Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Saham Jatuh
Rian Prasetyo tidak tahu bahwa pagi itu, beberapa orang kaya sedang mencoba "membantu" rencananya.
Itu selalu berbahaya.
Di sebuah ruang privat Jakarta, Lingkaran Garuda berkumpul tanpa Rian. Di atas meja ada layar besar yang menampilkan grafik saham Kopi Segar. Garisnya masih terlihat tinggi, tetapi di bawahnya, angka-angka fundamental sudah mulai busuk.
Indra Sasmita berdiri di depan layar dengan tablet di tangan.
"Kopi Segar saat ini diperdagangkan di sekitar Rp 12.000 per saham," katanya. "Secara historis, pasar masih menilai brand ini sebagai pesaing kuat Es Madu Kopi. Masalahnya, kondisi sekarang berbeda."
Pak Budiman Hartono menatap grafik.
"Jelaskan."
Indra mengangguk.
"Pertama, Es Madu Kopi sudah diambil Yamamoto dan sedang mengalami gangguan internal. Kedua, Kopi Segar selama ini bergantung pada persepsi bahwa mereka punya akses ke jaringan Maulana dan Yamamoto. Jika pasar melihat hubungan itu justru menjadi sumber risiko, valuasi akan turun cepat."
Pak Wahyu Santoso tersenyum tipis.
"Dan sekarang ada kasus Aldo."
"Betul, Pak. Kasus hukum Aldo Maulana menekan reputasi Pak Herman Maulana. Jika berita itu membesar, Kopi Segar akan terkena efek langsung."
Raka Wijaya mencondongkan badan.
"Jadi ini timing boss fight?"
Indra berhenti sebentar, mencoba menerjemahkan kalimat itu ke bahasa profesional.
"Secara teknikal dan fundamental, ini momentum bearish."
Raka menepuk meja. "Nah, itu. Boss fight."
Pak Budiman mengambil cangkir tehnya.
"Mas Rian menjual Es Madu Kopi kepada Yamamoto. Yamamoto menanggung N+3. Vina merusak kultur. Kasus Aldo membuka sisi gelap Maulana. Semua jalur mengarah ke satu titik."
Pak Ferry menambahkan, "Kopi Segar menjadi simpul yang rapuh."
Pak Djoko mengangguk. "Kalau simpul itu putus, jaringan lama mereka ikut melemah."
Pak Agung tertawa rendah. "Berarti kita bantu tarik."
Indra membuka halaman berikutnya.
"Saya menyiapkan strategi posisi bearish melalui instrumen legal yang tersedia untuk investor profesional. Eksposur bisa dibatasi. Risiko tetap ada, tapi peluangnya besar."
Pak Wahyu langsung berkata, "Saya masuk."
Raka mengangkat tangan. "Gue taruh Rp 50 miliar. Untuk quest Bang Rian."
Pak Budiman tidak tersenyum, tetapi matanya hangat.
"Kita lakukan dengan disiplin. Kita membaca arah pasar, bukan berjudi."
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa "arah pasar" tersebut tidak pernah dibahas dengan Rian.
Pada saat yang sama, Rian sedang memeriksa laporan Kopi Sejati dan merasa takut karena pelanggan mulai memuji transparansi bahan.
Ia bahkan tidak membuka grafik Kopi Segar.
Indra mulai bergerak.
Transaksi pertama kecil, nyaris tidak terlihat.
Lalu posisi diperbesar.
Kemudian rumor tentang kondisi Es Madu Kopi menyebar: ribuan karyawan mengajukan kompensasi, Vina menahan pembayaran, pelanggan marah karena harga naik. Berita kasus Aldo Maulana membuat nama Pak Herman kembali terseret.
Pasar yang sebelumnya tenang mulai goyah.
Hari pertama, saham Kopi Segar turun sepuluh persen.
Di kantor Yamamoto Group Jakarta, Takeshi Yamamoto melihat angka itu dan mengerutkan kening.
"Fluktuasi biasa," katanya.
Hari kedua, turun lagi lima belas persen.
Vina mengirim laporan bahwa klaim N+3 dari karyawan Es Madu Kopi terus bertambah. Takeshi membaca laporan itu bersamaan dengan grafik saham Kopi Segar yang makin merah.
"Kenapa semua terjadi bersamaan?"
Tidak ada yang menjawab.
Hari ketiga, pasar mulai panik.
Investor ritel menjual. Akun berita bisnis menulis analisis tentang risiko Maulana Group. Potongan wawancara Nadia Sari kembali dibagikan. Tagar tentang hak karyawan Es Madu Kopi muncul bersamaan dengan kritik terhadap Kopi Segar.
Harga saham jatuh lebih dari dua puluh persen.
Di forum investor ritel, kepanikan berubah menjadi lomba menebak siapa yang akan jatuh berikutnya.
Ada yang menulis bahwa Kopi Segar terlalu lama hidup dari citra mahal. Ada yang membongkar ulang hubungan Pak Herman dengan pejabat lama. Ada pula yang membandingkan cara Garuda Emas memperlakukan karyawan dengan cara Vina memperlakukan Es Madu Kopi. Perbandingan itu kejam karena sangat sederhana: satu perusahaan membuat pekerja ingin bertahan, yang lain membuat pekerja ingin keluar sambil menuntut hak.
Satu analis televisi berkata, "Pasar menghukum lebih dari angka buruk. Pasar menghukum hilangnya kepercayaan."
Kalimat itu membuat saham Kopi Segar jatuh lebih dalam.
Indra tetap tenang.
"Jangan serakah di awal," katanya kepada investor lewat panggilan tertutup. "Kita ikuti rencana keluar bertahap."
Raka berbisik kepada Pak Wahyu, "Dia benar-benar murid Dewa Saham."
Pak Wahyu mengangguk serius. "Tidak heran Mas Rian membiarkannya dekat."
Padahal Mas Rian saat itu sedang bertanya kepada Bagas kenapa pelanggan Kopi Sejati malah suka melihat gula murah ditimbang terbuka.
Seminggu kemudian, grafik Kopi Segar terlihat seperti tebing runtuh.
Rp 12.000.
Rp 9.800.
Rp 7.200.
Rp 4.600.
Rp 2.000.
Di ruang privat yang sama, Lingkaran Garuda menatap angka hasil akhir.
Keuntungan gabungan dari posisi bearish mereka melewati Rp 200 miliar.
Raka berdiri sambil mengangkat gelas.
"Untuk Bang Rian! Dia menjual Es Madu Kopi, mengunci Yamamoto dengan N+3, membuka kasus Maulana, lalu membiarkan Kopi Segar jatuh sendiri. Gila. Strateginya sudah seperti seni."
Pak Budiman mengangkat gelasnya lebih pelan.
"Mas Rian tidak pernah menjelaskan seluruh rencananya. Mungkin karena jika dijelaskan, kita belum tentu sanggup memahaminya."
Semua orang mengangguk.
Indra bahkan tampak terharu.
"Saya semakin yakin, inti pasar bukan angka. Inti pasar adalah membaca manusia. Pak Rian membaca manusia jauh sebelum pasar membaca laporan."
Kalau Rian mendengar itu, ia mungkin akan langsung meminta semua orang berhenti membaca dirinya.
Di kantor Yamamoto, Takeshi tidak punya waktu untuk filosofi.
Telepon dari Tokyo datang tiga kali dalam satu jam. Suara dari kantor pusat semakin dingin. Mereka mempertanyakan pembelian Es Madu Kopi, kerugian N+3, penurunan aset terkait Kopi Segar, dan reputasi Yamamoto di Indonesia.
Takeshi menatap layar keuangan.
Uang keluar untuk kompensasi karyawan.
Nilai saham rekanan jatuh.
Pendapatan Es Madu Kopi menurun karena boikot pelanggan.
Vina meminta anggaran restrukturisasi tambahan.
Semua angka meminta darah.
"Saya butuh waktu," katanya kepada kantor pusat.
Jawaban dari seberang pendek.
"Anda sudah menghabiskan terlalu banyak waktu."
Malam itu, kantor Yamamoto Jakarta hampir kosong. Takeshi duduk sendirian di depan komputer. Di layar ada beberapa laporan internal yang belum dikirim ke Tokyo. Jika angka sebenarnya ditampilkan, kariernya selesai.
Tangannya berhenti di atas keyboard.
Lalu ia mulai mengubah alokasi.
Dana dari unit lain dipindahkan sementara ke akun Indonesia.
Kerugian ditunda pengakuannya.
Proyeksi pendapatan dibuat terlalu optimistis.
Catatan kompensasi N+3 dipisahkan dari laporan utama.
Setiap klik membuat wajahnya semakin pucat.
Ia tahu ini salah.
Tetapi ia lebih takut terlihat gagal daripada melakukan kejahatan kecil yang menurutnya bisa diperbaiki nanti.
Saat ia menyimpan laporan terakhir, pesawat dari Tokyo sedang melintasi langit malam menuju Jakarta.
Di dalamnya, tim audit internal Yamamoto Group sudah membuka file pertama.
Dan nama Takeshi Yamamoto berada di halaman paling atas.