"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032: Kemenangan di Kota Selatan
Herman Santoso untuk pertama kalinya tidak berteriak di kantornya sendiri.
Ia berdiri di belakang meja besar, wajahnya pucat, mata merah karena kurang tidur. Di layar komputer, laporan kas PT Pelayaran Jaya masih terbuka. Angka-angka merah tampak seperti luka yang tidak bisa ditutup dengan geng, koneksi, atau kebohongan lama.
Arya duduk di seberangnya.
Gerakannya lebih hati-hati daripada biasanya. Luka di sisi kiri tubuhnya masih menarik setiap kali ia duduk terlalu cepat. Namun justru kehati-hatian itu membuat ruangan terasa lebih berat. Seorang lelaki terluka masih datang ke kantor musuh dengan tangan kosong.
Itu bukan nekat.
Itu keyakinan.
Nayla berdiri di samping kursi Arya, membawa map Wicaksana. Pak Satria meletakkan dokumen hukum di atas meja.
"Ini surat pengosongan lahan," kata Pak Satria. "Ini bukti kepemilikan asli. Ini analisis forensik tanda tangan lampiran pengelolaan. Ini rekaman komunikasi antara staf PT Pelayaran Jaya dan orang Geng Macan Hitam."
Tegar mengepalkan tangan. "Kalian menjebak kami."
Nayla menoleh kepadanya. "Kamu menjebak dirimu sendiri saat mengira semua orang di kota ini bisa dibeli."
Tegar hendak membalas, tetapi Herman mengangkat tangan.
"Diam."
Satu kata itu membuat Tegar membeku.
Herman memandang Arya. "Proyek Danau Sagara. Itu dari kamu."
"Informasi proyek itu benar."
"Risikonya disembunyikan."
"Risikonya ada di lampiran legal, halaman enam sampai dua belas. Konsultanmu menerima. Direkturmu membaca. Kamu memilih menandatangani setelah melihat halaman pertama."
Herman menggertakkan gigi.
Arya tidak menaikkan suara.
"Itulah masalahmu, Pak Herman. Kamu terbiasa membaca hanya bagian yang menguntungkanmu."
Di layar ponsel Arya, pesan dari Alice masuk.
Bank kedua baru saja menarik fasilitas bridging. Dia tidak punya udara lagi.
Arya mematikan layar.
Herman melihat gerakan itu. "Apa maumu?"
"Kembalikan lahan Wicaksana. Akui lampiran pengelolaan tidak sah. Serahkan daftar semua orang yang kamu pakai untuk menguasai akses fisik lahan. Tanggung biaya pemulihan dan kerusakan."
"Kalau saya menolak?"
Pak Satria membuka map kedua.
"Maka laporan masuk ke polisi, OJK regional, bank kreditur, asosiasi notaris, dan media bisnis. Dengan status Rahmat sudah ditangkap, narasinya akan sangat mudah dipahami publik."
Tegar memucat.
Herman menatap jendela kantornya.
Kota Selatan terbentang di bawah. Pelabuhan yang selama ini ia anggap miliknya, jalan-jalan yang ia kuasai lewat kontraktor, gudang-gudang yang membayar upeti, semua tampak kecil dari lantai atas.
Kekuasaan ternyata tidak hilang perlahan.
Kadang ia jatuh dalam satu hari.
"Saya menandatangani," katanya akhirnya.
"Bapak!" Tegar berseru.
Herman membanting telapak tangan ke meja. "Diam!"
Kali ini Tegar tidak berani bicara.
Dokumen disiapkan oleh pengacara Wicaksana dan notaris independen yang datang dengan pengawalan polisi. Herman menandatangani satu per satu. Tanda tangan pengakuan penguasaan tidak sah. Pernyataan pengosongan lahan dalam tujuh hari. Komitmen membayar pemulihan. Daftar nama penjaga dan vendor bayangan.
Ketika pena terakhir menyentuh kertas, Nayla menutup mata.
Ia teringat Soedirman di kursi roda, wajah tua yang kecewa karena terlalu lama menahan konflik.
"Eyang akan senang," katanya pelan.
Arya menoleh. "Kirim salinan kepadanya."
Nayla mengangguk.
Herman menyandarkan tubuh ke kursi. "Kamu menghancurkan aku hanya untuk tanah lima puluh delapan miliar?"
Arya berdiri pelan. Luka membuat gerakannya sedikit kaku, tetapi suaranya tetap datar.
"Tidak. Aku menghancurkan cara berpikir bahwa orang kuat boleh mengambil milik orang lain karena pemiliknya memilih damai."
Herman tidak menjawab.
Ia tampak lebih tua sepuluh tahun.
Sore itu, berita menyebar di Kota Selatan.
PT Pelayaran Jaya mengembalikan lahan Keluarga Wicaksana.
Geng Macan Hitam kehilangan pemimpin.
Bank menahan fasilitas kredit Herman Santoso.
Para vendor yang dulu menunduk mulai menghitung ulang kesetiaan.
Di hotel, Soedirman Wicaksana menelepon lewat video. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya hidup.
"Nak Arya," katanya. "Kau mengembalikan tanah itu lebih cepat daripada semua pengacara kami selama bertahun-tahun."
"Karena kali ini lawannya tidak hanya diberi surat. Dia diberi alasan untuk takut kehilangan semuanya."
Soedirman tertawa pelan, lalu batuk.
Nayla langsung mendekat ke layar. "Eyang jangan banyak bicara."
"Kau yang jangan terlalu galak kepada penyelamatmu."
Wajah Nayla memerah. "Eyang."
Soedirman tersenyum. "Pulanglah setelah urusan selesai. Dan Arya, Wicaksana tidak lupa utang."
"Jaga kesehatan Anda dulu, Pak."
Setelah panggilan berakhir, Alice datang langsung ke hotel.
Ia muncul di lobi dengan gaun sederhana warna biru gelap, koper kecil, dan senyum yang membuat beberapa tamu menoleh. Ia memeluk Arya seolah mereka baru berpisah bertahun-tahun, lalu langsung mundur ketika melihat Arya meringis.
"Oh. Luka."
Nayla berkata dingin, "Baru sadar?"
Alice menatapnya, lalu tersenyum. "Kamu benar-benar menjaga dia."
"Seseorang harus melakukannya karena dia tidak punya naluri merawat diri."
"Kita sepakat dalam hal itu."
Malamnya, mereka makan sederhana di ruang privat hotel. Tidak ada pesta besar. Hanya makanan hangat, teh, laporan final, dan sedikit kelegaan. Alice menjelaskan bahwa proyek Danau Sagara tidak perlu dilanjutkan oleh siapa pun. Deposit Herman akan tertahan sesuai perjanjian, sebagian menjadi kompensasi administratif untuk pihak pemilik, sebagian lagi tersangkut proses sengketa yang membuat arus kas Herman makin berat.
"Legal?" tanya Nayla.
"Sangat legal," jawab Alice. "Kejam bukan berarti ilegal."
Arya hampir tersenyum.
Keesokan paginya, Alice harus kembali ke Jakarta lalu Singapura.
Di bandara kecil Kota Selatan, ia berdiri di depan Arya sambil membawa boarding pass.
"Kamu berutang ucapan terima kasih yang lebih layak."
"Terima kasih."
"Terlalu kering."
Sebelum Arya bisa menghindar, Alice maju dan mencium pipinya singkat.
Pak Satria langsung memandang papan keberangkatan.
Nayla yang baru keluar dari mobil melihat semuanya.
Alice melambaikan tangan kepadanya. "Jaga dia. Dia buruk dalam hal itu."
Nayla melipat tangan. "Kelihatannya banyak yang ingin menjaga."
"Laki-laki berguna memang merepotkan."
Alice masuk ke area keberangkatan dengan langkah ringan, meninggalkan Arya di antara dua jenis diam: diam Pak Satria yang berusaha sopan, dan diam Nayla yang jelas tidak sopan.
"Dia siapa?" tanya Nayla.
"Mitra bisnis."
"Mitra bisnis mencium pipi?"
"Dalam beberapa budaya, ya."
"Kita sedang di Indonesia."
Arya menatapnya. "Kamu marah?"
"Tidak."
"Kamu cemburu?"
"Aku sedang mengevaluasi standar profesional Prima Investment."
Pak Satria hampir tersedak.
Dalam perjalanan kembali ke Kota Awan, Nayla duduk lebih diam daripada biasanya. Jalan panjang membuat kota, sawah, dan truk kontainer berganti tanpa banyak suara.
Setelah hampir satu jam, ia berkata, "Arya."
"Ya?"
"Aku tanya satu hal. Jawab jujur."
"Tanya."
"Di hatimu, sebenarnya ada berapa perempuan?"
Mobil terasa lebih sunyi.
Pak Satria menatap jalan seperti sedang mengemudi di tepi jurang.
Arya melihat perban di balik jaketnya, lalu memandang keluar jendela.
"Aku belum punya hak menjawab itu."
Nayla menoleh. "Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberi sekarang. Hidupku masih penuh perang. Orang-orang di dekatku ikut terluka. Sampai aku bisa memastikan mereka aman, aku tidak berhak bicara seolah perasaan saja cukup."
Nayla diam.
Lalu ia menghadap jendela. "Jawaban menyebalkan."
"Aku tahu."
"Tapi tidak pengecut."
Ponsel Arya bergetar.
Pesan terenkripsi dari Dewi.
Arya, pulang secepatnya. Prabu datang langsung ke Kota Awan. Dia menunggu di Gedung Takdir.
Arya membaca pesan itu dua kali.
Nayla melihat wajahnya berubah.
"Apa?"
"Prabu."
Pak Satria menggenggam kemudi lebih kuat.
Arya menyimpan ponsel.
"Dia akhirnya datang sendiri."