NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Saat Harga Diri Tak Lagi Bisa Ditawar

Pagi itu, Aynara sedang menyapu halaman ketika beberapa tetangga yang kebetulan lewat berhenti di depan pagar.

"Nara?"

Aynara mengangkat wajah dan tersenyum sopan. "Pagi, Bu."

Salah seorang dari mereka memandang rumah Jayadi, lalu kembali menatap Aynara. "Katanya kemarin kamu menikah, ya?"

Aynara mengangguk kecil. "Iya."

"Kemarin saya lihat kamu pakai gaun pengantin. Dijemput mobil mewah pula."

Tetangga lainnya ikut menyahut.

"Pak Jayadi, Bu Jayadi, sama Caca juga pulangnya diantar mobil yang sama, 'kan?"

Aynara hanya tersenyum tipis. Namun pertanyaan berikutnya membuat tangannya berhenti menyapu.

"Terus kok sekarang kamu malah ada di rumah? Suamimu tinggal di sini juga?"

Aynara membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab.

Cepi yang sejak tadi berada di teras langsung menyahut. "Suaminya gak tinggal di sini."

Para tetangga menoleh kepadanya.

Cepi tersenyum tipis. "Namanya juga jadi istri. Gak cukup cuma modal cantik."

Aynara menundukkan wajah.

"Kalau kelakuannya gak baik." Cepi melirik Aynara. "mana ada suami atau mertua yang tahan."

Beberapa tetangga saling pandang. Ada yang tersenyum canggung, ada pula yang mulai memasang wajah penasaran.

Aynara mengembuskan napas pelan. "Bukannya menutupi aib keluarga, Ibu malah sengaja mengumbarnya."

Ia kembali menggerakkan sapunya, memilih tidak menanggapi. Namun dalam hati, rasa sesak perlahan memenuhi dadanya.

Kemarin ia masih menjadi pengantin. Hari ini, bahkan tetangga sudah tahu bahwa pernikahannya tidak berjalan seperti yang seharusnya.

Aynara yang telah selesai menyapu akhirnya masuk ke dalam rumah.

"Nara," panggil Jayadi.

Aynara menoleh. "Iya, Yah?"

"Kita ke rumah sakit," ujar Jayadi. "Ayah mau menengok Pak Wicaksono."

Aynara terdiam sejenak. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan keluarga Wicaksono setelah apa yang terjadi semalam. Namun, bagaimanapun juga, Wicaksono sedang terbaring koma. "Baik. Aku bersiap dulu."

Satu jam kemudian, Aynara dan Jayadi tiba di rumah sakit dengan taksi.

Jayadi sebenarnya masih ingin memastikan sendiri apakah cerita putrinya benar. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan perkataan Aynara.

Namun begitu sampai di depan ruang perawatan dan melihat Wicaksono terbaring tak sadarkan diri, Jayadi hanya bisa menghela napas panjang.

"Sudah percaya sekarang, Yah?" tanya Aynara pelan.

Jayadi mengangguk. "Iya."

Aynara menatap pintu ruang perawatan sebelum melanjutkan, "Soal aku pulang... aku dan Aksa memang menikah karena terpaksa. Dia juga gak menginginkanku. Jadi menurutku, lebih baik kami berpisah seperti ini."

Jayadi tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. "Ya sudah. Kita pulang."

Aynara tak mengatakan apapun lagi, ia berjalan meninggalkan ruang perawatan bersama Jayadi.

Namun baru beberapa meter, Jayadi berhenti. "Ayah mau ke kamar mandi dulu." Ia menunjuk ke arah lobby. "Kamu tunggu di sana, ya."

"Iya, Yah," sahut Aynara.

Jayadi kemudian berbelok menuju kamar mandi.

Aynara melangkah menuju lobby. Namun baru beberapa langkah, ia melihat dua sosok yang dikenalnya.

Aksa dan Asti.

Aynara spontan berhenti. Ia sebenarnya hendak menghampiri ibu mertuanya untuk menyapa. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Asti.

"Aksa, kata pelayan, Aynara pergi kemarin malam dan sampai sekarang belum kembali. Kalian bertengkar?"

Aynara tanpa sadar berhenti di balik sebuah pilar. Ia tidak bermaksud menguping, namun suara Aksa terdengar begitu jelas.

"Pernikahan kami terjadi karena terpaksa. Dan yang memaksa adalah Kakek."

Aynara menahan napas.

"Sekarang Kakek koma dan gak tahu kapan akan bangun. Jadi lebih baik kami berpisah saja," kata Aksa enteng. "Nanti ketemu lagi saat waktunya cerai."

Asti menatap putranya tidak percaya. "Sa..." Asti menggeleng. "Terpaksa atau tidak, kenyataannya Nara adalah istrimu."

Aksa mendengus. "Ma, perempuan kayak gitu gak pantas jadi istriku. Keluarganya saja kelihatan banget kampungan dan matre."

Tubuh Aynara menegang, jemari Aynara perlahan mengepal. Namun perkataan Aksa selanjutnya makin membuat urat-urat di punggung tangannya menonjol.

"Kalau dia jadi istriku selamanya, dia bakal jadiin aku ATM berjalan. Mobil aja keluarganya gak punya. Entah kayak apa rumah mereka. Mungkin cuma gubuk reyot."

Asti tampak semakin kecewa.

Namun Aksa terus berbicara. "Aku cuma mau menikah sama perempuan yang cantik dan setara denganku. Perempuan yang pantas berdiri di sampingku saat menghadiri perjamuan bisnis."

Ia tertawa sinis. "Dia? Boro-boro." Sorot matanya mengeras. "Dia lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istriku."

Aynara memejamkan mata, dadanya terasa sesak. Ia sudah tahu Aksa tidak menyukainya. Sudah tahu pria itu menganggap pernikahan mereka sebagai kesialan. Tetapi mendengar hinaan itu langsung dari mulutnya tetap terasa berbeda. Terlebih ketika Aksa menyentuh hal yang paling membuatnya sakit. Keluarganya dan dirinya.

"Kalau bukan karena warisan, aku gak bakal sudi nikah sama dia."

Asti menghela napas panjang. "Bagaimanapun juga, Nara tetap istrimu. Selama kalian belum bercerai, kamu punya kewajiban untuk menafkahinya dan memberikan perlindungan."

Aksa mengibaskan tangan. "Sudahlah, Ma. Aku gak mau debat soal dia." Ia berbalik. "Mama mau bilang apa pun, aku gak peduli. Pokoknya aku gak mau lihat wajahnya lagi." Aksa berjalan pergi. "Satu tahun lagi kami cerai." Langkahnya semakin menjauh.

Asti hanya bisa berdiri diam sambil menatap punggung putranya dengan mata berkaca-kaca. "Ayah benar..." Suara Asti lirih. "Aku terlalu memanjakannya." Ia menundukkan wajah. "Sampai dia jadi seperti ini."

Di balik pilar, Aynara masih berdiri. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin menangis karena Aksa. Tidak di tempat ini. Tidak setelah mendengar pria itu menganggapnya lebih pantas menjadi pembantu daripada istri.

Aynara menarik napas dalam-dalam. "Jadi seperti itu rupanya aku di matamu."

Ia mengusap sudut matanya dengan cepat. Tidak ada lagi alasan baginya untuk berharap. Tidak ada lagi alasan untuk merasa bersalah karena pernikahan itu gagal. Bahkan kalau suatu hari Aksa berubah pikiran, Aynara tahu satu hal. Ia tidak akan pernah melupakan bagaimana pria itu memandang rendah dirinya hari ini.

Aynara kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan kepala tegak, dan langkah mantap. Air matanya memang masih tertahan di pelupuk mata, tetapi kali ini ia tidak ingin menangis.

Ia sudah cukup mendengar, sudah cukup terluka, sudah cukup berharap. Dan mulai hari ini, kebencian di hatinya kepada Aska benar-benar memiliki alasan.

"Mulai hari ini, aku gak mau lagi jadi istri Aksa."

 

...🔸🔸🔸...

...“Kemewahan tidak pernah menjadi ukuran tinggi rendahnya seseorang. Yang membuat manusia berharga adalah sikap, perjuangan, dan caranya menghargai orang lain.”...

...“Menghargai seseorang tidak membutuhkan kekayaan. Cukup dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki hati dan harga diri yang harus dijaga.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!