Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jordan melangkah masuk ke dalam kediaman utama keluarga Carlton dengan wajah yang sedikit rileks. Di tangannya, sebuah kotak beludru merah berukuran sedang tergenggam rapi.
Di ruang tengah yang luas dan megah, Vanessa sedang duduk santai di sofa kulit, mengamati sebuah majalah fashion edisi terbatas. Cincin berlian marquise pemberian Alessio sudah disembunyikan rapat di dalam brankas rahasianya.
Jordan menyunggingkan senyum buatan, melangkah mendekat lalu duduk di samping Vanessa. Ia meletakkan kotak beludru itu di atas meja kaca, persis di hadapan Vanessa.
"Ini untukmu," ujar Jordan dengan suara yang dilembutkan, mencoba bersikap manis.
"Aku tahu tadi di butik aku agak emosi. Maafkan aku."
Vanessa melirik kotak merah itu tanpa minat, lalu menatap Jordan dingin.
"Apa ini?"
"Gelang berlian," sahut Jordan cepat, menepuk pelan punggung tangan Vanessa.
"Memang salahku membawa Yessika ke butik tadi. Tapi... tolong mengerti posisiku, Vanessa. Yessika itu sedang stres berat karena batal bertunangan dengan Alessio. Aku cuma ingin menghibur adikmu sendiri. Walau bagaimanapun, dia tetap keluargamu, kan? Tolong maklumi dia."
Vanessa tidak menjawab. Jemari lentiknya meraih kotak beludru tersebut dan membukanya. Sebuah gelang perak tipis dengan hiasan kristal kecil terpampang di sana.
Bukannya tersentuh, bibir merah Vanessa justru melengkung sinis. Tanpa ragu sedikit pun, Vanessa melemparkan kotak berisi gelang itu kembali ke dada tegap Jordan.
Brak!
Kotak itu mendarat kasar di pangkuan Jordan, membuat pria itu terperanjat kaget.
"Vanessa! Apa-apaan kau ini?!" bentak Jordan, wajahnya seketika memerah karena amarah yang tersulut.
"Kau tidak menghargai pemberianku sama sekali! Aku sudah susah-susah memilihkan gelang ini untukmu, dan kau malah melemparkannya begitu saja?!"
Vanessa menyimpan majalah fashion yang dibacanya ke atas meja dengan gerakan sangat tenang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Jordan lurus-lurus dengan pandangan penuh ejekan.
"Apa aku terlihat setolol itu di matamu, Jordan?" bisik Vanessa dengan senyuman miring.
Kening Jordan berkerut tajam. "Maksudmu apa?!"
"Kau pikir aku tidak tahu?" Vanessa terkekeh dingin.
"Gelang murahan ini hanyalah hadiah bonus gratisan dari toko perhiasan langgananmu, bukan? Kau membelikan Yessika perhiasan mahal, dan gelang sampah ini diberikan cuma-cuma sebagai bonusnya. Lalu kau membawanya pulang untukku?"
Mata Jordan seketika membelalak lebar. Raut percaya dirinya runtuh, berganti dengan rasa gugup yang luar biasa. Lidahnya mendadak kelu.
"K-kau... jangan sembarangan bicara!" kilah Jordan terbata-bata, berusaha menyelamatkan wajahnya.
"Mana mungkin aku memberi barang bonusan untukmu?! Aku membayarnya dengan uangku sendiri!"
"Oh, ya?" Vanessa menarik ponsel pintarnya dari saku, menekan layar beberapa kali lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Jordan.
Di layar ponsel itu, terpampang postingan status media sosial terbaru milik Yessika. Foto sebuah kotak perhiasan mewah berisi satu set kalung, cincin, dan anting berlian senilai 2 miliar rupiah dipamerkan dengan bangga.
Namun yang membuat Jordan seketika mati kutu adalah caption yang ditulis Yessika di bawah foto gelang perak yang persis sama dengan yang dipegang Jordan sekarang.
“Dapat hadiah gratisan dari toko perhiasan karena pacarku beli set berlian 2 Miliar. Tapi karena aku tidak suka gelang murah begini, pacarku bilang kasih saja ke pelayan di rumahnya. Hihi.”
Udara di ruang tengah seolah tersedot habis. Jordan menelan ludah dengan susah payah, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Vanessa... ini..." Jordan tergagap, tak mampu menyusun kata-kata lagi.
"Pelayan di rumahnya?" ulang Vanessa dengan nada amat manis namun menyengat hingga ke tulang.
"Ternyata di mata Yessika dan di matamu, calon istri resmi keluarga Carlton ini tidak lebih dari seorang pelayan?"
Jordan ketar-ketir. Ia meraih lengan Vanessa dengan panik.
"Vanessa, dengarkan aku dulu! Yessika cuma asal ketik! Dia..."
"Bagaimana jika Ayahmu tahu?" potong Vanessa tajam, memutus omong kosong Jordan.
"Bagaimana kalau Tuan Arthur tahu bahwa putra kebanggaannya bukan cuma merebut gaun pengantin calon istrinya, tapi juga menggelontorkan uang 2 miliar rupiah untuk membelikan perhiasan mahal bagi wanita simpanannya?"
Mendengar ancaman itu, raut panik Jordan berubah menjadi keputusasaan yang brutal.
"Jangan macam-macam, Vanessa!" desis Jordan menunjuk wajah Vanessa dengan jari bergetar.
"Jangan pernah berani mengadu pada Ayah! Kalau kau berani, aku pastikan pernikahan kita akan benar-benar batal! Aku tidak main-main."
Vanessa justru tertawa renyah.
"Batalkan saja! Kau pikir aku takut? Selama aku bisa menyeretmu dan Yessika masuk ke dalam kuburan bersamaku, pembatalan pernikahan ini sama sekali bukan masalah bagiku."
Jordan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia tahu Vanessa sedang tidak menggertak. Sorot mata wanita di hadapannya ini begitu dingin dan tanpa ampun.
Jika Arthur tahu, nasib Jordan sebagai calon pewaris Carlton Group akan musnah seketika.
Menggeram kesal, Jordan akhirnya terpaksa menurunkan ego tingginya.
"Kau... mau apa agar bisa tutup mulut?" tanya Jordan serak, mengalah.
Vanessa tersenyum penuh kemenangan. "Mudah. Aku mau set perhiasan 2 miliar yang kau berikan pada Yessika itu."
Mata Jordan hampir melompat keluar.
"Apa?! Kau gila, Vanessa?! Aku tidak mungkin meminta kembali barang yang sudah kuberikan pada Yessika!"
"Kalau begitu, bersiaplah melihat raut wajah Ayahmu nanti malam," sahut Vanessa santai, hendak bangkit berdiri dari sofa.
"Seluruh perbuatanmu dan Yessika di butik hari ini akan sampai ke tangan Tuan Arthur dalam hitungan menit."
"Tunggu!" teriak Jordan panik, menahan pundak Vanessa. Dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang amat menyiksa.
"Baik! Aku akan ambil perhiasan itu besok dari Yessika!"
"Bukan besok, Jordan," desis Vanessa menatapnya sengit.
"Sekarang. Bawa perhiasan itu ke hadapanku malam ini juga, atau video CCTV saat di butik tadi siang akan sampai ke Ayahmu."
"Sialan kau, Vanessa!" geram Jordan murka.
Dengan napas memburu dan langkah lebar yang kesal, pria itu berbalik dan bergegas pergi meninggalkan rumah utama untuk merebut kembali perhiasan yang ia berikan untuk Yessika.
*****
Suasana ruang tengah kembali hening sepeninggal Jordan. Vanessa mengembuskan napas panjang, hendak kembali meraih majalahnya.
Namun secara tiba-tiba, sepasang lengan kekar menyusup dari belakang sofa, melingkari leher dan dada Vanessa dengan sangat erat.
Deg!
Aroma maskulin kayu cendana yang begitu pekat menyergap indra penciumannya. Alessio sudah berdiri di belakang sofanya, menyandarkan dagunya di bahu Vanessa.
"Kenapa repot-repot meminta perhiasan bekas wanita murahan seperti itu, hm?" bisik Alessio, suaranya terdengar begitu serak dan berat di dekat telinga Vanessa.
"Kalau kau mau perhiasan mahal, aku bisa membelikan yang sepuluh kali lipat lebih mahal sekarang juga, mia cara."
Vanessa terperanjat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kekar pria itu.
"Alessio! Lepaskan aku!" bisiknya panik seraya melirik ke sekeliling.
"Kau gila?! Kita ada di rumah utama! Banyak mata-mata Tuan Arthur di sini!"
Di koridor dan area dapur, beberapa pelayan tampak lalu-lalang membawa perlengkapan rumah.
Namun anehnya, tak ada satu pun dari mereka yang melirik ke arah sofa. Semua pelayan menundukkan kepala dalam-dalam atau pura-pura sibuk mengobrol satu sama lain, seolah-olah Vanessa dan Alessio tidak ada di sana.
Mata Vanessa membelalak menyadari pemandangan aneh itu.
"Lihat?" Alessio terkekeh dingin, justru semakin mengeratkan pelukannya di dada Vanessa, menempelkan pipi tegapnya ke leher mulus wanita itu.
"Tidak ada yang berani melihat ke arah kita."
"Alessio, jangan gila! Lepaskan sekarang!" bisik Vanessa makin panik, jantungnya berdegup kencang.
"Paman Arthur bisa muncul kapan saja!"
"Bukankah sudah kubilang?" Alessio menunduk, bibirnya menggeser perlahan di sepanjang garis rahang Vanessa.
"Jika kau berani bermain dengan api, maka kau harus berani terbakar. Jadi... kenapa harus takut?"
Vanessa menahan napasnya yang memburu, mencoba menguasai rasa gemetar di tubuhnya akibat sentuhan Alessio.
"Aku yang memegang apinya, Alessio," desis Vanessa menahan gejolak gairah dan ketakutan yang bercampur aduk.
"Aku bisa mengontrol api itu agar tidak membakarku."
Alessio terkekeh rendah. Ia mendaratkan sebuah kecupan panas dan dalam tepat di atas bahu terbuka Vanessa, yang membuat wanita itu reflek menegang sesaat.
"Kalau begitu..." bisik Alessio sensual tepat di telinga Vanessa, "coba kontrol aku, mia cara."
halu lu joran pancing🤣🤣🤣🤣Vanesa jijik kali sma elu
idiiiih ke PeDean Lu najiss 😏😏😏
Nikolai kokop yg dlu nyelametin Alessio waktu d luar negeri ,,
tp semua keputusan ,, d ACC apa gx tu semua tergantung tangan Tuhan ,, Dan tangan kak author tentu ny ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣