkan wajah.
"Kalau kelakuannya gak baik." Cepi melirik Aynara. "mana ada suami atau mertua yang tahan."
Beberapa tetangga saling pandang. Ada yang tersenyum canggung, ada pula yang mulai memasang wajah penasaran.
Aynara mengembuskan napas pelan. "Bukannya menutupi aib keluarga, Ibu malah sengaja mengumbarnya."
Ia kembali menggerakkan sapunya, memilih tidak menanggapi. Namun dalam hati, rasa sesak perlahan memenuhi dadanya.
Kemarin ia masih menjadi pengantin. Hari ini, bahkan tetangga sudah tahu bahwa pernikahannya tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Aynara yang telah selesai menyapu akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Nara," panggil Jayadi.
Aynara menoleh. "Iya, Yah?"
"Kita ke rumah sakit," ujar Jayadi. "Ayah mau menengok Pak Wicaksono."
Aynara terdiam sejenak. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan keluarga Wicaksono setelah apa yang terjadi semalam. Namun, bagaimanapun juga, Wicaksono sedang terbaring koma. "Baik. Aku bersiap dulu."
Satu jam kemudian, Aynara dan Jayadi tiba di rumah sakit dengan taksi.
Jayadi sebenarnya masih ingin memastikan sendiri apakah cerita putrinya benar. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan perkataan Aynara.
Namun begitu sampai di depan ruang perawatan dan melihat Wicaksono terbaring tak sadarkan diri, Jayadi hanya bisa menghela napas panjang.
"Sudah percaya sekarang, Yah?" tanya Aynara pelan.
Jayadi mengangguk. "Iya."
Aynara menatap pintu ruang perawatan sebelum melanjutkan, "Soal aku pulang... aku dan Aksa memang menikah karena terpaksa. Dia juga gak menginginkanku. Jadi menurutku, lebih baik kami berpisah seperti ini."
Jayadi tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. "Ya sudah. Kita pulang."
Aynara tak mengatakan apapun lagi, ia berjalan meninggalkan ruang perawatan bersama Jayadi.
Namun baru beberapa meter, Jayadi berhenti. "Ayah mau ke kamar mandi dulu." Ia menunjuk ke arah lobby. "Kamu tunggu di sana, ya."
"Iya, Yah," sahut Aynara.
Jayadi kemudian berbelok menuju kamar mandi.
Aynara melangkah menuju lobby. Namun baru beberapa langkah, ia melihat dua sosok yang dikenalnya.
Aksa dan Asti.
Aynara spontan berhenti. Ia sebenarnya hendak menghampiri ibu mertuanya untuk menyapa. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Asti.
"Aksa, kata pelayan, Aynara pergi kemarin malam dan sampai sekarang belum kembali. Kalian bertengkar?"
Aynara tanpa sadar berhenti di balik sebuah pilar. Ia tidak bermaksud menguping, namun suara Aksa terdengar begitu jelas.
"Pernikahan kami terjadi karena terpaksa. Dan yang memaksa adalah Kakek."
Aynara menahan napas.
"Sekarang Kakek koma dan gak tahu kapan akan bangun. Jadi lebih baik kami berpisah saja," kata Aksa enteng. "Nanti ketemu lagi saat waktunya cerai."
Asti menatap putranya tidak percaya. "Sa..." Asti menggeleng. "Terpaksa atau tidak, kenyataannya Nara adalah istrimu."
Aksa mendengus. "Ma, perempuan kayak gitu gak pantas jadi istriku. Keluarganya saja kelihatan banget kampungan dan matre."
Tubuh Aynara menegang, jemari Aynara perlahan mengepal. Namun perkataan Aksa selanjutnya makin membuat urat-urat di punggung tangannya menonjol.
"Kalau dia jadi istriku selamanya, dia bakal jadiin aku ATM berjalan. Mobil aja keluarganya gak punya. Entah kayak apa rumah mereka. Mungkin cuma gubuk reyot."
Asti tampak semakin kecewa.
Namun Aksa terus berbicara. "Aku cuma mau menikah sama perempuan yang cantik dan setara denganku. Perempuan yang pantas berdiri di sampingku saat menghadiri perjamuan bisnis."
Ia tertawa sinis. "Dia? Boro-boro." Sorot matanya mengeras. "Dia lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istriku."
Aynara memejamkan mata, dadanya terasa sesak. Ia sudah tahu Aksa tidak menyukainya. Sudah tahu pria itu menganggap pernikahan mereka sebagai kesialan. Tetapi mendengar hinaan itu langsung dari mulutnya tetap terasa berbeda. Terlebih ketika Aksa menyentuh hal yang paling membuatnya sakit. Keluarganya dan dirinya.
"Kalau bukan karena warisan, aku gak bakal sudi nikah sama dia."
Asti menghela napas panjang. "Bagaimanapun juga, Nara tetap istrimu. Selama kalian belum bercerai, kamu punya kewajiban untuk menafkahinya dan memberikan perlindungan."
Aksa mengibaskan tangan. "Sudahlah, Ma. Aku gak mau debat soal dia." Ia berbalik. "Mama mau bilang apa pun, aku gak peduli. Pokoknya aku gak mau lihat wajahnya lagi." Aksa berjalan pergi. "Satu tahun lagi kami cerai." Langkahnya semakin menjauh.
Asti hanya bisa berdiri diam sambil menatap punggung putranya dengan mata berkaca-kaca. "Ayah benar..." Suara Asti lirih. "Aku terlalu memanjakannya." Ia menundukkan wajah. "Sampai dia jadi seperti ini."
Di balik pilar, Aynara masih berdiri. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin menangis karena Aksa. Tidak di tempat ini. Tidak setelah mendengar pria itu menganggapnya lebih pantas menjadi pembantu daripada istri.
Aynara menarik napas dalam-dalam. "Jadi seperti itu rupanya aku di matamu."
Ia mengusap sudut matanya dengan cepat. Tidak ada lagi alasan baginya untuk berharap. Tidak ada lagi alasan untuk merasa bersalah karena pernikahan itu gagal. Bahkan kalau suatu hari Aksa berubah pikiran, Aynara tahu satu hal. Ia tidak akan pernah melupakan bagaimana pria itu memandang rendah dirinya hari ini.
Aynara kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan kepala tegak, dan langkah mantap. Air matanya memang masih tertahan di pelupuk mata, tetapi kali ini ia tidak ingin menangis.
Ia sudah cukup mendengar, sudah cukup terluka, sudah cukup berharap. Dan mulai hari ini, kebencian di hatinya kepada Aska benar-benar memiliki alasan.
"Mulai hari ini, aku gak mau lagi jadi istri Aksa."
...🔸🔸🔸...
...“Kemewahan tidak pernah menjadi ukuran tinggi rendahnya seseorang. Yang membuat manusia berharga adalah sikap, perjuangan, dan caranya menghargai orang lain.”...
...“Menghargai seseorang tidak membutuhkan kekayaan. Cukup dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki hati dan harga diri yang harus dijaga.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Sekarang, Aksa telah resmi menjadi CEO. Dan Aynara, juga sudah menjadi Istri CEO. 😂😂😂 Istri CEO memesona. 😂😂😂
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏