Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Retakan yang Tak Terlihat
“Yang paling menyakitkan dari rasa cemburu adalah ketika kita bahkan tidak punya alasan untuk marah.”
--
Dua hari setelah kepulangan Celine ke Indonesia, kehidupan di Adhyaksa Jewellery berjalan seperti biasa. Target produksi tetap harus diselesaikan, rapat tetap berlangsung, dan klien tetap berdatangan membawa berbagai permintaan yang tak jarang berubah di menit-menit terakhir.
Bagi Alina, pekerjaan selalu menjadi tempat paling nyaman untuk mengalihkan pikiran. Selama ia tenggelam dalam sketsa, pemilihan batu permata, dan revisi desain, dunia seolah berhenti mengganggunya. Namun ternyata, pikiran manusia tidak semudah itu dikendalikan.
Pagi itu, Alina sedang memeriksa hasil cetakan desain koleksi Aurora ketika suara tawa terdengar dari luar ruangannya. Bukan sesuatu yang aneh, kantor itu memang tak pernah benar-benar sunyi. Tetapi entah kenapa, suara itu terasa begitu akrab di telinganya.
Melalui dinding kaca transparan yang membatasi ruang kerjanya dengan ruang desain, Alina melihat Birendra berjalan berdampingan dengan Celine. Keduanya terlihat tengah membicarakan sesuatu seraya sesekali melihat tablet yang dibawa oleh Celine.
Tak lama kemudian, Celine akan tertawa dan Birendra ikut tersenyum, hal itu membuat Alina kembali menundukkan kepalanya. Alina mencoba melanjutkan pekerjaannya, namun garis-garis desain cincin dihadapannya perlahan berubah buram.
--
Kini, Alina tengah berada di ruang rapat bersama dengan timnya, mereka tampak tengah membahas desain koleksi Aurora dan timnya pun mendengarkan setiap penjelasan yang Alina terangkan pada mereka.
“Aurora nomor tiga sebaiknya bagian lengkungannya dibuat sedikit lebih tipis.”
Suara Alina membuat seluruh anggota tim kembali fokus. Mereka sedang melakukan evaluasi desain sebelum prototype masuk ke tahap produksi.
“Kalau terlalu tebal, pantulan cahayanya justru berkurang.” Lanjutnya lagi.
“Baik, Bu.” Nisa segera mencatat semua instruksi.
“Untuk model kelima…” belum sempat Alina menyelesaikan kalimatnya, seseorang mengetuk pintu ruang rapat. Semua orang disana langsung menoleh, Celine berdiri disana seraya membawa beberapa lembar dokumen.
“Maaf mengganggu.” Ia tersenyum sopan. “Aku hanya ingin menitip proposal ini untuk Pak Birendra.” Mendengar hal itu, Nisa pun langsung berdiri.
“Biar saya antar.”
“Ngga usah.” Celine menggeleng pelan. “Kalau dia nggak disini, biar sekalian aku cari dia.” Celine pun lekas meninggalkan ruangan itu. Tak ada yang aneh dari percakapan itu, namun setelah Celine pergi, salah seorang staff muda berbisik cukup pelan kepada rekannya.
“Kayaknya mereka dekat banget, ya.”
“Iya. Kirain Bu Alina yang paling dekat sama Pak Birendra.”
Alina pura-pura tidak mendengar semua bisikan samar itu, padahal setiap kata itu terdengar begitu jelas di telinganya. Ia menarik napak pelan sebelum akhirnya kembali melanjutkan rapat seolah tak terjadi apa-apa.
Profesionalisme selalu menjadi hal yang paling Alina jaga selama dirinya tengah bekerja. Apapun yang terjadi diluar ruang kerja, tidak boleh satu pun memengaruhi pekerjaannya. Namun, menjadi profesional bukan berarti ia tidak memiliki perasaan.
Menjelang siang, Birendra muncul di ruang desain. Kehadirannya langsung membuat beberapa staff berdiri, namun ia langsung mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua kembali bekerja. Tatapannya kemudian mencari satu orang—Alina.
“Sudah makan?” Pertanyaan sederhana itu terdengar begitu biasa. Tetapi di depan seluruh tim, Alina justru merasa sedikit canggung.
“Belum.”
“Ayo.” Alina langsung menggeleng pelan.
“Aku masih revisi.” Ucap Alina yang masih terfokus dengan desain yang berada di mejanya.
“Itu bisa nanti.”
“Ngga bisa. Deadline tinggal tiga hari.” Birendra memperhatikan meja kerja Alina yang dipenuhi oleh sketsa. Ia tahu wanita itu sedang serius, dan jika sudah seperti ini, memaksanya hanya akan membuat Alina semakin keras kepala.
Tanpa banyak bicara, Birendra mengambil kotak makan yang dibawanya. Ia meletakkannya begitu saja di atas meja Alina. “Kamu tetap harus makan.” Hanya itu yang diucapkan oleh Birendra. Tidak ada rayuan maupun paksaan, kemudian ia segera berbalik dan meninggalkan ruangan.
Beberapa detik setelah pintu tertutup, Nisa menatap Alina seraya tersenyum jahil. Ia juga menghampiri Alina. “Pak Birendra perhatian banget sama Ibu.” Alina hanya tersenyum tipis menanggapi hal tersebut.
Tangannya membuka kotak makan itu perlahan. Di dalamnya ada nasi, ayam panggang, sayur, dan potongan buah, itu merupakan menu favoritnya. Di sudut kota makan terselip secarik kertas kecil.
Jangan telat makan. Lambungmu lebih keras kepala dari pada kamu.
Tulisan tangan Birendra terlihat sederhana, namun cukup membuat sudut bibir Alina terangkat. Barangkali, ia memang terlalu banyak berpikir.
Sore harinya, Alina hendak pulang lebih awal karena berjanji makan malam bersama ayah dan kakaknya. Ia berjalan menuju area parkir seraya mengecek beberapa pesan di ponselnya. Saat hampir membuka pintu mobil, langkahnya terhenti.
Di beberapa petak parkir sebelah, Birendra terlihat tengah membantu Celine memasukkan dua koper besar ke bagasi mobil.
“Kamu bawa sebanyak ini?” tanya Birendra dan ditanggapi tawa kecil dari Celine.
“Aku belum sempat pindahan dari apartemen sementara.”
“Kenapa nggak minta bantuan sama orang kantor?”
“Karena aku cuma kenal sama kamu.” Birendra mengangguk pelan menanggapi hal itu. Tanpa ragu, ia mengangkat koper terakhir dan menutup bagasi.
“Kalau butuh apa-apa, kabari saja.”
“Siap, Pak CEO.” Kemudian mereka pun saling melempar tawa. Alina memalingkan wajahnya, ia tahu apa yang dilakukan Birendra hanyalah membantu teman lamanya, tidak lebih. Namun tetap saja ada sesuatu yang kembali mengusik pikirannya.
Selama lima tahun bersama, Birendra memang selalu ringan tangan kepada siapa pun. Ia suka membantu bawahannya, tetangganya, bahkan beberapa kali membantu ayah Alina memperbaiki atap rumah yang bocor. Jadi, mengapa pemandangan barusan terasa berbeda hari itu? Alina tidak menemukan jawabannya, ia hanya memilih masuk ke dalam mobilnya dan lekas melaju.
Malam itu, setelah mengantar Celine, Birendra langsung menuju rumah Alina. Ia sudah terbiasa datang tanpa membawa kabar. Kadang hanya untuk minum kopi bersama Hendra, kadang membantu memperbaiki keran yang rusak, atau sekedar duduk di teras bersama Alina tanpa banyak bicara.
Rumah Maheswari saat itu tampak lebih ramai dari biasanya. Keira dan Raka sedang memanggang jagung di halaman belakang, tawa mereka terdengar hingga ke depan rumah. Melihat suasana itu, Birendra ikut tersenyum.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa jam sebelumnya, seseorang yang paling di cintainya sempat memandangnya dengan perasaan yang belum pernah muncul selama lima tahun terakhir. Bukan perasaan marah atau kecewa, tapi perasaan takut.
Takut kalau suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mampu memahami bagian-bagian hidup Birendra yang belum pernah sempat ia kenal, dan ketakutan sekecil apapun selalu memiliki cara untuk tumbuh apabila dibiarkan sendirian.