Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Mereka Bertengkar
Keesokan harinya...
Pagi kembali datang. Setelah pembicaraan panjang semalam, Adrian dan Nadira kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Adrian berangkat lebih awal menuju PT. Pratama Logistik Nusantara. Ia masih harus melanjutkan audit internal yang semakin menunjukkan banyak kejanggalan. Sementara itu, Nadira kembali menjalankan tugasnya sebagai perawat di rumah sakit.
Namun, meskipun sibuk dengan pekerjaannya, pikiran Nadira tetap tertuju pada Deren. Ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Sejak kemarin, Deren terus menunjukkan ketakutan yang sulit dijelaskan.
Bahkan perkataannya tentang seseorang yang menjadikannya kambing hitam terus terngiang di kepala Nadira.
Saat itu Nadira sedang memeriksa seorang pasien di ruang perawatan, tiba-tiba seorang suster datang menghampirinya dengan wajah panik.
"Suster Nadira..."
Nadira menoleh. "Ada apa?"
Suster itu menarik napas. "Pasien Deren..."
Nadira langsung mengernyit. "Kenapa sama Deren?"
"Dia mengamuk lagi."
Nadira menghela napas panjang. "Astaga... dia lagi aja yang buat masalah."
Suster itu mengangguk cepat. "Sejak tadi pagi dia terlihat gelisah. Lalu tiba-tiba berteriak dan membanting beberapa barang di kamarnya."
Nadira langsung berdiri. "Apakah ada yang terluka?"
"Untungnya tidak, tapi kami kesulitan menenangkannya," jelasnya.
Nadira segera mengambil perlengkapan yang ada di meja. "Ayo, kita ke sana."
Mereka berjalan cepat menuju Bangsal Melati. Semakin mendekati kamar nomor 9, suara benda jatuh mulai terdengar dari dalam.
Prang!
Disusul suara teriakan.
"Jangan! Jangan tangkap saya, saya tidak bersalah. Kalian pergi!" ucapnya sambil berteriak-teriak.
Nadira mempercepat langkah. Begitu sampai di depan kamar, dua orang suster terlihat berdiri dengan wajah cemas.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Nadira.
"Dia masih panik, Suster."
Nadira mengintip dari celah pintu. Kamar itu terlihat berantakan. Selimut terjatuh ke lantai, kursi bergeser dari tempatnya, dan beberapa barang kecil berserakan.
Sementara Deren berdiri di sudut kamar dengan napas terengah-engah. Kedua tangannya menutupi kepala.
"Kalian pergi!" teriaknya lagi.
Nadira membuka pintu perlahan. "Deren..."
Pria itu langsung menoleh. Begitu melihat Nadira, tatapannya sedikit berubah, tetapi rasa takut masih terlihat jelas di wajahnya.
"Suster..."
"Kamu kenapa?" tanya Nadira bingung.
Nadira tidak langsung mendekat. Ia tahu gerakan yang tiba-tiba justru bisa membuat kondisi Deren semakin buruk.
"Kamu tenang dulu."
Deren menggeleng kuat. "Mereka datang lagi...mereka mau menangkap aku."
Nadira mengerutkan kening. "Siapa yang datang?"
Deren menatap ke arah jendela. "Mereka..." Suaranya bergetar. "Mereka tahu aku ada di sini."
Nadira menatap jendela kamar, tidak ada seorang pun di luar. "Kamu melihat seseorang?"
Deren tidak menjawab, ia justru perlahan turun dan duduk di lantai sambil memegangi kepalanya.
"Aku tidak mau mereka menangkap ku... aku takut."
Nadira berjongkok beberapa langkah di depannya. "Deren kamu tenang ya?"
Deren seketika menangis. "Aku bukan penjahat..."
Nadira hanya terdiam memperhatikan Deren. Dia tahu persis apa yang dirasakan pria itu. Pasti itu sangat sulit baginya menerima semua ini.
Pasti ada pihak yang memang ingin membuatnya gila, sehingga Deren tidak bisa memberikan kesaksian apapun. Karena secara hukum orang yang mengalami ganguan kejiwaan tidak dapat di jadikan saksi.
"Aku harus bantu dia keluar dari semua masalah ini, aku yakin dia tidak sepenuhnya bersalah," batin Nadira.
***
Sementara itu, di PT. Pratama Logistik Nusantara...
suasana kantor terlihat seperti biasa. Para karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sementara beberapa staf mulai mempersiapkan dokumen yang diminta Adrian untuk keperluan audit.
Di dalam ruangannya, Adrian duduk di depan meja dengan beberapa berkas terbuka. Clara berdiri di samping meja sambil membawa sebuah map tambahan.
"Pak Adrian."
Adrian mengangkat wajah. "Ada apa?"
"Ini laporan transaksi enam bulan terakhir yang Bapak minta."
Adrian menerima map itu. "Apakah ini semua sudah diperiksa?"
"Sudah, Pak. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya cukup aneh."
Adrian langsung membuka dokumen itu. "Aneh di bagian mana?"
Clara menunjuk beberapa halaman. "Di bagian transaksi pengiriman barang ke tiga perusahaan luar negeri ini."
Adrian membaca nama perusahaan dan jumlah transaksi yang tercatat. "Memangnya kenapa?"
"Perusahaan tujuan berbeda, tetapi alamat kantor mereka ternyata berada di kawasan yang sama."
Adrian mengerutkan kening. "Kamu sudah memeriksa alamatnya?"
"Sudah, Pak." Clara menyerahkan sebuah laporan tambahan. "Ini hasil pencarian data perusahaan."
Adrian membaca dokumen tersebut dengan teliti. "Ketiganya baru berdiri kurang dari satu tahun."
"Benar," jawab Clara singkat.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dan transaksi dengan perusahaan kita dimulai hampir bersamaan."
Clara mengangguk, "Iya, Pak. Ini bukan hanya kebetulan."
Adrian kembali membaca laporan. "Siapa yang menangani pengiriman ke tiga perusahaan ini?"
Clara membuka catatannya. "Sebagian besar melalui divisi operasional."
"Anton?" tanya Adrian.
"Iya, Pak," jawab Clara sambil mengangguk.
Adrian hanya terdiam, nama Anton kembali muncul. "Apakah ada staf lain yang terlibat?"
Clara mengangguk. "Ada beberapa, tapi tanda persetujuan tetap berasal dari Anton."
Adrian mengetuk meja dengan jarinya. "Kalau begitu, kita perlu memeriksa komputer yang digunakan divisi operasional."
Clara terlihat ragu. "Tapi Pak, masalahnya..."
"Kenapa?"
"Anton belum menyerahkan akses penuh kepada tim audit," jawab Clara terlihat ragu.
Adrian langsung mengangkat wajah. "Dia menolak?"
Clara mengangguk dan berusaha menjelaskan. "Katanya beberapa data masih digunakan untuk pekerjaan operasional."
Adrian tersenyum tipis. "Alasan!"
Clara mengerutkan kening. "Pak? Sepertinya dia mulai sadar kalau kita sedang mencurigai dia."
Adrian kemudian berdiri. "Ya sudah kalau begitu, kita ikuti permainannya. Kalau Anton memang terlibat, kita jangan membuatnya merasa terpojok." Adrian mengambil sebuah berkas. "Biarkan dia berpikir bahwa kita belum menemukan apa-apa."
Clara mulai memahami maksudnya. "Jadi Bapak ingin mengawasinya secara diam-diam?"
"Ya." Adrian berjalan menuju jendela. "Mulai sekarang, semua transaksi yang melewati divisinya harus dicatat. Termasuk siapa yang mengakses sistem, siapa yang membuat dokumen, dan siapa
memberikan persetujuan."
Clara mengangguk. "Baik, Pak. Saya mengerti."
Namun sebelum Clara keluar, Adrian kembali memanggilnya. "Clara."
Clara langsung menoleh. "Ya, Pak?"
"Apakah kamu mengenal Deren dengan baik?"
Clara terdiam sejenak. "Deren?"
Adrian hanya mengangguk.
Clara mengangguk perlahan. "Saya cukup mengenalnya. Dia orang yang pendiam, tetapi sangat teliti."
"Apakah dia pernah melakukan kesalahan?" tanya Adrian sambil menatap Clara.
Clara terdiam sesaat, lalu menggeleng dan berkata, "sepertinya tidak pernah, Pak. Deren itu selalu berkerja dengan baik."
Adrian memperhatikan wajah Clara, dia ingin memastikan apa Clara sedang berbohong atau tidak.
"Kamu pernah melihat sesuatu sebelum Deren mengundurkan diri?"
Clara terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata pelan, "Oh ya... beberapa hari sebelum Deren mengundurkan diri, saya pernah melihat dia bertengkar dengan Anton."
Tatapan Adrian langsung berubah serius. "Bertengkar, di mana?"
"Di ruang arsip."
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Adrian sedikit penasaran.
Clara menggeleng. "Saya tidak mendengar semuanya. Tapi saya sempat mendengar Deren berkata..."
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar ruangan...
Tok... tok... tok...
Adrian dan Clara kini saling pandang.